Kamis, 22 Juni 2017

Wiro Sableng: Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin (12)

Wiro Sableng: Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin

Sambil kenakan jubahnya dengan cepat Setan Darah Pertama yang sebenarnya sudah semakin menciut nyalinya melihat kemunculan lawan baru ini, membentak keras, “Bagus sekali! Semua musuhmusuhku sudah lengkap di sini! Silahkan turun pemuda sedeng!”

“Mulutmu terlalu besar! Apakah kambrat-kambratmu yang dua orang lainnya juga ada di sini heh?!”

“Tak usah banyak mulut! Jika punya nyali silahkan turun. Kalau tidak lekas minggat dari sini!” Mendengar ini Wiro Sableng tertawa gelak-gelak. Penasaran sekali Setan Darah Pertama berteriak memancing.

“Kalau kau tak berani baku hantam di sini, aku masih bersedia melayanimu di halaman luar!”

“Bertempur di halaman luar lalu cari kesempatan untuk larikan diri lagi…?!” Wiro Sableng tertawa lagi gelak-gelak! Setan Darah Pertama mendamprat dalam hati karena pancingannya diketahui lawan. Agaknya dia tak punya kesempatan lain daripada harus menghadapi ketiga musuhmusuhnya itu atau sekurang-kurangnya salah seorang dari mereka!

Diam-diam Setan Darah Pertama salurkan seluruh tenaga dalamnya pada kedua ujung tangannya. Tiba-tiba dia membentak garang! Satu tangan meninju ke atas, tangan yang lain menjentik ke arah Pranajaya dan Sekar! Selarik besar sinar merah yang sangat panas menderu ke arah Pendekar 212 yang duduk ongkang-ongkang di atas atap kamar sedang lima larikan kecil sinar merah yang merupakan totokan-totokan beracun menyambar laksana kilat ke arah Sekar dan Pranajaya.

Sekar putar Rantai Petaka Bumi, Prana menghindar ke samping sambil kiblatkan sepasang tombak bermata dua milik Setan Darah Pertama! Di atas genteng Wiro kelihatan gerakkan tangan kirinya. Satu angin dingin menderu memapasi angin merah panas Setan Darah Pertama dan membuat buyar serangan manusia muka merah itu. Penuh beringas Setan Darah Pertama melompat ke atas dan menyerang dengan pedang Ekasakti milik Pranajaya!

Kini Wiro Sableng gerakkan tangan kanannya. Gumpalan angin keras menyambar ke arah Setan Darah Pertama. Inilah pukulan kunyuk melempar buah yang tak asing lagi dari Pendekar 212. Meski cuma mempergunakan setengah bagian saja dari tenaga dalamnya dalam melancarkan pukulan ini, namun tak urung Setan Darah Pertama terkejut hebat dan cepatcepat menyingkir ke samping dan kembali turun ke lantai.

Keringat dingin memercik di muka manusia yang berwarna merah itu. Nyalinya benar-benar menciut! Ilmu pukulan apakah yang dimiliki dan telah dilepaskan tadi oleh si pemuda di atas genteng itu yang demikian hebatnya sehingga dia tiada sanggup menerimanya?!

“Setan muka merah, apakah kau betul-betul tidak tahu di mana dua kambratmu yang lain berada?!” tanya Wiro Sableng dari atas. “Di mana mereka berada itu bukan urusanmu!” jawab Setan Darah Pertama keras sekedar untuk melenyapkan rasa bergidiknya. Wiro tertawa.

“Rupanya kau sendiri kurang begitu tahu. Biar aku tunjukkan di mana mereka berada!” kata Pendekar 212 pula. Kedua tangannya kelihatan ke luar dari lowongan genteng. Sesaat kemudian bila tangan itu bergerak turun maka dua sosok tubuh manusia berjubah merah laksana dua batang pisang melesat ke bawah, jatuh dengan keras di atas lantai kamar dihadapan Setan Darah Pertama!

