Rabu, 21 Juni 2017

Wiro Sableng: Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin (9)

Wiro Sableng: Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin

“Menghadapi si kate keling ini saja tidak mampu!” Di saat itu Setan Pikulan mengamuk dengan hebatnya. Senjatanya bersiur-siur. Dua ujung pikulan menyambar dan memapas, kadang-kadang menusuk ganas dalam jurus-jurus gencar yang penuh dengan tipu-tipu yang membahayakan keselamatan kedua Setan Darah.

Mendengar bentakan Setan Darah Pertama, Setan Darah Ketiga segera cabut sepasang goloknya. Pertempuran dalam kamar itu bertambah hebat. Tapi sepasang mata Setan Darah Pertama bisa melihat bahwa kedua kambratnya itu masih berada di bawah angin, Si kate kapala gundul berkelebat ganas hampir tak kelihatan. Pikulannya menderu-deru bahkan anginnya sampai mengibarngibarkan jubah yang dipakainya!

Tanpa tunggu lebih lama Setan Darah Pertama segera bergerak ke tengah ruangan. Kasempatan ini lekas dipergunakan olah Sekar untuk meninggalkan tempat itu. Tapi Setan Darah Pertama berseru.

“Hai gadis manis! Tunggu dulu! Kau mau ke mana?!” Sakar tak menyahuti malah tancap gas larikan diri tapi satu sambaran angin menyapu kedua kakinya, membuat kaki gadis itu menjadi kaku tegang dan laksana dipakukan ke lantai tak dapat bergerak lagi!

Setan Darah Petema telah melepaskan totokan jarak jauh yang lihai sekali, Sekar sendiri tak tahu kalau dirinya akan diserang dari belakang begitu rupa maka kini dia terpaksa tegak di lantai tak berdaya! Dikerahkannya tenaga dalamnya ke kaki untuk membuyarkan totokan Setan Darah Pertama, tapi sia-sia belaka!

“Tahan dulu! Aku mau bicara!” Setan Darah Pertama berseru. Kedua orong kawannya segera melompat ke tepi kamar. Dengan pandangan berapi-api Setan Derah Pertama memandang pada Setan Pikulan.

“Munding Sura kaukah yang membuat keonaran di tempatku?!” Munding Sura alias Setan Pikulan tertawa tawar.

“Kau dan dua kambratmu ini sama saja menuduh seenaknya. Kau kira…”

“Setan Darah Pertama,” ujar Setan Darah Kedua.

“Kita tak perlu banyak bicara dengan kunyuk hitam ini. Kami sudah tahu memang dia sengaja mencari urusan terhadap kita, Dia telah menyelundup ke tempat kita!” Setan Pikulan tertawa lagi.

“Tentu saja nyalimu tambah besar karena satu kambratmu telah datang, lagi ke sini,” katanya.

“Sebelum terlambat apakah kalian masih mau teruskan urusan gila ini?!”

“Kunyuk hitam!” hardik Setan Darah Pertama.

“Tiga Setan Darah tak pernah bikin urusan setengah-setengah! Kawan-kawan, bersiap membentuk barisan tiga bayangan siluman!” Maka Tiga Setan Darahpun segera membentuk barisan yang sangat diandalkan mereka itu.

Di lain pihak Setan Pikulan yang sudah memaklumi kehebatan ilmu silat lawan-lawannya itu segera pasang kuda-kuda baru. Dan sebelum barisan tiga bayangan siluman bergerak Setan Pikulan sudah berteriak-keras dan berkelebat bersama senjatanya!

Setan Darah Pertama bergeser ke samping mengelakkan sambaran senjata Setan Pikulan yang melanda ke arah pinggangnya. Manusia bermuka merah ini kemudian merunduk dengan cepat dan kirimkan serangan berantai ke arah kedua kaki lawan. Setan Darah Ketiga melesat ke atas, menukik lagi dan laksana seekor burung elang tiada hentinya melancarkan pukulan-pukulan maut ke kepala Setan Pikulan!

