Rabu, 21 Juni 2017

Wiro Sableng: Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin (8)

Wiro Sableng: Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin

“Dadamu bagus dan putih sekali!” seru Setan Pikulan seperti gila. Dan kemudian betul-betul macam orang gila muka dan bibirnya melumasi dada Sekar yang sampai saat itu masih menjerit-jerit. Sekar menjerit lagi lebih keras sewaktu sepasang tangan Setan Pikulan menggerayang meremasi dadanya!

“Braak !”

Pintu kamar terpentang lebar. Salah satu papannya pecah! Kaget Setan Pikulan bukan olah-olah! Sebelum dia berpaling, dari pintu sudah membentak satu suara.

“Munding Sura! Hentikan perbuatan kotormu itu!”

~ 8 ~

BEGITU berpaling begitu Setan Pikulan alias Munding Sura hendak mendamprat marah. Tapi sewaktu melihat siapa yang berdiri dihadapannya dia hanya mengeluarkan suara menggerendeng. Di belakang laki-laki yang masuk ke dalam kamar itu masih ada seorang lainnya. Setan Pikulan bangkit dari tempat tidur.

“Kalau tidak memandang kepada nama besar serta hubungan kita sesama tokoh-tokoh pembantu Baginda, pasti aku sudah tendang kau ke luar dari kamar ini Setan Darah Kedua!” Setan Darah Kedua tertawa bergumam. Dia rangkapkan tangan di muka dada sementara kawannya melangkah ke sampingnya. Sepasang mata Setan Darah Kedua menatap tubuh yang tergeletak di atas tempat tidur. Hatinya terkesiap juga memandangi paras cantik dengan tubuh dalam keadaan setengah telanjang itu! Seperti Setan Pikulan, diapun seorang yang suka perempuan!

“Setan Darah, lekas katakan apa maksud kedatangan kalian!”

“Sewaktu memasuki ujung jalan kau kelihatan ke luar dari tempat kediaman kami membawa perempuan itu!” kata Setan Darah Kedua. Kepalanya digoyangkannya sedikit ke arah Sekar.

“Ada perlu apa kau ke tempat kami dan siapa ini perempuan?!”

“Siapa ini perempuan bukan urusanmu!” jawab Setar Pikulan.

“Kalau kau memandang mukaku, aku juga matih mau memandang muka padamu, Setan Pikulan,” kata Setan Darah Kedua.

“Kuharap kau tak usah bicara kasar!” Setan Darah Kedua tertawa dingin.

Setan Darah Ketiga buka mulut, “Melihat caramu ke luar dari gedung kami dan melarikan perempuan ini jelas sudah kau membuat apa-spa yang tak diingini d tempat kami!” Setan Pikulan meludah ke lantai.

“Aku ke sana sebetulnya untuk menyambangi kalian…”

“Itu satu kehormatan.” memotong Setan Darah Kedua dengan nada sinis.

“Kalian tidak ada. Pintu samping kutemui dalam keadaan hancur. Senjata-senjata rahasia bertancapan di pohon dan bertebaran di tanah. Halaman belakang kacau balau dan pintu belakang gedung kalian juga, kutemui dalam keadaan terpentang bobol…”

“Hemmm…” gumam Setan Darah Ketiga.

“Siapa yang melakukannya?!”

“Mana aku tahu!” sahut Setan Pikulan.

“Jangan dusta Munding Sura!” sentak Setan Darah Kedua.

“Hanya beberapa orang saja yang tahu rahasia masuk ke gedung itu, diantaranya kau!”

“Jadi kau menuduh aku membuat kerusakan di gedung itu?”

“Aku tanya siapa yang melakukan, bukan menuduh!” sahut Setan Darah Kedua ketus.

“Aku sudah bilang tidak tahu! Dan sekali tidak tahu, tetap tidak tahu. Sekarang silahkan angkat kaki dari sini!”

“Baik Munding Sura. Tapi ingat…” ujar Setan Darah Ketiga.

“Bila nanti terbukti kau berbuat…”

“Tak usah mengancam sompret!” maki Setan Pikulan.

Setan Darah Ketiga melangkah maju. Setan Darah Kedua menarik lengan jubahnya dan berkata pada Setan Pikulan, “Sekarang memang baru cuma ancaman. Kelak kalau kami tahu bahwa kau betul-betul telah membuat keonaran di tempat kami, ancaman itu akan menjadi kenyataan, Munding!”

Munding Sura yang bergelar Setan Pikulan tertawa mencemooh!

