Rabu, 21 Juni 2017

Wiro Sableng: Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin (10)

Wiro Sableng: Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin

Suara tertawa ketiga manusia itu meledak lagi di dalam kamar itu! Ketiganya menuju ke pintu! Setan Darah Pertama tanpa banyak cerita segera menotok tubuh Sekar, sehingga tubuh gadis ini kaku tegang tak bisa bergerak tak bisa buka suara! Tiba-tiba Setan Darah Kedua hentikan langkah.

“Tunggu dulu...” katanya.

“Kita semua tahu di rumah ini Setan Pikulan punya banyak, perempuan peliharaan! Cantik-cantik! Di mana mereka semua?!”

“Heh?!” Setan Darah Pertama yang memanggul tubuh Sekar kerenyitkan kening.

“Terserah kalau kau mau cari perempuan-perempuan itu Aku tetap yang ini!” kata Setan Darah Pertama pula kemudian. Setan Darah Kedua memandang pada kambratnya yang seorang lagi.

“Kau bagaimana?,” tanyanya.

“Aku tetap tinggal bersamamu di sini,” jawab Setan Darah Ketiga. Setan Darah Pertama tertawa.

“Puaskan dirimu di sini sobat-sobat, tapi jangan lupa untuk datang ke gedung kita. Kita masih ada tugas, mencari Pranajaya, anak si Wijaya keparat itu!” Kedua Setan Darah anggukkan kepala.

Begitu Setan Darah Pertama berlalu bersarna Sekar, mereka segera memeriksa kamarkamar di dalam rumah itu. Dalam kamar yang paling belakang akhirnya mereka menemui juga perempuan-perernpuan peliharaan Setan Pikulan. Semuanya rnasih muda-muda dan berparas rata-rata cantik, bertubuh montok molek!

Kedua Setan Darah berdiri di ambang pintu, memandang kepada mereka dengan hidung kembang kempis dan mata bersinar-sinar. Perempuan-perempuan muda itu berjumlah empat orang semuanya. Mereka memandang dengan ketakutan pada manusia-manusia diambang pintu itu. Setan Darah Kedua menyengir.

“Kalian tak usah takut pada kami. Kami jauh lebih baik daripada si kate kepala gundul itu!”

Setan Darat Ketiga yang sudah tak sabaran berbisik, “Masing-masing kita kebagian dua orang. Kau pilih yang mana…?”

Setan Darah Kedua meneliti sebentar lalu menjawab, “Yang baju ungu dan baju biru itu….”

“Sompret kau pilih yang cantik semua!” desis Setan Darah Ketiga.

“Begini saja, kau boieh ambil si baju ungu dan salah seorang lainnya, aku si baju biru dan satu orang lainnya pula. Atau sebaliknya!”

“Baik,” Setan Darah Kedua mengangguk. Dia, melompat ke muka. Empat perempuan itu menjerit. Setan Darah Kedua segera merangkul perempusn baju ungu dan salah seorang kawannya sedang Setan Darah Ketiga menarik si baju biru bersrama kawannya yang keempat.

“Di sini saja, sobat?!” tanya Setan Darah Kedua.

“Sinting kau! Kau pindah ke kamar sebelah sana!” Dengan tertawa-tawa Setan Darah Kedua memboyong dua orang perempuan cantik itu dan membawanya ke kamar sebelah!

~ 10 ~

PENDEKAR 212 wiro sableng membawa Pranajaya ke luar Kotaraja sebelah tenggara. Dia berhenti di tepi sebuah telaga dan membaringkan tubuh pemuda itu di atas rerumputan. Dia sudah sejak lama siuman tapi keadaannya masih menyedihkan. Wiro memberikan sebutir pil lagi kepada pemuda itu kemudian menyandarkannya ke sebatang pohon. Dengan sehelai sapu tangan yang sudah dibasahkan dengan air telaga dibersihkannya seluruh luka-luka di tubuh Pranajaya.

Setengah jam kemudian disuruhnya pemuda itu mengatur jalan nafas serta darah. Ketika disuruhnya mengatur tenaga dalam Pranajaya masih tak mampu. Wiro Sableng berlutut di belakang pemuda itu. Kedua telapak tangannya ditempelkannya di punggung pemuda itu. Lalu perlahan-lahan Wiro mulai alirkan tenaga dalamnya. Lima menit kemudian.

“Coba kerahkan lagi,” kata Wiro. Pranajaya kerahkan tenaga dalamnya, memusatkannya kepertengahan perut! Dia berhasil berseru gembira!

