Sabtu, 24 Juni 2017

Wiro Sableng: Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin (18)

Wiro Sableng: Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin

“Kau terlalu cepat-cepat ingin mati rupanya setan alas!” desis Bagaspati. Tubuhnya membungkuk ke muka. Kedua kakinya melesak ke dalam tanah sampai dua dim. Ini satu tanda bahwa dia tengah kerahkan tenaga dalam dan siap untuk melancarkan serangan yang dahsyat!

Didahului dengan teriakan macam serigala melolong di malam buta maka Bagaspati melesat ke muka. Dua tendangan dahsyat menderu ke arah perut dan kepala Pendekar 212 sedang pedang hitam membuat satu jurus yang mengandung lima serangan berantai!

“Ciaat!”

Wiro lepaskan pukulan kunyuk melempar buah. Meski pukulan ini berhasil membuat tendangan lawan batal namun pukulan itu sendiri kemudian dibikin buyar oleh sambaran angin pedang Bagaspati!

Penasaran sekali Wiro dalam jurus kedua membuka serangan dengan jurus membuka jendela memanah rembulan. Lengan kanan dipukulkan melintang dari atas ke bawah sedang tangan kiri meluncur ke atas dalam gerakan vang cepat laksana kilat sukar dilihat mata dan terdengarlah seruan tertahan Bagaspati! Betapakan tidak. Detik itu juga dirasakannya pedang hitamnya telah terlepas dari tangan, ditarik oleh satu betotan yang dahsyat! Dan bila dia memandang ke depan dilihatnya senjata itu sudah berada di tangan Wiro Sableng!

“Ha… ha, bagaimana Bagaspati?! Akan kita lanjutkan pertempuran ini?!”

Muka Bagaspati mengelam merah. “Setan alas. Kau datang ke sini untuk mencari Cambuk Api Angin bukan?! Baik! Aku akan keluarkan senjata itu. Tapi bukan untuk diberikan padamu huh! Tapi untuk bikin kau mati konyol!” Bagaspati selinapkan tangan ke dalam jubahnya. Sesaat kemudian maka ditangannya tergenggam sebuah cambuk berhulu gading, berwarna merah. Bagaspati mengekeh.

“Ini ambillah!” Cambuk Api Angin di tangan Bagaspati berkelebat mengeluarkan angin laksana topan dan semburan lidah api yang luar biasa panasnya!

“Prana! Sekar Lekas menyingkir!” teriak Wiro seraya buang diri ke samping beberapa tombak! Cambuk Api angin menderu dahsyat menghantam pohon kelapa di belakang Wiro. Pohon kelapa ini terbabat putus dan baik putusan yang mental di udara maupun yang masih tinggal tertanam di tanah, semuanya hangus ditelan api!

Diam-diam Pendekar 212 leletkan lidah. Di saat itu pula Cambuk Api Angin menderu kembali. Wiro kiblatkan pedang hitam milik Bagaspati. Sementara itu dia melihat bagaimana anak-anak buah Bagaspati yang ada menyingkir sejauh mungkin! Pedang hitam dan cambuk Api Angin saling bentrokan! Api menyembur! Wiro berseru kaget dan cepat-cepat lepaskan pedang hitam di tangannya! Pedang itu berubah menjadi merah, terbakar api Cambuk sakti!

“Keparat!” maki Wiro dalam hati.

“Hebat sekali Cambuk Api Angin itu!” Cambuk Api Angin datang bergulung-gulung. Suaranya seperti petir susul menyusul! Pendekar 212 menjadi sibuk! Melompat kian kemari dengan cepat, jungkir balik di udara dan berguling di tanah! Semua itu untuk hindarkan diri dari serangan Cambuk Api Angin yang ganas!

Pranajaya sendiri tiada menduga Cambuk Api Angin demikian hebatnya. Diam-diam pemuda ini merasa khawatir apakah Wiro akan sanggup bertahan sampai lima jurus di muka. Pakaian Wiro dilihatnya sudah kotor dan robek-robek. Rambutnya yang gondrong acakacakan, mukanya berselemotan tanah! Dan cambuk sakti itu masih juga menderu-deru, mengejar ke mana Wiro berkelebat!

Dua jurus di muka Pendekar 212 benar-benar dibikin sibuk sekali malah terdesak hebat dan dipaksa bertahan mati-matian! Di dalam ketegangan pertempuran yang menyesakkan dada itu tiba-tiba terdengarlah gelak tertawa yang aneh dan suara siulan menggidikkan tak menentu iramanya!

