Kamis, 22 Juni 2017

Wiro Sableng: Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin (13)

Wiro Sableng: Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin

Pendekar 212 Wiro Sableng memandang sebentar pada Sekar dan Pranajaya lalu kemba ia palingkan muka menghadapi Gonggoseta. Dan disaat itu Gonggoseta kembali membentak, “Kalian hanya diberi kesempatan untuk menerangkan nama masing-masing agar tidak mampus secara penasaran!”

Wiro Sableng mengulum senyum dan buka mulut dengan suara lunak, “Ah, rasa-rasanya kami yang disebutkan tikus-tikus bermuka manusia ini tidak mempunyai permusuhan dengan sobat-sobat semua.”

“Sompret!” semprot Gonggoseta.

“Jangan sebut kami sobat-sobatmu!” Wiro garuk-garuk kepala lalu manggut-manggut. “Lantaran apakah yang membuat kalian semua ingin jiwa kami?! Kenal pun baru hari ini!”

Gonggoseta tertawa melengking dan memandang pada kawan-kawannya. “Sobat-sobatku!” serunya, “kalian dengar omongan tikus gondrong itu?! Mereka tak ada permusuhan dengan kita! Tidak mengerti mengapa kita semua inginkan jiwa mereka! Cuah!” Gonggoseta meludah ke tanah! “Apa kalian masih belum tahu tengah berhadapan dengan siapa saat ini?!”

“Ah,” Wiro angkat bahu, “justru itu memang yang kami kepingin tahu!”

Gonggoseta kembali keluarkan tertawa melengking. “Aku Gonggoseta...” dia terangkan nama lalu satu demi satu menyebutkan nama atau gelar tujuh orang kawannya.

“Kami semua adalah tokoh-tokoh Istana, hulubalang-hulubalang Kerajaan!” Wiro Sableng manggut-manggut.

“Tidak disangka-sangka…” ujar pendekar ini.

“Setan alas, apa yang tidak kau sangka!” sentak Gonggoseta sementara kambrat-kambratnya yang lain tetap menunggu dengan tenang.

“Tidak disangka-sangka kalau hari ini kami akan bertemu dengan tokoh-tokoh silat Istana! Dengan tokoh-tokoh yang berjulukan hebat semua! Sungguh satu kehormatan bagi kami!” Gonggoseta tertawa melengking. Kawan-kawannya terdengar menggerendeng.

“Cuma kami belum tahu, urusan apakah yang membuat kalian semua inginkan jiwa kami?!” tanya Wiro.

“Tikus busuk! Jangan pura-pura tidak tahu! Kalian telah membunuh Setan Pikulan dan Tiga Setan Darah. Mereka adalah kawan-kawan kami!”

“Kalian salah sangka!” jawab Wiro cepat.

“Kami tidak membunuh Setan Pikulan…”

“Jangan jual kentut!” hardik Gonggoseta.

Wiro Sableng tertawa, “Siapa yang jual kentut!” jawabnya. “Kentut puteri yang paling cantik pun dijagat ini tak ada yang orang akan mau beli!”

Paras Gonggoseta dan tujuh kawannya menegang membesi. Ini adalah satu penghinaan! Mereka dipermain-mainkan! Di lain pihak Pranajaya menggigit bibir! Bagaimana Wiro masih bisa bergurau menghadapi bahaya macam begini?!

Pemuda bertangan buntung ini sudah sejak tadi-tadi mengeluh dalam hati. Dia ingat pesan gurunya. Kotaraja penuh dengan tokoh-tokoh silat berilmu tinggi. Berurusan dengan mereka berarti mati! Prana melirik pada Sekar. Gadis baju kuning ini dilihatnya juga berada dalam ketegangan. Gonggoseta maju lagi selangkah!

“Sret!”

Dari balik punggungnya manusia kepala besar ini cabut sebilah golok empat persegi panjang yang lebarnya satu setengah jengkal! Senjata ini berkilauan ditimpa sinar matahari sore!

“Sebut nama kalian masing-masing cepat! Atau kalian mampus penasaran!”

“Dengar Gonggoseta,” menyahuti Wiro Sableng.

“Kami tidak dusta, kami sama sekali tidak membunuh Setan Pikulan.”

“Jika bukan kalian lantas siapa?! Juga siapa yang membunuh Tiga Setan Darah di dalam sana?!” Wiro angkat bahu.

“Mana kami tahu,” jawabnya Dia memandang ke langit di sebelah barat.

“Gonggoseta, hari sudah sore. Matahari sebentar lagi mau tenggelam. Beri kami jalan. Sebaiknya kalian lekas mencari dan menyelidik siapa sebenarnya pembunuh kawan-kawanmu itu sebelum hari menjadi malam dan sebelum dia lari jauh…”

Tubuh Si Cakar Iblis kelihatan semakin membungkuk ke muka. Dari mulutnya terdengar suara menggerendeng. Lalu katanya, “Gonggoseta, kuku-kuku jariku sudah tak sabar untuk cepat-cepat mengkermus manusia-manusia keparat ini! Kita semua sudah tahu bahwa mereka yang menamatkan riwayat Tiga Setan Darah. Tunggu apa lagi?!”

