Kamis, 22 Juni 2017

Wiro Sableng: Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin (14)

 Wiro Sableng: Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin

Gonggoseta meraung-raung dan bergulingan di tanah, kemudian tubuhnya tak bergerak-gerak lagi tanda nyawanya lepas sudah! Kehebatan pukulan sinar matahari yang dilepaskan Wiro tidak saja hanya meminta korban jiwanya Gonggoseta tapi juga seperti tadi, diseberang sana terdengar lagi pekik kematian enam orang prajurit yang tersambar pukulan sinar matahari!

Keenamnya laksana daun-daun kering disambar angin keras, berpelantingan dan mati seketika itu juga! Meski dalam keadaan tangan terluka parah, bahkan kalau tidak hati-hati tangannya sendiri bisa tersambar pukulan sinar matahari namun dengan susah payah akhirnya Pranajaya berhasil juga menyambut dua butir pil yang dilemparkan Wiro. Obat itu segera ditelannya dan yang satu lagi dimasukkannya dengan cepat ke dalam mulut Sekar.

Melihat kematian kawan mereka yang ke empat itu semakin meluaplah kemarahan dan dendam maut tokoh-tokoh silat lainnya yaitu Si Telinga Arit Sakti, Cindur Rampe, Cakar Iblis serta Si Janggut Biru. Keempatnya mengurung Wiro dengan rapat. Tongkat besi Si Janggut Biru laksana taburan hujan menderu-deru menyambar ke seluruh tubuh Pendekar 212.

Kuku-kuku jari Si Cakar Iblis yang mengandung racun yang sangat dahsyat tiada hentinya mencari sasaran dibagianbagian tubuh Wiro yang berbahaya. Arit ditangan Si Telinga Arit Sakti berkelebat cepat memapas kian kemari sedang Cindur Rampe tiada hentinya lepaskan pukulan ireng weliung yang mendatangkan angin dahsyat berwarna hitam dan beracun!

Dan bagaimana keempat tokoh-tokoh silat utama ini tidak menjadi dibikin tambah mengkal karena semua serangan maut mereka itu sampai sepuluh jurus di muka masih belum sanggup merubuhkan Pendekar 212. Jangankan merubuhkan, untuk melukai sedikit saja salah satu bagian tubuh murid Eyang Sinto Gendeng itupun mereka tiada sanggup!

Dan lebih membuat mereka penasaran betul ialah karena dari mulut Pendekar 212 tiada hentinya ke luar suara siulan yang sekali-sekali diselingi oleh suara tertawa bernada mengejek! Pil yang diberikan oleh Wiro Sableng kepada Prana memang mengandung khasiat yang luar biasa. Obat itu Eyang Sinto Gendeng sendiri yang meramunya.

Pada waktu pertempuran di jurus ke sepuluh berkecamuk hebat-hebatnya maka Prana mulai merasakan keadaan tubuhnya puluh kembali. Lukanya tiada terasa sakit lagi dan darah yang mengucur berhenti. Ketika dia berpaling pada Sekar, dilihatnya gadis itu membuka kedua matanya dan menggerakkan kepala.

“Prana, lekas tinggalkan tempat ini! Bawa Sekar!” berseru lagi Wiro. Pranajaya mengambil pedang Ekasakti yang tercampak di tanah lalu berdiri. Apa yang dilakukannya bukanlah mengikuti ucapan Wiro melainkan terus menyerbu ke dalam kalangan pertempuran!

“Pemuda tolol!” damprat Wiro.

“Disuruh selamatkan diri malah bertempur!” Prana tidak berkata apa-apa melainkan terus babatkan pedangnya ke arah Cakar Iblis di sebelah kiri Wiro. Kalau sendiri tadi empat tokoh silat Istana itu tiada sanggup menghadapi Wiro maka ditambah dengan munculnya Pranajaya kini keempat tokoh silat itu menjadi terdesak total!

Tubuh keempatnya terbungkus sinar pedang dan sinar kapak dan agaknya pertahanan mereka itu tak akan berjalan lebih lama. Dalam waktu singkat pasti sekurang-kurangnya salah seorang dari mereka akan menjadi korban lagi!

“Tahan! Hentikan pertempuran ini!” teriak Cindur Rampe seraya melompat ke luar dari kalangan. Sejak mulanya dia memang tak mau ikut-ikutan membela kematian Tiga Setan Darah karena antara dia dengan Tiga Setan Darah sendiri mempunyai perselisihan yang belum terselesaikan.

Namun karena tak ingin dicap pengecut terpaksa juga Cindur Rampe pergi bersama yang lain-lainnya itu untuk membuat perhitungan dengan Wiro dan kawan-kawannya.

“Apa maumu Cindur Rampe?!” tanya Wiro dengan melintangkan kapak di muka dada sementara Sekar saat itu sudah berdiri di sampingnya dengan Rantai Petaka Bumi di tangan kanan.

“Antara kami dan kalian tak ada permusuhan. Karenanya tak perlu pertempuran gila ini diteruskan…!” Wiro tertawa tawar.

