Jumat, 09 Juni 2017

Wiro Sableng: Neraka Lembah Tengkorak (Bagian 7)

Wiro Sableng: Neraka Lembah Tengkorak

Yang sudah-sudah bila seorang lawan berani menyambuti dua jotosannya. Kalau tidak hancur kedua tangannya pasti akan terluka tubuhnya di sebelah dalam. Tapi di saat itu dilihatnya Dewa Pedang masih berdiri dan dalam keadaan segar bugar. Hanya kedua tangannya saja yang kelihatan kemerah-merahan! Mulut Si Cawat Gila berkemak kemik.

“Rupanya kau memang ada isi juga huh…!” ujarnya menyeringai buas. Kedua tangannya saling digosok-gosok satu sama lain. Dan sesaat kemudian kedua tangan itu terkepal membentuk tinju dan berwarna biru!

Dewa Pedang maklum kalau lawan hendak mengeluarkan ilmu pukulannya yang dahsyat Karenanya segera dia bersiap-siap! Para penonton keseluruhannya menahan nafas melihat pertempuran yang bukan main hebatnya ini.

Cawat Gila mengangkat kedua tangannya keatas, sejajar dan sama tingginya dengan kepalanya yang bermuka cekung itu. Tampangnya kelihat-an semakin angker.

“Selama aku memiliki llmu Pukulan Siluman Biru tak satu manusia pun yang sanggup menahannya! Telah dua ratus empat puluh tokoh-tokoh silat yang mampus di tanganku, kau adalah korban yang ke dua ratus empat puluh, Dewa Pedang!”

Mendengar nama pukulan yang bakal dilancarkan oleh lawannya maka Dewa Pedang lipat gandakan tenaga dalamnya. Dan disaat itulah Si Cawat Gila dengan suara tertawa melengking-lengking menyerbu ke muka! Dua larik sinar biru melesat dan menukik ke bawah ke arah kepala Dewa Pedang.

Ketua Partai Telaga Wangi ini cepat berkelit dan balas mengirimkan sodokan siku ke arah tulang iga lawan namun dengan lipatkan lututnya Si Cawat Gila berhasil membuyarkan sodokan siku Dewa Pedang sedang kedua tinjunya kiri dan kanan masih terus menderu deras ke batok kepala Dewa Pedang!

Dewa Pedang ragu-ragu untuk menangkis pukulan lawan, karenanya dengan cepat membuang diri ke samping. Dua pukulan Si Cawat Gila lewat menderu di sisinya.

“Braaak… braak!”

Lantai panggung yang terbuat dari papan tebal patah dan pecah kena dihantam angin Pukulan Siluman Biru yang dilancarkan oleh Si Cawat Gila Semua orang meleletkan lidah. Dapatlah dibayangkan bagaimana hebatnya ilmu pukulan itu. Dewa Pedang sendiri terkejutnya bukan main.

Dua tokoh silat yang duduk di antara jejeran para tamu saling berbisik.

“Naga-naganya Ketua Partai Telaga Wangi tak bakal sanggup menghadapi lawannya sampai dua puluh jurus…”

“Sukar di jajaki memang tingginya ilmu Si Cawat Gila! Tapi Dewa Pedang sendiri agaknya belum mengeluarkan ilmu-ilmu simpanannya. Meski umur muda tapi jangan terlalu memandang remeh Dewa Pedang…” balas membisik tokoh silat lainnya.

Pada saat itu di atas panggung terjadi pertempuran sangat seru antara Si Cawat Gila dan Dewa Pedang. Sinar biru dan sinar putih gulung bergulung. Agaknya Dewa Pedang pun sudah mengeluarkan ilmu pukulan yang diandalkannya!

Di saat pertempuran berjalan seru-serunya itu, di saat semua mata hampir tak berkedip memandang ke atas panggung maka terdengarlah pekikan-pekikan dahsyat itu. Dan didetik itu pula mata semuanya menangkap bayangan empat sosok tubuh manusia!

“Hentikan pertempuran!” membentak salah seorang dari keempat pendatang itu. Suaranya menggetarkan lembah! Menyirapkan dada setiap yang hadir! Kemudian kelihatanlah empat sosok tubuh gadis berbadan ramping bagus berdiri di atas panggung.

Ketika diperhatikan parasnya maka gemparlah suasana mereka yang hadir! Bagaimana tidak! Keempat gadis berbadan langsing bagus dan berkulit kuning mulus itu memiliki paras-paras yang mengerikan. Paras tengkorak!

~ 6 ~ 

Dewa Pedang dan Si Cawat Gila juga dibuat terkeiut oleh suara pekikan serta suara membentak memerintah yang menggetarkan lembah itu. Keduanya sama-sama bersurut mundur dan memandang ke samping kanan! Ternyata empat gadis bermuka Tengkorak berdiri di atas panggung. Paras yang menggidikkan itu jelas membayangkan maut.

“Setan kesasar! Apa urusanmu, apa pangkatmu menyuruh kami menghentikan pertempuran, huh?!” kertak Si Cawat Gila pada gadis muka tengkorak yang berdiri paling muka dan berpakaian merah ringkas.

