Rabu, 21 Juni 2017

Wiro Sableng: Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin (7)

Wiro Sableng: Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin

“Apa ini si kate kepala gundul itu yang melakukannya?” manusia bermuka merah ini membatin. “Kalau betul kelak aku akan kasih pelajaran pada manusia keparat itu!”

Dilewatinya pintu yang telah bobol itu dan ketika sampai di halaman belakang kekagetannya bertambah-tambah sewaktu menyaksikan tanah dari anak tangga sebelah bawah pintu belakang hancur berantakan sedang pintu belakang itu sendiri juga bobol pecah!

“Setan alas! Setan alas!” maki manusia muka merah itu. Dia memandang berkeliling dan merasa heran karena dia tidak melihat arca yang seharusnya berada di halaman itu! Siapa yang melakukan ini semuanya? Apa yang sebenarnya telah terjadi. Dan Setan Pikulan yang tadi dilihatnya ke luar dari pintu halaman, memboyong seorang perempuan?!

Sudut mata Setan Darah Pertama menangkap satu gerakan. Cepat-cepat dia palingkan kepala. Sepasang mata Setan Darah Pertama melotot. Dihadapannya berdiri seorang pemuda berambut gondrong, berpakaian putih-putih. Dia tidak kenal dengan pemuda ini. Yang membuat Setan Darah Pertama begitu terkejut ialah karena pemuda ini memanggul Pranajaya yang sebelumnya telah disekapnya dalam ruang batu karang!

Setan Darah Pertama berpikir cepat. Jika si pemuda asing ini adalah kawan Pranajaya dan menolong Prana keluar dari ruang batu karang, pastilah dia yang telah menghancurkan pintu samping dan pintu belakang gedung kediamannya. Dan di dalam gedung pasti pula dia telah membuat kerusakan yang lebih hebat lagi.

Lantas, apa pula hubungan Setan Pikulan yang tadi dilihatnya ke luar dari halaman gedung dengan memboyong seorang perempuan?! Setan Darah Pertama jadi bingung sendiri! Matanya menatap tajam. Kalau betul pemuda belia ini yang telah membebaskan Pranajaya dari dalam ruang batu maka ini adalah hal yang sangat tak bisa dipercaya oleh Setan Darah Pertama.

Untuk masuk ke dalam gedung tua saja seseorang harus melalui rintangan-rintangan senjata rahasia yang bisa membawa maut! Kalaupun dia sanggup masuk ke dalam, belum tentu dia tahu rahasia bagaimana membuka pintu ruang batu karang. Mungkin dia mempergunakan ilmu kesaktian dan membobolkan pintu ruang batu? Selama bertahun-tahun tak ada satu kekuatan pun yang sanggup mendobrak pintu ruang batu karang itu. Apalagi manusia muda bertampang dogol seperti yang saat itu berdiri memanggul tubuh Pranajaya dihadapannya.

Di lain pihak Pendekar 212 Wiro Sableng memandang pula tepat-tepat kepada Setan Darah Pertama. Dia ingat manusia inilah yang telah menyeret Pranajaya tadi sepanjang jalan. Dia tenangtenang saja dan tidak perlu terkejut melihat si muka merah ini. Cuma yang diam-diam membuat dia khawatir ialah karena saat itu dia sama sekali tidak melihat Sekar! Tak ada dugaan lain selain bahwa gadis itu pasti sudah dilarikan oleh si kate Setan Pikulan!

“Pemuda asing, siapa kau?!” bentak Setan Darah Pertama dengan suara menggeledek. Sekaligus dia hendak menunjukkan bahwa dia bukan manusia sembarangan. Wiro Sableng cengar cengir seenaknya.

“Jangan cengar cengir tak karuan! Cepat beritahu siapa kau dan mengapa nyalimu begitu besar membuat keonaran di sini?!”

“Wiro…” Pranajaya berbisik.

“Manusia muka kepiting rebus ini adalah musuh besarku! Salah satu dari Tiga Setan Darah…” Wiro tertawa mendengar ucapan “kepiting rebus” itu.

“Setan alas!” sentak Setan Darah Pertama.

“Kau kira kau berhadapan dengan siapakah berani tertawa seenak perutmu?!”

“Masakah orang tertawa saja tidak boleh!” sahut Wiro Ssbleng. Darah Setan Darah Pertama naik ke kepala.

“Kalau kau masih bicara bertele, nyawamu akan kukirim menghadap setan neraka!” ancam Setan Darah Pertama dan tangan kanannya dinaikkan ke atas, siap untuk melancarkan satu pukulan tangan kosong!

“Sabar… sabar sobat!” kata Wiro.

“aku adalah kawan pemuda ini. Sebagai kawan, sepantasnya aku menolong bila dia mendapat kesukaran… Bukan begitu Tiga Setan Darah?!”

“Hemm… manusia buruk macammu rupanya sudah tahu juga berhadapan dengan siapa saat ini!” ujar Setan Darah Pertama.

“Karena kau kawan pemuda itu, terpaksa kalian berdua kuseret kembali ke ruang batu karang!”

