Senin, 19 Juni 2017

Wiro Sableng: Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin (2)

 Wiro Sableng: Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin

Meski jauh sekali, namun melihat kepada jumlah penunggang-penunggang kuda itu dan melihat kepada warna pakaian mereka, Prana segera maklum bahwa mereka bukan lain daripada Tiga Setan Darah yang memang sedang dittunggutunggunya sejak tadi! Tiga manusia yang telah membunuh ayahnya! Waktu penantian berakhir sudah! Saat pembalasan kini tiba! Tanpa menunggu lebih lama Pranajaya segera berdiri. Kemudian sekali dia gerakkan kedua kakinya, maka pemnda ini sudah lenyap dari puncak bukit.

Tubuhnya laksana angin topan berlari kencang menuruni lereng bukit ke arah liku jalan yang kelak bakal dilalui Tiga Setan Darah. Demikian cepat larinya hingga kedua kakinya laksana tak pernah menginjak bumi! ltu adalah berkat ilmu lari dan ilmu mengentengi tubuh hebat yang telah dikuasainya!

Pranajaya sampai di liku jalan lebih dahulu dari Tiga Setan Darah. Pemuda ini menunggu dengan hati tegang tapi tetap tenang. Dia maklum Tiga Setan Darah manusia-manusia berilmu tinggi karenanya dia tidak boleh bertindak ceroboh. Suara derap kaki kuda terdengar semakin dekat akhirnya muncullah penunggang-penunggang kuda itu satu derni satu di tikungan jalan.

“Berhenti!” teriak Pranajaya sambil angkat tangan kanannya. Tiga Setan Darah sama-sama hentikan kuda masingmasing dan memandang menyorot pada pemuda yang berdiri di tengah jalan dihadapan mereka. Keterangan Camar Pawang tidak dusta.

Benar pemuda yang diterangkan ciri-cirinya itulah yang saat ini menghadang mereka. Parasnya cakap, rambut gondrong, berpakaian biru dan tangan kirinya buntung sebatas siku sedang dibalik punggurig kelihatan menyembul gagang pedang.

“Pemuda tangan bunting!” kata Setan Darah pertama dengan suara keras.

“Apa-apaan ini?!” Pranajaya menyapu tampang-tampang ketiga manusia itu. Lalu tanyanya dengan membentak, “Kalian Tiga Setan Darah?!” Prana bertanya untuk meyakinkan.

“Sompret!” maki Setan Darah Kedua. “Siapa kau yang berani menghalangi perjalanan kami! Apa sudah bosan hidup?!”

“Aku Pranajaya!” memberitahu si pemuda. Setan Darah tertua menyeringai dan mengeluarkan suara mengekeh.

“Orang muda, kami memang Tiga Setan Darah yang terkenal itu. Ada maksud apa kau menghadang kami! Dari pegawai Istana yang kau sogok dengan sekeping emas itu kami mendapat keterangan yang kau mau cari urusan! Apa betul!”

Sebelum Pranajaya menjawab, Setan Darah Ketiga sudah membuka mulut, “Orang hina! Lekas angkat kaki dari sini sebelum kupuntir kepalamu!”

“Rupanya dia tidak tahu tengah berhadapan dengan siapa..!” kata Setan Darah Kedua. Pranajaya berdiri dengan sepasang kaki terkembang. Sinar di matanya semakin menyorot sedang di air mukanya membayangkan kebencian dan dendam yang meluap!

“Tiga Setan Darah! Kalian tentunya betum melupakan peristiwa beberapa belas tahun yang silam. Ingat waktu kalian mengeroyok dan membunuh secara pengecut seorang bernama Wijaya?! “

Tentu saja Tiga Setan Darah terkejut. Ketiganya saling mengerling kemudian Setan Darah Ketiga menjawab, “Manusia buntung, kami masih ingat. Apa sangkut pautmu dengan peristiwa itu?!”

“Aku adalah anak orang yang kau bunuh itu!” jawab Pranajaya tanpa tedeng aling-aling.

“Oh… begitu?!” desis Setan Darah Pertama.

