Minggu, 04 Juni 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 99)

 The Chamber: Kamar Gas

Adam mendengarkan dan tidak berusaha menanggapi. Sesuatu berdentang di sebelah, dan mereka berdua melonjak.

"Nugent pasti sedang main-main dengan peralatannya di sana," kata Sam, pundaknya bergetar lagi. "Tahukah kau apa yang menyakitkan?"

"Apa?"

"Aku sudah berpikir banyak tentang ini, benar-benar memeras otak beberapa hari terakhir ini. Aku melihatmu, dan melihat Carmen, dan aku menyaksikan dua anak muda cemerlang dengan pikiran dan hati terbuka. Kalian tidak membenci siapa pun. Kalian toleran dan berpikiran luas, berpendidikan baik, ambisius, pergi ke mana-mana tanpa beban yang kubawa sejak lahir. Dan aku melihatmu, cucuku, darah dagingku, dan aku bertanya pada diri sendiri. Mengapa aku tidak menjadi sesuatu yang lain? Seperti kau dan Carmen? Sulit untuk mempercayai kita benar-benar punya hubungan keluarga."

"Sudahlah, Sam. Jangan lakukan ini."

"Aku tak tahan."

"Sudahlah, Sam."

"Oke, oke. Sesuatu yang menyenangkan." Suaranya menghilang dan ia membungkuk. Kepalanya tertunduk dalam dan bergantung nyaris di antara kaki.

Adam ingin percakapan mendalam tentang pelaku kejahatan yang misterius itu. Ia ingin mengetahui semuanya, perincian sebenarnya dari pengeboman tersebut, pelariannya, bagaimana dan mengapa Sam tertangkap. Ia juga ingin tahu apa yang terjadi dengan orang ini, terutama karena ia ada di luar sana, mengawasi dan menunggu. Namun pertanyaan-pertanyaan ini takkan dijawab, jadi ia membiarkannya. Sam akan membawa banyak rahasia ke kuburnya.

***

Kedatangan helikopter Gubernur menciptakan kegaduhan sepanjang pintu depan Parchman. Helikopter itu mendarat di sisi lain jalan raya, tempat sebuah van penjara sudah menunggu. Dengan seorang pengawal di masing-masing siku dan Mona Stark memburu di belakang, McAllister berlari tergesa-gesa ke dalam van. "Itu Gubernur!" seseorang berseru. Suara nyanyian dan doa terhenti sejenak. Kamera berpacu merekam van yang melewati gerbang depan dan menghilang.

Beberapa menit kemudian, kamera berhenti dekat ambulans di belakang MSU. Para pengawal dan Miss Stark tetap berada dalam van. Nugent menyambut Gubernur dan mengawalnya ke dalam ruang saksi; ia duduk di deretan depan. Ia mengangguk kepada saksi-saksi lain, sekarang semuanya sudah berkeringat dan basah kuyup. Ruangan itu panas seperti oven. Nyamuk-nyamuk hitam beterbangan menumbuk dinding. Nugent bertanya apakah ada sesuatu yang bisa ia ambilkan untuk Gubernur.

"Popcorn," McAllister melucu, tapi tak seorang pun tertawa. Nugent mengernyit dan meninggalkan ruangan.

"Mengapa Anda ada di sini?" seorang reporter bertanya.

"No comment," kata McAllister muram. Sepuluh orang itu duduk dalam keheningan, menatap tirai hitam, dan dengan resah memeriksa jam tangan mereka. Percakapan gelisah sudah berakhir. Mereka saling menghindari kontak mata, seolah-olah malu menjadi partisipan dalam peristiwa mengerikan itu.

***

Nugent berhenti di pintu Kamar Gas dan memeriksa sebuah checklist. Saat itu pukul 23.40. Ia memerintahkan dokter untuk masuk ke Ruang Isolasi, lalu melangkah ke luar dan memberi tanda agar para penjaga turun dari empat menara jaga sekitar MSU. Sangat kecil kemungkinan gas yang lolos sesudah eksekusi bakal mencelakakan penjaga menara, tapi Nugent menyukai detail.

Ketukan pada pintu itu benar-benar sangat samar, tapi saat itu terdengar bagaikan suara bor beton. Ketukan itu merobek keheningan, mengejutkan Adam dan Sam. Pintu terbuka. Dokter muda itu melangkah masuk, mencoba tersenyum, menekuk satu lutut, dan meminta Sam membuka kancing kemeja. Sebuah stetoskop bundar ditempelkan pada kulitnya yang pucat, dengan kabel pendek dibiarkan tergantung sampai ke sabuk.

Tangan dokter itu gemetar. Ia tak mengucapkan apa-apa.

