Kamis, 22 Juni 2017

Wiro Sableng: Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin (11)

 Wiro Sableng: Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin

“Tak usah banyak bacot! Ulurkan kedua tangan kalian!” Wiro Sableng, palingkan kepala pada Prana dan kedapkan matanya. Lalu pada pengawal itu dia berkata, “Kalau betul Tiga Setan Darah yang memerintahkan kalian untuk menangkap kami, kami tak bisa berbuat apa-apa selain serahkan diri…”

Dan Pendekar 212 ulurkan kedua tangannya pada pengawal itu seraya berkata, “Tapi saudara, kawanku cuma punya satu tangan, apakah kau akan ikat juga dia…?!”

“Aku bilang tak usah banyak mulut!” sentak si pengawal. Tali yang ditangannya dengan cepat digulung dan mengikat kedua pergelangan tangan Wiro Sableng erat-erat. Mendadak sepasang lengan yang sudah terikat itu bergerak. Terdengar satu pekikan.

Tubuh si pengawal mental ke udara, terbanting ke atas atap pintu gerbang Kotaraja, mengeluh sebentar lalu merosot jatuh ke tanah dengan mengeluarkan suara bergedebuk! Delapan pengawal bergerak cepat ke arah Wiro Sableng. Delapan tombak berkiblat, berkilau kuning dibawah sorotan sinar matahari sore!

Pendekar 212 Wiro Sableng tertawa aneh. Kedua tangannya bergerak cepat tiada henti. Disekitarnya terdengar suara, “plak… plak… plak” dan hanya dalam tempo lebih dari sekejapan mata saja kedelapan pengawal itu sudah bertumpukan di tanah, pingsan dihantam tamparan Wiro Sableng!

Pranajaya, si murid Empu Blorok hampir, tak percaya melihat apa yang disaksikannya itu. Delapan orang sekaligus dibikin roboh pingsan dalam tempo demikian singkatnya! Benar-benar dia kagum sekali! Dia berdiri terlongong-longong!

“Sobat!” Wiro menepuk bahunya.

“Jangan jadi patung. Mari! Kau tokh mau buru-buru ketemu dengan Tiga Setan Darah?!” Prana baru sadar. Tanpa banyak bicara segera dia berlari menyusul Wiro Sableng. Tiba-tiba Wiro hentikan larinya.

“Kita bodoh,” katanya, “di Kotaraja ini kita tak boleh berlari. Semua orang tentu akan menujukan perhatiannya pada kita.” Keduanya meneruskan perjalanan dengan melangkah cepat. Mereka sampai dihadapan gedung tua kediaman Tiga Setan Darah.

Dan di saat itu pula Wiro Sableng ingat sesuatu. Dia berpaling pada Pranajaya.
“Sobat, aku baru ingat. Kawanku itu pasti tidak berada di sini! Waktu aku mendukungmu ke luar dari ruang batu, dia telah lenyap. Musti si Setan Pukulan yang telah melarikannya! Keparat betul!”

“Kau tahu ke mana kira-kira kawanmu itu dilarikan?” tanya Prana.

Wiro gelengkan kepala dan menggerendeng, “Aku akan cari keterangan,” katanya.

“Sementara itu coba kau selidiki dulu gedung tua ini. Dalam waktu kurang sepeminum teh aku pasti kembali ke sini!” Prana menyetujui usul Wiro.

“Hati-hati,” memperingatkan Wiro.

“Gedung tua ini banyak jebakan dan senjata rahasianya!” Pranajaya mengangguk lalu cepat-cepat memasuki halaman gedung kediaman Tiga Setan Darah. Di pintu samping yang sebelumnya telah didobrak Wiro, Pranajaya berhenti dan merenung sejenak.

