Senin, 19 Juni 2017

Wiro Sableng: Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin (4)

Wiro Sableng: Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin

“Mengembara adalah satu hal yang kucita-citakan sejak aku berhasil menuntut balas kematian ibu bapak dan saudarasaudaraku,” kata Sekar pula.

“Tapi kau musti kembali ke tempat gurumu! Kau pernah bilang waktu di tepi sungai tempo hari. Ingat…” Sekar ingat. Dalam perjalanan mereka meninggalkan Biara Pensuci Jagat suatu malam mereka berkemah di tepi sungai yang banyak sekali ikannya. Sambil menikmati ikan panggang, mereka bicara-bicara dan Sekar telah menceritakan tentang gurunya di Goa Blabak, tentang segala hal mengenai dirinya.

Malam sejuk di tepi sungai itu tak akan pernah dilupakan oleh Sekar. Semenjak hidup, semenjak turun ke dunia luar pada malam itulah dia benar-benar merasakan bahwa dirinya adalah seorang gadis. Seorang gadis yang disaat itu untuk pertama kalinya merasakan betapa indahnya berada di samping seorang pemuda. Betapa romantisnya.

Dan Sekar ingat sewaktu Wiro memegang dan meremas-remas jari tangannya. Waktu Pendekar 212 itu memeluknya, merangkulnya erat-erat dan sewaktu pemuda itu melumas bibirnya dengan ciuman yang mesra, hangat menyentak-nyentakkan darahnya!

Ingat pula bagaimana dia bergayut dan tak mau melepaskan tubuh si pemuda dan seperti orang mabuk anggur mereka melakukan apa yang mereka bisa lakukan. Semuanya itu kemudian berakhir tanpa penjelasan karena semua itu dimulai dengan kesadaran yang berapi-api!

“Aku bisa menunda kembali kepertapaan,” kata Sekar.

“Keberatan kalau aku ikut sama-sama dengan kau….?” Wiro Sableng tertawa.

“Tentu saja tidak,” kata Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 ini meskipun hatinya tidak menyetujui hal itu.

“Tapi kau musti ingat Sekar. Mengembara dalam dunia persilatan bukan berarti berjalan-jalan melihat-lihat pemandangan! Pengembaraan di dunia persilatan adalah persoalan hidup atau mati!”

“Aku toh juga orang persilatan, Wiro.”

“Betul. Namun kini belum masanya kau memulai pengembaraan. Yang penting kau musti kembali ke tempat gurumu dulu.” Sekar menggeleng.

Wiro Sableng garuk-garuk kepalanya. Kemudian katanya, “Sekar, jangan jadi anak kecil. Salah-salah kita bisa bertengkar. Aku berjanji akan menyambangimu di Goa Blabak. Nah, sekarang kau tempuh jalan yang sebelah kanan dan aku yang sebelah kiri, yang menuju ke Kotaraja.”

“Aku ikut dengan kau ke Kotaraja,” berkata Sekar.

“Busyet!” kata Wiro Sableng dalam hati dan digaruknya lagi kepalanya.

“Bisa berabe Sekar. Bisa berabe!” katanya pada gadis itu.

“Gadis secantikmu ini kalau masuk ke Kotaraja pasti semua mata laki-laki akan melotot! Kalau terjadi apa-apa dengan dirimu bagaimana…?!”

“Aku tidak takut,” kata gadis sembilan belas tahun itu. Wiro menghela nafas dalam dan angkat bahu.

“Kotaraja penuh dengan tokoh-tokoh silat kelas satu! Aku tak ingin terjadi apa-apa dengan kau…”

“Kalau kita tidak berbuat kejahatan kenapa musti takut masuk ke Kotaraja?” ujar si gadis. Kemudian tanpa berkata apa-apa lagi dia melangkah memasuki jalan sebalah kiri.

Wiro Sableng geleng-gelengkan kepalanya. Segera dia hendak berlalu dari persimpangan jalan itu menempuh jalan sebelah kanan. Tapi hatinya menjadi bimbang. Dipandangnya punggung Sekar. Gadis itu melangkah dengan langkah tetap bahkan kini mulai berlari. Wiro Sableng akhirnya membalikkan langkah dan berlari menyusul Sekar.

***

PENDEKAR 212 dan Sekar baru saja keluar dari sebuah kedai sehabis mengisi perut sewaktu di jalan dihadapan mereka menderu derap kaki tiga ekor kuda merah. Tiga penunggangnya laki-laki mengenakan jubah merah, berambut panjang merah dan bermuka merah.