Muka Setan Darah Pertama berubah pucat. Bulu kuduknya berdiri. Kedua kambratnya itu menggeletak di lantai dengan kepala pecah, darah dan otak bermuncratan! Sewaktu meninggalkan Pranajaya tadi, Wiro berhasil mencari keterangan di mana letak tempat kediaman Setan Pikulan. Karena lebih mengawatirkan keselamatan Sekar maka Pendekar 212 memutuskan lebih baik saat itu saja dia langsung ke tempat si Setan Pikulan.

Tapi apa yang ditemuinya di situ mengejutkannya. Setan Pikulan menggeletak di sebuah kamar! Kedua tangannya buntung putus. Manusia ini tiada bergerak-gerak tapi masih hidup megap-megap. Dalam berpikir-pikir apa yang telah terjadi dengan Setan Pikulan dan terus mencari di mana Sekar berada akhirnya dia mendobrak sebuah kamar dan menemui Setan Darah Kedua tengah merusak kehormatan dua orang perempuan muda!

“Setan alas benar!” teriak Wiro. Hanya dalam dua jurus saja Setan Darah Pertama dibikin tak berdaya di makan totokan Wiro. Mula-mula manusia ini tak mau menerangkan di mana kawannya yang lain berada tapi setelah dipaksa akhirnya Wiro mengetahui juga dan mendapatkan Setan Darah Ketiga di kamar sebelah, juga tengah merusak kehormatan dua orang perempuan muda!

Nasib Setan Darah Ketiga tidak beda dengan kawannya yang terdahulu. Satu jurus bertempur manusia ini segera kena ditotok oleh Wiro dan sekligus keduanya dibawa oleh Wiro ke gedung tua tempat kediaman Tiga Setan Darah. Kedatangannya di sana disambut oleh suasana yang tak terduga pula! Sekar dan Prana dilihatnya saling bertengkar sedang Setan Darah Pertama dalam keadaan telanjang bulat siap-siap hendak melarikan diri!

Untuk beberapa lamanya muka Setan Darah Pertama masih memucat dan kedua lututnya goyah menyaksikan kematian dua orang koleganya itu di muka hidungnya sendiri. Putus asa karena mengetahui tak ada jalan untuk lari serta kalap melihat kematian kawan-kawannya, maka Tiga Setan Darah Pertama kiblatkan pedang Ekasakti dan mengamuk menerabas Sekar serta Pranajaya! Maka pertempuran seru segera terjadi.

“Sekar sebaiknya kau mundur saja!” Wiro berseru dari atas genteng.

“Tidak bisa Wiro. Bangsat ini hampir saja merusak kehormatanku!” jawab Sekar seraya putar senjatanya dengan sebat.

“Aku mengerti. Tapi kau telah diselamatkan oleh Prana sedang Prana mempunyai dendam kesumat belasan tahun terhadap bangsat itu! Ayahnya dibunuh oleh Setan Darah Pertama itu!” Akhirnya Sekar mengalah juga dan ke luar dari kalangan pertempuran. Keputusasaan, kekalapan dan nyali yang telah melumer itulah yang bersarang di diri Setan Darah Pertama.

Laksana banteng terluka manusia berjubah merah ini mengamuk hebat dan ganas sekali. Serangan-serangannya berbahaya dan penuh tipu-tipu licik. Namun itu semua tiada arti bagi Pranajaya yang menghadapi musuhnya itu dengan hati panas pula tapi kepala dingin penuh ketenangan ! Sembilan belas jurus berlalu cepat. Wiro bersiul-siul seenaknya.

“Pertempuran hebat!” seru pemuda dari gunung Gede itu.

“Ayo Prana! Lawanmu sudah mulai kewalahan! Satu dua jurus di muka pasti senjata milik iblis yang ditanganmu itu akan merenggut nyawanya!” Apa yang dikatakan Pendekar 212 menjadi kenyataan.