“Wiro Tenaga dalamku telah pulih!” Murid Empu Blorok ini melompat ke udara berjungkir balik beberapa kali lalu turun kembali dengan kedua kaki lebih dahulu mencapai tanah!

“Gerakan dan ilmu mengentengi tubuhmu hebat sekali Prana,” puji Wiro. Pranajaya tersenyum jumawa.

“Ini semua adalah berkat pertolonganmu. Kalau kau tidak ada pasti aku sudah mampus! Aku berhutang budi dan berhutang nyawa padamu!” Wiro Sableng bersiul.

“Hutang budi dan hutang nyawa itu sebetulnya tak pernah ada di dunia ini, saudara Prana,” sahut Wiro Sableng. “Kau tahu, budi baik itu Tuhan yang memasukannya ke dalam hati nurani kita. Dan nyawa itu Tuhan yang punya! Jadi kepada Tuhanlah kita semua berhutang!”

Pranajaya tertawa. “Walau bagaimanapun aku tetap merasa berhutang besar sekali padamu. Kuharap Tuhan memanjangkan umurku dan bisa membalas semua pertolonganmu…”

Wiro Sableng geleng-gelengkan kepalanya. Ditepuknya bahu Prana dan berkata, “Di samping nasib baik dan pertolongan Tuhan, tentunya kau seorang tokoh silat yang sakti, Prana.”

“Ah, aku cuma manusia biasa saja. Pemuda gunung yang tak tahu apa-apa…!” jawab Pranajaya rendahkan diri. Wiro tertawa.

“Seorang pemuda gunung yang dogol pasti sudah mampus diseret dengan kuda! Kau tidak dan masih hidup!” Prana angkat bahu.

“Sekarang terangkan kenapa sampai kau mengalami nasib demikian,” kata Wiro Sableng pula.

“Aku dilepas oleh guruku untuk mencari Tiga Setan Darah. Mereka telah membunuh bapakku dan salah seorang dari mereka membacok buntung lengan kiriku ini! Di samping itu. Empu Blorok juga menugaskanku mencari senjata mustika miliknya yang dicuri oleh seorang sahabatnya bernama Bagaspati.”

“Senjata apa yang dicuri itu?” kepingin tahu Wiro.

“Sebuah cambuk bernama Cambuk Api Angin.”

“Namanya hebat, pasti itu senjata dahsyat sekali,” ujar Wiro.

“Kau sudah tahu di mana itu si Bagaspati bercokol?” tanya Wiro kemudian. Pranajaya mengangguk.

“Di Pulau Seribu Maut,” jawab pemuda tangan buntung itu.

“Pulau Seribu Maut? Di mana itu? Aku tak pernah dengar!”

“Menurut guruku terletak di ujung timur Pulau Jawa…”

“Cukup jauh dari sini,” kata Wiro.

Prana mengangguk lagi.

“Aku bernasib sial,” katanya.

“Tiga Setan Darah ternyata sangat tinggi ilmunya dan belum apa-apa aku sudah kena disikat mereka. Tapi demi arwah ayah, sampai serahkan jiwapun aku tetap musti bisa membereskan ketiga bangsa itu!” Prana berdiri dari duduknya.

“Kau mau ke mana?!” tanya Wiro.

“Kembali ke Kotaraja untuk-mencari Tiga Setan Darah!” Wiro berdiri pula.

“Dengan pakaian macam ini kau mau masuk ke Kotaraja?” Prana memandang ke dirinya. Seluruh pakaian birunya sudah hancur robek-robek, kotor oleh darah dan debu. Pemuda ini menggigit bibir.

Wiro tertawa. “Aku ada satu stel persediaan pakaian,” katanya. Dari balik punggungnya Pendekar 212 mengeluarkan sebuntal pakaian.

“Ini, pakailah,” Wiro melemparkan pakaian itu. Prana menyambutnya. “Terima kasih,” kata pemuda ini lalu cepat-cepat berganti pakaian di balik semak belukar.

“Aku juga akan ke Kotaraja,” kata Wiro “Seorang sahabatku lenyap tak tentu entah ke mana. Aku musti cari dia!”

“Kalau begitu kita pergi sama-sama,” ujar Pranajaya.

“Tiga Setan Darah musti mampus ditanganku!” murid Empu Blorok ini kepalkan tinju tangan kanannya.

“Salah seorang dari mereka telah merampas pedang warisan guruku! Mereka musti benar-benar mampus!” Wiro menepuk bahu Pranajaya.