Yang membuat kedua orang ini terkejut bukanlah karena memandang muka-muka yang aneh serta lucu itu tapi adalah sewaktu menyaksikan bagaimana dibelakang kuda yang paling depan ikut terseret sesosok tubuh laki-laki bertangan buntung! Pakaian birunya hancur robek-robek. Kulitnya mengelupas, mukanya tiada dapat dikenali lagi. Keseluruhan tubuh manusia itu bergelimang darah dan debu. Tak dapat dipastikan apakah dia masih hidup atau sudah mati!

“Biadab!” desis Sekar sewaktu ketiga penunggang kuda itu berlalu.

“Aku tak bisa membiarkan kekejaman itu, Wiro!” Sekar segera hendak melompat ke muka dan mengejar. Tapi Wiro Sableng cepat memegang lengan gadis ini.

“Jangan bodoh, Sekar!” katanya.

“Kita tidak tahu siapa tiga manusia bermuka merah itu. Juga tidak kenal siapa itu laki-laki yang diseret. Mungkin laki-laki ini seorang jahat!”

“Aku tidak yakin, justru manusia-manusia muka merah itulah yang bertampang buas kejam!”

“Aku tahu, tapi jangan bertindak gegabah, Sekar. Ini Kotaraja!”

“Persetan dengan Kotaraja!” tukas si gadis.

“Sudah tak usah ngomel. Mari kita ikuti mereka!” ujar Wiro pula. Keduanya segera meninggalkan tempat itu. Tiga penunggang kuta itu memasuki sebuah gedung tua tak berapa jauh dari Istana. Laki-laki yang diseret dengan kuda tadi dibawa ke dalam. Kemudian gedung itupun sunyi senyap.

“Kita masuk ke dalam Wiro,” bisik Sekar.

“Kataku jangan gegabah,” kata Pendekar 212 dengan pelototkan mata. Di seberanginya jalan dan ditemuinya seorang pejalan kaki di seberang jalan itu.

“Saudara kau lihat tiga penunggang kuda tadi?” tanya Wiro. Orang itu mengangguk. Bulu tengkuknya masih meremang mengingat apa yang disaksikannya tadi.

“Siapa ketiga manusia itu?” tanya Wiro Sableng lagi.

“Mereka adalah Tiga Setan Darah.”

“Tiga Setan Darah…?” ujar Wiro. Pasti itu nama julukan mereka pikir Wiro. Dan dari nama julukan ini nyatalah bahwa memang mereka bukan manusia baik-baik! Kemudian tanpa ditanya orang tadi berkata lagi.

“Mereka adalah kaki tangan pembantu-pembantu Baginda. Manusia kejam luar biasa…!”

“Kenapa Baginda memelihara setan-setan macam mereka?!” tanya Wiro.

“Untuk menjaga keamanan Istana dan Kerajaan. Tapi Baginda tidak tahu kebejatan pembantu-pembantunya itu…”

“Kenapa rakyat tidak mau kasih tahu?”

“Kalau mau mampus boleh saja!” jawab laki-laki itu.

“Kau kenal siapa itu orang yang diseret dengan kuda?” Laki-laki itu menggeleng. Wiro Sableng kembali menyeberang jalan menemui Sekar.

“Kau bicara apa dengan dia?” Wiro menerangkan dengan cepat lalu kedua orang ini segera hendak menyeberang memasuki halaman gedung tua tapi mereka segera berlindung cepat-cepat di balik sebatang pohon besar karena dari samping gedung ketiga penunggang kuda tadi kelihatan memacu kudanya masing-masing meninggalkan gedung!

Begitu mereka lenyap di kejauhan, Wiro dan Sekar segera memasuki halaman gedung. Mereka menuju ke samping dan berhenti dihadapan sebuah pintu kayu. Wiro memandang berkeliling. Suasana sepi sunyi. Tanpa raguragu Pendekar 212 ulurkan tangan mendorong pmtu kayu itu.

Aneh sekali! Meski pintu itu terbuat dari kayu namun Wiro tak berhasil mendorongnya dengan sekuat tenaga luar! Setelah mengerahkan seperempat dari tenaga dalamnya baru pintu kayu itu berkereketan dan terbuka sedikit demi sedikit.

Begitu daun pintu kayu itu terbuka lebar maka tiba-tiba dari hadapan mereka berdesing lima buah senjata berbentuk anak panah berwarna merah!

“Sekar! Awas!” teriak Pendekar 212. Cepat-cepat pemuda ini menarik lengan si gadis ke samping. Lima senjata rahasia berbentuk panah berdesing di atas kepala dan di muka hidung mereka. Dua dari panah merah itu menancap dibatang sebuah pohon. Sesaat kemudian batang pohon itu sampai ke cabang-cabang, ranting dan daun-daunnya menjadi merah!

