Jumat, 23 Juni 2017

Wiro Sableng: Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin (17)

 Wiro Sableng: Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin

“Ha… ha… ha… Gurumu keliwat sembrono manusia tangan buntung! Murid masih berilmu cetek disuruh mencari Bagaspati!” Bagaspati angkat tangan kanannya tinggi-tinggi.

“Sebut namamu cepat!” perintahnya. Pedang hitam ditangan kanan sementara itu perlahanlahan mulai turun, siap diletakkan ke kepala Pranajaya.

“Bagaspati,” terdengar satu suara dari samping, “Sebelum kau bunuh kawanku ini, harap beri kesempatan padaku untuk bicara…!” Bagaspati palingkan kepala dengan penuh kegusaran. “Rambut gondrong, kau bakal terima mampus sesudah kematian kawanmu ini!”

Pendekar 212 Wiro Sableng tersenyum. “Kami datang secara damai untuk meminta kembali pedang yang telah kau pinjam dari Empu Blorok. Apakah pantas seorang bernama besar sepertimu menyambut kedatangan kami dengan perlakuan seperti ini?”

“Pemuda geblek! Pulau ini adalah Pulau Seribu Maut! Kematian bisa terjadi setiap detik! Siapa yang menyebut nama Bagaspati dengan kurang ajar berarti mati!” kata Bagaspati dengan membentak marah dan muka merah.

“Ah… kau masih saja sebut-sebut perkara mati dan mampus,” menukasi Pendekar 212 sambil cengar cengir seenaknya.

“Kawanku sudah bilang bahwa kami datang ke sini untuk minta kembali Cambuk Api Angin. Soal mati atau mampus bisa diurus kemudian kalau kau sudah serahkan cambuk itu padanya! Malah-malah kini kau rampas pedang kawanku!”

“Pemimpin! Yang satu ini biar aku yang bereskan!” satu manusia bertubuh tegap maju dengan kapak besar ditangan kanan. Namanya Surengwilis. Dialah yang telah mengetahui kedatangan Prana dan kawan-kawan yang kemudian melaporkan pada Bagaspati. Bagaspati anggukkan kepala.

“Lekas bereskart dia, Sureng!”

“Sobat kalau kau punya senjata silahkan keluarkan. Aku tak begitu senang membunuh manusia bertangan kosong!” bentak Surengwilis yang saat itu sudah berdiri dihadapan Wiro Sableng. Wiro Sableng garuk kepala.

“Aku tak ada senjata. Bisa pinjam pedang hitammu, Bagaspati?!” Tentu saja kemarahan Bagaspati si kepala bajak laut menjadi naik ke kepala.

“Sureng! Lekas bunuh manusia keparat itu!” teriaknya. Kapak di tangan Surengwilis menderu laksana topan. Detik senjata itu berkiblat, detik itu pulalah terdengar jeritan Surengwilis. Tubuhnya mencelat mental beberapa tombak dan kapak yang tadi dipegangnya tahu-tahu sudah berada di tangan Wiro Sableng! Semua mata melotot besar seperti tak percaya melihat kejadian itu.

Di ujung sana Surengwilis mencoba bangun dari tanah. Dia berdiri gontai seketika sambil memegangi dadanya. Mulutnya membuka seperti hendak mengatakan sesuatu tapi yang ke luar dari mulut itu bukan suara melainkan darah kental dan segar. Sesaat kemudian tubuh Surengwilis melosoh pingsan ke tanah!

“Anak-anak tangkap hidup-hidup keparat ini!” perintah Bagaspati penuh kemarahan. Habis berkata begitu dia segera menyerang Prana dengan pedang di tangan. Satu tusukkan cepat dikirimkannya kepada Prana. Ketika si pemuda bersurut ke samping kanan Bagaspati membabat dengan pedang Ekasakti yang ditangan kirinya. Namun saat itu satu senjata aneh berkelebat ke arah kepalanya, membuat Bagaspati cepat-cepat urungkan serangan. Ketika dia berpaling senjata aneh itu membalik lagi dan menderu ke perutnya!