“Dasar manusia-manusia tidak tahu diri!” katanya. “Kalian tahu, sewaktu aku datang ke sana ada dua cecunguk yang sembunyi di atas genteng! Satu diantaranya gadis ini, yang lain seorang pemuda! Aku paksa mereka turun dan paksa agar memberi keterangan. Mereka menerangkan tengah mencari seorang kawan yang kalian seret ke tempat kalian! Mereka bermakpud membebaskannya! Aku pikir kalau manusia itu adalah musuhmu maka pasti yang dua lainnya adalah kambratnya juga. Si gadis, kutotok dan kawannya kutipu kujebloskan dalam ruang batu karang di dasar gedung! Kalian dengar semua itu?! Seharusnya kalian berterima kasih padaku dan bukan mengoceth tak karuan! Sekarang berlalu dari hadapanku sebelum kesabaran habis!”

Setan Darah Kedua menarik lengan baju kawannya. Keduanya sama-sama melangkah ke pintu. Tapi tiba-tiba Sekar berseru. “Setan Darah! Jangan kena ditipu oleh bangsat kepala botak ini!” Tentu saja kedua Setan Darah itu sama hentikan langkah dan balikkan badan!

“Apa yang diterangkannya semua adalah dusta!”

“Heh, begitu…?!”

“Gadis edan apa mulutmu mau kupecahkan?!” bentak Setan Pikulan.

“Berani kau bicara lagi betul-betul kupecahkan mulutmu!”

“Biarkan dia bicara, Munding Sura!” kata Setan Darah Kedua.

“Tapi kau lepaskan dulu totokanku!” kata Sekar.

“Aku akan terangkan apa yang telah diperbuatnya ditempatmu! Dan bukan itu saja, aku akan bersedia ikut dengan kalian!”

“Ah…” Setan Darah Kedua mengusap-usapkan kedua telapak tangannya satu sama lain.

“Satu usul yang baik! Memang kau telah pantas bersamaku daripada kambratku yeng kate buruk ini!” Marahlah Setan Pikulan.

“Saat ini aku tidak memandang nama besar atau mukamu lagi Setan Darah keparat! Tidak perduli meski kita sama-sama orang Istana!”

“Gadis itu sudah membuka kedok kedustaanmu!”

“Dia yang dusta! Bohong besar!”

“Dusta atau tidak tapi aku percaya omongannya. Dan aku dengar dia sendiri yang mau ikut bersamaku!” Setan Darah Kedua mengekeh. Mulut Setan Pikulan komat kamit.

“Boleh,” katanya.

“Silahkan bawa gadis itu. Tapi begitu tanganmu menyentuh tubuhnya, kepalamu akan hancur lebih dulu!” Setan Darah Kedua tertawa bergelak.

“Nama besar Setan Pikulan memang sudah lama kami dengar, Tapi hendak manantang Tiga Setan Darah yang kesohor sama saja seperti biduk kecil yang hendak melawan gelombang sebesar gunung!” Kini Setan Pikulan yang tertawa mangekeh.

“Orang sombong memang terlalu sering lupa diri! Kita walau bagaimanapun masih sama sama manusia. Aku bukan biduk dan kalian bukan gunung! Bicara jangan ngaco!”

“Agaknya jalan kekerasan tak bisa dihindarkun, Setan Pikulan!” kata Setan Darah Ketiga sambil usut-usut lengan jubahnya.

“Kukira demikian, Lagi pula memang sudah sejak lama aku ingin membuktlkan sampai di mana kehebatan nama Tiga Setan Darah itu. Jangan-jangan cuma bangsa kroco bau terasi saja! Apalagi sekarang cuma ada dua orang!”

“Kita akan saksikan siapa yang kroco manusia buruk!” sahut Setan Darah Kedua. Dia berpaling pada kawannya dan berkata, “Kau lepaskan totokan gadis itu, biar aku yang kasih pelajaran pada manusia jenis kacoak ini!”

Setan Darah Ketiga melompat ke arah tempat tidur. Dua jari tangannya siap untuk melepaskan totokan di tubuh Sekar, tapi dari samping Setan Pikulan tidak tinggal diam. Tubuhnya yang kate melasat ka muka satu tendangan yang dahsyat dilancarkannya ke arah tangan Setan Darah Ketiga. Tentu saja Setan Darah Ketiga tidak mau ambil risiko hancur tangannya. Cepat-cepat dia tarik pulang tangannya, menggeser kaki dan kebutkan lengan jubahnya sebelah kiri!

Selarik sinar merah menyambar ke arah selangkangan Setan Pikulan! Ini adalah satu serangan yang benar-benar mematikan! Tapi si kate kepala gundul bukan manusia kemarin. Dia membentak dan melompat ke atas. Dari atas dia kirimkan satu jotosan dan satu tendangan! Setan Darah Ketiga merunduk sementara sinar pukulannya tadi telah melanda dan menghancurkan tembok kamar!

Di ruang sebelah terdengar pekikan beberapa orang perempuan! Serangan gencar Setan Pikulan menjadi batal sewaktu dari samping Setan Darah Kedua tusukkan dua jari tangannya ke rusuk. Setan Pikulan yang tahu betul kehebatan dua jari itu cepat menghindar dan sekaligus dua tangannya dipukulkan ke muka! Setan Darah Kedua cepat-cepat buang diri ke samping sewaktu melihat dua gelombang angin hitam ke luar dari jotosan-jotosan lawannya.

