Minggu, 04 Juni 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 98)

 The Chamber: Kamar Gas

Perjalanan dari satu ruang ke ruang lain hanya butuh beberapa detik, jaraknya sejauh enam meter, tapi Adam meringis bersama setiap langkah menyakitkan. Melewati lorong penjaga bersenjata, melewati pintu baja yang berat, ke dalam ruangan sempit. Pintu di dinding seberang tertutup. Pintu itu menuju Kamar Gas.

Kasur lipat lusuh itu dibawa masuk ke sana untuk peristiwa ini. Adam dan Sam duduk di atasnya. Nugent menutup pintu dan berlutut di hadapan mereka. Mereka bertiga sendirian. Adam kembali melingkarkan tangan pada pundak Sam.

Nugent memperlihatkan ekspresi amat pedih. Ia meletakkan satu tangan pada lutut Sam dan berkata, "Sam, kita menyelesaikan semua ini bersama-sama. Sekarang..."

"Kau tolol," kata Adam tanpa pikir, tercengang atas komentar luar biasa ini.

"Dia tak bisa lain," kata Sam pada Adam. "Dia memang tolol. Dia bahkan tak menyadarinya."

Nugent merasakan cacian tajam itu dan berusaha memikirkan sesuatu yang pantas diucapkan. "Aku cuma berusaha menangani ini, oke?" katanya pada Adam.

"Mengapa kau tidak enyah saja?" kata Adam.

"Kau tahu, Nugent?" tanya Sam. "Aku sudah membaca berton-ton buku hukum. Dan aku sudah membaca berhalaman-halaman peraturan penjara, dan di mana pun tak pernah kubaca peraturan yang mengharuskan aku melewatkan jam-jam terakhirku bersamamu. Tak ada undang-undangnya, peraturannya, atau apa pun."

"Keluarlah saja dari sini," kata Adam, siap menyerang bila perlu.

Nugent melompat berdiri. "Dokter akan masuk melalui pintu itu pukul 23.40. Dia akan menempelkan stetoskop ke dadamu, kemudian berlalu. Pukul 23.55, aku akan masuk, juga lewat pintu itu. Saat itu kita akan pergi ke Kamar Gas. Ada pertanyaan?"

"Tidak. Pergilah," kata Adam, mengibaskan tangan ke pintu. Nugent keluar dengan cepat.

Sekonyong-konyong mereka sendirian. Dengan satu jam tersisa.

***

Dua mobil van penjara yang serupa menggelinding lalu berhenti di depan Balai Pengunjung, diisi delapan wartawan yang beruntung dan seorang sheriff. Undang-undang mengizinkan, tapi tidak mengharuskan sheriff dari county tempat kejahatan itu terjadi untuk menyaksikan eksekusi.

Orang yang menjadi sheriff Washington County pada tahun 1967 sudah lima belas tahun mati, tapi meriff yang sekarang tentu tak mau melewatkan peristiwa ini. Hari itu ia sudah memberitahu Lucas Mann bahwa ia sepenuhnya berniat menunaikan apa yang disebutkan oleh undang-undang. Katanya ia merasa berutang pada masyarakat Greenville dan Washington County.

Mr. Elliot Krammer tidak hadir di Parchman. Ia sudah merencanakannya bertahun-tahun, tapi dokternya campur tangan pada detik terakhir. Jantungnya lemah dan itu terlalu riskan. Ruth tak pernah secara serius berpikir untuk menyaksikan eksekusi tersebut. Ia ada di rumahnya di Memphis, duduk bersama teman-teman, menunggu hal itu berakhir.

Takkan ada anggota keluarga korban yang hadir untuk menyaksikan pembunuhan Sam Cayhall.