Habis berkata begitu Si Cakar Iblis menggerendeng keras. Kedua tangannya yang berkuku panjang menyambar ke muka Wiro Sableng! Cepat-cepat Pendekar 212 melompat ke samping! Wiro maklum, walau bagaimanapun kini pertempuran tak dapat dihindarkan.

Tujuh orang tokoh-tokoh silat lainnya dilihatnya telah bergerak pula, masing-masing keluarkan senjata! Karenanya Pendekar 212 ini tidak sungkan-sungkan lagi! Tangan kiri menghantam ke muka ke arah Cakar Iblis sedang tangan kanan menyelinap mencabut Kapak Naga Geni 212 Sekar dan Prana tidak pula tinggal diam melainkan cabut Rantai Petaka Bumi dan Pedang Ekasakti!

Begitu serangannya luput, penuh penasaran Si Cakar Iblis balikkan badan dan kembali menyerang dengan jurus yang lebih hebat dari pertama tadi. Namun betapa kagetnya manusia ini sewaktu tubuhnya menjadi limbung disambar serangkum angin yang ke luar dari pukulan tangan kiri Wiro Sableng! Dua di antara tokoh-tokoh silat Istana itu yakni Si Telinga Arit Sakti dan Hantu Hitam Muka Putih berseru kaget sewaktu melihat senjata yang digenggam Wiro Sableng.

“Kapak Naga Geni 212!” seru mereka hampir bersamaan. Yang lain-lainnya tersentak kaget! Mereka belum pernah melihat senjata yang pernah menggegerkan dunia persilatan itu, cuma mendengar-dengar saja!

Sungguh tak dapat dipercaya kalau hari ini mereka menyaksikan senjata mustika sakti itu berada dalam tangan seorang pemuda berambut gondrong bertampang dogol anak-anak! Rasa heran tak percaya itu tidak berjalan lama dan berubah menjadi keterkejutan dan kemarahan yang amat sangat sewaktu Kapak Maut Naga Geni 212 berkiblat dan meminta korban pertama yaitu Si Picak Dari Utara!

Si Picak Dari Utara menjerit keras dan tubuh dengan dada mandi darah dihantam kapak sakti itu laksana ratusan tawon mengaung, anginnya menderu-deru sedang dari mulut Pendekar 212 mulai terdengar suara siulan yang diseling dengan suara tertawa aneh dan bentakan-bentakan!

Bila siulan itu terdengar, bila suara tertawa aneh menyeling inilah satu pertempuran besar yang dahsyat! Tubuhnya sudah lenyap ditelan kecepatan geraknya dan ditelan bayang-bayang gerakan tujuh pengeroyoknya. Sekar dan Pranajaya putar senjata masing-masing dan menghadapi tiga orang pengeroyok sementara Wiro yang berpunggung-punggungan dengan mereka menghadapi empat pengeroyok lainnya!

Lima puluh prajurit Kerajaan mengurung dalam bentuk lingkaran. Mereka memang sudah diberitahu untuk mengambil posisi demikian dan tidak turut menyerang!

“Rapatkan serangan!” teriak Gonggoseta karena sampai lima jurus di muka tak satupun yang sanggup mereka lakukan untuk membobolkan pertahanan ketiga orang pendekar itu! Dalam jurus ketujuh Harimau Siluman mengurung persis macam harimau dan dari mulutnya mengepul asap tujuh warna yang mengerikan!

“Tutup jalan nafas!” teriak Wira memberi ingat. Sekar dan Pranajaya segera melakukan hal itu. Tapi Sekar terlambat. Hidungnya keburu menghendus hawa beracun asap tujuh warna itu. Tak ampun pemandangannya menjadi gelap dan tubuhnya melosoh gontai. Di saat itu Si Janggut Biru secepat kilat tusukkan tongkat besinya ke perut gadis itu

“Trang!”

Bunga api memercik!

Tusukan tongkat besi Si Janggut Biru terpapas ke samping karena dilanda badan pedang Ekasakti di tangan Pranajaya! Jurusjurus berikutnya semakin seru! Limapuluh prajurit hampir tak sanggup melihat dengan jelas gerakan-gerakan mereka yang bertempur itu saking cepatnya! Harimau Siluman masih juga mengeluarkan asap beracunnya dari mulut.

Penasaran sekali Wiro Sableng berteriak, “Harimau Siluman, silahkan makan asapmu sendiri!” Habis berkata begitu Wiro pukulkan tangan kirinya. Pukulan angin puyuh yang dikerahkan dengan setengah bagian tenaga dalam itu hebatnya bukan main. Asap tujuh warna yang dihembuskan Harimau Siluman menjadi buyar berantakan untuk kemudian menyerang pemiliknya sendiri! Harimau Siluman menggerung.