Kalau gedung tua itu banyak jebakan dan alat-alat rahasianya, maka menurut dia jalan yang seaman-amannya untuk masuk ke dalam gedung itu ialah lewat genteng! Maka tanpa pikir lebih jauh lagi, murid Empu Blorok ini dengan ilmu mengentengi tubuhnya yang cukup sempurna segera melompat ke atas atap gedung tua! Kedua kakinya menginjak genteng gedung tanpa menimbulkan suara sedikitpun!

“Setan Darah durjana! Rupanya kau bukan cuma tukang jagal manusia tapi juga laknat terkutUk tukang rusak kehormatan perempuan!” Habis berteriak begitu Pranajaya menyerbu turun ke dalam. Genteng pecah bertaburan, beberapa papan panglari patah!

~ 11 ~

SEPERTI telah dituturkan Setan Darah Pertama dengan memboyong murid Empu Tumapel meninggalkan tempat kediaman Setan Pikulan. Manusia bermuka merah ini langsung membawa Sekar ke gedungnya, membaringkan gadis itu di lantai salah sebuah kamar.

Gedung tua itu hampir tidak berperabotan bahkan satu tempat tidurpun tak terdapat di sana! Saat itu Sekar masih berada dalam keadaan tertotok. Tak satu pun yang dapat dibuat Sekar sewaktu dengan nafas kembang kempis dan nafsu menggelegak Setan Darah Pertama sambil menyeringai buruk membuka pakaian gadis itu satu demi satu!

Gadis itu tertelentang di lantai kamar tanpa sehelai pakaian pun menutupi tubuhnya yang mulus itu kini. Senjata pemberian Empu Tumapel “Rantai Petaka Bumi” yang ditemui Setan Darah Pertama melilit di pinggang Sekar, diletakkan Setan Darah Pertama di sudut kamar. Setan Darah Pertama membasahi bibirnya dengan ujung lidah. Sepasang matanya laksana dikobari api, memandang tak berkedip pada tubuh Sekar yang menggeletak di lantai.

“Tubuh bagus… tubuh bagus! He… he… he… he….!” Setan Darah Pertama menyeringai. Kemudian tanpa menunggu lebih lama manusia bermuka merah ini membuka jubahnya. Jubah itu dilemparkannya ke sudut kamar! Sepasang tombak bermata dua dan pedang milik Pranajaya diletakkannya dekat kepala Sekar.

Manusia ini baru saja berbaring dan menggelungi tubuh Sekar dengan kaki dan tangannya sewaktu laksana halilintar di siang hari bolong dia mendengar suara bentakan menggeledek dan bobolnya genteng di atas kamar itu!

“Setan Darah durjana! Rupanya kau bukan cuma tukang jagal manusia tapi juga laknat terkutuk tukang rusak kehormatan perempuan!”

Seperti seekor singa Setan Darah Pertama melompat dan menyambar pedang Ekasakti di atas lantai. Berdiri bulu kuduk Pranajaya menyaksikan manusia yang berdiri tanpa pakaian dihadapannya itu! Berdiri bulu kuduk bukan karena ngeri tapi karena merasa sangat geramnya ! Di lain pihak Setan Darah Pertama tidak pula kurang geramnya. Ternyata manusia yang menerobos masuk lewat genteng kamar bukan lain Pranajaya, pemuda tangan buntung yang memang tengah dicaricarinya!

“Budak bedebah! Dicari-cari tidak ketemu, sekarang datang sendiri antarkan nyawa!”

“Iblis bejat!” balas membentak Pranajaya.

“Bertiga dan mengeroyok kau memang unggul, tapi sekarang kita satu lawan satu!” Setan Darah Pertama tertawa buruk! Diacungkannya pedang Ekasakti yang ditangan kanannya.

“Kau lihat pedang ini huh?! Senjata milikmu ini sendiri yang akan menebas kau punya batang leher!” Habis berkata begitu Setan Darah Pertama menerjang ke muka. Tangannya bergerak, pedang menderu ke arah Pranajaya. Cepat-cepat si pemuda bertangan buntung melompat ke samping dan lepaskan pukulan angin sewu!