“Kawan-kawan!” seru Setan Darah Kedua, “tentunya pemuda buruk ini adalah bayi yang kita bacok buntung tangannya dulu itu!”

“Betul!” sahut Prana. Dia maju satu langkah.

“Yang mana diantara kalian yang membacokku?!” Setan Darah Pertama tertawa bekakakan.

“Pemuda ingusan, apakah kemunculanmu kali ini hendak menuntut balas atas kematian kau punya bapak dan karena kehilangan lengan kirimu itu?!” Pranajaya menggeleng perlahan.

“Lahtas?!” tanya Setan Darah tertua dengan heran.

“Aku datang bukan buat menuntut balas,” kata Pranajaya, “tapi untuk, meminta jiwa busuk kalian!” Tiga Setan Darah sama-sama tertawa membahak.

“Pemuda buntung,” ejek Setan Darah kedua, “kau mimpi di siang bolong!”

Setan Darah Pertama menimpali, “Bapakmu yang punya dua tangan kami bikin mampus! Kau yang punya satu mau jual tampang!” Setan Darah Ketiga tidak tinggal diam.

“Mungkin kau kepingin cepat-cepat ketemu bapakmu di neraka?” tanyanya. Dan ketiga manusia bermuka merah itu tertawa lagi terbahak-bahak.

“Manusia-manusia muka kepiting rebus,” sentak Pranajaya dengan geram, “silahkan turun dari kuda kalian. Atau mungkin kalian mau mampus di atas kuda masing- masing?”

Merahlah Tiga Setan Darah mendengar ucapan Pranajaya itu Setan Darah Pertama kebutkan lengan jarbah sebelah kanan. Serangkum sinar merah menyarnbar dahsyat ke arah Pranajaya. Pasir dan debu jalanan beterbangan saking hebatnya serangan ini.

Pranajaya cepat menghindar ke samping dan begitu sinar merah lewat di sebelahnya segera pula pemuda ini hantamkan tinju kanannya ke arah Setan Darah Pertama. Satu gelombang angin yang padat dan keras menggumpal menyerang ke arah tenggorokan Setan Darah pertama. Ini adalah pukulan “angin sewu” Setan Darah pertama tidak mengelak sebaliknya tetap berdiri di tempat dan lambaikan tepi jubah sebelah kiri.

Sekali pukul saja maka buyarlah angin pukulan jarak jauh Pranajaya! Tapi betapa kagetnya si muka merah ini karena begitu buyar, buyaran angin pukulan itu kembali menyerangnya. Malah kini lebih dahsyat lagi dari yang pertama tadi karena kali ini pecahan angin pukulan itu sekaligus menyerang ke arah dua belas jalan darah yang mematikan ditubuhnya!

Setan Darah Pertama berseru nyaring lalu melompat tiga tombak ke udara. Laksana seekor alap-alap tubuhpya menukik ke arah Pranajaya dan sedetik kemudian kedua orang itu sudah berhadapan dalam jarak tiga langkah.

“Setan Darah Pertama, biar aku yang kermus pemuda keparat itu!” teriak Setan Darah Ketiga. Setan Darah Pertama tidak ambil perduli. Dengan ganasnya dia menyerang. Jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya menusuk ke muka.

“Makan jariku ini, laknat!” teriaknya. Serangan ilmu jari “pencungkil karang” memang hebat dan ganas. Jangankan tulang atau daging manusia, batu karang yang atos sekalipun akan berlobang dan hancur kalau ditusuk oleh sepasang jari itu! Dan kini sepasang jari itu menyerang ke mata kiri kanan Pranajaya!

Pranajaya hanya melihat lawan menggerakkan tangan kanannya sedikit dan tahu-tahu sepasang jari lawan sudah di depan hidungnya! Pemuda ini cepat rundukkan kepala. Dia berhasii melewatkan tusukan dua jari yang berbahaya itu dan di saat yang bersamaan sekaligus pukulkan tinju kanannya ke muka!