Dalam kejap itu pula sinar putih, kelihatan menabur angin yang memerihkan kulit menderu sedang suara seperti ratusan tawon terdengar datang dari segala jurusan dan tubuh Wiro Sableng sendiri lenyap dari pemandangan! Bagaspati putar Cambuk Api Angin lebih cepat.

Dentuman macam suara petir terdengar tiada henti. Angin laksana topan menggebu dan lidah api hampir setiap saat menyembur ganas! Namun kini gerakan-gerakan yang dibuat Cambuk sakti itu tidak leluasa seperti tadi lagi. Cambuk Api Angin tertahan dalam telikungan putih sinar Kapak Naga Geni 212 ditangan Wiro Sableng ! Bagaimanapun Bagaspati rubah jurus-jurus silat dan percepat permainan cambuknya tetap saja dia merasa semakin kepepet.

“Terima jurus naga sabatkan ekor ini Bagaspati!” seru Wiro. Bagaspati hanya mendengar suara Wiro saja. Serangan Wiro yang bernama jurus naga sabatkan ekor itu sama sekali tidak sanggup dilihatnya karena cepatnya ! Dan tahu-tahu…

“Craas!”

Lalu terdengar lolongan Bagaspati. Cambuk Api Angin terlepas dari tangan kanannya. Tangan kanan itu sendiri tercampak ke tanah, buntung dibabat Kapak Maut Naga Geni 212 sampai sebatas bahu! Darah menyembur kental dan merah.

Bagaspati macam orang gila menjerit-jerit dan lari sana lari sini, seradak seruduk macam orang celeng! Racun Kapak Naga Geni mulai menjalari pembuluh-pembuluh darahnya. Ketika pemandangannya berkunang dan lututnya goyah tak ampun lagi pemimpin bajak ini melosoh ke tanah, berguling-guling dan menjerit-jerit tiada henti! Semua anak buahnya memandang dengan penuh ngeri!

“Bunuh saja aku! Bunuh!” teriak Bagaspati karena tidak sanggup merasakan sakit yang menggerogoti dirinya akibat serangan racun yang sudah menyusup ke seluruh tubuhnya! Bagaspati masih terus berteriak dan berguling-guling sampai beberapa saat di muka namun kemudian ketika nyawanya lepas, maka tubuh itupun menggeletak tak berkutik lagi!

Bagaspati mati dengan tubuh menelentang mulut berbusah dan mata melotot ke langit! Sungguh menggidikkan memandang tampangnya! Pendekar 212 tarik nafas dalam. Sekali tiup saja maka lenyaplah noda darah pada mata Kapak Naga Geni 212. Dia melangkah dan mengambil Cambuk Api Angin.

“Senjata hebat,” katanya sambil geleng kepala. Lalu Cambuk Api Angin itu diberikannya pada Pranajaya.

“Terima kasih Wiro” kata Prana dengan penuh gembira tapi juga haru. Di saat itu Wiro Sableng sudah melangkah kehadapan anggota-anggota bajak yang masih hidup. Jumlah mereka tak lebih dari tiga puluh lima orang kini.

“Kalian semua sudah lihat sendiri betapa mengerikan kematian itu!” seru Wiro dengan suara lantang.

“Kuharap ini menjadi pelajaran yang baik! Berjanjilah bahwa kalian mau meninggalkan pulau ini, berhenti jadi bajak laut dan hidup sebagai manusia baik-baik. Banyak pekerjaan baik seperti jadi nelayan, petani atau berdagang! Dan atas janji kalian itu kami bertiga akan ampunkan nyawa kalian!”

Hening sejenak. Salah seorang anggota bajak tiba-tiba jatuhkan diri berlutut. Kawan-kawannya juga kemudian menyusul berlutut. Wiro garuk-garuk kepala.

“Buset! Orang suruh berjanji kenapa pada berlutut? Memangnya aku ini Tuhan disembahsembah! Bangun semua!” teriak Wiro. Semua anggota banjak itu cepat bangkit berdiri. Pada paras mereka kelihatan rasa tunduk dan kesadaran serta niat untuk kembali hidup sebagai orang baik-baik.

