Senin, 19 Juni 2017

Wiro Sableng: Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin (1)

Wiro Sableng: Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin

Wiro Sableng Episode #7: 
Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin
Karya: Bastian Tito

~ 1 ~

PEMUDA baju biru itu berdiri dengan gagahnya di puncak bukit. Angin dari timur bertiup melambai-lambaikan rambutnya yang gondrong menjela bahu. Sepasang matanya sejak tadi hampir tiada berkesip memandang lekat-lekat ke arah utara di mana berdiri dengan megahnya pintu gerbang Kotaraja.

Sudah hampir setengah hari dia berada di puncak bukit itu. Sudah jemu dan letih matanya memandang terus-terusan ke arah pintu gerbang. Namun manusia-manusia yang ditunggunya belum juga kelihatan muncul. Sebetulnya dia bisa menuruni bukit itu dan langsung memasuki Kotaraja.

Tapi dia ingat pesan gurunya, di Kotaraja penuh dengan hulubalang-hulubalang Baginda, bahkan tokoh-tokoh silat kelas satu pentolan-pentolan Istana, banyak orang sakti berilmu tinggi sehingga menyelesaikan perhitungan di dalam Kotaraja sama saja mencemplungkan diri ke dalam jebakan dimana dia tak mungkin lagi akan keluar.

Kalaupun ada jalan ke luar maka itu ialah jalan kepada kematian! Dia menunggu lagi. Sekali-sekali dia memandang ke jurusan lain untuk menghilangkan kejemuan dan kelesuan matanya. Kemudian bila dia memandang pada dirinya sendiri, memperhatikan tangan kirinya yang buntung sebatas siku maka disaat itu ingatlah dia akan ucapan gurunya sewaktu dia hendak meninggalkan pertapaan.

“Hari ini kuperbolehkan kau meninggalkan tempat ini, Pranajaya. Tapi kelak dikemudian hari kau musti kembali kemari untuk menuntut satu ilmu baru yang sekarang ini kugodok. Kau pergi dari sini dan musti berhasil mencari ketiga manusia yang telah membunuh kau punya bapak… Tempo hari aku sudah pernah terangkan. Kau masih ingat siapa nama julukan ketiga manusia itu?”

“Mereka adalah Tiga Setan Darah, guru,” jawab Pranajaya.

“Betul,” kata sang guru.

“Ketiganya berada di Kotaraja. Sudah sejak lama kuketahui hidup di sana sabagai bergundal-bergundalnya Baginda. Tapi ingat Prana! Sekali-kali jangan selesaikan perhitunganmu dengan mereka di dalam Kotaraja. Itu barbahaya besar karena Kotaraja penuh dengan tokoh-tokoh silat kelas satu yang menjadi kaki tangan Baginda…”

“Dengan bekal ilmu yang guru, wariskan serta pedang Ekasakti yang guru berikan tak satu lawanpun yang saya takutkan di atas bumi ini. Apalagi saya tahu bahwa saya berada di atas kebenaran!” Empu Blorok tersenyum dan rangkapken kedua tangannya di muka dada.

“Aku sedang mendengar ucapan jantanmu,” kata Empu Blorok pula.

“Tapi walau bagaimanapun membuat kegaduhan di dalam Kotaraja sangat berbahaya bagi keselamatan jiwamu. Di samping itu aku mengingat pula akan tugas yang hendak kuberikan padamu. Jadi Prana, ringkas kata kau musti membereskan Tiga Setan Darah di luar Kotaraja, bagaimana caranya terserah kau.” Sang murid manggut-manggutkan kepalanya.

“Tadi guru menyebutkan satu tugas untukku… Mohon penjelasan lebih lanjut,” kata Pranajaya.

“Bila perhitunganmu dengan Tiga Setan Darah telah selesai maka kau harus pergi ke Pulau Seribu Maut.” Pranajaya tak pernah mendengar tentang pulau itu dan tidak pula tahu di mana letaknya. Maka diapun menanyakannya.

“Pulau itu,” menjawab Empu Blorok, “terletak diujung timur pulau Jawa. Di situ bercokol seorang manusia bernama Bagaspati.

Dulunya dia adalah kawan baikku. Tapi kemudian mencuri sebuah senjata mustikaku dan melarikan diri. Dengan senjata mustika itu dia membuat keonaran di mana-mana dan berbuat kejahatan! Kau harus mengambil senjata muutika itu kembali dari tangannya Pranajaya. KaIau dia banyak rewel, kau tahu apa, yang musti dilakukan!”

“Baik guru,” kata Pranajaya lalu tanyanya.

“Senjata apakah yang telah dicuri oleh Bagaspati itu?”

“Sebuah cambuk, Prana. Cambuk Api Angin namanya!”

“Tugas dari guru akan aku jalankan. Mohon doa restu,” kata Pranajaya.

Ketika dia hendak pamitan Empu Blorok berkata, “Tunggu sebentar Prana. Masih ada yang hendak kuterangkan padamu.”

