Senin, 19 Juni 2017

Wiro Sableng: Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin (3)

Wiro Sableng: Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin

Sepuluh jurus telah berlalu. Kemudian lima jurus lagi dan Tiga Setan Darah masih belum sanggup membuktikan kehebatan nama baser mereka selama ini. Malah pada jurus kedua puluh satu, Setan Darah Ketiga berseru tertahan dan menyurut mundur! Ternyata jubah merahnya robek besar disambar ujung pedang lawan! Masih untung kulit dadanya tidak kena diserempet!

“Bedebah!” rutuk iaki-laki itu.

“Jangan harap kau bisa bernafas sampai tiga kali kejapan mata!” Dengan amarah yang meluap Setan Darah Ketiga memutar sepasang goloknya dalam jurus yang aneh dan menyerbu Pranajaya.

“Ingat Setan Darah Ketiga!” teriak Setan Darah Pertama.

“Pemuda ini aku mau tangkap hidup-hidup!”

“Lebih bagus kalau dicincang lumat saja!” sahut Setan Darah Ketiga.

“Aku yang jadi pemimpin kalian!” teriak Setan Darah Pertama marah.

“Kau harus ikut apa yang kukatakan!”

Setan Darah Ketiga menindas kemarahannya sedapat-dapatnya. Menekan luapan amarah karena dia menyadari bahwa dia musti tunduk pada Setan Darah Pertama. Pertempuran seru berkecamuk lagi. Agaknya kini Tiga Setan Darah telah mengeluarkan pula jurus-jurus ilmu silat mereka yang lihai dan banyak tipu-tipu liciknya.

Lima jurus berlalu maka Pranajaya mulai pula terdesak. Trang! Pranajaya tak bisa mengelakkan peraduan senjatanya dengan senjata Setan Darah Pertama. Sebelum bunga api yang bergemerlap lenyap, sebelum murid Empu Blorok itu sempat menarik senjatanya maka sepasang gada dan golok Setan Darah lain-lainnya sudah datang menjepit pedang Ekasakti di tangan Pranajaya.

Prana kerahkan tenaga dalamnya. Dengan sekuat tehaga dicobanya melepaskan pedang dari jepitan enam senjata lawan! Tapi sia-sia! Pedang Ekasakti meskipun pedang mustika namun tiada berdaya di jepit oleh enam senjata mustika lawan! Pedang itu laksana lengket. Prana keluar keringat dingin. Dia tahu, tak ada jalan lain baginya kecuali melepaskan pedangnya pada gagang pedang, menyerahkan bulat-bulat senjatanya ke tangan lawan! Setan Darah Pertama tertawa mengekeh.

“Sekarang kau baru tahu siapa kami, hah?!”

“Tikus buntung hendak bernyali besar beginilah jadinya!” ejek Setan Darah Ketiga.

Tiba tiba, tiada terduga dengan bergantungan pada gagang pedang yang dijepit lawan, tubuh Pranajaya melesat ke muka. Kaki kanannya menendang dan karena tidak menyangka, Setan Darah Pertama tidak keburu menghindar! Setan Darah Pertama mengeluh tinggi. Tubuhnya mencelat beberapa tombak, terguling di tanah. Dua tulang iganya telah patah dilanda tendangan Pranajaya!

“Anjing buduk!” maki Setan Darah Kedua begitu melihat kawannya kena dihantam lawan. Tanpa menunggu lebih lama manusia ini segera hantamkan gagang gadanya yang di tangan kanan ke pangkal leher. Ini adalah satu totokan yang dahsyat. Karena tak keburu menghindar tak ampun lagi Pranajaya rebah ke tanah dalam keadaan tubuh kaku laksana patung! Setan Darah Pertama melangkah tertatih-tatih ke hadapan Pranajaya.

“Bagaimana lukamu?” tanya Setan Darah Kedua.

“Bangsat ini telah mematahkan dua tulang igaku,” jawab Setan Darah Pertama setengah menggeram.

“Detik ini juga dia akan terima balasannya!” Habis berkata begitu Setan Darah Pertama lancarkan satu tendangan ke arah tulang rusuk Pranajaya. Pemuda ini menggelinding beberapa tombak jauhnya. Tiga tulang iganya patah! Meski tubuhnya tertotok tiada berdaya namun perasaan masih tetap ada dan mulutnya masih bisa mengeluarkan suara erangan kesakitan! Setan Darah Pertama masih belum puas.

“Ini satu lagi!” katanya dan untuk kedua kalinya.kaki kanannya mengirimkan satu tendangan. Kali ini yang jadi sasaran adalah muka Pranajaya. Pemuda ini berusaha menahan jeritan yang hendak melesat dari tenggorokannya meski bibirnya pecah, dua buah giginya patah dan hidungnya mengucurkan darah kental panas! Setan Darah Pertama memburu lagi. Ketika dia hendak menendang sekali lagi, Setan Dareh Kedua memegang bahunya.