“Ilmu pukulan sepasang tinju hitammu tiada berguna terhadapku manusia buruk!” ejek Setan Darah Kedua. Sementara kawannya baku hantam dengan Setan Pikulan. Setan Darah Ketiga pergunakan kesempatan untuk membebaskan Sekar dari totokan.

Namun kali yang kedua inipun tidak berhasil karena saat itu Setan Pikulan sudah menyambar senjatanya yang ampuh yang menyebabkan dia sampai dijuluki Si Setan Pikulan dalam dunia persilatan. Senjatanya itu bukan lain ialah sebuah pikulan dari bambu! Meskipun dari bambu tapi karena merupakan senjata sskti maka kekuatannya lebih hebat dari baja! Setan Darah Ketiga cepat-cepat buang diri ke samping sewaktu ujung pikulan menusuk ke kepalanya. Setan Darah Kedua mengomel.

“Tolol!” makinya, “lepaskan dia dengan totokan jarak jauh!”

Habis berkata begitu Setan Darah Kedua segera keluarkan sanjatanya yaitu sepasang gada. Dalam ilmu mengentengi tubuh dan tenaga dalam serta kegesitan bergerak Setan Pikulan tidak di bawah kedua Setan Darah itu, apalagi saat itu pikulan saktinya sudah berada di tangan.

Namun menghadapi dua lawan yang berada dalam jarak terpisah di mana dia musti pula melindungi Sekar agar jangan sampai gadis itu berhasil dibebaskan lawan dari totokannya maka ini adalah satu hal yang cukup menyulitkan bagi Si Setan Pikulan! Setiap saat dia harus membagi serangan pada kedua lawan dan melindungi Sekar!

Setan Pikulan putar senjatanya laksana kitiran. Pikulan itu dimainkan dalam jurus-jurus silat toya. Angin deras dan suara mengaung memenuhi kamar itu. Namun senjata lawan yang dihadapi Setan Pikulan bukan pula senjata biasa! Bagaimana pun dia mempercepat gerakannya dan mendesak Setan Darah Kedua dengan hebat namun pada jurus kesembilan belas Setan Pikulan tak berhasil menghalangi Setan Darah Ketiga melepaskan satu pukulan tangan kosong jarak jauh yang membuat terlepasnya totokan di tubuh Sekar! Begitu bebas secepat kilat gadis itu merapikan pakaiannya.

“Saudari, kau menghindarlah ke sudut sana! Tunggu sampai kami membereskan monyet kontet ini!” kata Setan Darah Kedua. Sekar merasa syukur bahwa hasutannya termakan oleh kedua Setan Darah sehingga kini dia lepas dari totokan. Dia tahu baik Setan Pikulan maupun manusia-manusia bermuka dan berjubah merah itu tiada beda satu sama lain.

Dia berpikir-pikir apakah akan masuk ke gelanggang pertempuran untuk turut mengeroyok Setan Pikulan yang telah membuat kekejian terhadapnya atau lebih baik menyingkir dulu dari situ sebelum timbul pula urusan baru dengan manusia-manusia iblis bermuka merah itu!

Si gadis mengambil keputusan yang terakhir. Apa lagi dia ingat bahwa sewaktu dibawa lari oleh Setan Pikulan dari gedung kediaman Tiga Setan Darah tadi, sahabatnya Wiro Sableng masih tertinggal di sana, dikurung dalam ruang batu karang. Maka gadis ini cepat-cepat melompat ke pintu. Namun apa lacur! Bersamaan dengan itu sesosok tubuh melompat pula dari luar dan cepat berhadap-hadapan dengan Sekar di ambang pintu itu!

~ 9 ~

MANUSIA ini berambut gondrong, bermuka dan berjubah merah parsis seperti yang dikenakan dua orang Setan Darah yang tengah bertempur di dalam kamar. Pasti tidak manusia ini adalah kawan dari dua Setan Darah lainnya itu pikir Sekar.

Di lain pihak manusia yang berdiri diambang pintu yang memang Setan Darah Pertama adanya menduga keras bahwa Sekar adalah perempuan yang tadi terlihat dilarikan oleh Setan Pikulan dari gedungnya. Meskipun dia tertarik sekali akan kecantikan si gadis dihadapannya namun saat itu Setan Darah Pertama masih diliputi kemarahan yang meluap yaitu sesudah dia menyaksikan kerusakan-keruasakan di gedungnya serta dibikin seperti main-mairan sewaktu bertempur melawan Pendekar 212.

“Kalian tolol semua!” bantak Setan Darah Pertama sewaktu menyaksikan dua kawannya yang mengeroyok Setan Pikulan tapi mendapat tekanan-tekanan yang hebat bahkan sesungguhnya sudah mulai terdesak.

Baca lanjutannya:
Wiro Sableng: Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin (9)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.