Barisan tiga bayangan siluman ini memang cukup terkenal dikalangan tokoh-tokoh Kotaraja. Setan Pikulan sendiri juga sudah tahu tapi baru kali ini menyaksikannya dan disaat itu dirinya pula yang menjadi bulan-bulanan! Namun Setan Pikulan bukan pula tokoh silat kemarin. Tubuhnya berkelebat laksana bayang-bayang, menerobos dan mengelak diantara hujan serangan lawan sedang senjatanya menderu kian kemari.

Kegesitan ditambah dengan keampuhan jurus-jurus silat yang dimainkannya banyak sekali menolong Setan Pikulan sehingga meski dikeroyok tiga dalam sepuluh jurus dia masih bisa bertahan bahkan dua tiga kali berturut-turut membagi serangan pada ketiga lawannya. Lambat laun Tiga Setan Darah dibikin sibuk. Barisan tiga bayangan siluman tiada berarti lagi. Ketiganya kini mulai terdesak! Setan Darah Pertama memaki dalam hati!

Untung saja pertempuran itu tidak terjadi di tempat terbuka, tidak disaksikan umum! Kalau saja orang luar tahu, pasti nama besar Tiga Setan Darat akan menjadi luntur! Setan Darah Pertama keluarkan sepasang tombak bermata dua dari balik jubahnya. Melitat ini dua Setan Darah yang lain yang tadi sewaktu membentuk tiga bayangan siluman telah memasukkan senjata mereka, kini segera pula mengeluarkan senjata masing-masing kembali!

Setan Pikulan kertakkan rahang. Tiga pasang senjata di tangan musuh-musuhnya itu adalah senjata-senjata mustika sakti. Dia bersangsi apakah kini dia akan sanggup menghadapi manusiamanusia bermuka merah itu!

Setan Pikulan coba memancing dengan ucapan agar musuhnya tidak bertempur secara mengeroyok. Maka dia pun berkata, “Nama Tiga Setan Darah memang tersohor! Tapi hari ini aku sendiri menyaksikan bahwa mereka cuma bangsa bunglonbunglon bernyali rendah bangsa pengecut kelas wahid! Tokoh-tokoh silat yang beraninya main keroyok!”

“Mengocehlah seenakmu manusia kontet! Sebentar lagi gadaku ini akan membuat otakmu bertaburan.” hardik Setan Darah Kedua serayra putar-putarkan gadanya.

“Setan Darah Pertama, tunjukkanlah bahwa kau bukan seorang pengecut! Mari kita bertempur satu lawan satu sampai seribu jurus!” Setan Darah Pertama tertawa gelak-gelak.

“Sampai seribu jurus katamu?! Tiga juruspun kau belum tentu bisa bertahan manusia kacoak!”

“Huh! Betapa memalukan kalau dunia persilatan mengetahui bahwa Tiga Setan Darah beraninya cuma main keroyok! Persis macam anjing-anjing kurap yang mengeroyok seekor kucing yang ditakutinya!” Marahlah Setan Darah Pertama mendengar cacian anjing kurap itu. Dia berikan isyarat pada dua kawannya. Serentak dengan itu ketiganya segera menyerbu Setan Pikulan. Enam senjata laksana taburan hujan menderu mencari sasaran ditubuh Setan Pikulan. Yang dikeroyok mempertahankan diri dengan sebat. Sepuluh jurus berlalu.

Keringat telah membasahi tubuh Setan Pikulan yang cuma mengenakan cawat itu! Gerakan dan putaran pikulannya semakin sebat namun sesungguhnya daya pertahanan manusia ini jurus demi jurus semakin lemah. Beberapa kali ujung-ujung pikulannya beradu dengan salah satu senjata lawan membuat senjata itu kadang-kadang hampir terlepas dan genggamannya yang licin oleh keringat!

“Ha… ha… ha…! Sampai berapa lama lagikah kau akan sanggup bertahan Munding Sura?!” Mengejak Setan Darah Pertama.