Tubuhnya jatuh duduk di tanah, hidung dan mulut serta matanya mengeluarkan darah akibat diterpa racun asap tujuh warna. Manusia ini keluarkan. sebutir pil penawar racun, tapi sebelum pil itu sempat ditelannya, racun asap tujuh warna sudah merambas ke jantung dan paru-parunya.

Tak ampun lagi Harimau Siluman menggeletak mati di tanah! Di saat yang sama Wiro Sableng mendengar suara jeritan Pranajaya! Ketika dia menoleh dilihatnya pemuda itu terhuyunghuyung dengan tangan terluka parah dihantam senjata berbentuk arit di tangan Si Telinga Arit Sakti!

“Mampuslah!” teriak Telinga Arit Sakti. Aritnya menyambar ke leher Prana yang saat itu sudah tak bersenjata lagi karena tadi telah terlepas sewaktu lengannya dihantam ujung arit! Prana jatuhkan diri. Dia selamat. Tapi sewaktu arit itu berkiblat membalik kembali, murid Empu Blorok ini tiada sanggup lagi menghindar.

Si Telinga Arit Sakti tertawa mengekeh.

“Wuss!”

Telinga Arit Sakti berseru kaget dan lompat tujuh tombak ke atas. Satu sinar putih telah melabrak ke arah tubuhnya. Panasnya bukan main dan menyilaukan mata. Belum lagi dia turun ke tanah disebelah sana sebelas orang prajurit Kerajaan terdengar menjerit dan rubuh ke tanah dengan tubuh hangus tiada nyawa!

“Pukulan Sinar Matahari!” teriak Si Telinga Arit Sakti. Mukanya masih pucat. Yang lain-lainnya juga mendadak sontak menjadi ngeri!

“Pemuda keparat, apakah kau murldnya Si Sinto Gendeng?!” bentak Hantu Hitam Muka Putih!

“Tanya pada penjaga neraka!” jawab Pendekar 212. Sekali Kapak Naga Geni di tangannya berkelebat maka terdengarlah pekik Hantu Hitam Muka Putih! Kepalanya hampir terbelah dua. Mukanya yang dicat putih kini menjadi merah ditelan noda darah! Tubuhnya angsrok saat itu juga ke tanah!

Gonggoseta menerjang kalap. Golok empat seginya yang amat besar itu membabat empat kali berturut-turut!

Sambil mengelak gesit Wiro berteriak, “Prana, bawa Sekar dari sini! Tunggu aku di tepi telaga di luar Kotaraja. Cepat!”

“Tidak mungkin, Wiro…” jawab Prana. “Aku tak sanggup melakukannya. Racun arit perempuan keparat itu telah menyesakkan nafas dan melemahkan sekujur badanku! Sekar sendiri entah masih hidup entah tidak….”

Pendekar 212 kertakkan rahang. Dia melirik pada tubuh Sekar yang melingkar di tantah dan putar Kapak Naga Geninya untuk menerabas serangan tongkat Si Janggut Biru dan cakar maut Si Cakar Iblis!

Meski cuma melirik sekilas namun mata Wiro Sableng yang tajam masih bisa memastikan bahwa Sekar saat itu masih bernafas, cuma keadaannya memang kritis akibat telah mencium asap beracun yang dihembuskan oleh Harimau Siluman. Dengan tangan kirinya Wiro cepat mengambil dua butir pil dari balik pakaian putihnya.

“Prana!” serunya.

“Lekas telah pil ini dan berikan satu kepada Sekar.”

Melihat ini Gonggoseta segera berusaha untuk menghalang! Dua butir pil yang melesat ke arah Prana hendak ditendangnya dengan kaki kanan namun tangan kiri Wiro Sableng bergerak lebih cepat ke arah manusia pendek berkepala besar ini. Selarik sinar menyilaukan menyambar Gonggoseta!

“Pukulan sinar matahari!” seri Si Telinga Arit Sakti.

“Gonggoseta, lekas lompat menghindar!” memperingatkan perempuan sakti ini. Mendengar peringatan itu dan maklum akan kehebatan pukulan sinar matahari yang tadi sudah disaksikannya sendiri. Gonggoseta cepat menghindar ke samping, namun terlambat! Kaki kanannya kurang lekas ditarik pulang! Terdengar lolongan Gonggoseta, Kaki kanannya itu melepuh hangus dan mengeluarkan asap sewaktu dilanda pukulan sinar matahari.

Tubuhnya terpelanting tiga tombak. Dikerahkannya tenaga dalamnya, dikeluarkannya sejenis obat untuk menolak luka besar dan rangsangan racun yang menjalar dari kaki kanannya! Namun semua itu sia-sia. Tak satu kekuatan apapun agaknya yang sanggup mengobati kakinya yang hangus, tak ada satu obat penawarpun yang sanggup memusnahkan racun pukulan sinar matahari!

Baca lanjutannya:
Wiro Sableng: Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin (14)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.