“Soal apa guru?.”

“Soal dirimu. Kau lihat tangan kirimu yang buntung itu…?” Prana memperhatikan tangan kirinya lalu mengangguk. Aneh terasa baginya kalau saat itu gurunya bicara soal tangan itu, padahal sudah sejak belasan tahun dia berada bersama Empu Blorok dan sang guru tak pernah bicara apa-apa soal tangannya yang buntung itu.

“Waktu bapakmu dibunuh,” berkata Empu Blorok.

“Dia sedang tidur di atas balai-balai di sampingmu. Tiga Setan Darah menyerbu masuk dan salah seorang diantara mereka segera membacokkan sebilah pedang! Bapakmu seorang yang berilmu tinggi. Begitu dia merasakan sambaran angin senjata maut itu dia segera melompat. Dia berhasil mengelakkan bacokan pedang namun akibatnya ujung pedang terus menyambar lenganmu dan membabat putus sikumu. Kau saat itu masih orok, Prana… Bapakmu kemudian dikeroyok bertiga dan menemui ajalnya. Sebelum Tiga Setan Darah mencincangmu, kakakku Empu Krapel berhasil menyelamatkanmu dan menyerahkanmu kepadaku. Sayang kakakku itu sudah menutup mata, kalau tidak tentu dia gembira melihat kau sudah dewasa dan gagah begini!”

Pranajaya terdiam seketika. Dendam membara di lubuk hatinya. Lalu tanyanya.
“Yang manakah diantara Tiga Setan Darah yang telah membacok bapakku sewaktu beliau sedang tidur itu. Empu…?”

“Aku kurang tahu, Prana,” sahut Empu Blorok. “Keterangan kakakkku waktu membawa kau ke sini kurang jelas.”

Karena tak ada lagi yang akan dibicarakan maka Pranajaya berkata, “Murid minta diri, guru. Mohon doa restumu…”

Empu Blorok mengangguk. Dipandanginya muridnya itu sambil akhirnya Pranajaya hilang dikejauhan. Pranajaya memandang lagi untuk kesekian kalinya ke arah pintu gerbang Kotaraja. Suasana tidak berubah seperti tadi-tadi. Dua pengawal berdiri di sisi-sisi pintu gerbang, masing-masing memegang sebatang tombak. Tak ada yang lalu lalang. Pintu gerbang itu diselimuti kesunyian.

“Sampai berapa lama lagi aku musti menunggu?” tanya Pranajaya pada dirinya sendiri. Hatinya kesal. Sebenarnya dia tidak takut memasuki Kotaraja untuk lekas-lekas membuat perhitungan dengan Tiga Setan Darah. Malah ini adalah satu permulaaan baginya untuk menjajaki sampai di mana ketinggian ilmu silat dan kesaktiannya ysng dimilikinya serta sampai di mana pula kehebatan tokoh-tokoh silat di Kotaraja itu!

Namun dia musti patuh pada pesan gurunya dan tidak boleh bertindak gegabah. Empu Blorok lebih berpemandangan luas. Dan dia musti menunggu terus. Manunggu sampai Tiga Setan Darah keluar dari pintu gerbang Kotaraja.

Menurut keterangan yang didapat Pranajaya dari seorang pengawal istana yang disogoknya dengan sekeping emas, hari itu Tiga Setan Darah akan meninggalkan Kotaraja, pergi ke satu tempat di selatan untuk satu keperluan penting. Atau mungkin pengawal istana itu telah menjual keterangan dusta kepadanya?

Letih berdiri akhirnya Pranajaya duduk di tanah, bersandar ke sebatang pohon. Sepasang matanya senantiasa ditujukan ke pintu gerbang Kotaraja itu.

***

SEMENTARA itu di Kotaraja...

Orang itu berdiri di halaman belakang istana. Dia telah menyelidik ke kandang kuda dan tiga ekor kuda yang kulit serta bulu tengkuk dan ekornya dicelup merah telah dilihatnya di dalam kandang kuda istana yang besar itu. Hatinya lega. Ini satu pertanda bahwa Tiga Setan Darah masih berada di dalam istana. Orang ini menunggu siambil membayangkan hadiah apa yang kira-kira bakal diberikan Tiga Setan darah kepadanya kelak.

Dua pengawal di pintu belakang Istana menjura hormat sewaktu tiga orang berjubah merah, berambut dan bermuka yang dicat merah melewati pintu itu, melangkah cepat menuju kandang kuda. Orang laki-laki tadi segera mendekati Tiga Setan Darah. Setelah menjura dia berkata, “Bolehkah aku bicara dengan kalian…?”

Tiga Setan Darah yang paling tua menghentikan langkahnya dan hendak mendamprat. Saat itu bersama dua orang kawannya dia hendak berangkat untuk satu urusan panting tapi kini ada seseorang yang mengganggu. Ini sangat menggusarkannya. Sewaktu melihat bahwa laki-laki yang berkata tadi itu adalah seorang pengawal Istana yang dikenalnya, Tiga Setan Darah tertua ini surut juga sedikit amarahnya.