~ 51 ~

Pukul 23.30, Hez Kerry, Garner Goodman, John Bryan Glass, dan dua mahasiswanya menghentikan percakapan ringan mereka dan bergandengan tangan di sekitar meja yang sesak acak-acakan di dalam kantor Kerry. Masing-masing memanjatkan doa hening bagi Sam Cayhall, lalu Hez memanjatkannya dengan suara keras untuk kelompok tersebut. Mereka duduk di kursi mereka, tenggelam dalam pikiran, dalam keheningan, dan memanjatkan doa singkat untuk Adam.

***

Akhir peristiwa itu berlangsung cepat. Jam yang berdesis dan berjalan lamban selama 24 jam terakhir ini mendadak melaju kencang.

Selama beberapa menit setelah dokter berlalu, mereka melakukan percakapan ringan dan resah sementara Sam berjalan dua kali melintasi ruangan sempit itu, mengukurnya, lalu bersandar pada dinding di seberang ranjang. Mereka bicara tentang Chicago dan Kravitz & Bane. Sam tak dapat membayangkan bagaimana tiga ratus pengacara hidup dalam gedung yang sama. Satu-dua kali ada tawa gelisah, dan beberapa kali senyum tegang saat mereka menunggu ketukan mengerikan berikutnya.

Ketukan itu terdengar tepat pukul 23.55, tiga ketukan tajam, lalu jeda panjang. Sam menarik napas dalam dan merapatkan rahang. Ia menudingkan satu jari pada Adam. "Dengar aku," katanya tegas. "Kau boleh berjalan ke dalam sana bersamaku, tapi kau tak boleh tinggal."

"Aku tahu. Aku tak ingin tinggal, Sam."

"Bagus." Jari bengkok itu turun, rahang mengendur, wajahnya melayu. Sam mengulurkan tangan ke depan dan meraih pundak Adam. Adam menariknya rapat dan memeluknya lembut.

"Katakan pada Lee aku mencintainya," kata Sam, suaranya serak. Ia menjauh sedikit dan menatap mata Adam. "Katakan padanya aku memikirkannya sampai akhir. Dan aku tidak marah padanya karena tidak datang. Aku pun tak ingin datang ke sini kalau tidak terpaksa."

Adam mengangguk cepat, dan ia berusaha keras menahan tangis. Apa saja, Sam, apa saja.

"Sampaikan salam untuk ibumu. Aku selalu menyukainya. Sampaikan sayangku pada Carmen, dia anak yang hebat. Aku menyesal atas semua ini, Adam. Ini warisan beban berat bagi kalian."

"Kami akan baik-baik saja, Sam."

"Aku tahu. Aku akan mati sebagai orang yang sangat bangga, Nak, karena kau."

"Aku akan merindukanmu," kata Adam, air matanya bergulir ke pipi.

Pintu terbuka dan sang Kolonel melangkah masuk. "Sudah saatnya, Sam," katanya sedih.

Sam menghadapinya dengan senyum tegar. "Mari kita laksanakan!" katanya mantap. Nugent berjalan lebih dulu, lalu Sam, lalu Adam. Mereka melangkah ke dalam Kamar Gas yang sudah penuh orang. Setiap orang menatap Sam, lalu langsung berpaling. Mereka malu, pikir Adam. Malu berada di sini, ambil bagian dalam tindakan keji ini. Mereka tak mau memandang Adam.

Monday, sang algojo, dan asistennya ada di dekat dinding di samping Ruang Kimia. Dua penjaga berseragam berdiri di samping mereka. Lucas Mann dan seorang wakil kepala penjara ada di dekat pintu. Sang dokter sedang sibuk di sebelah kanannya, menyetel EKG dan berusaha kelihatan tenang.

Dan di tengah ruangan, sekarang dikelilingi berbagai partisipan, adalah kamar gas itu, sebuah tabung berbentuk segi delapan dengan lapisan cat baru keperakan. Pintunya terbuka, kursi kayu penentu nasib itu menunggu, sederet jendela tertutup ada di belakangnya.

Pintu keluar ruangan itu terbuka, tapi tak ada angin masuk. Ruangan itu bagaikan sauna, setiap orang basah kuyup oleh keringat. Dua penjaga membawa Sam dan menggiringnya ke dalam Kamar Gas. Ia menghitung langkah—cuma lima langkah dari pintu ke kamar gas itu—dan sekonyong-konyong ia sudah berada di dalam, duduk, melihat sekeliling orang-orang itu, mencari Adam. Tangan orang-orang itu bekerja cepat.

Adam berhenti tepat di dalam pintu. Ia bersandar pada dinding, mencari kekuatan, lututnya lemas dan lemah. Ia memandang orang-orang dalam ruangan itu, pada Kamar Gas, pada lantai, EKG. Semuanya begitu bersih! Dinding-dinding yang baru dicat. Lantai beton yang mengilat. Dokter dengan mesin-mesinnya. Kamar sempit yang bersih dan steril dengan kilauannya yang cemerlang. Bau antiseptik dari Ruang Kimia. Segalanya tanpa noda dan higienis. Seharusnya kamar ini dijadikan klinik tempat orang mendapatkan pengobatan.