Dalam jurus keduapuluh satu laksana seorang penari Pranajaya meliuk mengelakkan sambaran pedang Ekasakti yang dibabatkan Setan Darah Pertama kepinggangnya. Pedang itu membalik lagi dengan ganasnya. Prana geser kedua kaki dan tusukkan sekaligus kedua tombak yang dalam genggamannya ke muka Setan Darah Pertama. Iblis bermuka merah ini rundukkan kepala!

Tapi tusukan tadi cuma tipu belaka, karena begitu pedang lawan lewat dan tusukan tombaknya tersorong ke muka dengan serta merta Pranajaya gebukkan sepasang tombak itu ke kepala Setan Darah Pertama! Setan Darah Pertama melompat ke samping! Tapi betapapun cepatnya dia tetap terlambat. Meski bisa selamatkan kepala namun dia tak sanggup menghindarkan bahunya dari hantaman senjata miliknya sendiri itu!

“Kraak!”

Tulang bahu Setan Darah Pertama yang sebelah kanan hancur remuk! Setan Darah Pertama melolong macam anjing! Tubuhnya miring dan terjerongkang ke lantai.

Dalam keadaan seperti itu dia masih hendak menyapukan pedang di tangan kanannya ke kaki Prana, tapi senjata itu terlepas dari tangannya yang sudah tak ada daya kekuatan lagi! Empat mata tombak ditekankan oleh Pranajaya ke batang leher Setan Darah Pertama. Tenggorokan manusia muka merah ini kelihatan turun naik. Muka nya mengerenyit dan keringat membasahi sekujur tubuhnya.

“Setan Darah!” desis Pranajaya.

“Apa kau masih ingat saat-saat sewaktu kau membunuh ayahku dulu?! Apa kau masih ingat sewaktu tangan kiriku ini kau buntungkan dulu?!”

“Orang muda..,” ujar Setan Darah Pertama, “kasihani diriku yang buruk ini! Kalau kau ampunkan jiwaku, kelak aku akan berikan hadiah besar serta jabatan tinggi di Istana!” Prana tertawa. Wiro Sableng mengekeh.

“Jangan dengar mulut kentut iblis itu, Prana!” memperingatkan Wiro. Pranajaya mengangguk.

“Manusia macam dia siapa yang mau percaya!” menyahuti pemuda bertangan buntung itu. Prana lemparkan ke samping dua tombak milik Setan Darah Pertama dan membungkuk cepat mengambil pedangnya! Setan Darah Pertama gerakkan tubuhnya sedikit tapi ujung pedang kini menggantikan empat mata tombak yang menekan batang lehernya!

“Apa yang dulu kau lakukan terhadap bapakku, kini akan kau rasakan sendiri, Setan Darah!”

“Craas!”

Setan Darah Pertama meraung setinggi langit. Pedang Ekasakti membabat buntung mengerikan! Setan Darah Pertama melejanglejang! Dia berteriak, “Bunuh aku! Bunuh saja segera !”

“Rupanya kunyuk muka merah itu tidak takut mampus, Prana!” ejek Wiro dari atas genteng.

“Ya, karena dia akan ketemu dengan setan-setan yang jadi kambrat-kambratnya di neraka!” sahut Pranajaya. Kemudian dengan tak ampun lagi pemuda itu tusukkan ujung pedangnya ke batang leher Setan Darah Pertama. Manusia ini mengeluarkan suara seperti ayam disembelih. Tubuhnya masih melejang-lejang beberapa lama kemudian diam tak bergerak-gerak lagi tanda nyawanya sudah lepas meninggalkan tubuh!

“Sobat-sobat, urusan kita di sini sudah selesai. Mari segera tinggalkan tempat sialan ini!” seru Wiro Sableng. Sekar dan Prana saling berpandangan sebentar, kemudian si gadis melompat ke atas genteng disusul oleh Pranajaya. Namun baru saja ketiga orang itu sampai di halaman luar, terkejutlah mereka.

Kira-kira lima puluh orang prajurit Kerajaan telah mengurung tempat itu dan delapan manusia aneh berdiri memencar, memandang dengan pandangan yang menggidikkan ke arah mereka. Salah seorang dari yang delapan ini berteriak. Suaranya melengking macam perempuan.