“Kali ini dia bisa mampus! Apa kau lupa akan rencanamu sendiri?!” Setan Darah Pertama menarik pulang kaki kanannya. Dirabanya sebentar tulang rusuknya yang patah kemudian dia berteriak, “Setan Darah Ketiga, ambil tali!”

Setan Darah Ketiga melemparkan seutas tali kepada laki-laki itu.

“Pemuda edan!” kata Setan Darah Pertama sambil belutut dihadapan Pranajaya yang saat itu megap-megap.

“Sebentar lagi kau akan rasakan bagaimana enaknya meluncur di tanah! Kalau tubuhmu kuat kau akan hidup sampai ke Kotaraja. Tapi kalau tidak, kau akan mampus di tengah jalan!”

Habis berkata begitu Setan Darah Pertama segera mengikat pergelangan tangan kanan Pranajaya dengan tali. Ujung tali yang lain diikatkannya ke leher kudanya. Pranajaya keluarkan keringat dingin. Dia tahu nasib apa yang bakal diterimanya! Pemuda ini berteriak, “Setan Darah keparat! Bunuh aku sekarang juga!”

Setan Darah Pertama tertawa.

“Kau memang akan mampus, kunyuk buntung!” jawab Setan Darah Pertama.

“Akan mampus, tapi dengan cara perlahan-lahan! Sepanjang jalan menuju ke ajalmu kau dapat saksikan keindahan pemandangan daerah sekitar sini! Bukankah enak mati cara begitu?!” Setan Darah Pertama naik ke atas kudanya. Tiba-tiba dia ingat sesuatu dan memandang berkeliling.

“Mana pedangnya?!”

“Aku sudah ambil!” jawab Setan Darah Ketiga.

“Bagus!” Setan Darah pertama tepuk pinggul kuda merahnya dengan keras. Binatang itu meloncat ke muka siap untuk berlari kencang dan menyeret tubuh Pranajaya mulai dari liku jalan itu sampai ke Kotaraja. Namun disaat itu dari muka kelihatan berkelebat sesosok bayangan putih disertai dengan suara tertawa lantang yang bernada mengejek.

“Kekejamanmu sangat keterlaluan Tiga Setan Darah!” kata pendatang baru ini dengan membentak. Tiga Setan Darah Pertama dan kedua kawannya dengan serta merta mengehentikan kuda masing-masing. Sepasang mata Tiga Setan Darah Pertama memandang ke muka dengan menyorot. Mulutnya terkatup rapat-rapat dan kedua rahangnya mengatup menonjol!

“Cindur Rampe!” hardik Setan Darah Pertama.

“Setahuku kau ada tugas di sselatan yang harus kau jalankan! Silahkan berlalu dan jangan ikut campur urusan kami!” Cindur Rampe, seorang resi golongan hitam yang juga menjadi kaki tangan pembantu Baginda. Kekejamannya tiada banyak beda dengan Tiga Setan Darah namun antara resi ini dengan ketiga Setan Dorah sejak lama terdapat perselisihan-secara diam-diam.

Perselisihan ini sebenamya adalah akibat bersaing ingin menjilat Baginda. Dalam satu pertemuan pernah Cindur Rampe menantang Tiga Setan Darah. Hampir terjadi pertempuran hebat namun tokoh-tokoh istana lainnya berhasil mencegah mereka. Namun sejak itu pula diantara mereka semakin memuncak permusuhan, laksana api dalam sekam yang sewaktu- waktu bisa meledak!

Cindur Rampe mengelus-elus janggutnya yang pendek macam janggut kambing. Sambil sunggingkan senyum mengejak dia berkata, “Tentu pemuda malang itu akan kau seret ke Kotaraja. Semua orang akan melihat kekejamanmu. Kau akan dapat nama dan kira-kira berapa puluh ringgit pula kau akan dapat upah dari Baginda?!” Setan Darah Kedua penasaran sekali. Dia majukan kudanya satu langkah.

“Soal kekejaman kau tidak lebih baik dari kami resi muka kambing!” sentak Setan Darah Kedua. Cindur Rampe tertawa dingin.

“Cindur Rampe, kuharap segera berlalu. Aku muak melihat tampangmu!” menyambungi Setan Darah Ketiga. Resi itu tertawa lagi. Lalu katanya, “Aku sendiri sudah sejak lama kepingin muntah melihat mukamu yang macam kepiting rebus!” Setan Darah Pertama kertakkan geraham.

“Cindur Rampe, agaknya kau sengaja mencari-cari perselisihan terbuka! Mungkin masih belum puas dengan pertengkaran dalam pertemuan tempo hari?!”

“Ah… rupanya kau masih belum lupakan hal itu!” kata Cindur Rampe. Dia melirik sebentar pada Pranajaya yang megap-megap hampir kehabisan nafas.

“Selama matahari masih terbit di timur, selama air sungai masih mengalir ke laut. Tiga Setan Darah tak pernah melupakan hal itu!”