Nyatalah bahwa senjata-senjata ratiasia itu mengandung racun yang amat jahat! Paras Sekar berubah pucat sedang Pendekar 212 dengan leletkan lidah berkata pelahan, “Keparat betul! Tempat ini pasti penuh dengan senjata rahasia. Kita harus hati-hati Sekar.”

Wiro menyuruh gadis itu berdiri lebih ke samping. Kemudian dengan kaki kirinya pendekar ini menendang pintu kayu itu sekuat tenaga. Pintu bobol hancur berantakan dan pada detik itu pula selusin senjata rahasia yang sama bentuknya dengan tadi melesat di. depan mereka. Beberapa diantaranya menancap lagi dibatang pohon yang sama! Pendekar 212 menyeringai.

“Lihai juga,” katanya pelahan.

“Sebaiknya kau tunggu di sini Sekar…”

“Aku ikut bersamamu!” kata Sekar tegas.

“Di dalam gedung tua ini pasti lebih banyak bahaya. Jangan jadi orang tolol!” Gadis berbaju kuning ini tidak ambil perduli ucapan si pemuda melainkan tanpa tedeng aling-aling terus masuk melewati pintu yang tadi telah ditendang bobol. Mau tak mau Wiro juga melangkah mengikuti. Seperti suasana di luar, dibagian belakang gedung itupun diselimuti kesunyian. Keseluruhan gedung tidak terpelihara. Tembok hijau berlumut. Halaman ditumbuhi semak-semak dan rumput liar.

Dengan sikap berhati-hati kedua orang ini melangkah menuju ke tangga yang berhubungan dengan pintu belakang gedung. Wiro berjalan di depan. Ketika salah satu kakinya menginjak tanah di dekat anak tangga yang terbawah tanah itu dirasakannya mencekung aneh dan lembut. Wiro cepat tarik kakinya dan melangkah mundur!

“Ada apa?” tanya Sekar dengan berbisik. Pendekar 212 tidak menjawab melainkan melangkah menghampiri sebuah pot bunga besar yang bunganya sudah mati karena tak pernah disiram. Pot bunga yang besar itu dilemparkannya ke tanah di kaki anak tangga yang tadi dipijaknya.

Pada detik itu juga terdengar satu ledakan. Tanah di kaki anak tangga bermuncratan ke atas. Anak tangga terbawah hancur berkeping-keping. Wiro meraih pinggang Sekar dan menjatuhkan diri ke tanah. Tubuh mereka kotor tersembur tanah dan kepingan batu tangga!

“Gedung setan apa ini?!” rutuk Wiro sambil berdiri dan membersihkan pakaiannya. Dia berpaling pada Sekar dan berkata, “Aku sudah bilang kau tak usah ikut-ikutan ke Kotaraja. Kini kau lihat sendiri!”

“Tak usah bertengkar terus-terusan, Wiro” menyahuti murid Empu Tumapel itu.

“Kita harus cepat mencari laki-laki tangan buntung berbaju biru yang tadi dibawa ke sini!” Wiro garuk-garuk kepalanya. Dia memandang ke pintu di bagian belakang gedung itu dan berpikir-pikir bahaya apa lagi yang bakal dihadangnya bila dia menaiki anak tangga dan membuka pintu itu!

Dalam dia berpikir-pikir demikian tiba-tiba dilihatnya Sekar mengirimkan satu pukulan jarak jauh ke arah pintu belakang gedung. Angin pukulan menderu dahsyat dan…

Braak!

Pintu itu pecah berantakan.

Sekar dan Wiro menunggu. Tak ada terjadi apa-apa.

“Aku tak percaya kalau pintu itu tidak menyembunyikan rahasia maut!” kata Wiro Sableng. Dijangkaunya sebuah arca kecil yang sudah puntung di dekat tangga sebelah kanan. Arca itu kemudian digelindingkannya di atas lantai yang menuju ke pintu. Begitu arca mencapai pintu, lantai di muka pintu itu terbuka, arca lenyap jatuh ke dalam sebuah lobang dan lantai kembali menutup!

“Gedung edan!” rutuk Wito Sableng.

“Kau masih punya nyali untuk masuk kedalamnya?!”

“Mengapa tidak?!” ujar Sekar.

“Aku kagum dengan keberanianmu,” puji Wiro sejujurnya.

“Bersiaplah, kita melompat ke dalam lewat pintu itu. Kerahkan seluruh ilmu mengentengi tubuhmu. Lantai di dalam gedung itu bukan mustahil perangkap semua!” Kedua orang ini bersiap-siap untuk menerobos pintu yang sudah bobol. Mendadak pada saat itu pula di halaman depan terdengar derap kaki kuda. Keduanya terkejut.

Baca lanjutannya:
Wiro Sableng: Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin (5)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.