“Ada perlu apa kau?!” tanyanya kasar.

“Ada keterangan panting yang bakal kusampaikan Tiga Setan Darah.”

“Hemm… Coba katakan cepat,” kata Setan Darah tertua sambil mengerling pada dua orang kawannya.

“Seorang asing hendak berbuat jahat tarhadap kalian bertiga…”

“Hah… apa?!”

“Malam tadi aku tengah makan di kedai,” menuturkan pegawai Istana itu. Namanya Camar Pawang.

“Lalu ada seorang asing mendekatiku dan berkata jika aku bisa kasih keterangan tentang Tiga Setan Darah dia akan memberikan hadiah sekeping emas. Aku segera maklum bahwa orang asing itu bukan bermaksud baik-baik terhadap kalian bertiga. Kuambil emas itu dan kuberikan sedikit keterangan kepadanya. Keterangan palsu!”

“Apa yang itu orang asing tanya dan apa yang kau terangkan padanya?” tanya Tiga Setan Darah kedua.

“Dia tanya kalau-kalau aku tahu bila kalian bertiga meninggalkan Istana dan keluar dari Kotaraja.”

“Apa, jawabmu?” tanya Setan Darah Ketiga.

“Kuberikan keterangan dusta. Kukatakan bahwa Tiga Setan Darah hari ini akan pergi ke satu tempat di selatan untuk satu urusan penting…” Setan Darah pertama melototkan mata. Saat itu dia dan kawan-kawannya memang hendak berangkat ke satu tempat untuk menjalankan tugas Baginda, tapi bukan ke selatan melainkan ke daerah barat Kotaraja.

“Aku tidak percaya!” kata Setan Darah pertama, “Coba, mana emas itu, aku mau Iihat!” Camar Pawang mengeruk sakunya dan mengeluarkan sekeping kecil emas yang diterimanya dari orang asing itu.

Setan Darah pertama mengambil kepingan emas itu, memperhatikannya lalu sambil menimang-nimang emas itu dia bertanya, “Bagaimana ciri-ciri orang asing itu?!”

“Dia masih muda, Tampangnya cakap, berbaju biru dan tangan kirinya buntung. Di balik baju birunya, di sebelah punggung menyembul ujung gagang pedang…”

“Hem…” Setan Darah pertama menggumam. Dia anggukanggukkan kepala beberapa kali.

“Ada lagi yang hendak kau katakan?” Camar Pawang menggeleng.

“Kalau begitu kau tunggu apa lagi?! Cepat berlalu dari hadapan kami!” bentak Setan Darah pertama. Camar Pawang mundur satu langkah dan memandang pada kepingan emas yang masih ditimang-timang Setan Darah Pertama.

“Emas itu..,” kata Camar Pawang.

“Emas bapak moyangmu!” semprot Setan Darah Kedua.

“Sudah untung kau tidak kami gebuk, masih mau minta emas! Pergi!” Camar Pawang memandang pada Setan Darah Pertama. Manusia bermuka merah ini tertawa mengekeh dan membalikkan badannya sambil memasukkan kepingan emas ke dalam saku jubahnya.

Camar Pawang menelan ludah. Sudah dibayangkannya dia bakal mendapat hadiah dari Tiga Setan Darah, tapi malah emas yang diterimanya dari si orang asing kini diambil oleh manusia bermuka merah itu! Camar Pawang menyumpah habis-habisan dalam hatinya dan meninggalkan tempat itu. Di depan pintu kandang kuda, Setan Darah Pertama hentikan langkah dan bertanya pada kedua orang kawannya.

“Apa pendapat kalian?” tanyanya. Setan Darah kedua mengusap dagunya lalu berkata, “Jika keterangan kunyuk kepala dua itu betul pastilah orang asing itu menunggu kita di satu tempat di daerah selatan…”

“Aku merasa heran juga,” membuka mulut Setan Darah Ketiga, “seingatku kita tak pernah bikin urusan dengan seorang pemuda bertangan buntung. Apa maksud manusia itu mencari keterangan tentang kita sebenarnya?” Setan Darah Pertama merenung sejenak.

“Kalau mau, kita masih ada waktu untuk menyelidik ke selatan.” Dua orang kawannya menyetujui hal itu. Ketiganya segera mengambit kudanya masingmasing.

~ 2 ~

ANGIN dari timur bertiup lagi melambai-lambaikan rambut dan lengan kiri baju biru yang dikenakan Pranajaya. Bila untuk kesekian kalinya pemuda ini memandang lagi ke arah utara maka membesilah parasnya. Air muka dan hatinya menjadi tegang. Tiga penunggang kuda kelihatan ke luar dari pintu gerbang Kotaraja. Kuda-kuda dan penunggangnya berwarna merah.

Baca lanjutannya:
Wiro Sableng: Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin (2)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.