Senin, 19 Juni 2017

Wiro Sableng: Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin (5)

Wiro Sableng: Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin

“Mereka kembali!” bisik Sekar. Gadis ini segera keluarkan senjatanya yaitu besi berantai yang ujungnya diganduli bola besi berduri. Inilah senjata “Rantai Petaka Bumi” yang dahsyat. Wiro berpikir cepat. Dia mendapat satu akal lalu menggamit dan berbisik pada Sekar, “Cepat lompat ke atas genteng!”

Si gadis melotot. “Apa kau tidak punya nyali menghadapi mereka? Manusiamanusia terkutuk semacam itu harus dilenyapkan dari muka bumi, Wiro! Kalau kau takut pergilah sendiri ke loteng sana!”

Wiro menggerendeng. “Kita belum tahu siapa yang datang itu! Kalau benar mereka, dari atas genteng kita bisa mengintai bagaimana mereka masuk ke dalam gedung!”

Sekar hendak mengatakan sesuatu. Tapi Wiro Sableng sudah membetot lengannya dan melompat ke atas genteng bersama-sama!

Keduanya menunggu. Suara kaki-kaki kuda berhenti sebentar, lalu terdengar lagi memasuki halaman samping.

“Bukan mereka,” desis Wiro dan Sekar memalingkan kepalanya ke halaman samping.

~ 5 ~

YANG DATANG ternyata seorang penunggang kuda berkepala gundul. Sepasang matanya juling. Hidungnya sangat pesek, hampir sama rata dengan pipinya yang gembrot. Tangan dan kakinya sangat pendek sedang tubuhnya katai sekali. Yang lucunya manusia ini cuma memakai cawat, kulitnya hitam legam dan pada ketiak sebelah kirinya terkempit sebilah bambu berbentuk pikulan!

“Monyet terlepas dari mana ini?!” bisik Wiro Sableng.

“Dia bukan manusia sembarangan Wiro,” desis Sekar.

“Kau kenal dia?” tanya Wiro.

“Guruku pernah bilang manusia yang berciri-ciri macam dia. Melihat pada senjata yang dikempitnya aku yakin dia mustilah Si Setan Pikulan!”

“Buset! Apa tidak ada gelaran yang lebih jelek dari Setan Pikulan itu?!” seringai Wiro.

Penunggang kuda yang datang itu memang Setan Pikulan. Nama sebenarnya Munding Sura. Dia hentikan kuda di depan lobang besar di muka tangga pintu belakang. Diperhatikannya lobang itu sebentar lalu dia memandang berkeliling. Diangguk-anggukannya kepalanya. Kemudian diperhatikannya pintu belakang yang hancur sambil mengusap-usap kepalanya yang botak.

“Tiga Setan Darah!” Setan Pikulan berteriak.

“Apa kalian ada di dalam?!” Suara teriakan Setan Pikulan kerasnya bukan main, menggetarkan seantero halaman belakang gedung tua itu, menggetarkan genteng di mana Wiro dan Sekar berada.

“Tenaga dalarnnya hebat sekali,” bisik Wiro pada Sekar.

“Ah, rupanya kalian tak ada di rumah!” terdengar Setan Pikulan berkata. “Sayang sekali! Sayang sekali! Ada dua orang tamu dari jauh, tuan rumah tidak ada! Sayang sekali!”

Wiro dan Sekar sama terkejut dan saling berpandangan Mereka yakin dua orang tamu yang dimaksudkan oleh manusia kate itu pastilah diri mereka sendiri. Belum habis kejut kedua orang ini di bawah terdengar bentakan Setan Pikulan.

“Cecunguk-cecunguk yang di atas genteng, lekas turun! Mataku yang juling tak bisa ditipu! Ayo turun!” Sekar segera bergerak hendak melompat turun. Tapi Wiro menarik bajunya kuningnya.

“Biar aku yang turun,” kata murid Eyang Sinto Gendeng ini. Kemudian murid Eyang Sinto Gendeng ini dengan cepat melompat turun. Mata juling Si Setan Pikulan memperhatikan cara dan gerakan melompat si pemuda dan juga memperhatikan ketika sepasang kaki Wiro menginjak tanah. Telinganya yang tajam sama sekali tiada mendengar sedikit suarapun dari beradunya kaki dan tanah.

Wiro Sableng menjura sewajarnya dan dengan senyum ramah dia berkata, “Kalau aku tak salah, bukankah saat ini aku berhadapan dengan orang gagah yang dijuluki Setan Pikulan?”

Setan Pikulan menyeringai. “Rupanya matamu tajam juga orang muda. Harap beritahu siapa kau.”