Setan Darah Pertama melihat serangannya yang mematikan tadi dapat dilewati segera pergunakan tepi telapak tangan kanannya uatuk menghantam bahu Pranajaya! Kedua orang itu sama-sama mempunyai kesempatan untuk mengelak. Namun keduanya lebih monginginkan untuk meneruskan serangan masing-masing dan menghindar secara ambilan saja.

Maka dalam kejap yang bersamaan tinju kanan Pranajaya melanda dada lawan sedang tepi telapak tangan kanan Setan Darah Pertama mendarat dengan kerasnya di bahu kiri Pranajaya! Kedua orang ini sama-sama mengeluh sakit. Pranajaya terguling di tanah. Setan Darah Pertama terjajar beberapa langkah ke belakang den jatuh duduk! Mukanya pucat pasi. Dadanya sakit dan serasa melesak ke dalam membuat sesak nafasnya.

Cepat-cepat manusia muka merah ini bersila di tanah dan kerahkan tenaga dalamnya serta atur jalan nafas. Diam-diam dia terkejut melihat Pranajaya dapat berdiri kembali meskipun dengan tubuh termiring-miring! Pukulan telapak tangan kanannya tadi mengandalkan lebih dari separo tenaga dalamnya, tapi si pemuda masih sanggup berdiri dan masih hidup.

Di lain pihak Pranajaya merasakan tuang bahunya laksana patah! Badannya miring ke kiri sewaktu berdiri. Kalau saja dia tidak memiliki kekuatan tenaga dalam yang sempurna pastilah jiwanya sudah melayang! Prana memperhatikan Setan Darah Pertama yang saat itu tegak kembali dengan pandangan mata menyorotkan maut!

Manusia ini ternyata memiliki ilmu yang tinggi sekali! Pukulan jotos sewu yang disangkakannya akan merenggut nyawa lawan kiranya cuma membuat manusia muka merah itu terhampar jatuh duduk di tanah! Dua orang Setan Darah lainnya yang sudah gatal-gatal tangan mereka untuk segera turun tangan mengurung Pranajaya dari kiri kanan.

“Biar aku yang pecahkan kepala bangsat ini sendirian!” teriak Setan Darah Pertama beringas.

“Ah! Kunyuk buntung ini terlalu bagus untuk mampus ditanganmu sendirian,” jawab Setan Darah Kedua.

“Biar kami bantu!” Maka tanpa menunggu lebih lama kedua orang itu segera menyerbu. Setan Darah Pertama tidak berkata apa-apa. Meski hatinya beringas tapi dia memaklumi dan melihat kenyataan sendiri bahwa pemuda rambut gondrong berbaju biru itu tidak berilmu rendah. Karenanya sewaktu dua kawannya itu menyerbu Setan Darah Pertama diam saja.

Menghadapi tiga lawan tangguh begitu rupa membuat Pranajaya harus bergerak dengan cepat dan berlaku lebih hati-hati. Tubuhnya hampir lenyap dalam telikungan bayangan jubah merah ketiga lawannya. Tiada terasa lima belas jurus telah berlalu. Setan Darah Pertama mengkal bukan main.

“Kawan-kawan ternyata tikus buntung ini punya ilmu yang diandalkan juga!” dia berseru.

“Bagaimana kalau kita bentuk barisan tiga bayangan siluman?!” Setan Darah yang dua orang lainnya menyetujui. Dan pada jurus yang keenam belas itu maka ketiganya segera melancarkan serangan hebat yang dinamakan barisan tiga bayangan siluman.

Setan Darah Pertama setengah merunduk. Serangan-serangannya selalu mengarah bagian kedua kaki lawan sedang Setan Darah Kedua menyerang bagian tengah tubuh Prana dan Setan Darah Ketiga seperti seekor burung elang melompat ke atas, menukik ke bawah dan selalu melancarkan serangan ke bagian kepala Pranajaya.

