Minggu, 04 Juni 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 97)

 The Chamber: Kamar Gas

Tempat itu punya sejarah eksekusi yang sangat kaya, jadi ia menyimpulkan sudah ada banyak orang lain yang menderita di sepanjang jalan ini. Garner Goodman sendiri pernah membawakan berita terakhir itu untuk Maynard Tole, dan ini memberi Adam sedikit kekuatan yang sangat ia butuhkan.

Ia tak menghiraukan tatapan ingin tahu sekelompok orang yang berdiri dan mengawasinya di ujung tier. Ia berhenti di sel terakhir, menunggu, dan pintu itu dengan patuh membuka. Sam dan sang Pendeta masih duduk di ranjang, berbisik-bisik, kepala mereka hampir bersentuhan dalam kegelapan. Mereka mengangkat muka memandang Adam yang duduk di samping Sam dan melingkarkan lengan pada pundaknya, pundak yang sekarang serasa lebih rapuh lagi.

"Mahkamah Agung baru saja menolak segalanya," katanya sangat pelan, suaranya di ambang tangis.

Sang Pendeta mengembuskan rintihan pedih. Sam mengangguk, seolah-olah ini memang sudah terduga.

"Dan Gubernur baru saja menolak memberikan pengampunan."

Sam mencoba mengangkat pundak dengan berani, tapi tak ada cukup tenaga. Ia terpuruk makin rendah lagi.

"Semoga Tuhan mengampuni," kata Ralph Griffin.

"Kalau begitu, semuanya selesai," kata Sam.

"Tak ada apa pun yang tersisa," bisik Adam.

Gumam tegang dapat terdengar dari pasukan pelaksana hukuman mati yang berjejalan di ujung tier. Akhirnya ini terjadi juga. Pintu terbanting entah di mana di belakang mereka, dari arah Kamar Gas, dan lutut Sam terentak.

Ia diam beberapa saat—satu atau lima belas menit, Adam tak tahu. Waktu masih melesat tiba-tiba, dan berhenti.

"Kurasa kita harus berdoa sekarang, Pak Pendeta," kata Sam.

"Kurasa begitu. Kita sudah cukup lama menunggu."

"Bagaimana Anda akan melakukannya?"

"Ah, Sam, tepatnya apa yang ingin Anda doakan?"

Sam merenungkannya sejenak, lalu berkata, "Saya ingin memastikan Tuhan tidak marah pada saya saat saya mati."

"Gagasan bagus. Dan mengapa Anda berpikir Tuhan mungkin marah pada Anda?"

"Cukup jelas, bukan?"

Ralph menggosokkan kedua belah tangan. "Saya rasa cara terbaik adalah mengakui dosa-dosa Anda, dan memohon agar Tuhan mengampuni Anda."

"Semuanya?"

"Anda tak perlu mendaftar semuanya, minta saja agar Tuhan mengampuni segalanya."

"Semacam pertobatan total?"

"Yeah, begitulah. Dan itu akan berhasil, bila Anda serius."

"Saya sangat serius mati."

"Apakah Anda percaya akan neraka, Sam?"

"Saya percaya."

"Apakah Anda percaya akan surga. Sam?"

"Saya percaya"

"Apakah Anda percaya semua orang Kristen masuk ke surga?"

Sam memikirkan hal ini lama-lama, lalu mengangguk sedikit sebelum bertanya. "Anda percaya?"

"Ya. Saya percaya."

"Kalau begitu, saya percaya apa kata Anda."

"Bagus. Percayalah pada saya tentang hal ini.”

"Rasanya terlalu mudah, Anda tahu. Saya memanjatkan doa pendek, dan segalanya diampuni."

"Mengapa itu meresahkan Anda?"

"Sebab saya telah melakukan beberapa perbuatan buruk, Pak Pendeta."

"Kira semua pernah melakukan perbuatan buruk. Tuhan kita adalah Tuhan dengan kasih tak terhingga.”

"Anda tak pernah melakukan apa yang saya lakukan?”