“Tadi pun aku sudah bilang! Tapi kalian semua tidak mau dengar! Sayang empat orang kawan kalian sudah melayang jiwanya!” Cindur Rampe berpaling pada kawan-kawannya dan memberi isyarat untuk berlalu. Si Janggut Biru sudah hendak mengikuti Cindur Rampe tapi tak jadi kaena saat itu terdengar bentakan Si Telinga Arit Sakti.

“Cindur Rampe resi keparat! Apakah nyalimu sepengecut begini?! Apa kau relakan begitu saja empat kawan kita menemui kematian ?!” Paras Cindur Rampe menjadi merah.

“Perempuan edan!” balasnya membentak, “jangan bicara seenak perutmu! Kalau kau dan yang lain-lainnya mau meneruskan pertempuran ini, silahkan! Kalian mencari mampus!” Cindur Rampe langkahkan kedua kakinya.

“Kalau begitu biar kau yang mampus lebih dulu pengecut!” teriak Telinga Arit Sakti dan perempuan ini segera melabrak Cindur Rampe. Kedua orang itupun terlibatlah dalam satu pertempuran seru.

Wiro tertawa rnengekeh. Dia berpaling pada Prana dan Sekar, “Kawan-kawan mari kita tinggalkan tempat ini,” katanya.

“Biar saja mereka baku hantam satu sama lain!”

“Kalian tak akan berlalu dari sini tikus-tikus keparat!” Wiro putar kepala. Yang membentak adalah Si Cakar Iblis. Tubuhnya merunduk, kedua tangannya yang berkuku-kuku panjang diulurkan ke muka. Di sampingnya Si Janggut Biru berdiri dengan hati bimbang, apakah akan berlalu dari situ atau meneruskan lagi pertempuran.

Cakar Iblis menggerung dahsyat! Sepuluh kuku jari tangannya rnengeluarkan sinar hitam dan sedetik kemudian sepuluh sinar hitam itu mencurah ke arah Wiro. Pendekar 212 sabetkan Kapak Naga Geni ke muka. Sepuluh larikan sinar hitam buyar tapi di lain kejapan sepuluh kuku-kuku jari Si Cakar Iblis tahu-tahu sudah berada di depan muka Pendekar 212! Wiro Sableng terkejut sekali dan menyurut kebelakang! Sepuluh kuku hitam itu memburu laksana kilat!

Dan terdengar kekeh Si Cakar Iblis, “Kau tak akan bisa selamatkan jiwamu dari jurus sepuluh ular berbisa berebut buah ini!” katanya.

Wiro memaki Dia melompat ke belakang tapi secepat lompatannya itu begitu pula cepatnya sepuluh kuku itu memburunya lagi.

“Mampuslah!” teriak Si Cakar Iblis dan kedua tangannya laksana kilat menggapai ke muka Pendekar 212. Terdengar satu jeritan! Pendekar 212 usap parasnya dan memperhatikan bagaimana Si Cakar Iblis berdiri terhuyung-huyung! Kedua lengannya terpapas buntung dilanda mata kapak di tangan Wiro dalam satu jurus serangan balasan yang amat luar biasa hebatnya!

“Manusia keparat… maki Si Cakar Iblis. Darah memancur dari kedua pergelangan tangannya.

“Sekalipun kau menang, jiwamu tidak akan aman! Aku akan mampus dan akan jadi setan! Akan mencekik batang lehermu…”

“Sialan! Sudah mau mati masih omong besar!” damprat Wiro Sableng. Sekali kaki kanannya bergerak maka mentallah Si Cakar Iblis ! Wiro berpaling pada Si Janggut Biru.

“Bagaimana? Mau coba-coba rasanya mampus sobat?!” tanya Wiro pula. Si Janggut Biru meludah ke tanah. Tanpa berkata apa-apa segera ditinggalkannya tempat itu. Wiro memandang pada Si Telinga Arit Sakti yang tengah bertempur hebat dengan Cindur Rampe.

“Bertempurlah terus sampai salah seorang dari kalian mampus!” seru Wiro. Lalu dengan cepat bersama Sekar dan Prana dia berlalu dari situ. Tak satu prajurit kerajaanpun yang berani dan bernyali menghalangi mereka!

Sementara itu Si Telinga Arit Sakti berteriak keras, “Cindur Rampe! Hentikan pertempuran ini! Kita harus kejar ketiga bangsat itu!”

Cindur Rampe melompat mundur.

“Aku masih mau hidup Arit Sakti!” kata Cindur Rampe pula.

“Kalau kau mau mengejar mereka silahkan!” Cindur Rampe berkelebat meninggalkan tempat itu.

Si Telinga Arit Sakti memaki habis-habisan. Bila dia tinggal seorang diri dan menyaksikan lima mayat kawan-kawannya yang menggeletak mati di halaman gedung itu, diam-diam dia pun merasa kecut dan menyadari bahwa seorang diri tak akan ada gunanya dia mengejar ketiga manusia itu. Akhirnya perempuan sakti ini berkelebat dan lenyap kejurusan timur!