Habis berkata demikian Setan Darah Pertama lentingkan kelima jarinya ke muka. Lima larik sinar merah menyambar ke arah lima bagian tubuh Wiro Sableng! Inilah ilmu totokan jarak jauh bernama totokan lima jari yang sangat lihai sekali! Pendekar 212 Wiro Sableng keluarkan suara bersiul. Sekali melompat ke samping, lima sinar totokan itu dapat dihindarkannya sekaligus! Ini membuat Setan Darah Pertama menjadi gusar.

“Punya sedikit ilmu saja hendak diandalkan!” ejeknya.

“Aku mau lihat sampai di mana kedikjayaanmu bocah konyol!.” Serentak dengan itu Setan Darah Pertama melompat dari kudanya.

“Silahkan turunkan dulu kunyuk dibahumu itul” kata Setan Darah Pertama.

“Tiga Setan Darah, meski kau seorang bejat yang sebenarnya tidak pantas hidup di dunia ini, tapi aku tak punya permusuhan denganmu. Harap minggir beri jalan…!”

“Kentut bapak moyangmu!” teriak Setan Darah Pertama.

“Lekas turunkan pemuda itu, dalam satu jurus nyawamu pasti akan minggat dari badan!” Sebenarnya Wiro bukan tak mau baku hantam dengan manusia terkutuk ini, tapi karena dia mengkhawatirkan keselamatan Sekar dan musti mencari gadis itu maka sekali ini diusahakannya untuk menghindari pertempuran. Tapi agaknya si muka kepiting rebus tak memberi kesempatan terhadapnya. Dan ini membuat murid Eyang Sinto Gendeng itu mulai luntur pula kesabarannya.

“Iblis muka merah!” bentak Wiro Sableng.

“Untuk menghadapi kau kenapa musti susah-susah turunkan tubuh kawanku ini segala?” Mendidihlah darah Setan Darah Pertama. Seumur hidupnya tak pernah dia mendapat hinaan demikian.

“Kalau begitu kalian akan mampus sama-sama!” teriaknya lantang.

Setan Darah Pertama kebutkan kedua lengan jubahnya. Dua angiri merah yang amat dahsyat menderu ke arah Wiro Sableng. Dalam jarak dua tombak saja panasnya sudah memerihkan kulit.

“Awas Wiro, pukulan itu beracun!” membisik Pranajaya. Lalu tambahnya.

“Manusia ini bukan sembarangan, ilmunya tinggi. Lebih baik kau sandarkan aku ke pohon sana…!”

“Ah, tak usah khawatir sobat..,” jawab Wiro. Satu tombak dua larikan sinar merah itu menyambar kearahnya dengan membentak nyaring Pendekar 212 berkelebat.

Tubuhnya lenyap dari hadapan Setan Darah Pertama. Kaget Setan Darah Pertama bukan main-main. Tak tahu dia gerakan kilat apa yang dipergunakan oleh si pemuda lawannya hingga lebih cepat dari kejapan mata pemuda itu sudah lenyap dari pemandangannya. Cepat-cepat dia membalik. Wiro dan Prana dilihatnya sudah berada di pintu samping.

“Kau mau lari ke mana bedebah?!” bentak Setan Darah Pertama dan memburu dengan cepat seraya lancarkan satu jotosan jarak jauh yang hebat. Serangan ini membuat murid Eyang Sinto Gendeng melompat ke samping lalu membalik.

“Iblis muka merah, kali ini aku tidak ada waktu untuk melayanimu. Kelak di lain hari kita bakal berhadapan kembali!”

“Cuma nyawamu yang bisa pergi dari sini keparat!” teriak Setan Darah Pertama. Dia memburu lagi. Tapi langkahnya terhenti. Wiro telah melepaskan satu pukulan yang mendatangkan angin yang amat hebat, membuat pasir di halaman itu menggebu laksana kabut tebal menderu ke arah Setan Darah Pertama membuat pemandangannya tertutup.

Ketika dia menerobos kabut pasir itu dengan cepat, Wiro Sableng dan Pranajaya sudah lenyap! Setan Darah Pertama menyumpah habis-habisan. Orang-orang yang berada di tengah jalan cepat-cepat menghindar ke tepi sewaktu Setan Pikulan memacu kudanya dengan kecepatan yang luar biasa. Debu beterbangan di belakang diterpa oleh keempat kaki kuda tunggangan manusia bertubuh kate itu. Seorang pejaian kaki berkata pada kawannye di tepi jalan.

“Lihat, si kate kepala gundul itu membawa seorang perempuan lagi!”

“Ya, parasnya cantik sekali!” sahut kawannya. Diangkatnya bahunya lala berkata lagi,
“Manusia dajal itu rupa-rupanya tak pernah bosan dengan perempuan. Di gedungnya sudah belasan perempuan yang jadi peliharaannya! Kini satu lagi bakal menjadi korban kebejatan nafsunya. Kasihan perempuan itu…”

“Aku sangat menyesalkan Baginda. Beliau…” Laki-laki itu tak meneruskan kata-katanya karena di belakangnya terdengar derap kaki-kaki kuda. Keduanya berpaling.