Yang menyerang pemimpin bajak ini bukan lain Sekar dengan senjata Rantai Petaka Bumi. Kegusaran dan kemarahan Bagaspati tiada terkirakan. Dia membentak keras dan sekaligus tebar serangan pada Prana dan Sekar!

Sewaktu Bagaspati memerintahkan anak-anak buahnya menangkap Pendekar 212 maka lima manusia bertubuh katai maju ke muka. Masing-masing mereka memegang sebuah jala hitam. Satu diantara kelimanya berteriak memberi komando maka lima pasang tangan bergerak dan lima buah jala hitam menebar mulai dari kaki sampai ke kepala Wiro Sableng.

Pendekar 212 gerakkan kedua tangannya sekaligus! Angin deras memapasi lima buah jala itu tapi anehnya jala-jala itu tiada sanggup dibikin mental oleh pukulan dahsyat sang pendekar! Dengan kecepatan luar biasa salah satu dari jala mernjerat tangan Wiro Sableng. Murid Eyang Sinto Gendeng ini betot tangannya untuk menarik jala dan si katai yang memegangnya namun tahu-tahu jala itu bergerak cepat dan kini menjirat sampai ke bahu!

Di kejap yang sama jala kedua menjirat kaki kiri Wiro Sableng. Jala ketiga melibat pinggang, jala ke empat membungkus kepala sampai ke dada, jala ke lima melingkar di betis kaki kanan. Terdengar lagi teriakan salah satu dari lima manusia katai itu dan semua mereka menggerakkan tangan masing-masing. Maka sekali tarik saja tubuh Pendekar 212 tergelimpang dan bergulingan di tanah. Seluruh tubuh mulai dari kaki sampai ke kepala terjerat jala!

Pendekar 212 kerahkan tenaga dalam ke ujung dua tangannya. Tapi kejut Wiro Sableng tidak terkirakan sewaktu. menghadapi kenyataan bahwa dia tak sanggup merobek atau membobolkan jala itu dengan sepeuluh jari-jari tangannya Wiro lipat gandakan tenaga dalamnya. Tetap sia-sia belaka! Malah libatan jala semakin ketat. Tubuh Wiro terhempas ke sebuah pohon. Lima manusia katai anak buah Bagaspati segera mengurungnya. Masing-masing mereka siap membungkuk untuk menotok tubuh Pendekar 212.

Wiro pejamkan mata. Mulutnya komat kamit. Pada saat sepuluh ujung jari hendak melanda menotok badannya maka terdengarlah bentakan yang luar biasa kerasnya.

“Ciaat!”

Dua larik sinar putih yang panas dan sangat menyilaukan menderu! Lima manusia katai mencelat dan meraung. Ketika tubuh mereka terhempas ke tanah kelihatanlah bagaimana pakaian dan kulit mereka melepuh hangus dan hitam. Kelimanya tiada berkutik lagi tanda tak satupun saat itu dari manusia-manusia katai ini yang masih bernafas! Wiro telah lepaskan dua pukulan sinar matahari sekaligus!

Melihat Lima Jala Sakti, demikian nama kelima manusia katai itu menemui kematian maka seluruh anak buah Bagaspati segera menggempur Pendekar 212. Di lain pihak Bagaspati sendiri saat itu tengah mendesak hebat Pranajaya yang bertangan kosong dan Sekar yang bersenjatakan Rantai Petaka Bumi. Paling lama kedua muda mudi ini hanya akan sanggup bertahan sebanyak lima jurus! Pendekar 212 memandang berkeliling.

Kira-kira enam puluh orang anak buah Bagaspati yang memegang berbagai macam senjata mengurungnya sangat rapat. Wiro tak dapat menduga sampai di mana kehebatan ilmu silat bajak-bajak laut ini. Jika mereka cuma mengandalkan ilmu silat luaran, jumlah mereka terlalu banyak untuk mengeroyok satu orang musuh. Salah-salah mereka bisa baku hantam membunuh kawan sendiri. Dengan pandangan tenang, Pendekar 212 menyapu muka-muka bajak laut yang semakin maju dan memperketat pengurungan.