"Apakah Anda akan merasa lebih lega bila membicarakannya?"

"Yeah, rasanya tidak enak kecuali saya mengatakannya."

"Saya ada di sini, Sam."

"Apakah aku harus pergi dulu?" tanya Adam.

Sam mencengkam lutut. “Tidak.”

"Kita tak punya banyak waktu. Sam," kata Ralph, sambil melihat sepintas ke balik jeruji.

Sam menghela napas dalam, lalu bicara dengan suara rendah yang monoton, berhati-hati supaya hanya Adam dan Ralph yang bisa mendengar. "Saya membunuh Joe Lincoln dengan darah dingin. Saya sudah mengatakan saya menyesal."

Ralph menggumamkan sesuatu pada diri sendiri sambil mendengarkan. Ia sudah tenggelam dalam doa.

"Dan saya membantu saudara-saudara saya membunuh dua orang yang membunuh ayah kami. Terus terang, saya tak pernah menyesali hal itu sampai sekarang. Hidup manusia rasanya jauh lebih berharga hari-hari ini. Saya keliru. Dan saya ambil bagian dalam penghukuman semena-mena sampai mati ketika saya berumur lima belas atau enam belas tahun. Saya cuma bagian dari gerombolan itu, dan mungkin saya takkan mampu menghentikannya seandainya mencoba. Tapi saya tak mencobanya, dan saya merasa bersalah akan hal itu."

Sam berhenti. Adam menahan napas dan berharap pengakuan itu sudah selesai. Ralph menunggu dan menunggu, dan akhirnya bertanya, “Itu saja. Sam?"

"Tidak. Masih ada satu lagi."

Adam memejamkan mata dan bersiaga mendengarnya. Matanya berkunang-kunang dan ia ingin muntah.

"Ada pembunuhan tanpa peradilan lainnya. Seorang bocah bernama Cetus. Saya tak ingat nama keluarganya. Pembunuhan oleh Klan. Saya berumur delapan belas tahun. Itu saja yang bisa saya katakan. "

Mimpi buruk ini takkan pernah berakhir, pikir Adam.

Sam menarik napas dalam dan terdiam beberapa menit. Ralph berdoa keras. Adam cuma menunggu.

"Saya tidak membunuh anak-anak Kramer itu," kata Sam, suaranya bergetar. "Saya tak ada urusan berada di sana, dan saya salah telah terlibat dalam kekacauan itu. Bertahun-tahun saya menyesalinya, semuanya. Keliru bergabung dengan Klan, membenci semua orang, dan memasang bom. Tapi saya tidak membunuh anak-anak itu. Tak ada niat mencelakakan siapa pun. Bom itu seharusnya meledak tengah malam, ketika tak ada siapa pun di dekat tempat itu. Itulah yang benar-benar saya yakini. Namun bom itu dirakit orang lain, bukan saya. Saya cuma mata-mata, sopir, pesuruh. Orang lain menyetel bom itu agar meledak jauh lebih lama dari yang saya sangka. Saya tak pernah tahu pasti apakah dia berniat membunuh seseorang, tapi saya curiga dia memang punya niat itu."

Adam mendengarkan kata-kata itu, menerimanya, menyerapnya, tapi terlalu tercengang untuk bergerak.

"Tapi saya seharusnya bisa menghentikannya. Dan itu membuat saya merasa bersalah. Anak-anak kecil itu akan hidup seandainya saya bertindak lain setelah bom itu dipasang. Darah mereka ada di tangan saya, dan bertahun-tahun saya menyesali hal ini."

Ralph dengan lembut meletakkan satu tangan di belakang kepala Sam. "Berdoalah bersama saya, Sam."

Sam menutup mata dengan dua belah tangan dan menumpukan siku pada lutut.

"Apakah Anda percaya bahwa Yesus Kristus adalah putra Allah; bahwa Dia datang ke bumi ini, dilahirkan dari seorang perawan, hidup tanpa dosa, dihukum, dan wafat di salib sehingga kita bisa mendapatkan keselamatan abadi? Apakah Anda percaya ini, Sam?"

