Jumat, 23 Juni 2017

Wiro Sableng: Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin (16)

 Wiro Sableng: Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin

“Saudara, yang manakah Pulau Seribu Maut?” bertanya laki-laki muda yang bertangan buntung. Baik Warana maupun nelayan yang satu lagi hanya terduduk bermuka pucat dalam perahu mereka tanpa bisa membuka mutut. Wiro memandang keheranan, juga Sekar.

“Hai, apa kalian tak dengar orang bertanya?!” seru Wiro Sableng. Warana membuka mulut tapi tak ada suara yang ke luar.

“Kalian seperti orang yang ketakutan!” ujar Wiro.

Prana juga melihat bayangan ketakutan itu pada wajah kedua nelayan tersebut. Dia tak tahu apa sebabnya dan dia tak mau perduli. Dia bertanya lagi. “Di mana letak Pulau Seribu Maut?!”

“Saudara-saudara… apa kalian… kalian…” Warana tak berani meneruskan ucapannya. Ketika dilihatnya kawannya mencelupkan pendayung segera dilakukannya hal yang sama. Perahu mereka segera bergerak tapi kemudian terhenti dengan tiba-tiba.

Kedua nelayan itu pergunakan seluruh tenaga untuk mendayung namun tetap saja perahunya hanya mengapung dan sedikitpun tak bisa bergerak. Ternyata Wiro Sableng telah memegang ujung belakang perahu mereka dan semakin menjadi-jadilah takut kedua orang itu. Mereka berteriak-teriak dan lari sana lari sini dalam perahu mereka. Ikan-ikan yang berhasil mereka tangkap berhamburan kembali ke dalam laut!

“Nelayan-nelayan geblek! Apa kalian sudah gila semua teriak-teriak tak karuan?!” bentak Wiro.

“Tolong! Tolong…!” teriak Warana. Kawannya meniru berteriak macam itu pula.

“Saudara-saudara kami bukan rampok atau bajak!” seru Pranajaya.

Wiro garuk-garuk kepalanya dan melangkah kehadapan Warana. “Keblinger betul! Orang tanya Pulau Seribu Maut kenapa jadi teriak-teriak minta tolong?!”

“Tolong jin laut! Tolong…!”

Wiro, Prana dan Sekar saling berpandangan. Sekar kemudian berbisik pada Prana,
“Keduanya menyangka kita jin laut…!” Wiro Sableng menjambak rambut Warana dan menepuk-nepuk pipi nelayan ini.

“Kau kira kami ini bukannya manusia apa?! Sompret! Kami manusia-manusia macam kau saudara! Ayo jawab kenapa kalian teriak-teriak dan di mana letak Pulau Seribu Maut?!” Dijambak demikian rupa Warana semakin memperkeras teriakannya.

“Manusia tak berguna pergilah!” sentak Wiro Sableng seraya melepaskan jambakannya. Begitu dilepas begitu Warana sambar pendayung dan bersama kawannya mengayuh cepat meninggalkan rakit itu.

Meledaklah tertawa ketiga orang itu sewaktu Sekar berkata, “Tentu saja, mana mereka mau percaya bahwa kita adalah manusiamanusia seperti mereka. Tak ada orang yang berakit di laut dan dengan kecepat laksana angin!” Wiro seka kedua matanya yang basah oleh air mata karena tertawa itu. Dia memandang berkeliling dan tarik nafas dalam.

“Agaknya tak ada satu manusiapun yang bisa kasih keterangan di mana letak Pulau itu…” kata Wiro.

“Kita musti cari sampai dapat!” Prana kertakkan rahang. Wiro memandang pada Sekar. Gadis itu dilihatnya memandang ke arah utara tanpa berkedip.

“Apa yang kau perhatikan?” tanya Wiro. Sekar tak menjawab dan dia masih memandang kejurusan utara itu. Wira putar kepala mengikuti pandangan Sekar. Jauh di tengah laut lepas di lihatnya dua buah pulau yang besarnya dipemandangan mata mereka cuma sebesar ujung jari kelingking saja.

“Bagaimana kalau kita arahkan rakit kita ke sana?” mengusulkan Sekar. Wiro dan Prana saling pandang dan sama menyetujui. Dan rakit itupun menggebulah di atas air laut yang muncrat di belah bagian muka rakit. Detik demi detik kedua pulau itu semakin dekat juga.

“Salah satu dari pulau-pulau itu banyak elang elang lautnya Wiro,” kata Prana. Wiro Sableng memandang pada pulau yang sebelah kanan. Di atas pulau itu memang keiihatan banyak beterbangan burung-burung.

“Itu bukan burung elang, Prana. Tapi gagak hitam pemakan mayat!” seru Wiro tiba-tiba ketika, matanya yang tajam dapat mengenal burung-burung itu. Prana pelototkan mata.