“Kalian mau main keroyok?!” kertas Wiro.

“Boleh!” kedua telapak tangan dipentang ke muka.

“Tapi sebelum kalian mulai, aku masih satu peringatan pada kalian! Jika kalian semua berjanji mau hidup menjadi orang baik-baik, menghentikan kerja sebagai bajak laut, niscaya aku ampuni jiwa kalian!” Seorang bajak berbadan tegap yang cuma memakai celana dan berbadan penuh bulu meludah ke tanah!

“Jangan mengigau pemuda keparat!” semprotnya.

“Tubuhmu akan tercincang lumat!” Wiro Sableng tertawa dan keluarkan siulan dari sela bibirnya.

“Pulau ini Pulau Seribu Maut! Berat kalian yang keras-keras kepala akan mati dalam seribu cara! Majulah!” Si dada berbulu memandang berkeliling. “Kawan-kawan! Mari berebut pahala menghabiskan nyawa busuk manusia edan ini!”

Habis berkata begitu dia keluarkan suara melengking hebat dan enam puluh manusia laksana lingkaran air bah datang menyerang ! Wiro membentak dahsyat. Pulau itu serasa bergoncang, liangliang telinga laksana ditusuk! Meskipun hati tergetar namun keenam puluh bajak itu terus juga menyerang! Puluhan senjata berserabutan!

“Manusia-manusia tolol! Pergilah!” teriak Wiro Sableng. Kedua tangannya diputar di atas kepala, demikian cepatnya laksana titiran. Dari kedua telapak tangan Pendekar 212 menderu-deru angin dahsyat. Pasir beterbangan, daun-daun pepohonan luruh gugur! Sembilan belas bajak laut yang paling muka merasakan tubuh mereka seperti ditahan oleh dinding keras yang tak dapat dilihat mata. Kejut mereka bukan main. Dan belum lagi habis kejut itu Wiro tiba-tiba membentak sekali lagi!

Kesembilan belas orang bajak laut itu berpelantingan laksana daun kering disapu angin! Pukulan yang dikeluarkan Pendekar 212 tadi adalah pukulan angin puyuh! Bajak-bajak yang lain dengan kalap melompat ke muka dan babatkan senjata masing-masing. Wiro Sableng membentak lagi. Dan belasan bajak kembali terpelanting! Suasana menjadi kacau balau kini. Mereka berteriak-teriak tapi tak berani maju ke muka sekalipun saat itu Wiro sudah hentikan pukulan angin puyuhnya!

“Kenapa pada teriak-teriak macam monyet terbakar ekor?!” tanya Wiro mengejek. “Ayo majulah. Bukankah kalian mau mencincang aku?!”

Mendadak Pendekar 212 mendengar suara beradunya senjata dan suara seruan Sekar. Sewaktu dipalingkannya kepalanya, Wiro masih sempat melihat bagaimana pedang hitam ditangan Bagaspati berhasil memapas putus Rantai Petaka Besi yang menjadi senjata Sekar. Pedang hitam itu kemudian laksana kilat membabat ke perut si gadis.

Sekar tak punya kesempatan mengelak karena saat itu perhatiannya telah terpukau oleh putusnya senjatanya serta rasa sakit yang menjalari lengan kanannya akibat beradu senjata tadi! Pranajaya yang melihat bahaya itu dengan kalap dan dengan tangan kosong lepaskan pukulan angin sewu ke arah Bagaspati. Tapi tiada guna.

Babatan pedang Bagaspati datang terlalu cepat dan Bagaspati sendiri masih sempat putar pedang Ekasakti di tangan kirinya untuk melindungi dirinya dari pukulan angin sewu itu! Satu jari lagi pedang hitam di tangan kanan Bagaspati akan merobek perut dan membusaikan usus Sekar maka dari samping menderu selarik sinar putuh yang dahsyat! Demikian dahsyatnya sehingga Bagaspati terpaksa tarik pulang tangan kanannya dan melompat ke belakang beberapa tombak!