“Tampang-tampang kalian aku kenal semua! Ingat! Kalau kelak ada diantara kalian yang masih kutemui hidup dalam jalan jahat, kalian tahu hukuman apa yang bakal kalian terima!” Wiro berpaling pada kedua kawannya. “Sudah saatnya kita tinggalkan tempat ini kawan-kawan.”

Prana dan Sekar mengangguk. Ketika ketiganya hendak berlalu salah seorang bekas anggota bajak berseru, “Tunggu !”

“Ada apa?!” tanya Wiro.

“Di pulau ini ada satu gudang besar berisi timbunan barang dan uang. Apa yang akan kami lakukan dengan benda-benda itu?!”

“Busyet, kenapa jadi tolol?! Kalian bagi-bagi saja sama rata dan jadikan modal buat hidup baik-baik!” sahut Wiro.

Seorang bekas anak buah Bagaspati lainnya berkata, “Kami tidak keberatan memberikan separoh dari harta dan uang itu pada kalian bertiga!”

Pendekar 212 berpaling pada kedua kawannya lalu tersenyum. “Terima kasih sobat! Kami datang ke sini bukan buat cari harta atau uang, tapi Cambuk Api Angin. Senjata itu telah kami temui dan kami musti pergi!”

Ketika rakit mereka diseret ke tepi pantai, bekas-bekas anak buah Bagaspati itu menawarkan akan mengantarkan mereka ke pantai Jawa tapi mereka menolak.

“Rakit ini cukup baik dan lebih cepat jalannya,” jawab Wiro. Dan betapa anehnya bagi bekas anak-anak buah Bagaspati itu sewaktu menyaksikan rakit tersebut meluncur dalam kecepatan luar biasa, padahal tenaga penggeraknya hanya tangan-tangan Wiro dan Prana yang dibuat sebagai pengganti dayung!

***

PANTAI Jawa telah berada dihadapan mereka dan tak lama kemudian, diwaktu sang surya mulai kemerahan warnanya di ufuk barat maka sampailah mereka di ujung timur Pulau Jawa.

“Kita telah sampai sobat-sobatku!” seru Wiro. Dia yang pertama sekali melompat ke daratan. “Dan ini adalah saat perpisahan kita.”

Prana dan Sekar sama-sama terkejut.

Wiro sebaliknya tertawa. “Tugasmu telah selesai bukan, Prana? Cambuk Api Angin sudah berhasil ditemui…”

“Tapi Wiro…” Ucapan Prana ini dipotong oleh Wiro.

“Di lain hari kelak kita pasti akan jumpa lagi sahabat-sahabat. Ada satu hal yang ingin kukatakan pada kalian.” Wiro memandang Sekar dan Prana berganti-ganti dengan senyum-senyum.

“Kalian ingat malam bulan sabit waktu kita berhenti di tepi anak sungai dulu itu?” Prana dan Wiro saling panda mengingat-ingat dan begitu ingat masing-masing mereka sama memandang pada Wiro.

“Maaf saja, aku mencuri dengar apa yang percakapkan saat itu….” Paras Sekar dan Prana menjadi merah dengan serta merta. Keduanya sama tundukkan kepala. Mereka ingat malam di tepi sungai waktu mereka membicarakan soal cinta itu.

“Sobat-sobatku, kalian boleh saja buat seribu janji. Tapi kalian pertama-tama musti kembali ke tempat guru kalian! Urusan jodoh guru kalian musti diberi tahu…” Paras kedua orang itu semakin memerah. Wiro tertawa bergelak.

“Nah sobat-sobatku, setamat tinggal. Kudoakan agar kalian bahagia.”

“Wiro tunggu dulu!” seru Prana dan Sekar hampir bersamaan. Namun tubuh Pendekar 212 sudah berkelebat. Prana merasakan tepukan pada bahunya sedang Sekar merasa cuilan pada dagunya! Sewaktu memandang berkeliling. Wiro Sableng sudah tiada lagi!

“Aku tak akan melupakan dia.” desis Prana.

“Kelak bila aku punya anak laki-laki, aku akan namakan dia Wiro.” Prana putar kepalanya. Pandangannya bertemu dengan pandangan Sekar. Meski cuma pandang memandang, tapi semua itu menimbulkan satu kekuatan gaib yang membuat mereka saling melangkah mendekat untuk kemudian saling berpeluk. Laut, langit dan matahari sore menjadi saksi betapa mesranya pelukan itu.

TAMAT

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.

This Is The Newest Post