“Sekar, putar kemudi ke arah pulau itu!” kata Prana. Dan sesaat kemudian rakit itupun meluncur berputar ke arah pulau yang sebelah kanan. Semakin dekat semakin jelas keadaan pulau itu. Beberapa buah perahu besar dan kapal kelihatan berada di sekitar teluk yang sempit.

“Hai benda apa itu?!” mendadak sontak Sekar berseru. Wiro dan Prana berpaling ke arah yang ditunjuk Sekar. Sebuah benda hitam yang sangat besar.meluncur pesat ke arah mereka.

“Ikan raksasa!” seru Sekar pula. Wiro Sableng memandang tak berkesip. Benda hitam besar itu memang seperti kepala seekor ikan. Tapi bukan ikan betul-betul. Wiro masih coba meneliti dengan seksama ketika tiba-tiba sekali benda itu lenyap dari permukaan air.

“Aku merasa tidak enak,” desis Prana.

“Kita musti waspada,” kata Wiro. Baru saja dia habis berkata begini tahu-tahu benda hitam yang luar biasa besarnya itu sudah muncul dihadapan rakit mereka. Bagian tengahnya laksana seekor buaya raksasa membuka dan “plup” sekaligus menelan rakit serta ketiga penumpangnya!

“Celaka!” seru Prana. Tapi suaranya lenyap ditelan katupan yang menutup. Wiro mernukul lengan tinjunya kian ke mari. Terdengar suara bergetar tapi aapa yang dipukulnya itu sama sekali tidak hancur!

“Gila, apa-apa ini!” teriak Pendekar 212.

Dia tak bisa melihat Sekar ataupun Prana. Ruang di mana mereka terkurung sangat gelap bahkan tangan di depan matapun tidak kelihatan. Pendekar 212 keluarkan Kapak Naga Geni dan batu hitam untuk membuat penerangan. Namun sebelum tangannya menyentuh senjata sakti itu tiba-tiba terdengar suara mendesis. Sekejap kelihatan sinar biru.

Prana dan Sekar berseru lalu terdengar suara jatuhnya tubuh kedua orang itu! Sinar biru Ienyap. Wiro yakin itu adalah hawa beracun yang telah disemprotkan ke dalam ruangan gelap itu. Kepalanya terasa pusing dan pemandangannya tak karuan. Dia seperti melihat ribuan bintang begemerlap, seperti melihat tali-tali yang melingkar-lingkar berkilauan dan menusuk-nusuk ke arah matanya.

Pendekar 212 segera kerahkan tenaga dalam dan tutup semua inderanya. Satu menit kemudian dia berhasil menolak hawa beracun itu lalu dengan cepat keluarkan dua butir pil dan dengan merangkak dia berhasil mencari tubuh Sekar dan Prana lalu memasukkan pil anti racun ke dalam mulut keduanya. Mendadak terdengar suara berkereketan dan ruangan itu di mana Wiro berada seperti dihamparkan. Kemudian sebuah pintu terbuka. Pendekar 212 segera jatuhkan diri diantara tubuh Prana dan Sekar. Saat itu keduanya sudah mulai sadar.

Wiro segera membisiki, “Berbuatlah pura-pura pingsan terus! Jangan lakukan apa-apa sebelum kuberi tanda!” Terdengar lagi suara berkereketan kemudian tubuh mereka terasa menggelindung dan jatuh di atas pasir yang panas dihangati oleh sinar matahari. Perlahan-lahan Wiro Sableng buka ke dua matanya.

Saat itu terdengar suara seseorang tertawa bergelak. “Surengwilis! Jadi inikah manusia-manusianya yang katamu kasak kusuk cari keterangan tentang pulau kita?!”

“Betul pemimpin!” terdengar jawaban seseorang. Wiro Sableng membuka matanya lebih lebar.

Dan dihadapannya, beberapa tombak jauhnya dilihatnya antara belasan manusia-manusia berbadan tegap, berdiri seorang laki-laki yang luar biasa tinggi dan besar badannya. Menurut taksiran Wiro manusia ini mungkin lebih dua meter tingginya!

Tampangnya beringas buas dan amat menyeramkan, ditutupi oleh berewok yang lebat dan berangasan! Sepasang matanya besar dan merah. Hidung juga besar tapi picak. Dia mengenakan jubah hitam bergaris-garis putih. Di pingggangnya tergantung sebilah pedang panjang. Yang menarik perhatian Wiro ialah tengkorak kepala manusia yang menjadi kalung dan tergantung di leher laki-laki ini.

“Hem…” si tinggi besar berkalung tengkorak manusia itu menggumam. Dia memandeng berkeliling, “Apa ada di antara kalian yang kenal pada mereka?!”

Tak ada suara jawaban.