Dalam setiap saat ketiganya bisa berganti tempat dan mengambil alih kedudukan masing-masing, terutama bila salah seorang dari mereka diserang oleh lawan! Begitulah, setiap Pranajaya mengelak atau menyerang salah seorang dari mereka, maka yang dua lainnya dengan cepat sekali datang memburu mengirimkan seranganserangan maut! Lima jurus pertama setelah bertempur dengan segala kehebatan yang ada maka sedikit demi sedikit mulai kendurlah perlawanan Pranajaya.

Pemuda bertangan satu itu kini bertahan mati-matian, namun tetap dia terkurung rapat dan terdesak hebat! Tiba-tiba Prana ingat pedang dipunggungnya. Dia adalah seorang pemuda berhati jantan kesatria, yang akan menghadapi lawan bertangan kosong dengan tangan kosong pula.

Namun menghadapi pengeroyokan tiga musuh besar itu, di dalam keadaan yang kepepet pula, dia merasa bahwa mencabut pedangnya saat itu bukanlah suatu tindakan yang pengecut. Sambil berteriak, “Lihat pedang!” maka Pranajaya cabut pedangnya. Sedetik kemudian satu sinar putih menggebu membabat ketiga jurusan, membuat dengan serta merta buyarnya barisan tiga bayangan siluman!

Sambil bersurut mundur Tiga Setan Darah memperhatikan pedang Ekasakti yang memancarkan sinar putih di tangan Pranajaya. Setan Darah Kedua berbisik pada kawan-kawannya, “Heh, pedang itu pasti senjata mustika! Kita musti dapat merampasnya!”

“Jangan pikir soal senjata itu dulu” jawab Setan Darah Pertama.

“Yang penting tangkap bangsat ini hidup-hidup. Aku ada rencana tersendiri untuk menamatkan riwayatnya. Kalian…” Setan Darah Pertama tidak sempat mengakhiri ucapannya. Saat itu Pranajaya sudah menyerbu. Sinar putih dari pedang bertabur ganas. Ketiga manusia itu cepat menghindar dan masing-masing mereka segera cabut senjata.

Setan Darah Pertama mengeluarkan sepasang tombak bermata dua. Setan Darah Kedua mengeluarkan sepasang gada sedang Setan Darah Ketiga mengeluarkan sepasang golok. Kesemua senjata ini berwarna merah dan kesemuanya merupakan senjata-senjata mustika sakti ! Percaya akan kehebatan pedang Ekasaktinya, Pranajaya teruskan menyerang ketiga lawan itu. Trang… trang… trang…!

Tiga kali pedang putih itu beradu dengan senjata-senjata lawan. Bunga api bertebaran dan Pranajaya terkesiap kaget! Senjata-senjata lawan mempunyai kehebatan yang luar biasa. Untung saja pedang Ekasakti dipegangnya erat-erat, kalau tidak dalam bentrokan tiga kali berturut-turut tadi itu pastilah senjatanya akan terlepas!

Sementara itu Tiga Setan darah sudah tegak memencar. Satu lengkingan nyaring keluar dari tenggorokan Setan Darah Kedua. Maka, tiga manusia muka merah itu dengan serta merta menyerbu ke arah Pranajaya!

~ 3 ~

PERTEMPURAN manusia tiga lawan satu itu, kecamukan enam senjata lawan satu pedang berlangsung penuh kehebatan dan mendebarkan. Sedikit saja seseorang membuat gerakan yang salah pastilah salah satu bagian tubuh mereka akan dimakan senjata. Sinar merah jubah dan senjata-senjata Tiga Setan Darah bergulung-gulung membungkus tubuh dan senjata Pranajaya.

Berkali-kali pemuda ini nyaris kena tebasan golok atau tusukan tombak atau hantaman gada ketiga lawannya. Jika saja Pranajaya tidak memiliki ilmu mengentengi tubuh yang sempurna serta kegesitan yang luar biasa, sudah sejak tadi-tadi mungkin dia akan mienjadi pecundang. Prana berkelebat laksana bayang-bayang. Pedang putihnya membabat kian kemari dalam rangkaian jurus-jurus lihai yang dipelajarinya secara sempurna dari Empu Blorok.

Baca lanjutannya:

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.