Rabu, 21 Juni 2017

Wiro Sableng: Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin (6)

 Wiro Sableng: Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin

“Gadis molek, siapa-siapa manusia yang berani menipuku pasti kukirim ke akherat! Kawanmu telah kujebloskan ke dalam ruang batu karang…!” Setan Pikulan tertawa lagi. Sekar kaget bukan main mendengar keterangan ini. Dia tahu sendiri bahwa Wiro Sableng bukan pemuda sembarangan. Ilmu Silat dan kesaktiannya tinggi sekali.

Dia bahkan telah menyaksikan kehebatan pemuda itu di Biara Pensuci Jagat sewaktu bertempur melawan Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga, tapi kenapa kini dia bisa terjebak dan masuk ke dalam perangkap ruang batu? Apakah ilmu Setan Pikulan jauh tebih tinggi dari Wiro? Atau mungkin manusia kate bermuka buruk ini telah membokong dan menipu Wiro secara pengecut?

“Terhadapmu gadis molek…” berkata lagi si kate kepala gundul, dia berjingkat dan mengulurkan tangannya mengelus dagu Sekar. Gadis ini memaki habis-habisan. Setan Pikulan tertawa bergelak. Dan akhirnya Sekar meludahi muka manusia buruk itu.

“Sompret kau!” bentak Setan Pikulan. Tapi dia tidak sebenarbenarnya marah. Dengan tertawa-tawa ditariknya ujung baju kuning Sekar dan disekanya mukanya yang disembur ludah itu.

“Kalau kau tidak secantik ini pasti sudah kuremas hancur kau punya, muka! Kau kuampuni tapi musti ikut ketempatku! Untuk selanjutnya kau akan jadi perempuan peliharaanku!”

“Bedebah keparat. Lekas lepaskan totokanku kalau tidak kelak jiwamu tak akan kuampuni!” Setan Pikulan tertawa gelak-gelak.

“Kau galak sekali. Aku mau lihat apakah di tempat tidur kau juga akan segalak ini… He… he…he…?!” Sekar memaki dan meludahi lagi muka laki-laki kate itu. Setan Pikulan tak menunggu lebih lama. Dilakukannya lagi satu totokan yang membuat mulut Sekar menjadi bungkam bisu tak bisa mengeluarkan suara lagi! Kemudian secepat kilat manusia kate itu meraih pinggang Sekar, melompat ke atas kudanya dan meninggalkan tempat itu.

***

SEMENTARA itu di ruang batu karang di bawah gedung kediaman Tiga Setan Darah…

Begitu Wiro Sableng melompat dan sampai di anak tangga teratas, lantai di atasnya tertutup dengan cepat! Pendekar ini memaki habis-habisan. Diterjangnya lantai di atas tangga itu dengan satu tendangan keras yang disertai aliran tenaga dalam. Jangankan bobol, berbekaspun tendangannya itu tidak!

Penasaran sekali Wiro Sableng alirkan separoh dari tenaga dalamnya ke kaki dan untuk kedua kalinya dia menendang lagi. Lantai karang yang merupakan langit-langit ruang batu itu keras dan atosnya bukan olah-olah. Tendangan Wiro Sableng hanya senggup membuat langit-langit itu tergetar sedikit saja!

“Sialan!” gerutu Pendekar 212. Kini seluruh tenaga dalamnya dialirkan ke kaki. Dengan bentakan dahsyat pendekar ini menendang ke atas. Ruang batu itu bergoncang! Tapi bagian yang ditendang tidak mengalami perobahan sedikit pun!

Wiro menghela nafas dalam. Keringat dingin mengucur dikeningnya. Penuh penasaran pemuda ini salurkan seluruh tenaga dalamnya ke tangan kanan sampai tangan itu tergetar. Kedua kakinya merenggang. Dalam keadaan seperti itu, bila dia berdiri di tanah pastilah kedua kakinya akan melesak sedalam lima atau sepuluh senti. Tapi di atas lantai karang yang atos itu, hal itu tidak terjadi. Perlahan-lahan jari-jari tangan pendekar 212 menekuk membentuk tinju.

“Ciaaat!” Didahului dengan bentakan menggeledek itu Wiro Sableng pukulkan tangan kanannya ke atas. Jari-jari yang terkepal membuka. Satu gumpalan angin keras laksana batu besar bergulung-gulung dan melesat menghantam bagian atas ruangan batu didekat kepala tangga! Inilah pukulan kunyuk melempar buah!

Ruang batu itu bergoncang dahsyat. Angin pukulan memantul kembali, memadamkan pelita yang terletak di lantai. Dan ruangan batu kurang itu dengan serta merta menjadi gelap gulita. Tangan di depan matapun tak kelihatan!