“Ini lagi…” kata laki-laki tadi pelahan.

“Bergundal-bergundal Baginda. Mereka tidak ada beda dengan Si Setan Pikulan!” Dua penunggang kuda itu berlalu dengan cepat. Mereka bukan lain dari Setan Darah Kedua dan Ketiga yang tengah mengejar Setan Pikulan! Di sebuah gedung kecil di pinggiran Kotaraja, Munding Sura alias Setan Pikulan menghentikan kudanya.

“Ah, manisku. Kita sudah sampai!” katanya seraya mendukung Sekar dan melompat dari kudanya. Di ruang dalam tiga orang perempuan muda yang cantik-cantik tengah duduk berbicara Mereka adalah sebagian dari peliharaanpeliharaan Setan Pikulan.

Ketiganya memandang pada Setan Pikulan dan perempuan yang ada dalam dukungannya. Mereka tak berkata dan tak berbuat apa-apa selain hanya memandang. Dan di dalam hati masing-masing, mereka sudah tahu apa yang bakal dialami parempuan yang dibawa Setan Pikulan itu ketika mereka melihat laki-laki itu melangkah menuju ke kamar di ujung ruangan! Kemudian pintu kamar itu pun tertutuplah.

Di dalam kamar....

Setan Pikulan menutupkan pintu dengan tumit kakinya. Dengan tertawa mengekeh-ngekeh manusia ini membaringkan Sekar di atas tempat tidur. Kemudian dia melangkah ke meja dan meneguk tuak dari dalam sebuah kendi. Minuman keras ini dengan serta merta menghangati tubuh dan menambah gelora nafsu terkutuk Setan Pikulan. Dengan memegang kendi itu di tangan dia melangkah kembali ke tempat tidur dan duduk di samping Sekar.

“Ah, parasmu yang cantik basah oleh keringat dan debu. Biar aku bersihkan… kata Setan Pikulan. Lalu dengan tangan kirinya diusapnya kening serta pipi Sekar. Gadis ini memaki dalam hati. Hanya itu, yang bisa dilakukannya. Dia tak bisa membuka mulut ataupun menggerakkan anggota badannya karena telah ditotok. Cuma mimik mukanya yang menyatakan demikian. Setan Pikulan meneguk tuaknya kembali.

“Eh, kau tentu haus” Setan Pikulan mengedipkan matanya beberapa kali. Lalu dibukanya totokan pada tubuh Sekar. Gadis itu kini bisa bicara dan mendengar tapi tubuhnya tetap kaku tak bisa digerakkan.

“Ini, minumlah, kau tentu haus manisku!”

“Manusia biadab! Lepaskan totokanku! Keluarkan aku dari sini!” teriak Sekar.

“Kau masih saja galak,” desis Setan Pikulan dan mencubit dagu Sekar.

“Ini minum!” katanya. Bibir kendi didekatkannya ke bibir gadis itu. Sekar mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Tapi kemudian dia mendapat akal. Dibukanya mulutnya sedikit. Tuak di dalam kendi itu diteguknya dua kali. Setan Pikulan tertawa gembira. Tapi tiba-tiba tuak yang sudah diteguk tadi tiba-tiba disemburkan kembali oleh Sekar dan karena tidak diduga sama sekali oleh Setan Pikulan, laki-laki, ini tak sempat lagi menghindar!

Dia berteriak kesakitan dan melemparkan kendi di tangannya ke dinding. Kendi pecah berantakan isinya membasahi lantai! Untung saja Sekar dalam keadaan ditotok sehingga dia tak bisa mengalirkan darah dan tenaga dalamnya! Jika saja semburan tuak tadi disertai dengan aliran tenaga dalam niscaya hancur dan butalah mata Setan Pikulan.

Namun demikian semburan tadi sudah cukup membuat matanya sakit sekali dan untuk beberapa saat lamanya tak bisa membuka kedua matanya itu! Sambil mengeringi mukanya yang basah dan mengucakngucak kedua matanya Setan Pikulan memaki habis-habisan!

“Gadis gila! Kalau kau tidak sekurang ajar itu terhadapku pasti aku akan perlakukan kau baik-baik. Tapi kini kau akan rasakan sendiri !” Setan Pikulan mengucak lagi kedua matanya. Pemandangannya sudah terang kini. Kedua matanya yang juling memandang dengan berapi-api. Tiba-tiba dibungkukkannya kepalanya. Maka habislah seluruh tubuh Sekar diciuminya. Gadis itu menjerit tiada henti.

“Menjeritlah sampai lidahmu copot!” kata Setan Pikulan dengan tertawa mengekeh. Ciumannya datang lagi bertubi-tubi. Kemudian bukan hanya ciuman saja lagi. Sepasang tangan manusia kate ini membuat dua kali gerakan.

“Breet!”

“Breet!”

Pakaian kuning yang dikenakan Sekar robek besar. Dadanya tersingkap lebar!

Baca lanjutannya:
Wiro Sableng: Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin (8)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.