“Tikus-tikus bermuka manusia! Jangan harap kalian bisa berlalu hidup-hidup dari sini!”

~ 12 ~

MANUSIA yang berteriak itu adalah seorang laki-laki berkepala sangat besar dan botak tapi berbadan kecil dan pendek. Namanya Gonggoseta. Pandangannya bengis dan membayangkan maut! Pranajaya, Sekar dan Wiro Sableng memandang berkeliling memperhatikan manusia-manusia itu satu demi satu.

“Celaka sobat,” bisik Pranajaya.

“Mereka pastilah tokohtokoh silat kelas satu, orang-orangnya Istana!”

“Kita memang lagi sialan,” gerendeng Pendekar 212. Sepasang matanya dengan tenang menyapu delapan sosok tubuh manusia-manusia aneh yang terpencar mengurung mereka.

Orang kedua sesudah Gonggoseta ialah seorang kakek-kakek yang hanya mengenakan cawat dan keseluruhan tubuhnya mulai, dari kaki sampai ke muka dicoreng moreng dengan sejenis cat berbagai warna. Tampangnya mengerikan untuk dipandang. Namanya Bagulpraksa tapi dia lebih dikenal dengan julukan Harimau Siluman.

Manusia ketiga bernama Sangaji, bertubuh tinggi langsing kurus dan berjanggut biru. Di dunia persilatan dia dikenal dengan gelar Si Janggut Biru.

Yang keempat, yang berdiri di ujung kanan sendirian agak terpisah dari lain-lainnya ialah seorang neneknenek tua keriput bertelinga lebar. Telinganya yang lebar ini membuyut ke bawah dan kelihatan jadi tambah lebar karena diganduli oleh anting-anting aneh yang besar luar biasa dan berbentuk arit. Dia bukan lain tokoh silat Istana yang dikenal dengan nama julukan Si Telinga Arit Sakti.

Wiro sapukan pandangannya pada tokoh silat lain yang berada di sebelah kiri ini berdiri memencar empat orang lainnya. Yang pertama seorang laki-laki berjubah hitam tapi yang mukanya dicat putih sehingga tampangnya cukup menggidikkan untuk dipandang! Jika tidak salah menduga, menurut keterangan yang pernah didengar Pendekar 212 maka manusia ini adalah Hantu Hitam Muka Putih tokoh silat golongan hitam yang berhati sejahat iblis!

Orang yang selanjutnya berdiri dengan tubuh terbungkukbungkuk. Sepuluh kuku-kuku jarinya panjang sekali dan berwarna hitam legam. Dialah Si Cakar Iblis tokoh silat yang merajai daerah selatan Jawa Timur!

Manusia ke tujuh adalah satu-satunya marusia yang dikenal oleh Pranajaya yaitu Cindur Rampe manusia yang muncul sewaktu dia hendak diseret oleh Tiga Setan Darah ke Kotaraja beberapa waktu yang lalu! Cindur Rampe seorang resi kejam yang juga memelihara janggut kambing berwarna putih.

Manusia terakhir ialah seorang laki-laki bermata picak dan berambut panjang macam perempuan, digulung di atas kepala! Namanya tidak satu orangpun yang tahu. Dia dikenal dengan julukan Si Picak Dari Utara. Jelaslah bahwa ke delapan orang itu bukan manusiamanusia sembarangan. Ini segera diketahui oleh Wiro dan kawan-kawan.

Bagi mereka yang delapan ini lebih berbahaya dari lima puluh prajurit-prajurit Kerajaan yang mengurung halaman gedung itu! Si kepala besar badan kecil. pendek Gonggoseta maju selangkah kehadapan kehadapan ketiga orang itu dan membuka mulut lagi, “Kalian semua musti mampus di sini! Kalian dengar tikus-tikus bermuka manusia?!”

Baca lanjutannya:
Wiro Sableng: Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin (13)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.