Mobil-mobil van itu difoto berkali-kali dan direkam saat mereka berangkat dan menghilang di jalan masuk utama. Lima menit kemudian, keduanya berhenti di gerbang MSU. Setiap orang diminta keluar, lalu diperiksa apakah membawa kamera atau alat perekam. Mereka kembali naik van dan dipersilakan melewati gerbang. Dua van itu melaju melintasi rumput di sepanjang bagian depan MSU, mengelilingi lapangan rekreasi di ujung barat, lalu berhenti sangat dekat dengan ambulans.

Nugent sendiri sedang menunggu. Para wartawan itu turun dari van dan secara naluriah mulai melihat nyalang ke sekeliling, mencoba menyerap semua untuk direkam nanti. Mereka tepat berada di luar bangunan persegi dari bata merah yang tertempel pada bangunan datar dan rendah, yaitu MSU. Bangunan kecil itu punya dua pintu. Satu tertutup, satu lagi sedang menunggu mereka.

Nugent tidak berselera menghadapi wartawan-wartawan yang ingin tahu. Ia bergegas membawa mereka melewati pintu yang terbuka itu. Mereka melangkah ke dalam ruangan sempit tempat dua deret kursi lipat sudah menunggu, menghadap panel tirai hitam yang menyeramkan.

"Duduklah," katanya kasar. Ia menghitung delapan reporter, satu sheriff. Tiga tempat duduk dalam keadaan kosong. "Sekarang pukul 23.10," katanya dramatis. "Tahanan ada di Ruang Isolasi. Di depan kalian, di balik tirai-tirai ini, adalah Kamar Gas. Dia akan dibawa masuk pukul 23.55, diikat, pintu dikunci. Tirai akan dibuka tepat tengah malam, dan saat kalian melihat Kamar Gas, sang tahanan sudah akan berada di dalam, tak sampai setengah meter dari jendela. Kalian hanya akan melihat belakang kepalanya. Saya tidak merancang ini, oke? Perlu sekitar sepuluh menit sebelum dia dinyatakan mati. Saat itu tirai akan ditutup dan kalian kembali ke van. Kalian akan menunggu lama, dan maaf kalau ruangan ini tak ber-AC. Ketika tirai dibuka, segalanya akan berlangsung cepat. Ada pertanyaan?"

"Apakah Anda sudah bicara dengan tahanan itu?"

"Bagaimana sikapnya?”

"Saya tidak akan menjawab semua itu. Jumpa pers direncanakan pukul 01.00, dan saat itulah saya akan menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Saat ini saya sibuk." Nugent meninggalkan ruang saksi dan mengempaskan pintu di belakangnya. Ia berjalan di sekitar pojokan dan memasuki Kamar Gas.

***

"Kita punya waktu kurang dari satu jam. Apa yang ingin kaubicarakan?" tanya Sam.

"Oh, banyak hal. Tapi kebanyakan tak menyenangkan."

"Rasanya sulit melakukan percakapan yang menyenangkan pada titik ini, kau tahu."

"Apa yang kaupikirkan saat ini, Sam? Apa yang terlintas dalam pikiranmu?"

"Segalanya."

"Apa yang kautakuti?"

"Bau gas itu. Apakah itu menyakitkan atau tidak. Aku tak ingin menderita, Adam. Aku berharap itu berlangsung cepat. Aku ingin menghirupnya banyak-banyak, dan mungkin aku langsung melayang tak sadarkan diri. Aku tidak takut pada kematian, Adam, tapi saat ini aku takut sekarat. Aku cuma berharap semua ini selesai. Saat menunggu ini mengerikan."

"Apakah kau siap?"

"Hati kecilku yang keras ini sudah damai. Aku telah melakukan berbagai perbuatan buruk, Nak, tapi aku merasa Tuhan akan memaklumi. Tentu saja aku tak layak menerimanya."

"Mengapa kau tidak menceritakan padaku tentang orang yang bersamamu?"

"Panjang ceritanya. Kita tak punya banyak waktu."

"Itu seharusnya bisa menyelamatkan nyawamu."

"Tidak, tak seorang pun akan percaya. Pikirkanlah. Dua puluh tiga tahun kemudian aku mendadak mengubah cerita dan menimpakan semua kesalahan kepada orang misterius. Janggal sekali."

