Kamis, 22 Juni 2017

Wiro Sableng: Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin (15)

Wiro Sableng: Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin

“Wiro belum kembali?” tanya gadis itu.

“Belum,” sahut Prana. Hatinya menciut. Sekar lebih banyak memperhatikan seorang lain yang tak ada di situ daripada kehadiran dirinya di sampingnya di atas batu itu. Dan Prana sendiri tidak tahu ke mana pula Wiro pergi. Dua malam yang lalupun pemuda itu selalu pergi tanpa memberi tahu ke mana. Seakan-akan kepergiannya itu merupakan hal yang disengaja.

Pranajaya berdehem beberapa kali untuk menghilangkan sekatan yang menyesakkan lehernya. Dipandanginya paras jelita Sekar dari samping. Betapa indahnya paras itu dipandang dibawah naungan malam yang disinari bulan sabit dan bintang gumintang.

“Kau masih belum memberikan jawaban apa-apa atas ucapanku malam pertama yang lalu, Sekar…” berkata Pranajaya. Suaranya sekali ini tiada bernada ditelan sendiri oleh gema gemetar suaranya itu. Sekar memandang ke hulu sungai lalu menundukkan kepalanya.

“Apakah tak akan pernah ada balasan?” tanya Pranajaya. Si gadis memandang lagi ke hulu sungai lalu membuka mulut, “Dalam perjalanan ini bukan persoalan cinta yang musti dipikirkan Prana…”

Suara Sekar pelahan, hampir seperti berbisik namun begitu mengiang telinga Pranajaya kedengarannya Paras pemuda ini membeku merah. Ditundukkannya kepalanya.

“Kurasa bukan di situ sesungguhnya dasar jawabanmu, Sekar,” ujar pemuda itu pula.

“Lalu….?”

“Kau mencintai dia…?” tanya Prana seberani mungkin.

“Dia siapa?”

“Tak usah berpura-pura…” Sekar memandang pemuda itu sebentar.

“Maksudmu Wiro?” tanyanya. Si pemuda anggukkan kepala. Sekar tertawa.

“Suara tertawamu aneh, Sekar,” bisik Pranajaya.

“Seolah-olah membenarkan pertanyaanku tadi.” Sekar diam.

“Aku memang bukan apa-apa jika dibandingkan dengan Wiro…”

“Kau tak usah cemburu Prana”

“Terus terang saja dalam persoalan ini aku cemburu padanya. Aku iri,” kata Pranajaya dengan hati laki-laki.

“Tapi kecemburuan dan iri hatiku itu tidak menyebabkan aku menjadi buta atau lupa diri atau mempunyai maksud yang buruk-buruk terhadap kalian berdua. Aku cemburu dan iri pada Wiro, tapi aku menghormati dan menghargainya sebagai seorang sahabat. Sebagai seorang manusia kepada siapa aku berhutang budi serta nyawa. Bahkan lebih dari itu aku mengganggap Wiro bukan orang lain, tapi sudah sebagai saudara kandung sendiri…”

Sekar masih diam dan Pranajaya meneruskan ucapan-ucapannya.

“Aku menyadari kenyataan Sekar. Kenyataan bahwa aku bukan apa-apa jika dibandingkan dengan dia. Ilmunya tinggi, parasnya gagah dan jasmaninya tidak mempunyai cacat apa-apa. Yang lebih utama dia adalah seorang laki-laki berhati jantan, luhur dan kudus… Jika kau mau berterus terang Sekar, aku tak akan membuka-buka lagi persoalan ini. Aku akan lebih bahagia dan bangga jika kalian bisa hidup berdua dan berbahagia…”

“Antara aku dan Wiro tak ada hubungan apa-apa, Prana,” memotong Sekar.
“Tak sepantasnya kau bicara sampai sejauh itu.”

Pranajaya memandang ke langit di atasnya. Diperhatikannya bulan sabit dan dia berkata. “Mungkin, tapi kau tak bisa menipu dirimu sendiri! Sekar. Kau tak bisa mendustai kata hatimu. Kau mencintai dia…..”

Sekar tundukkan kepalanya memperhatikan jari-jari kakinya yang mungil bagus. “Aku tak ingin membicarakan persoalan ini lebih lanjut, Prana.”