“Bagus sekali jika demikian!” menyahuti Cindur Rampe.

“Kuharap di lain kesempatan kita bisa menyelesaikannya!” Setan Darah Pertama mengekeh.

“Menentang kami sama dengan menentang angin topan! Menentang Tiga Setan Darah sama dengan menentang gunung karang! Jangan terlalu pongah dan buta resi muka kambing!”

“Nama kalian memang sudah kesohor, apalagi kebejatan dan kekejaman kalian! Tapi kalau cuma cecunguk-cecungkuk macammu, sepuluh orangpun aku akan layani!” Naiklah darah Tiga Setan Darah.

“Rupanya kau mau mampus sekarang juga, resi keparat!” bentak Setan Darah Kedua. Dia melompat ke muka dan kirimkan satu serangan tangan kosong! Cindur Rampe melompati ke samping sambil tertawa.

“Jangan terlalu kesusu monyet muka merah! Ini hari aku masih ada urusan. Di lain ketika aku tak akan sungkan-sungkan lagi untuk menerabas batang lehermu dan dua kambratmu itu! Ini kukembalikan seranganmu!” Habis berkata begitu Cindur Rampe kebutkan lengan jubahnya. Selarik angin panas mengebu ke arah Setan Darah Kedua.

Pukulan yang dilepaskan Cindur Rampe adalah pukulan ireng weliung yang kehebatannya sudah dimaklumi oleh Tiga Setan Darah. Karenanya Setan Darah Kedua melompat dua tombak ke atas.

“Wuss !”

Angin pukulan menghantam pohon kayu di tepi jalan. Kejap itu juga batang kayu itu hangus hitam sampai ke ranting-rantingnya!

Terkejutlah Tiga Setan Darah. Rupa-rupanya resi Cindur Rampe betul-betul inginkan jiwa mereka! Setan Darah pertama dan ketiga segera melompat dari kuda masing-masing, siap untuk mengeroyok resi itu. Tapi Cindur Rampe sudah berkelebat cepat dan meninggalkan tempat itu sambil berseru, “Sampai nanti Tiga Setan Darah. Kuharap kalian suka bersabar menunggu saat kematian kalian!”

“Anjing buduk! Jangan lari!” teriak Setan Darah Kedua. Tapi Cindur Rampe sudah lenyap dari pemandangan. Setan Darah Pertama memaki dan menyumpah nyumpah.

“Lain hari kita tak perlu kasih hati pada si muka kambing itu!” katanya. Dia melompat kembali ke atas kudanya diikuti oleh dua orang kawankawannya. Ketika kuda Setan Darah Pertama bergerak, maka tubuh Pranajaya mulai terseret.

Tubuh pemuda murid Empu Blorok ini akan terseret sepanjang perjalanan menuju Kotaraja. Bila Pranajaya bernasib baik, dia akan tetap hidup sampai di Kotaraja. Jika tidak nyawanya akan lepas di tengah jalan dan dia akan menemui kematian dalam keadaan yang mengerikan. Sampai di manakah kekuatan tubuh manusia menahan siksaan yang kejam luar biasa itu?

~ 4 ~

KALI WELANGMANUK telah dua hari yang lalu mereka seberangi. Lembah Manukwilis di mana terletak Gedung Biara Pensuci Jagat telah jauh di belakang mereka.

Kedua orang itu berlari dalam kecepatan yang luar biasa. Kadangkala menyeberangi kali-kali kecil, kadangkala mendaki dan menuruni bukit dan saat itu keduanya barusan saja keluar dari sebuah rimba belantara. Matahari telah sampai ke ubun-ubun mereka tatkala keduanya sampai di satu persimpangan jalan. Pemuda rambut gondrong hentikan larinya.

Orang yang disampingnya juga melakukan hal yang sama. Ketika pemuda itu membalikkan badannya maka sepasang mata merekapun saling bertemu. Si pemuda mengukir senyum dibibirnya dan berkata, “Agaknya kita terpaksa berpisah di sini, Sekar.”

Si gadis berpakaian ringkas kuning tidak menjawab. Kedua matanya yang bening masih balas menatap pandangan si pemuda. Dan si pemuda segera bisa memaklumi. Dari sinar mata gadis itu di ketahuinya bahwa perpisahan itu merupakan satu hal yang berat bagi si gadis. Sambil tertawa si pemuda berkata, “Di lain ketika aku berharap kita bisa bertemu loagi, Sekar.”

Dia menjura sedikit dan berkata lagi, “Jangan lupa sampaikan salam hormatku pada gurutnu Empu Tumapel….”

“Wiro..,” si gadis membuka mulut untuk pertama kalinya. Suaranya perlahan, setengah berbisik. “Kau sendiri mau terus ke manakah?” tartyanya.

“Aku… ah… Manusia macamku ini pergi membawa kakinya saja. Mengembara tiada tentu tujuan.”

Baca lanjutannya:
Wiro Sableng: Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin (4)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.