“Sampai batok kepalamu hancur oleh ujung senjataku ini!” sahut Setan Pikulan seraya tusukkan ujung pikulannya ke kepala lawan. Setan Darah Pertama sampokkan tombaknya yang ditangan kanan untuk menangkis tapi senjata lawan berputar cepat dan kini ujung yang lain menotok ke dadanya dengan sangat cepat!

Setan Darah Pertama kertakkan rahang! Dia bersurut satu langkah dan dibantu oleh Setan Darah Kedua, keduanya menangkis serangan Setan Pikulan. Tiga senjata bentrokan satu sama lain mengeluarkan suara keras. Tiga tangan tergetar! Begitu senjatanya membentur senjata lawan, Setan Darah Pertama cepat pergunakan ujung tombaknya yang bermata dua untuk menjepit ujung pikulan.

Dia berhasi! Segera tombak hendak diputarnya. Tapi Setan Pikulan tidak bodoh! Pikulan digerakannya dari atas ke bawah. Ujung yang lain menderu ke bawah perut Setan Darah Pertama.

Di saat yang sama pula Setan Pikulan melompat ke atas karena kedua kakinya! Genap dua puluh jurus sudah! Setan Pikulan benar-benar sudah mandi keringat. Tiba-tiba dia menjerit keras. Senjatanya menyapu membuat satu lingkaran sedang dari balik cawatnya dikeluarkannya sejenis senjata rahasia berbentuk paku rebana!

“Awas paku rebana beracun!” teriak Setan Darah Pertama. Tiga Setan Darah masing-masing kebutkan lengan jubah mereka. Sinar merah yang keluar dari ujung lengan jubah itu membuat mental sembilan buah paku-paku rebana yang dilepaskan Setan Pikulan!

“Licik!” maki Setan Darah Pertama.

“Kalian kunyuk-kunyuk muka merah yang pengecut kelas wahid!” semprot Setan Pikulan. Dan kembali diputarnya senjatanya dengan sebat. Namun serangan-serangannya tiada berarti. Daya tahannya semakin kendur. Pada jurus ke duapuluh sembilan kedua ujung senjatanya sekaligus beradu dengan gada serta tombak lawan.

Di detik itu pula sepasang golok Setan Darah Ketiga membabat dari atas ke bawah hendak menetak pangkal lehernya dari dua jurusan. Tak ada cara lain yang paling baik untuk menghindarkan diri dari pada menjatuhkan badan kebawah. Dan memang inilah yang dilakukan oleh si kate Munding Sura. Sambil jatuhkan diri manusia yang berjuluk Setan Pikulan ini kirimkan satu tendangan ke arah bawah perut Setan Darah Ketiga!

Setan Darah Ketiga kelewat yakin bahwa bacokan sepasang goloknya akan berhasil sehingga dia melupakan pertahanan dirinya sendiri! Kecepatan turun golok-golok itu tak dapat rnendahului kecepatan jatuhnya tubuh Setan Pikulan. Golok Setan Darah Ketiga beradu satu sarna lain sebaliknya tendangan Setan Pikulan cuma sedikit saja dapat dilaksanakannya.

“Buuk!”

Tendangan Setan Pikulan mendarat di pinggul kiri Setan Darah Ketiga. Manusia ini terpelanting beberapa tombak dan untuk beberapa lamanya tergelimpang di lantai kamar merintih kesakitan! Meski berhasil mengelakkan serangan gotok-golok maut tadi dan mernbuat Setan Darah Ketiga melingkar di lantai namun posisi Setan Pikulan sendiri di saat itu tidak menguntungkan sama sekali!

Salah satu ujung pikulannya telah dijepit sepasang tombak bermata dua dan dalam keadaan tubuh masih membungkuk di lantai begitu rupa sukar bagi Setan Pikulan uratuk melepaskan jepitan senjata lawan atas senjatanya. Hanya ada dua keputusan yang harus diambil oleh Setan Pikulan. Melepaskan senjatanya atau memutar Pikulan itu sambil mengerahkan tenaga dalam!

Setan Pikulan merasa lebih baik memutar senjatanya sekalipun pikulan itu akan patah daripada menyerahkan senjata tersebut mentah-mentah ke tangan lawan! Setan Pikulan gerakkan kedua tangannya!