“Monyet ceking kerempeng! Mulutmu terlalu murah menghina! Nyawamu tak aku lepaskan…!” Dan ucapan si muka tengkorak baju merah terpotong oleh suara tertawa membahak dari Si Cawat Gila.

“Berani menghina berani mampus!” katanya.

“Hem... rupanya kau.juga kelewat tekebur, monyet ceking!” Si Cawat Gila tertawa lagi gelak-gelak.

“Jika saja kau tahu berhadapan dengan siapa saat ini, pastilah kau akan lari terbirit-birit!”

“Kentut!” maki si pakaian merah marah sekali. Tangan kirinya bergerak mengebutkan lengan bajunya.

“WUTTT!”

Angin laksana badai menggebu ke arah Si Cawat Gila. Mula-mula Si Cawat Gila menganggap enteng dan tertawa-tawa saja menerima pukulan itu. Dengan acuh tak acuh dilambaikannya tangan kirinya untuk melebur serangan lawan. Namun alangkah terkejutnya dia! Lambaian tangannya tak sanggup memusnahkan serangan lawan. Sebaliknya sambaran angin lawan itu membuat tubuhnya tergontai-gontai! Dan jika detik itu dia tidak cepat-cepat melompat ke samping, pastilah tubuhnya akan mencelat ke luar panggung!

Si Cawat Gila keluarkan keringat dingin. Parasnya mengkerut. Tenaga dalam si muka tengkorak hebatnya bukan main, pikir laki-laki tua kerempeng itu.

“Muka tengkorak, kau siapakah?!” tanya Si Cawat Gila dengan membentak garang.

Yang ditanya tertawa mengekeh: “Kami adalah iblis-iblis pencabut sukmat! Kau dengar itu…?! Sekarang terimalah kematianmu!”

“Manusia buruk hina dina! Jangan mimpi di siang bolong!” tukas Si Cawat Gila. Kedua tangannya digosok-gosok dan dengan serta merta menjadi biru!

“lblis betina, makan pencarianmu!” teriaknya. Si Cawat Gila lancarkan Pukulan Siluman Biru yang dahsyat!

Gadis berpakaian merah memekik nyaring. Tubuhnya melompat enam tombak dan ketika menukik lagi maka dari tangan kanannya melesat selarik sinar hijau yang disusul dengan menyambarnya tiga ekor binatang kala hijau!

“Kala Hijau!” seru Si Cawat Gila terkejut. Hatinya tergetar. Dewa Pedang dan seluruh manusia yang hadir di situ juga kaget bukan main. Beberapa tokoh silat yang menyadari bahwa ilmu kepandaiannya masih belum sempurna menjadi pucat paras mereka. Sejak dua bulan belakangan ini “Kala Hijau” telah muncul di dunia persilatan! Kini muncul di hadapan mereka tentu saja semuanya menjadi cemas serta tegang.

Cawat Gila memukul ke muka. Sinar biru Pukulan Siluman Biru menderu. Tapi sudah kasib tiada guna. Salah seekor dari kala hijau telah lebih dahulu menancap dan amblas ke dalam kepalanya. Menyusul kedua dan ketiga! Cawat Gila memekik penuh keseraman. Sebelum tubuhnya rebah Cawat Gila masih berusaha melancarkan serangan “Cengkeraman Naga Atas Langit” Tapi percuma. Tubuhnya terbanting ke lantai panggung, kelojotan seketika lalu diam kaku tak bergerak lagi!

Seruan terkejut dan kegemparan seperti mau merobohkan langit di atas lembah sekitar telaga itu! Namun suasana segera menghening ketika si muka tengkorak pakaian merah membentak buas:

“Manusia-manusia hina dina! Diam semua!” Meskipun semua yang hadir berdiam diri dan menahan nafas melihat munculnya empat gadis muka tengkorak, namun banyak di antara tokoh-tokoh silat yang punya nama besar merasa sangat direndahkan dan dihina.

Apalagi mereka dari golongan putih yang memang sudah tak bersenang hati mendengar kemunculan dan kekejaman yang dilakukan oleh keempat manusia itu sejak dua bulan belakangan ini!

Salah seorang dari mereka ialah Brahmana Wingajara yang bergelar “Sepasang Tangan Putih” seorang tokoh silat yang memiliki lengan dan tangan berwarna putih sekali dan justru pada kedua tangan yang putih inilah terletak kehebatannya. Tanpa menunggu lebih lama sang Brahmana melompat ke atas panggung.

“Babi botak gendut!” bentak si muka tengkorak berpakaian merah. Wingajara memang berbadan gemuk buncit, berkepala botak dgn pendek kontet. Apakah kau juga ingin cepat-cepat mampus berani naik ke atas panggung ini?!”