“Jadi tak ada jawaban darimu? Tak ada jawaban berarti suatu penolakan Sekar…”

Sepi menyeling. Pranajaya menunggu sampai beberapa lamanya. Dipandanginya paras Sekar seketika. Dan bila tak ada juga jawaban dari gadis itu maka Prana memutar tubuh dan perlahan-lahan meninggalkan tempat itu. Sekar memalingkan kepalanya. Di pandanginya tubuh yang berjalan itu, dipandanginya kaki yang melangkah itu, dipandanginya kepala yang tertunduk itu dan dipandanginya tangan kiri yang buntung itu. Hati gadis ini memukul-mukul. Suaranya serak parau sewaktu mulutnya mernanggil, “Prana…”

Panggilan itu laksana satu kekuatan gaib yang membuat kedua kaki Pranajaya berhenti melangkah dan tubuhnya berhenti berjalan. Si pemuda palingkan kepala. Diantara keputus-asaan yang menyelimuti wajahnya di malam sejuk itu kelihatan sekelumit pengharapan. Dan matanya memandang sayu pada si gadis, menunggu ucapan selanjutnya.

“Prana…”

“Ya, Sekar…”

“Bersediakan kau menunda pembicaraanmu ini sampai berakhirnya tugasmu di Pulau Seribu Maut nanti…?”

Si pemuda.merenung sejenak. Lalu jawabnya, “Aku bersedia Sekar meski aku tahu mungkin tak ada harapan sama~sekali bagiku…”

“Mungkin yang orang duga tak selalu mungkin pada kenyataan, Prana,” kata Sekar.

Pranajaya murid Empu Blorok coba merenungkan ucapan gadis itu. Kemudian sekelumit senyum tersungging dibibirnya.

“Kuharapkan saja demikian, Sekar,” kata Prana. Lalu ditinggalkannya tempat itu.

~ 14 ~

DI PAGI HARI yang kesembilan ketiga orang itu kelihatan berdiri di tepi pantai di ujung, timur pulau Jawa. Di laut kelihatan gugusan pulau-pulau. Ada yang berkelompok-kelompok, ada yang terpisah menyendiri. Perahu-perahu nelayan kelihatan di manamana. Angin dari laut bertiup, melambai-lambaikan rambut serta pakaian mereka.

Pranajaya menunjuk ke sebuah teluk sempit dan berkata, “Di situ ada perkampungan nelayan. Kita bisa mencari keterangan di mana letak Pulau Seribu Maut dan sekalipun menyewa perahu serta membeli perbekalan.”

Wiro mengangguk.

Ketiganya segera menuju ke perkampungan itu. Seorang nelayan tua mereka temui tengah memperbaiki jala di teluk itu. Prana menyalaminya lalu bertanya, “Bapak, yang manakah di antara pulau-pulau di tengah laut sana yang bernama Pulau Seribu Maut?” Pertahan-lahan nelayan tua, itu mengangkat kepalanya dan membuka topi pandannya. Dipandanginya Pranajaya, lalu Wiro dan Sekar.

“Kau bertanyakan Pulau Seribu Maut, nak?” ujar nelayan tua ini. Prana mengangguk.

“Kalau tak tahu jelasnya kira-kira saja,” berkata Wiro. Si nelayan hela nafas dalam.

“Umurku enam puluh tahun, nak. Dan hari inilah baru kudengar ada seorang yang bertanya di mana letak Pulau Seribu Maut.” Nelayan itu hela nafas dalam sekali lagi.
“Apakah kalian hendak menuju ke sana?”

“Betul,” sahut Prana.

Mata yang sudah agak mengabur di mana umur dari nelayan tua itu memperhatikan ketiga manusia itu dengan lebih teliti.

“Kalian tentunya orang-orang dunia persilatan. Tidak heran kalau kalian bernyali menanyakan letak pulau itu. Urusan apakah gerangan yang membawa kalian begitu berniat meriuju ke sana?”

“Ah tak ada apa-apa, pak. Cuma kepingin tahu saja,” jawab Prana.

Si nelayan tertawa. “Kepingin tahu dan menemui kematian di sana…? Nak, dengar… hanya manusia-manusaa yang mau lekaslekas mati saja yang berhajat pergi ke Pulau Seribu Maut…”

“Namanya memang menyeramkan,” kata Wiro sambil usap-usap dagu.

“Tapi sebetulnya ada kehebatan apakah di sana sampai pulau itu demikian ditakuti orang-orang?”

“Ah, kalian bukan orang-orang sini. Kalian tidak tahu, Nak…. di situ bersarang gerombolan bajak laut yang dipimpin oleh seorang bernama Bagaspati. Setiap perahu atau kapal yang lewat di selat Madura ini pasti dirampok, manusia-manusianya dibunuhi. Kampungku inipun tak urung menjadi korban kejahatan Bagaspati dan anak buahnya. Perempuan-perempuan kami diambil dan dibawa ke Pulau Seribu Maut. Satu kali seminggu kami musti menyiapkan dan memberikan bahan-bahan makanan kepada mereka. Kami tak bisa berbuat apa-apa nak. Kalau melawan berarti mati…”

“Kenapa tidak pindah ke kampung lain?” tanya Sekar.