Bagaimana kalau aku muntah di lantai, tepat di sini, di kaki dokter yang baik ini, apa akibatnya terhadap ruangan sempit suci hama ini, Nugent? Bagaimana buku panduan menangani hal itu, Nugent, seandainya aku memuntahkannya di sini di depan Kamar Gas? Adam mendekap perutnya.

Pengikat terpasang pada lengan Sam, dua pada masing-masing lengan, lalu dua lagi untuk kaki, di atas celana Dickies baru yang mengilat, lalu pengikat kepala yang menyeramkan itu agar ia tidak melukai diri sendiri ketika gas menyerang. Ini dia, semua sudah terpasang dan siap untuk gas itu. Semuanya rapi, tanpa noda, dan suci hama, tak ada darah yang tercecer. Tak ada apa pun yang mencemari pembunuhan bermoral yang mulus tanpa cacat ini.

Para penjaga mundur keluar dari pintu sempit itu, bangga dengan pekerjaan mereka.

Adam memandangnya duduk di sana. Mata mereka bertemu dan seketika Sam memejamkannya.

Dokter itu yang berikutnya. Nugent mengatakan sesuatu kepadanya, tapi Adam tak dapat mendengar kata-kata itu. Ia melangkah ke dalam dan memasang kabel yang menyambung ke stetoskop. Ia melaksanakan pekerjaan dengan cepat.

Lucas Mann melangkah ke depan dengan sehelai kertas. Ia berdiri di pintu Kamar Gas. "Sam, ini surat keputusan hukuman mati. Aku diwajibkan oleh undang-undang untuk membacakannya kepadamu."

"Cepatlah," Sam mendengus tanpa membuka bibir.

Lucas mengangkat kertas itu dan membacanya. "Sesuai dengan vonis bersalah dan vonis hukuman mati yang dijatuhkan padamu oleh Pengadilan Circuit Washington County pada tanggal 14 Februari 1981, dengan ini kau dihukum mati dengan gas mematikan dalam Kamar Gas Penjara Negara Bagian Mississippi di Parchman. Semoga Tuhan mengampuni jiwamu."

Lucas mundur, lalu meraih telepon pertama di antar dua telepon yang tergantung pada dinding. Ia menelepon kantornya untuk memeriksa apakah ada mukjizat penundaan pada detik terakhir. Tak ada apa pun. Saluran telepon kedua disiapkan untuk menghubungi kantor Jaksa Agung di Jackson. Sekali lagi semua sistem berjalan. Sekarang tengah malam lewat tiga puluh detik. “Tak ada penangguhan," katanya kepada Nugent.

Kata-kata itu berloncatan di sekeliling ruangan yang lengas itu dan menerpa dari segala penjuru. Adam melirik kakeknya untuk terakhir kali. Tangan Sam terkepal. Matanya terpejam rapat, seolah-olah ia tak bisa memandang Adam lagi. Bibirnya bergerak, seolah-olah ia memanjatkan satu doa pendek lagi.

"Apakah ada alasan eksekusi ini tidak bisa dilaksanakan?" Nugent bertanya secara formal, mendadak mengharapkan nasihat hukum yang mantap.

“Tidak ada," kata Lucas dengan penyesalan sungguh-sungguh.

Nugent berdiri di pintu Kamar Gas. "Ada pesan terakhir, Sam?" ia bertanya.

"Bukan untukmu. Sudah saatnya Adam berlalu."

"Baiklah." Nugent perlahan-lahan menutup pintu, gasket karetnya yang tebal menahan suara.

Tanpa suara, Sam sekarang terkunci, dan terikat. Ia memejamkan mata rapat-rapat. Cepatlah.

Adam bergeser ke belakang Nugent yang masih menghadap pintu Kamar Gas. Lucas Mann membuka pintu keluar, dan mereka berdua cepat-cepat keluar. Algojo meraih sebuah tuas. Asistennya beringsut ke samping untuk mengintip. Dua penjaga tadi mencari posisi, agar bisa menyaksikan bangsat tua itu mati. Nugent, wakil Kepala Penjara, dan dokter berkerumun di sepanjang dinding lain, semuanya beringsut lebih dekat, kepala bermunculan dan tumpang tindih, masing-masing takut melewatkan sesuatu.

***

Suhu 32 derajat di luar terasa jauh lebih sejuk. Adam berjalan ke ujung ambulans dan sejenak bersandar di sana.

"Kau baik-baik saja?" tanya Lucas.

"Tidak."

Tenanglah."

"Kau tak menyaksikannya?"

“Tidak. Sudah cukup untukku. Yang ini betul-betul sulit."

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 100)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.