"Mengapa kau bohong padaku?"

"Aku punya alasan."

"Untuk melindungiku?"

"Itu salah satunya."

"Dia masih di luar sana, kan?"

"Ya. Dia ada di dekat sini. Bahkan saat ini dia mungkin ada di depan sana bersama orang-orang gila lain. Cuma mengawasi. Tapi kau takkan pernah melihatnya."

"Dia membunuh Dogan dan istrinya?"

"Ya."

"Dan putra Dogan?"

"Ya."

"Dan Clovis Brazelton?"

"Mungkin. Dia pembunuh yang sangat cakap, Adam. Dia mematikan, dia mengancam aku dan Dogan pada sidang pertama."

"Apakah dia punya nama?"

"Tidak. Aku toh takkan mengatakannya padamu. Kau takkan boleh mengucapkan sepatah kata pun tentang ini."

"Kau mati karena kejahatan orang lain."

"Tidak. Seharusnya aku bisa menyelamatkan bocah-bocah itu. Dan Tuhan tahu aku sudah cukup banyak membunuh orang. Aku pantas menerima ini, Adam."

"Tak seorang pun pantas menerima ini."

"Ini jauh lebih baik daripada hidup. Seandainya mereka membawaku kembali ke sel saat ini juga dan mengatakan padaku aku akan tinggal di sana sampai mati, tahukah kau apa yang akan kulakukan?"

"Apa?"

"Aku akan bunuh diri."

Setelah menghabiskan jam terakhir itu dalam sebuah sel, Adam tak dapat mendebat ini. Ia bisa memahami kengerian hidup 23 jam sehari dalam sangkar sempit.

"Aku lupa rokokku," kata Sam, meraba saku kemeja. "Kurasa sekarang saat yang tepat untuk berhenti."

"Apakah kau mencoba melucu?"

"Yeah."

"Itu tak berhasil."

"Apakah Lee pernah memperlihatkan padamu buku dengan foto pembunuhanku di dalamnya?"

"Dia tidak memperlihatkannya padaku. Dia mengatakan tempat buku itu, dan aku menemukannya."

"Kaulihat foto itu?"

"Ya."

“Luar biasa, kan?"

"Menyedihkan."

"Apakah kau melihat foto lainnya, satu halaman sesudah itu?"

“Ya. Dua anggota Klan."

"Dengan jubah, kerudung, dan topeng?"

"Ya, aku rnelihatnya."

"Itu aku dan Albert. Aku bersembunyi di balik salah satu topeng itu."

Saraf Adam sudah melewati titik batas terguncang. Foto-foto mengerikan itu berkelebat dalam pikiran, dan ia mencoba menyisihkannya. "Mengapa kau menceritakan ini padaku, Sam?"

"Sebab rasanya melegakan. Sebelum ini aku tak pernah mengakuinya, dan ada kelegaan dalam menghadapi kebenaran. Aku sudah merasa lebih baik."

"Aku tak ingin mendengar lebih banyak lagi."

"Eddie tak pernah tahu. Dia menemukan buku itu di gudang atas, dan entah bagaimana menduga aku ada di foto lainnya. Tapi dia tidak tahu aku salah satu dari dua orang Klan itu."

"Mari jangan bicara tentang Eddie, oke?"

"Gagasan bagus. Bagaimana dengan Lee?"

"Aku marah pada Lee. Dia lari dari kita."

"Tentu menyenangkan seandainya bisa bertemu dengannya, kau tahu. Itu menyakitkan. Tapi aku begitu senang Carmen datang."

Akhirnya, pokok pembicaraan yang menyenangkan. "Dia orang yang menyenangkan," kata Adam.

"Gadis hebat. Aku sangat bangga denganmu, Adam, dan dengan Carmen. Kalian punya semua gen bagus dari ibumu. Aku sungguh beruntung punya dua cucu yang hebat."

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 99)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.