Brahmana Wingajara tertawa tawar. Jawabnya, “Panggung ini bukan kau yang bikin, bukan pula milikmu! Tuan rumah sendiri tidak melarang aku naik ke sini, manusia muka setan!” Sebenarnya sebagai Brahmana, Wingajara jarang dan hampir tak pernah memaki orang atau bicara kasar. Tapi saat itu, karena dihina demikian rupa, apalagi di hadapan puluhan tokoh-tokoh silat, kalaplah Brahmana Wingajara sehingga terlepas semprotannya!

Si pakaian merah tertawa mengikik. “Lantas apa maumu datang ke sini?!”

Brahmana Wingajara tak menjawab melainkan berpaling pada para hadirin dan berkata: “Saudara-saudara sekalian, dari apa yang pernah kalian dengar sejak dua bulan belakangan ini! Dari apa yang kita semua saksikan pada hari ini, maka sudah dapat kita bayangkan bersama apa yang bakal menimpa dunia persilatan di masa mendatang, terutama bagi kita golongan putih jika gadis-gadis muka tengkorak setan dajal berhati iblis ini dibiarkan hidup lebih lama…”

“Tutup mulutmu Brahma tahi kucing! Terima ini!” Si muka tengkorak berpakaian merah menendang ke muka. Angin tendangan ini bukan main dahsyatnya. Sambil berkelit Wingajara pukulkan kedua tangannya ke muka. Asap putih panas menderu menyambar si baju merah!

Gadis muka tengkorak ini tersurut mundur lalu dari samping lancarkan serangan ganas! Sinar hijau menderu, tiga kala hijau melesat dan terdengarlah jerit kematian Brahmana Wingajara. Dua dari kala hijau menancap di keningnya Yang ketiga amblas masuk ke dalam mata sebelah kiri!

Sekali lagi suasana diselimuti kengerian dan kegemparan. Dan sekali lagi si merah membentak garang: “Manusia-manusia keparat, diam semua!”

Para hadirin terpaku kecut di kursi masing-masing. Melihat naga-naga yang kurang baik rni beberapa di antara mereka berdiri dari kursi. Cepat-cepat muka tengkorak pakaian merah berseru, “Tak satu orang pun diizinkan meninggalkan tempat ini! Siapa yang berani melakukannya berarti mampus!”

Menyaksikan pembunuhan yang bertentangan dengan hati nurani serta jiwa satrianya ditambah lagi dendam kesumatnya terhadap Si Cawat Gila belum lenyap meski manusia itu sudah menjadi bangkai kini, maka Ketua Partai Telaga Wangi maju selangkah ke arah si muka tengkorak.

“Telah dua bulan kudengar kehebatan nama kalian dalam kejahatan dunia persilatan. Sebagai orang-orang dunia persilatan aku menghormati kalian, tapi sebagai golongan hitam jahat yang berhati iblis, aku tidak sudi melihat kalian! Karena itu aku harap segera meninggalkan tempat ini! Aku tak ingin melihat kejahatan dan pembunuhan lebih banyak!”

Si baju merah berpaling pada tiga kawan-kawannya. Keempatnya kemudian tertawa gelak-gelak.

“Ketua Partai Telaga Wangi, kau tak ingin melihat pembunuhan lebih banyak katamu...? Tapi apa kau tahu bahwa kau juga bakai mampus di tangan kami, kecuali…”

“Kecuali apa…?!” potong Dewa Pedang.

“Kecuali jika kau dan seluruh anggota Partaimu mau berlutut dan masuk ke dalam Partai yang bakal kami dirikan yaitu Partai Lembah Tengkorak!”

Dewa pedang mendengus dan menjawab: “Manusia-manusia macam aku sampai mati sekali pun tiada sudi berlutut terhadap kalian! Apalagi masuk Partai durjana kalian! Kalau mau cari anggota Partai, carilah ke liang neraka! Di sana pasti banyak manusia-manusia bertampang macam kalian dan bersedia masuk Partai kalian!”

Keempat gadis muka tengkorak itu tertawa gelak-gelak.

“Ketua Partai Telaga Wangi,” kata muka tengkorak yang berpakaian hitam, “Kau andalkan apakah berani bicara demikian?!”

“Mungkin dia punya nyawa rangkap!” kata yang berbaju biru.

“Betul, satu nyawa manusia, satu lagi nyawa anjing!” menimpali si baju merah. Dan keempat manusia itu kemudian tertawa lagi gelak-gelak! Dihina demikian, Dewa Pedang masih bisa menahan luapan amarahnya. Namun tidak demikian dengan isterinya.

“Perempuan setan! Bicaramu terlalu menghina dan terlalu tekabur! Jaga kepalamu!” Satu sambaran pedang menderu di muka hidung si baju merah, membuat gadis muka tengkorak ini terkejut dan tersusur lima tindak!

“Akh perempuan cantik… kau tentu isteri Ketua Partai Telaga Wangi.” kata si muka tengkorak baju merah.

“Terhadapku tak usah bersikap garang! Bagusnya ajak lakimu dan anggota-anggota Partai untuk masuk ke dalam Partai kami dan kalian semua pasti selamat dari kematian”

Baca lanjutannya: 
Wiro Sableng: Neraka Lembah Tengkorak (Bagian 8)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.