“Lebih berabe lagi!” jawab si nelayan.

“Kalau kami berani pergi dari sini, semua penghuni kampung dari yang kecil sampai tua macamku ini akan dibunuh! Begitu Bagaspati mengancam…”

“Pernah berhadapan muka dengan manusia Bagaspati itu?” tanya Prana.

“Pernah dan pernah ditampar. Tiga hari aku tak bisa meninggalkan tempat tidur karena masih pening di landa tamparannya.”

Wiro Sableng mengulum senyum. Diperhatikannya beberapa buah perahu yang berada di tepi pantai itu.

“Perahu-perahu bapak?” tanya Wiro. Si nelayan mengangguk.

“Bisa kami sewa sebuah?”

“Untuk pergi ke Pulau Seribu Maut?!”

“Ya.” Nelayan tua geleng-gelengkan kepalanya.

“Aku memang sudah tua dan hampir masuk liang kubur. Tapi walau bagaimanapun aku tak mau cari urusan yang bisa mempercepat kematianku! Tak ada satu orangpun yang akan mau menyewakan perahunya ke Pulau Seribu Maut. Tak ada satu pemilik perahupun yang akan mengantarkan kalian ke sana. Pulau Seribu Maut adalah pulau kematian!”

“Kalau begitu bapak terangkan saja letaknya.”

“Tidak bisa, nak… tidak bisa…” Si nelayan lalu cepat-cepat meninggalkan ketiga orang itu. Yang ditinggalkan saling berpandangan lalu pergi ke pusat kampung. Dan sebagaimana yang dikatakan nelayan tua tadi, tak ada seorang pemilik perahu pun yang mau menyewakan perahunya, apalagi mengantar mereka ke Pulau Seribu Maut. Juga ketiganya tak berhasil mencari keterangan di mana kira-kira letak pulau angker tersebut.

“Penduduk di sini sialan semua!” gerutu Wiro Sableng.

“Pada mati ketakutan! Kurasa mencari dan pergi ke tempat seorang puteri cantik tidak sesukar ini! Cuma mencari Kepala bajak saja begini susah! Geblek!”

“Kita tak bisa salahkan penduduk Wiro,” ujar Prana.

“Kalau begini kita terpaksa bikin perahu sendiri atau rakit!” kata Wiro mengalih pembicaraan. Prana mengangguk.

“Rakit kurasa lebih baik daripada perahu. Ombak di selat ini cukup besar…”

Menjelang tengah hari maka di tengah laut lepas di selat Madura itu kelihatanlah sebuah rakit yang laksana “terbang” memecah gelombang air laut, melaju dalam kecepatan yang luar biasa, semakin lama semakin jauh dari pantai ! Beberapa nelayan yang perahu mereka kebetulan dilewati oleh rakit itu tersentak kaget. Mereka hampir-hampir tak dapat mempercayai pandangan mata mereka.

Apakah mereka telah mengimpi di siang bolong yang panas terik itu atau telah melihat jin-jin laut gentayangan di depan mereka?! Betapakan tidak! Tiga orang mereka lihat berada di atas rakit itu. Satu diantaranya gadis cantik jelita.

Meski ombak tidak besar tapi untuk mengarungi lautan dalam kecepatan yang demikian rupa dan dengan sebuah rakit pula benar-benar mustahil, benar-benar tak bisa mereka percaya! Dan yang lebih tidak dapat mereka percayai ialah karena dua orang pemuda yang ada di atas rakit itu mempergunakan tangan-tangan mereka sebagai pendayung yang membuat rakit tersebut laksana terbang!

“Jangan-jangan jin-jin laut yang kita lihat ini, Warana,” kata seorang nelayan pada kawannya yang berada dalam sebuah perahu jauh dimuka rakit itu. Dia dan kawannya sama-sama mengusap mata berkalikali.

“Hai, lihat! Mereka menuju ke sini!” seru Warana.

“Celaka kita! Kayuh yang cepat Warana sebelum jin-jin laut itu datang mencekik kita!” Warana dan kawannya segera menyambar pendayung. Tapi belum lagi kedua kayu pandayung mereka mencelup ke dalam air laut, rakit yang berisi tiga manusia itu sudah berhenti dihadapan mereka! Paras kedua nelayan itu pucat pasi. Meski yang mereka lihat adalah benar-benar manusia, namun rasa tak percaya tetap membuat mereka menyangka bawa tiga manusia di atas rakit itu adalah jin-jin laut yang datang menganggu mereka!

Baca lanjutannya:
Wiro Sableng: Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin (16)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.