Wira Sableng menggerendeng, memaki diri sendiri, memaki akan ketololannya sendiri. Seharusnya dia memperhitungkan bahwa pukulannya itu tadi akan dapat memadamkan pelita di ruang batu itu. Dia berpikir-pikir untuk melepaskan pukan sinat matahari. Tapi Wiro khawatir kalau-kalau pukulannya itu juga tidak mempan dan akan membalik menghantam dirinya sendiri serta manusia yang menggeletak di ruangan itu!

Sejak masuk ke dalam ruang batu karang itu baru Wiro ingat pada laki-laki bertangan buntung yang tadi hendak ditolongnya. Wiro melangkah perlahan-lahan sampai akhirnya kedua kakinya menyentuh tubuh laki-laki itu. Dia berlutut. Digoyang-goyangnya tubuh laki-laki itu. Tiada suara. Tubuh itu basah oleh keringat dan gelimangan darah. Wiro meletakkan telapak tangan kanannya di dada laki-laki itu.

Lama sekali baru dia berhasil merasakan degupan jantung yang sangat halus dan pelahan! Ternyata manusia itu masih hidup. Dengan cepat Wiro Sableng salurkan tenaga dalamnya melalui dada dan pergelangan tangan kanan laki-laki itu. Seperempat jam berlalu.

Masih tak ada reaksi apa-apa. Mungkin manusia itu tak ada harapan lagi untuk diselamatkan jiwanya, pikir Wiro. Tubuhnya sudah keringatan. Mengerahkan tenaga dalam selama seperempat jam tanpa terputus-putus merupakan hal yang sangat berat, kurang hati-hati salah-salah bisa membuat diri sendiri menjadi rusak di dalam!

Ketika sepeminuman teh lewat maka baru terasa laki-laki itu memberikan reaksi. Tubuhnya bergerak sedikit. Kemudian terdengar suara erangannya. Erangan yang hampir tak kedengaran. Wiro kerahkan lagi tenaga dalamnya sampai tubuhnya menjadi lemas. Dia tersandar kedinding dan mengatur jalan nafas serta darahnya. Kemudian telinganya mendengar erangan laki-laki itu lebih keras. Erangan kesakitan yang mengerikan!

“Di mana aku?” lapat-lapat Wiro mendengar laki-laki itu bertanya.

“Sobat, kau sudah siuman?”

“Kau siapa…?” desis laki-laki itu.

“Apa kau bisa membuka matamu?”

“Ya, sedikit. Tapi semua gelap sekali!”

“Ya, ruangan ini memang gelap. Ruang batu karang yang tak beda dengan liang kubur! Kita sama-sama bernasib sial! Disekap di tempat terkutuk ini…”

“Kenapa kita bisa disekap di sini… Siapa yang menjebloskan kita…?”

“Ya. Namaku Pranajaya…”

“Meski kau terkurung di sini, nasibmu sebenarnya masih untung Prana,” kata Wiro. Pranajaya menghela nafas dalam.

“Kau kuat sekali. Kurasa jarang ada manusia yang sanggup bertahan dan masih hidup diseret dengsn kuda seperti kau.”

“Aku… aku diseret dengan kuda…?” tanya Prana.

“Ya. Sudahlah, sebaiknya kau duduk bersila. Atur jalan nafas, aliran darah dan tenaga dalammu…”

“Tidak mungkin…” desis Prana.

“Seluruh tubuhku tidak punya tenaga sedikitpun. Tulang-tulangku serasa remuk!”

“Kau begitu berbaring sajalah sementara aku mencari akal bagaimana kita bisa ke luar dari tempat terkutuk ini!” kata Pendekar 212.

“Kau masih belum menerangkan namamu,” ujar Pranajaya.

“Panggil aku Wiro…”

“Kau juga seorang dari dunia persilatan?”

“Sudah, aku bilang berbaring sajalah,” potong Wiro.

“Aku musti berpikir. Kita musti ke luar dari tempat celaka ini!” Pranajaya menutup mulutnya. Sekujur tubuhnya sakit tiada terkirakan. Sedikit demi sedikit dalam keadaan berbaring itu dicobanya mengatur jalan nafas, darah dan tenaga dalamnya.

“Plaak!”

Wiro memukul keningnya sendiri. Tangan kanannya mengeruk saku pakaiannya. Dari dalam saku ini diambilnya sebuah kantong kecil berisi beberapa buah pil. Diambilnya sebutir.

“Aku sampai lupa Prana, ngangakan mulutmu. Telan obat ini. Seperempat jam mungkin kau bisa lebih kuat...” Dalam gelap itu Pranajaya mengangakan mulutnya dan Wiro mencari-cari dengan tangannya mulut pemuda itu. Bila bertemu maka dimasukkannya pil itu ke dalam mulut Pranajaya.

Beberapa menit kemudian...

“Rasa sakitku agak berkurang…” kata Prana pelahan.

“Syukur...”

“Saudara Wiro bagaimana…” Pranajaya tidak meneruskan pertanyaannya. Di dalam gelap itu dirasakannya Wiro berdiri. Kemudian tubuhnya didukung den dibawa ke salah satu sudut ruangan.