~ 13 ~

WAKTU mereka menghentikan lari masing-masing, ketiganya telah berada jauh di luar Kotaraja. Mereka saling pandang dan Wiro membuka pembicaraan dengan senyum di bibir.

“Sobat-sobat, ke mana kita sekarang?” Sekar tidak memberikan jawaban. Pranajaya memperhatikah paras gadis ini sebentar lalu berkata, “Aku akan terus ke timur. Ke Pulau Seribu Maut, mencari Cambuk Api Angin milik guruku yang telah dilarikan oleh Bagaspati!”

Wiro manggut-manggut. Dia merenung sejenak lalu berkata, “Pulau Seribu Maut, Cambuk Api Angin. Bagaspati... nama-nama yang hebat. Perjalananmu ke ujung Jawa Timur pasti merupakan suatu hal yang menarik. Saudara Prana, kau keberatan bila aku ikut bersamamu…?” Pranajaya berseru gembira.

“Memang itu yang aku harapharapkan Wiro. Jalan jauh banyak dilihat, kawan seiring sukar didapat!” Wiro Sableng tertawa.

“Bagaimana dengan kau Sekar?” tanya murid Eyang Sinto Gendeng itu. Prana memandang lekat-lekat pada gadis itu. Di balik pandangannya itu tersembunyi suatu perasaan kecemasan. Dan perasaan itu semakin jelas kelihatan sewaktu Wiro berkata, “Kau musti kembali ke tempat gurumu….” Tapi si gadis justru gelengkan kepala.

“Aku ikut bersamamu… bersama kalian…” kata Sekar. Wiro Sableng kerenyitkan kening.

“Pengalamanmu di Kotaraja kurasa cukup memberikan gambaran bagaimana penuhnya dunia ini dengan seribu satu macam bahaya dan kejahatan! Perjalanan ke Pulau Seribu Maut pasti lebih berbahaya dari pengalamanmu di Kotaraja.”

“Apakah kau terlalu menganggap aku ini orang perempuan bangsa kurcaci yang takut segala macam bahaya?!” tukas Sekar. Wiro berpaling pada Pranajaya yang sampai saat itu masih memandang pada Sekar.

“Dia memang pintar omong!” kata Wiro pula.

“Adatnya keras. Mautnya dia musti maunya juga! Urusan laki-laki mau disamakan dengan urusan perempuan….”

“Sudah!” potong Sekar seraya membalikkan badan memunggungi kedua pemuda itu. Wiro Sableng tertawa dan garuk-garuk kepalanya.

“Yang aku khawatirkan,” kata Pendekar 212 pula, “kalau-kalau gurumu kelak akan salah sangka dan menduga kami yang menjebloskan kau ke dalam persoalan rumit penuh bahaya ini!”

“Soal guruku itu soalku dengan beliau. Yang penting sekarang kita sama-sama pergi ke Pulau Seribu Maut. Apa aku sebagai orang persilatan tidak boleh mencari pengalaman?”

“Tentu saja boleh” sahut Wiro sementara Pranajaya sampai saat itu tak sepatah pun membuka mulut selain memandang seperti tadi-tadi pada Sekar.

“Tapi sekarang belum saatnya,” menyambungi Wiro.

“Kau tak berhak melarangku Wiro. Siapapun tak berhak melarang ke mana aku mau pergi…!”

“Berabe! Berabe!” ujar Wiro Sableng.

“Bagaimana Prana, kita ajak dia…?” Pranajaya angkat bahu.

“Terserah padamu, Wiro.” Wiro Sableng tarik dan hembuskan nafas panjang. “Baik Sekar, kau boleh ikut bersama kami! Tapi ingat, kalau terjadi apa-apa dengan kau dan kami tak sanggup- menolongmu, jangan kelak menyesalkan kami berdua…!”

Maka tak lama kemudian ketiga orang itupun kelihatan berkelebat dan dengan mengeluarkan ilmu lari masing-masing mereka tinggalkan tempat itu dengan sangat cepat.

***

MALAM itu malam yang ketiga bagi rombongan yang terdiri dari tiga orang itu dalam perjalanan mereka menuju Pulau Seribu Maut di ujung timur pulau Jawa. Mereka berhenti di tepi sebuah anak sungai berair jernih. Langit bersih kebiruan. Bintang-bintang bertaburan dan bulan sabit memperindah suasana malam yang sejuk itu.

Pranajaya memasukkan empat potong kayu kering ke dalam api unggun lalu melangkah perlahan ke tepi sungai. Di lihatnya gadis itu duduk di sebuah batu besar, tengah melamun seorang diri. Prana datang mendekat. Untuk beberapa lamanya tidak satupun dari mereka yang bicara. Si pemuda memandang ke langit lepas. Dia mendapat bahan untuk membuka pembicaraan, “Bagus betul malam yang sekali ini.”

Sekar memandang ke atas, memperhatikan bulan sabit dan bintang-bintang yang bertaburan lalu menganggukkan kepalanya.

Baca lanjutannya:
Wiro Sableng: Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin (15)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.