"Ya," bisiknya.

"Dan bahwa Dia bangkit dari kubur dan naik ke surga?"

"Ya."

"Dan bahwa melalui diri-Nya segala dosa Anda diampuni? Segala hal mengerikan yang membebani hati Anda sekarang diampuni. Apakah Anda percaya ini, Sam?"

"Ya, ya."

Ralph melepaskan kepala Sam dan menyeka air mata. Sam tak bergerak, cuma pundaknya berguncang. Adam merapatkan tubuh makin erat.

Randy Dupree mulai menyiulkan bait lain dari Just a Closer Walk with Thee. Nadanya jernih dan tepat, dan nyanyian itu bergema merdu di sepanjang tier.

"Pak Pendeta," kata Sam dengan punggung menegak, "apakah anak-anak Kramer itu ada di surga?"

"Ya."

"Tapi mereka Yahudi."

"Semua anak masuk ke surga, Sam."

"Apakah saya akan bertemu mereka di sana?"

"Saya tidak tahu. Banyak hal tentang surga yang tidak kita ketahui. Tapi Injil menjanjikan bahwa takkan ada penderitaan saat kita sampai di sana."

"Bagus. Kalau begitu, saya berharap bisa bertemu dengan mereka."

Suara Kolonel Nugent yang tak mungkin salah didengar memecahkan ketenangan itu. Pintu tier berdentang, berderak, dan membuka. Ia berjalan satu setengah meter ke pintu Sel Observasi. Enam penjaga berdiri di belakangnya. "Sam, sudah saatnya pindah ke Ruang Isolasi," katanya. "Sekarang pukul 23.00."

Tiga laki-laki itu berdiri berdampingan. Pintu sel terbuka, dan Sam melangkah ke luar. Ia tersenyum pada Nugent, lalu berbalik dan memeluk sang Pendeta. "Terima kasih," katanya.

"Aku mengasihimu, saudaraku!" Randy Dupree berteriak dari selnya, tak sampai tiga meter dari sana.

Sam memandang Nugent dan bertanya, "Bisakah aku mengucapkan selamat tinggal pada teman-temanku?"

Suatu penyimpangan. Panduan itu cuma mengatakan bahwa tahanan langsung dibawa dari Sel Observasi ke Ruang Isolasi, tanpa menyebut-nyebut salam perpisahan terakhir di tier itu. Nugent terenyak bingung, tapi setelah beberapa detik pulih dengan baik. "Tentu, tapi lakukanlah dengan cepat."

Sam berjalan beberapa langkah dan memegang tangan Randy melalui jeruji. Kemudian ia melangkah ke sel berikutnya dan bersalaman dengan Harry Ross Scott.

Ralph Griffin menyelinap melewati para penjaga dan meninggalkan tier. Ia menemukan sudut gelap dan menangis bagaikan anak kecil. Ia takkan melihat Sam lagi. Adam berdiri di pintu sel, dekat Nugent, dan bersama-sama mereka menyaksikan Sam menyusuri gang, berhenti di setiap sel, membisikkan sesuatu kepada masing-masing narapidana. Ia menghabiskan waktu paling lama bersama JB. Gullit yang sedu sedannya bisa terdengar.

Kemudian ia berbalik dan berjalan kembali dengan tegar ke arah mereka, menghitung langkah sambil berjalan, tersenyum pada sahabat-sahabatnya sepanjang jalan. Ia menggandeng tangan Adam. "Ayo berangkat," katanya pada Nugent.

Begitu banyak penjaga berdesakan di ujung tier, sehingga agak sulit mereka melewatinya. Nugent berjalan lebih dulu, lalu Sam dan Adam. Kerumunan manusia yang berjejalan itu menambah suhu udara beberapa derajat dan beberapa lapis udara lengas. Show of force itu tentu saja dibutuhkan untuk menaklukkan tahanan yang bandel, atau mungkin untuk menakut-nakutinya agar menurut. Rasanya konyol luar biasa dengan orang tua kecil seperti Sam Cayhall.

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 98)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.