Setan Darah Pertama yang tahu kehebatan ilmu pukulan tangan kosong ini buru-buru menyingkir dan menyambar jubah merahnya di sudut kamar! Kesempatan ini dipergunakan oleh Pranajaya untuk mengirimkan pukulan jotos sewu, satu ilmu pukulan yang diwarisinya dari Empu Blorok yang tak kalah hebatnya dengan ilmu pukulan angin sewu tadi!

Angin keras pukulan Pranajaya membuat jubah Setan Darah Pertama mental sehingga pemiliknya tak berhasil mengambilnya! Dengan memaki terpaksa Setan Darah Pertama melompat lagi ke samping!

Sewaktu Pranajaya mengintip di atas genteng dan menginjakkan kaki di lantai kamar itu sekaligus dia mengetahui bahwa gadis yang menggeletak di lantai kamar berada dalam keadaan tertotok. Karenanya ketika Setan Darah Pertama melompat ke samping, pemuda ini cepat cepat pergunakan tangan kirinya untuk melepaskan totokan di tubuh Sekar!

Begitu tubuhnya lepas dari totokan begitu Sekar berteriak, “Saudara awas!” Pranajaya mendengar suara sambaran angin dibelakangnya. Secepat kilat pemuda ini jatuhkan diri ke muka. Pedang Ekasakti membabat setengah jengkal di atas bahu kanannya!

Prana terus menggulingkan diri dan dalam gerakan yang sudah diperhitungkan pemuda ini dalam berguling berhasil menyambar sepasang tombak bermata dua milik Setan Darah Pertama! Di lain pihak Sekar dengan sangat cepat segera mengenakan pakaiannya yang tadi sudah dipereteli Setan Darah Pertama. Dia merasa heran melihat pemuda bertangan buntung itu masih hidup malah dalam keadaan segar bugar.

Apakah Wiro telah berhasil menolong pemuda ini? Tapi Wiro sendiri di mana sekarang?! Sekar tidak bisa berpikir lamalama. Begitu mengenakan pakaian, gadis ini segera mengambil Rantai Petaka Bumi miliknya yang diletakkan Setan Darah Pertama di sudut kamar! Sementara itu si pemuda tangan buntung terdengar membentak, “Iblis muka merah!” Prana acungkan sepasang tombak bermata dua yang keduanya sekaligus digenggamnya di tangan kanan.

“Kita samasama bersenjata sekarang! Mungkin senjata yang ditanganku ini yang akan lebih dulu mengambil nyawa pemiliknya sendiri!” Setan Darah Pertama kertakkan geraham. Tubuhnya berkelebat. Pedang di tangan manusia ini menabur sinar putih.

Jurus yang dikeluarkan Tiga Setan Darah hebatnya luar biasa sekali karena dalam saat itu juga Pranajaya segera terbungkus serangan-serangan pedang Ekasakti miliknya sendiri! Pranajaya membentak keras. Gerakan murid Empu Blorok ini tak kalah sebat.

Tubuhnya lenyap laksana bayang-bayang saja kini dan dua tombak bermata dua di tangannya menderu-deru. Dalam jurus pertama yang luar biasa hebatnya itu, senjata-senjata mereka beradu sampai empat kali berturut-turut dan memercikkan bunga api yang menyilaukan mata!

“Saudara! Kuharap kau suka mundur!” tiba-tiba Pranajaya mendengar seruan gadis yang tadi dilepaskannya totokannya.

“Manusia iblis laknat terkutuk ini harus mampus ditanganku!” Pranajaya mengerling dan melihat Sekar berdiri sambil memutar-mutar sebuah senjata berbentuk rantai yang ujungnya diganduli bola besi berduri! Tanpa perdulikan seruan si gadis Prana terus kirimkan serangan-serangan gencar terhadap Setan Darah Pertama.