“Sudah sobat, mari kita berangkat!” Kedua pendekar itu meninggalkan telaga. Dengan ilmu lari cepat masing-masing keduanya menuju kembali ke Kotaraja. Di saat itu matahari telah menggelincir ke ufuk barat. Diam-diam Pranajaya memperhatikan gerak dan cara lari Wiro Sableng. Pemuda ini bermata tajam dan berpikiran cerdas.

Dia segera mengetahui kalau saat itu Wiro hanya mengeluarkan setengah bagian saja dari kecepatan ilmu larinya sedang dia sendiri sudah mempergunakan keseluruhan kecepatan ilmu lari warisan Empu Blorok! Jika Wiro mau pastilah dia akan ketinggalan jatuh di belakang.

Diam-diam Pranajaya membatin siapa dan murid guru sakti dari manakah sesungguhnya Wiro? Empu Blorok pernah menerangkan tentang tokoh-tokoh silat ternama di rimba persilatan. Tapi tak pernah menyebut-nyebut seorang pendekar muda bernama Wiro. Dalam berpikir dan berlari itu akhirnya mereka telah sampai di pintu gerbang Kotaraja. Wiro Sableng memperlambat larinya.

“Kulihat ada kelainan di pintu gerbang saat ini,” kata Wiro. Pranajaya memperhatikan ke arah pintu gerbang. Apa yang diucapkan Wiro memang betul. Pada pintu gerbang Kotaraja kelihatan sepuluh orang pengawal, padahal sebelumnya cuma ada dua orang yang berdiri di situ.

“Aku mendapat firasat mereka hendak membuat urusan dengan kita...” kata Pranajaya.

“Kita lihat saja. Jika betul tak usah ragu-ragu untuk memberi sedikit hajaran pada mareka, Prana!” Begitu sampai di pintu gerbang Kerajaan ke sepuluh pengawal pintu gerbang berjejer rapi, masing– masing memalangkan tombak. Salah seorang dari mereka maju membentak.

“Berhenti!” Wiro Sableng dan Pranajaya hentikan lari masing-masing. Mereka memperhatikan, rata-rata tampang pengawal-pengawal itu bengis semua.

Yang tadi membentak berpaling pada salah seorang kawannya dan bertanya, “Apakah ini kunyuk-kunyuk yang tadi kau lihat melarikan diri dari Kotaraja?!” Pengawal yang ditanya mengangguk. Meski sudah berganti pakaian namun pengawal itu masih dapat mengenali Pranajaya dan juga Wiro Sableng.

Pengawal yang tadi bertanya palingkan kepala kembali pada Wiro dan Prana. Dia segera hendak buka mulut berikan perintah namun Wiro Sableng dengan cengar cengir mendahului.

“Pengawal, omongmu seenaknya saja! Kau kira kami ini apa pakai memaki kunyuk segala?! Coba kacakan mukamu di telapak kakiku ini dulu, baru nanti kau tahu apa kami yartg kunyuk atau kau yang monyet!”

Habis berkata begitu Wiro Sableng angkat tinggi-tinggi kaki kanannya dan diajukan tepat-tepat ke muka si pengawal yang tadi memaki. Tentu saja marah pengawal ini bukan alang kepalang!

“Bangsat rendah! Kau lebih pantas mampus dari pada ditangkap hidup-hidup!” Pengawal ini secepat kilat tusukkan tombaknya kepada Wiro Sableng. Pendekar 212 ganda tertawa.

“Sompret betul!” makinya kemudian.

“Orang suruh berkaca malah menyerang! Ini makan kakiku!” Hampir tak kelihatan bagaimana cepatnya gerakan kaki murid Eyang Sinto Gendeng itu, tahu-tahu tendangannya sudah mendarat didagu si pengawal!.Pengawal itu terpelanting jauh, tombaknya mental, mulutnya berdarah dan tubuhnya melingkar di muka pintu gerbang tanpa kabarkan diri! Melihat ini sembilan pengawal lainnya segera menyebar mengurung!

“Bedebah laknat!” kata salah seorang dari mereka, “lebih baik kalian serahkan diri. Kalau tidak nyawa kalian pasti tidak ketolongan!”

“Siapa yang minta tolong soal nyawa padamu tikus pintu gerbang!” damprat Wiro.

“Ulurkan kedua tangan kalian!” perintah pengawal yang seorang itu sambil mengeluarkan segulung tali besar.

“Kalian harus kami seret ke hadapan Tiga Setan Darah!”

“Oh, jadi manusia-manusia muka kepiting rebus itu yang menyuruh kalian menghadang kami di sini?!” bentak Pranajaya.

Baca lanjutannya:
Wiro Sableng: Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin (11)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.