“Ah… aku ini seperti yang kau katakan tadi, cuma cecunguk biasa saja…” jawab Wiro.

“Kenapa sembunyi di atas atap dan kenapa kawanmu cecunguk yang satu lagi itu tidak mau turun?!” Wiro tertawa dan berseru, “Sekar, turunlah.” Sewaktu Sekar turun dan berdiri di samping Wiro Sableng maka menyeringailah Setan Pikulan.

“Ternyata seorang gadis cantik!” katanya. Dibasahinya bibirnya dengan ujung lidah sedang kedua matanya yang juling semakin juling karena memandang dekat-dekat pada paras Sekar yang cantik jelita.

“Melihat kepada tindak tandukmu pastilah kalian datang ke sini bukan dengan maksud baik. Apa lagi penghuni rumah tidak ada. Kalian tahu apa yang bakal dilakukan Tiga Setan Darah jika mereka mengetahui ada cecungkuk-cecunguk yang sembunyi dan membuat kerusuhan di rumahnya?”

“Harap jangan salah sangka Setan Pikulan. Kami ke sini sebetulnya mengejar seorang pencuri. Tapi dia lenyap entah ke mana…!” kata Wiro berdusta. Setan Pikulan tertawa mengekeh.

“Sama aku tak usah bicara dusta! Lekas terangkan siapa kalian dan apa maksud kalian ke sini!! Kalian musti tahu bahwa Tiga Setan Darah adalah kambratku dan aku berhak turun tangan menghukum kalian bila kalian ternyata bersalah!”

“Kalau kau kawannya Tiga Setan Darah, tentu kau juga seorang tokoh Istana!” ujar Wiro.

“Apa aku tokoh Istana atau bukan tak perlu tanya!.” sentak Setan Pikulan.

“Lekas jawab pertanyaanku tadi!”

“Kami cecunguk!” sahut Wiro.

“Kau sendiri tadi sudah bilang!” Marahlah Setan Pikulan.

“Seharusnya kubetot putus lidahmu, pemuda hina dina!” hardik Setan Pikulan. “Tapi dengar… kalau kau mau tinggalkan gadis cantik ini buatku, aku tak mau bikin panjang urusan. Aku tak akan laporkan pada Tiga Setan Darah bahwa kalian telah mongobrak-abrik rumahnya ini…!”

Mendengar ini Sekar menjadi naik pitam. “Biar aku betul-betul monyet sekalipun, aku tidak sudi menjadi mangsa bejatmu!”

Setan Pikulan tertawa.

Wiro berpikir sebentar lalu dengan ilmu menyusupkan suara dia berkata pada si gadis, “Sekar, aku ada akal. Kita tipu setan kate ini menunjukkan di mana laki-laki buntung itu disekap. Kau musti purapura marah…” Pendekar 212 memandang pada Setan Pikulan lalu berkata, “Aku akan tinggalkan gadis ini padamu. Dia memang tidak berguna. Tapi harus ada imbalannya…!”

“Wiro! Apa kau sudah gila?!” teriak Sekar pura-pura marah dan melototkan mata. Wiro tak ambil perduli.

“Bagaimana?” tanyanya pada Setan Pikulan.

“Katakan maumu!”

“Seorang kawanku telah dilarikan oleh Tiga Setan Darah dan disekap di gedung tua ini. Aku tak tahu di bagian mana. Gedung ini penuh senjata senjata rahasia dan perangkap-perangkap! Kalau kau mau menunjukkan di mana kawanku itu dan mengeluarkannya dari sini, gadis tak berguna ini kuserahkan padamu…!”

“Baik!” Setan Pikulan terima syarat itu. Untuk kesekian kalinya dibasahinya lagi bibirnya sebelah barah. Sementara itu Sekar memaki-maki Wiro Sableng tiada hentinya. Setan Pikulan melompat dari kudanya.

“Bagaimana aku yakin kalau kalian tidak menipuku?!” tanya manusia kate berkepala gundul ini.

“Kau terlalu curiga, Setan Pikulan! Kalau aku menipumu berarti aku tak bisa menyelamatkan kawanku yang disekap oleh Tiga Setan Darah.” jawab Wiro Sableng.

“Betul juga,” kata Setan Pikulan.

“Tapi untuk benar-benar meyakinkan biar kulakukan ini dulu…” Dan dengan satu gerakan cepat luar biasa Setan Pikulan menusukkan jari telunjuknya ke urat di pangkal leher Sekar. Saat itu juga tubuh si gadis menjadi kaku tegang tak bisa bergerak. Wiro memaki dalam hati.

“Ikut aku!” Setan Pikulan berkata. Lalu melesat memasuki pintu belakang yang tadi sudah didobrak dengan pukulan jarak jauh oleh Sekar.