Dalam pertemuannya pertama kali di luar Kotaraja, Pranajaya memang tiada sanggup menghadapi Setan Darah Pertama, karena dia dikeroyok tiga. Namun,kali ini pertempuran jauh berbeda, satu lawan satu! Dan keluar biasaannya lagi ialah karena mereka bertempur dengan memegang senjata milik lawan masing-masing!

“Saudara! Mundurlah!” seru Sekar tidak sabar sewaktu pertempuran gencar itu memasuki jurus ke tiga. Gadis ini sudah tak dapat menahan kesabaran den dendam kesumatnya terhadap Setan Darah Pertama, manusia yang telah menelanjangi dan hampir saja merusak kehormatannya!

“Tidak bisa saudari!” seru Pranajaya membalas.

“Bangsat yang satu ini musti mampus ditanganku!”

“Nyawanya miliku!” teriak Sekar dan dia melompat ke muka sambil menyabetkan Rantai Petaka Bumi. Senjata itu menderu laksana angin topan, membuat kedua orang yang bertempur terpaksa sama melompat mundur ! Pranajaya penasaran sekali. Dia berpaling.

“Saudari kuharap, kau jangan mencampuri urusan ini. Kau telah selamat, sebaiknya lekas-lekas berlalu tinggalkan tempat ini!”

“Berlalu?!” sahut Sekar ketus!

“Sebelum kupecahkan kepala bangsat bermuka iblis ini aku tak akan tinggalkan tempat ini!”

“Aku tahu kebejatan yang telah dilakukannya yang membuat kau begitu inginkan jiwanya,” kata Pranajaya.

“Tapi itu tak seberapa…”

“Tak seberapa katamu?!” sentak Sekar dengan mata melotot!

“Manusia macam apa kau ini?! Perbuatan mesum terkutuk kau katakan hal yang tak seberapa!” Sementara kedua orang itu berdebat, Setan Darah Pertama memutar otak. Dia cuma seorang diri di situ, menghadapi dua lawan yang sama-sama inginkan jiwanya. Meski kedua lawan itu kini saling bertengkar namun bukan tidak mustahil keduanya akan sama-sama menggempurnya bersirebut cepat mencabut jiwanya!

Dalam pertempuran beberapa jurus tadi Setan Darah Pertama telah pula dapat mengukur kehebatan Pranajaya. Satu lawan satu memang sukar juga baginya untuk menghadapi pemuda tangan buntung itu! Satu-satunya jalan yang paling baik bagi Setan Darah Pertama saat itu ialah kabur dari situ dan kembali lagi bersama dua orang konco-konconya!

Tanpa pikir panjang manusia bermuka merah ini segera menyambar jubahnya dan melompat ke atas genteng! Tapi kejut Setan Darah Pertama bukan olah-olah sewaktu dari atas genteng dari mana Pranajaya menerobos tadi bersiur angin laksana badai, melanda ke arahnya membuat tubuhnya terhempas hampir jatuh duduk di lantai kamar jika dia tidak cepat melompat ke samping dan jungkir balik dua kali berturut-turut.

Sebelum dia mendongak ke atas sepasang telinga Setan Darah Pertama mendengar suara tertawa gelak-gelak! Sesosok tubuh muncul di atas atap dan duduk di palang kayu!

“Dua muda mudi bertengkar rebutkan jiwa manusia busuk! Si busuk cari kesempatan untuk larikan diri! Ha… ha... ha… ha!”

Prana dan Sekar menengadah ke atas genteng dan kedua orang ini sama-sama berseru, “Wiro!”

Sekar terkejut sewaktu melihat Pranajaya kenal pada Wiro Sableng. Setan Darah Pertama memandang penuh amarah meluap ke atas genteng itu. Orang yang tertawa dan bicara serta duduk di atas itu bukan lain dari pemuda rambut gondrong yang sebelumnya telah membebaskan dan melarikan Pranajaya dari ruang batu karang yang kemudian bertempur sebentar dengan dia lalu larikan diri!

Baca lanjutannya:
Wiro Sableng: Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin (12)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.