“Wuss!”

Pukulan sinar matahari menggebu di depan hidung pemimpin bajak laut itu! Mata Bagaspati kelihatan tambah besar dan tambah merah tapi air mukanya pucat pasi! Dia sadar terlambat sedikit saja dia metompat tadi pastilah dia akan konyol dilanda sinar putih pukulan lawan! Kemarahan Bagaspati tiada terkirakan. Lebih-lebih melihat belasan anak buahnya bergeletakan pingsan di mana-mana dan yang masih hidup berdiri dengan muka pucat di tempat masing-masing, sama sekali tidak menyerang atau mengeroyok Wiro Sableng!

“Keparat! Kenapa kalian melongo semua?! Lekas bereskan setan alas yang satu ini!” Anggota-anggota bajak laut itu bimbang seketika. Namun karena ngeri pada kemarahan serta hukuman yang kelak bakal mereka terima dari pimpinan merta, dua puluh orang diantaranya segera maju dan serentak menyerang.

“Manusia tolol! Kalian minta mampus saja!” teriak Wiro. Dengan serta merta dia pukulkan tangan kirinya. Sinar putih untuk kesekian kalinya menderu. Dan pukulan sinar matahari yang sekali ini meminta korban enam belas jiwa bajak-bajak laut itu. Pekik maut terdengar di mana-mana!

“Siapa yang mau mampus dan ikut perintah Bagaspati silahkan maju!” teriak Wiro.

Tak satu anggota bajak pun yang bergerak di tempatnya. Jangankan bergerak, berdiri pun lutut mereka sudah goyah! Sementara Bagaspati berpikir-pikir pukulan apakah yang telah dilepaskan Wiro Sableng, maka si pendekar dari Gunung Gede ini palingkan kepalanya pada pemimpin bajak laut itu.

“Bagaspati, jika kau berjanji akan mengembalikan Cambuk Api Angin, dan berjanji membubarkan gerombolan bajak yang kau pimpin selama ini lalu kembali jadi manusia baik-baik, masih belum terlambat bagimu untuk kuberi ampun!” Bagaspati tertawa mengejek.

“Kepongahanmu setinggi gunung!” jawabnya.

“Meski ilmumu setinggi langit seluas lautan, Bagaspati tak akan sudi menyerah padamu kecuali kalau kau yang terlebih dulu serahkan jiwa padaku!”

Wiro Sableng bersiul dan tertawa gelak-gelak. “Kau bisa juga bersyair Bagaspati. Kalau betul-betul hatimu sekeras batu tidak mempunyai kesadaran, kelak kau terpaksa bersyair di neraka! Silahkan mulai!”

“Cabut senjatamu setan alas!” bentak Bagaspati.

“Ini senjataku Bagaspati!” Wiro acungkan kedua tangannya.

“Kalau begitu aku akan mampus penasaran!” Bagaspati lemparkan pedang Ekasakti yang di tangan kirinya. Pedang mustika milik Prana itu menderu laksana kilat ke arahnya. Wiro miringkan kepalanya sedikit. Pedang putih lewat di sampingnya dan menancap di batang pohon kelapa! Prana cepat mengambilnya.

“Wiro, biar aku yang bikin perhitungan dengan manusia ini!”

“Ah, kau tak usah mengotori tangan dengan darah manusia maling ini, Prana,” kata Wiro pula dengan suara keras lantang.

Prana sadar bahwa Wiro telah menolongnya dari satu kedudukan yang merugikan. Dia tahu bahwa dia tak bakal sanggup menghadapi Bagaspati. Dengan berkata demikian Wiro bukan saja telah menolongnya tapi sekaligus membuat dia tidak kehilangan muka sama sekali!

“Ayo seranglah!” teriak Wiro ketika Bagaspati masih dilihatnya berdiri tak bergerak.

Baca lanjutannya:
Wiro Sableng: Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin (18)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.