“Ruangan dalam ini penuh dengan alat dan senjata rahasia. Perhatikan langkahku!” kata si kate kepala gundul. Dia melangkah enam tindak ke kanan. lalu menyusuri tepi dinding hingga akhirnya sampai dihadapan sebuah pintu berwarna hitam. Pada tepi pintu itu terdapat sebuah titik putih besar setengah kuku jari kelingking. Dengan ujung jarinya Setan Pikulan menunjuk.

“Cepat masuk!” teriak Setan Pikulan. Wiro Sableng melompat masuk ke dalam kamar itu. Begitu masuk begitu pintu di belakangnya menutup kembali. Manusia kate itu berpaling pada Wiro.

“Kau lihat pintu dinding sana?” Wiro mengangguk.

“Kalau kau melangkah sepanjang lantai ini ke sana, kau akan kejeblos masuk ke dalam liang batu! Kita harus bergerak sepanjang tepi dinding sebelah kiri! Mari…”

Sambil menyusuri lantai di tepi dinding sebelah kiri Wiro Sableng bertanya, “Mengapa Tiga Setan Darah memasang demikian banyak alat dan senjata rahasia serta perangkap di gedung tua ini?!”

“Itu tak perlu kau tanyakan. Bukan urusanmu!” sahut Setan Pikulan. Setan Pikulan membuka pintu dihadapannya. Kamar kedua itu kosong lagi. Dan dinding sebelah muka mereka kelihatan sebuah pintu lain.

“Kali ini kita musti menyusuri tepi lantai di samping kanan,” kata Setan Pikulan. Wiro mengikuti tanpa banyak bicara. Kamar ketiga, keempat dan kelima dalam gedung itu kosong semua.

“Mungkin sekali kawanmu itu disekap di ruang batu karang di bawah tanah!” kata Setan Pikulan.

“Apakah kau tahu tempat itu?” tanya Wiro Sableng. Si kate merenung sejenak.

“Ikuti aku,” katanya. Mereka ke luar dari kamar nomer lima itu. Di kamar nomer enam mereka berhenti. Setan Pikulan meneliti lantai kamar dengan sepasang matanya yang juling. Kemudian dia mendangak ke atas. Pada langit-langit kamar kelihatan tergantung sebuah kawat yang ujungnya diganduli lampu minyak yang besar sekali.

Setan Pikulan melompat ke atas dan menarik kawat itu satu kali. Aneh sekali tiba tiba lantai di samping kanan ruangan membuka dan sebuah tangga batu kelihatan. Keduanya melangkah ke tepi liang itu. Ruang di bawah sana agak gelap hanya diterangi oleh sebuah pelita. Samar-samar Wiro Sableng melihat sesosok tubuh menggeletak di lantai ruangan. Pakaiannya tak kelihatan apa warnanya tapi tangan kirinya buntung.

“Itu kawanmu?” tanya Setan Pikulan.

“Betul.”

“Lekaslah turun, sebelum Tiga Setan Darah kembali ke sini kita musti tedah meninggalkan tempat ini!”

Tanpa pikir panjang Wiro Sableng segera menuruni anak tangga. Begitu dia menginjakkan kaki di lantai ruangan batu karang dia terkejut sewaktu di atas didengarnya suara tertawa bergelak Setan Pikulan.

“Manusia tolol geblek! Aku tahu kau mau menipu! Sekarang kau sendiri yang masuk perangkap! Kau akan mampus di ruang batu karang itu! Mayatmu akan busuk!”

“Bedebah keparat!” teriak Wiro. Dia melompat kembali ke atas. Tapi secepat kilat Setan Pikulan melesat ke udara, menarik kawat gantungan lampu dan dengan serta merta lantai di ruangan itu tertutup kembali! Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 masuk perangkap sudah!

~ 6 ~

SETAN PIKULAN melesat dari pintu menuju ke halaman belakang gedung. Ketika dia melangkah kehadapan Sekar, gadis ini yang tubuhnya masih kaku tegang karena ditotok segera bertanya, “Mana kawanku?” Munding Sura alias Setan Pikulan tertawa buruk.

“Kalian kira aku ini kambing tolol yang bisa ditipu mentah-mentah?” ujarnya. Dia berdiri dekat-dekat dihadapan Sekar. Kepalanya cuma sampai kepinggang gadis itu.

“Dengar gadis molek,” kata Setan Pilarlan seraya usap perut Sekar dengan tangan kirinya.

“Manusia kurang ajar!” maki Sekar.

“Lepaskan totokanku, cepat!” Setan Pikulan tertawa gelak-gelak.

Baca lanjutannya:
Wiro Sableng: Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin (6)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.