“Apa yang hendak kau lakukan?” tanya Pranajaya. Wiro tak menjawab. Dia melangkah ke tengah ruangan kembali. Dari balik pakaiannya dikeluarkannya sebuah batu hitam yang bertuliskan angka 212 serta Kapak Maut Naga Geni 212.

Senjata sakti ini memancarkan sinar yang menerangi ruang batu itu. Meski tidak cukup terang tapi Wiro dapat melihat di mana pelita yang tadi padam terletak. Mata kapak dan batu hitam diadu satu sama lain. Lidah api menyembur ke arah pelita dan pelita itupun menyala kembali. Ruang batu karang menjadi terang benderang.

Kini kedua manusia itu baru bisa meneliti paras dan diri masing-masing. Paras Pranajaya mengerikan untuk dipandang. Kulit mukanya hampir keseluruhannya mengelupas, demikian juga kulit sekujur badannya. Salah satu telinganya hampir sumplung, hidung lecet. Pakaian robek-robek. Kulit kepala ada yang mengelupas dan darah, keringat serta debu membungkus tubuh Pranajaya mulai dari ujung rambut sampai ke kaki!

Pendekar 212 kertakkan rahang menahan hatinya yang seperti terbakar melihat keadaan tubuh laki-laki bertangan buntung itu. Kesalahan apakah yang telah dibuatnya sampai disiksa demikian biadabnya?

Wiro tak mau berpikir lebih lama. Saat itu yang musti dilakukan ialah mencari jalan ke luar. Dengan Kapak Naga Geni 212 ditangan Wiro Sableng melangkah menuju ke tangan batu paling atass. Dia memandang pada Pranajaya dan berkata, “Kalau senjataku ini tiada sanggup menghancurkan langit-langit ruangan batu karang ini berarti kita akan mampus di sini sobat.”

Pranajaya tak berkata apa-apa. Hatinya kecut, dan sedingin es. Wiro mengerahkan seluruh tenaga dalamnya. Kapak Naga Geni di putar-putar di atas kepala. Senjata itu mengeluarkan angin yang deras dan suara mengaung laksana deru ribuan tawon. Angin senjata membuat api pelita mati lagi. Pada saat itu terdengar bentakan menggeledek dan di saat yang bersamaan pula terdengar suara “buumm!”

Ruang batu bergoncang keras. Wiro terhuyung-huyung, tubuhnya dihujani oleh guguran dan puing-puing batu karang. Pranajaya terpelantihp dan terhampar di lantai ruang betu. Ketika Wiro memandang ke atas dia berseru girang, “Prana, kita berhasil!”

Ternyata batu karang tebal yang atos keras yang menjadi atap ruang batu itu tiada sanggup menghadapi Kapak Naga Geni 212. Sekali Wiro menghantamkan senjata pemberian gurunya itu maka hancur leburlah atap batu karang. Lobang baser terbuka tepat di atas anak tangga paling atas.

Pendekar 212 memasukkan kapaknya ke balik pinggang kemudian turun ke bawah kembali, mendukung tubuh Pranajaya dan mepinggalkan ruangan batu karang itu dengan cepat. Tapi sewaktu mereka sampai di halaman belakang, seorang penunggang kuda bermuka merah, berambut dan berjubah merah tahu-tahu muncul menghadang mereka. Setan Darah Pertama!

~ 7 ~

PADA WAKTU Setan Pikulan keluar dari pekarangan gedung tua membawa lari Sekar, maka di ujung jalan di belakangnya tiga penunggang kuda muncul. Mereka bukan lain Tiga Setan Darah yang baru saja kembali dari luar Kotaraja.

“Hai, kalau aku tak salah lihat itu si kepala gundul Setan Pikulan!” seru Setan Darah Pertama.

“Betul!” menyahut Setan Darah Kedua.

“Dia memboyong perempuan dan keluar dari rumah kita! Apa yang telah terjadi?!”

Tiga Setan Darah sama memacu kuda masing-masing lebih cepat namun Setan Pikulan sudah lenyap dari pemandangan mereka sewaktu ketiganya sampai di depan pintu halaman gedung tua.
“Kalian berdua kejar manusia itu,” perintah Setan Darah Pertama.

“Aku akan menyelidiki tempat kita. Pasti terjadi apaapa yang tak diingini!” Setan Darah Kedua dan Ketiga segera meninggalkan tempat itu sedang Setan Darah Pertama dengan cepat memasuki halaman gedung kediamannya. Apa yang disangkakannya ternyata betul! Pintu samping ditemuinya melompong bobol. Belasan senjata rahasia berbentuk panah bertebaran di tanah dan beberapa lainnya menancap di batang pohon Setan Darah Pertama memaki dalam hati.

Baca lanjutannya:
Wiro Sableng: Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin (7)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.