“Kraak!”

Pikulannya benar-benar patah!

“Bedebah!” maki Setan Pikulan. Salah satu dari patahan pikulan itu dihantamkannya ke arah Setan Darah Pertama tapi dapat dielakkan. Patahan yang kedua ditusukkannya ke muka Setan Darah Kedua, namun dia keliwat kesusu!

Di saat melemparkan patahan senjata yang pertama kepada Setan Darah Pertama, Setan Pikulan tak dapat mengontrol posisinya, tak dapat melihat posisi lawan lainnya. Justru di waktu dia menyodokkan patahan pikularn maka Setan Darah Kedua lebih cepat dari itu setan Darah Kedua hantamkan ujung gadanya ke dada Setan Pikulan.

“Buuuk!!”

Setan Pikulan mengeluh tinggi. Tubuhnya terhuyung-huyung ke belakang. tersandar ke dinding lalu melosoh duduk ke lantai, muntahkan darah segar! Mukanya menjadi pucat laksana kain kafan dan nafasnya megap-megap! Setan Darah Pertama tertawa terkekeh-kekeh. Perlahan-lahan dia melangkah mendekati Setan Pikulan.

“Ha… ha… Nyatanya memang kau cuma manusia jenis kacoak! Apakah saat ini kau masih sanggup memperlihatkan kehebatanmu huh!”

“Setan alas mampuslah!” teriak Setan Pikulan. Tangan kanannya memukul ke muka. Seberkas sinar hitam menyambar ke arah Setan Darah Pertama, membuat manusia muka merah ini memaki dan cepat-cepat menghindar ke samping. Setan Pikulan sendiri kembali muntahkan darah segar. Dengan beringas Setan Darah Pertama angkat salah satu tombaknya tinggi-tinggi, siap untuk ditancapkan ke batok kepala Setan Pikulan!

“Tunggu dulu!” Setan Darah Ketiga berseru. Penasaran Setan Darah Pertama membentak “Tunggu apa lagi, sompret!”

“Kematian yang begitu cepat terlalu bagus baginya, Setan Darah Pertama!”

“Hem, kau punya rencana apa?!”

“Kau bisa merasakan dan membayangkan bagaimana seorang jago silat yang ditakuti cacat seumur hidup, tak bisa lagi memainkan silat dan ilmu kesaktiannya?! Cacat seumur hidup! Lebih mengerikan dari kematian sobat!”

“Cepat bilang terus terang rencanamu!” tukas Setan Darah Pertama penasaran. Setan Darah Ketiga tertawa sedingin es. Dia melangkah ke hadapan Setan Pikulan yang tersandar di dinding antara sadar dan tiada.

“Inilah rencanaku Setan Darah Pertama!” seru Setan Darah Ketiga. Serentak dengan itu sepasang goloknya berkelebat.

“Craas!”

Buntunglah kedua tangan Setan Pikulan. Dacah muncrat. Setan Pikulan meraung keras lalu rubuh di lantai bermandikan darah! Setan Darah Ketiga tertawa panjang-panjang. Dia memandang pada kedua koleganya dan berkata, “Dia akan hidup terus! Tapi hidupnya akan dirongrong oleh rasa kenyerian! Dendam kesumat yang membara! Namun tak satu apapun yang akan bisa dilakukannyal Karena dia cacat selama-lamanya!”

Meledaklah tawa Tiga Setan Darah itu. Setan Darah Pertama menepuk-nepuk bahu Setan Darah Ketiga. “Betul! Betul sekali katamu! Dia tidak marnpus, tapi hidupnya lebih mengerikan dari pada benar-benar mampus! Sekarang mari kita tinggalkan tempat sialan ini! Di luar ada seorartg gadis jelita menunggu kita. Kita bawa dia ke gedung dan suruh dia membuka bajunya satu demi satu! Kalau tidak mau kita yang tolong membukanya….!”

Baca lanjutannya:
Wiro Sableng: Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin (10)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.