“Kalau begitu mereka adalah manusia-manusia tidak berguna!” ujar si tinggi besar.
“Penggal kepala kedua laki-laki itu! Yang perempuan biarkan hidup! Dia cukup bagus untuk disuruh menari telanjang malam ini dan tidur bersamaku!”

Beberapa kaki kelihatan melangkah kehadapan ketiga orang itu. Wiro berbisik pada kedua-kawannya, “Sekarang, sobat-sobat!”

Maka ketiga manusia yang berpura-pura pingsan itu segera melompat dari tanah di mana mereka menggeletak!

~ 15 ~

KEJUT semua orang yang ada di situ bukan kepalang! Tapi anehnya si tinggi kekar malah keluarkan suara tertawa mengkeh.

“Ha... ha! Kalian kira mataku bisa ditipu huh?!” Sadarlah Wiro dan kawan-kawannya bahwa ucapan si tinggi kekar memerintahkan anak-anak buahnya untuk memenggal kepala mereka adalah pancingan belaka. Pendekar 212 menggerendeng dalam hati.

“Sebelum kalian mati kuharap kalian mau kasih keterangan,” berkata si tinggi besar yang berjubah hitam bergaris-garis putih. Tangan kanannya ditekankan ke ujung gagang pedang.

“Ada keperluan apa kau mencari tempat ini?!”

“Apakah ini Pulau Seribu Maut?!” balas menanya Pranajaya. Si tinggi kekar tertawa lagi.

“Kalian memang sudah berada di Pulau yang kalian cari! Pulau di mana kalian akan melepas nyawa masing-masing?” Tersiraplah darah Prana dan Sekar. Pendekar 212 tetap tenangtenang saja. Prana memandang lekat-lekat pada si tinggi kekar.

“Aku mencari manusia bernama Bagaspati. Apakah kau orangnya!”

“Setan alas! Kowe berani sebut nama pemimpin kami seenak perutmu! Terima mampus!” Satu hardikan datang dari samping dan satu sambaran angin menderu ke arah leher Prana. Pemuda ini cepat-pepat menyingkir ke samping. Ujung sebilah kelewang menderu di muka hidungnya!

“Tahan!” seru laki-laki bertubuh tinggi kekar. Orang yang tadi menyerang dengan kelewang bersurut mundur. Si tinggi kekar pelototkan mata pada Pranajaya.

“Manusia tangan buntung!” katanya, “aku memang Bagaspati! Menyebut namaku berarti mati! Tapi kau masih punya waktu untuk memberi keterangan ada keperluan apa kau dan kawan-kawanmu mencari pulau kami!”

“Kedatanganku atas tugas guruku!”

“Hem… aku sudah duga bahwa kau dan kawan-kawanmu manusia-manusia dari dunia persilatan! Terangkan apa tugasmu dan siapa gurumu!” ujar si tinggi besar Bagaspati.

“Aku diperintahkan untuk mengambi! Cambuk Api Angin yang telah kau curi dari guruku!” Bagaimanapun Bagaspati menekan rasa terkejutnya namun pada air mukanya jelas kelihatan perubahan.

“Apakah kau muridnya Empu Blorok?!” tanyanya membentak. Prana anggukkan kepala.

“Mana cambuk itu?! Lekas serahkan padaku!” Meledaklah tertawa bekakan Bagaspati. Tanah yang dipijak bergetar saking hebatnya suara tertawa yang disertai tenaga dalam itu.

“Nyalimu sungguh besar tangan buntung!” kata Bagaspati seraya melangkah kehadapan Prana.

“Sreet!”

Tiba-tiba Bagaspati cabut pedang panjangnya. Senjata ini berwarna hitam legam bersinar yang menggidikkan. Dia hentikan langkahnya dua tombak dihadapan Prana lalu membentak, “Lekas sebut kau punya nama! Aku tak biasa membunuh manusia dunia persilatan tanpa tahu namanya!” Sebagai jawaban Pranajaya cabut pula pedang Ekasaktinya. Sinar putih berkilau ke luar dari senjata mustika itu.

“Aku datang hanya untuk mengambil Cambuk Api Angin. Kalau kau menghadapinya dengap kekerasan tak ada jalan lain daripada menabas batang lehermu!”

“Bedebah sontoloyo!” teriak Bagaspati marah. Pedang hitamnya berkelebat ganas, menderu ke arah tubuh Pranajaya, sekaligus merupakan tiga buah serangan berantai yang dahsyat!

Murid Empu Blorok tidak tinggal diam. Prana segera kiblatkan senjatanya. Pedang putih dan pedang hitam beradu mengeluarkan suara keras dan memercikkan bunga api! Terdengar seruan Prana. Pedang Ekasakti terlepas dan mental dari tangannya. Sekejap kemudian senjata itu sudah berada di tangan kiri Bagaspati!

Baca lanjutannya:
Wiro Sableng: Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin (17)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.