Minggu, 04 Juni 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 96)

The Chamber: Kamar Gas

Ia melangkah ke luar untuk bicara dengan sopir ambulans dan mencari udara, lalu berjalan kembali melewati Ruang Isolasi, menuju Tier A. Seperti yang lainnya, ia sedang menunggu Mahkamah Agung terkutuk itu memutuskan eksekusi jadi dilaksanakan atau tidak.

Ia mengirimkan dua penjaga bertubuh paling tinggi ke tier untuk menutup jendela-jendela di atas dinding luar. Seperti bangunan itu sendiri, jendela-jendela itu sudah berumur 36 tahun dan tidak dapat ditutup dengan tenang. Penjaga-penjaga itu mendorongnya sampai terbanting dengan suara keras, tiap kali bergema di tier itu. Semuanya ada 35 jendela, setiap narapidana tahu jumlahnya dengan tepat, dan setiap kali satu jendela tertutup, tier itu jadi lebih gelap dan sunyi.

Dua penjaga itu akhirnya selesai dan berlalu. The Row sekarang terkunci rapat—setiap narapidana ada di dalam sel, semua pintu terkunci, semua jendela tertutup.

***

Sam mulai gemetar bersama tertutupnya jendela. Kepalanya tertunduk makin rendah. Adam melingkarkan lengan pada pundaknya yang rapuh.

"Aku selalu menyukai jendela-jendela itu," kata Sam, suaranya rendah dan parau. Satu regu penjaga berdiri tak sampai empat setengah meter dari sana, mengintip lewat pintu tier seperti anak-anak di kebun binatang, dan Sam tak ingin ucapannya terdengar. Sulit membayangkan Sam menyukai apa pun di tempat ini.

"Dulu, bila hujan lebat turun, airnya akan bepercikan ke jendela, sebagian akan masuk dan menetes ke lantai. Aku suka hujan. Dan rembulan. Kadang-kadang, bila tak ada awan, aku bisa berdiri di selku dan sepintas memandang bulan melalui jendela-jendela itu. Aku selalu bertanya-tanya dalam hati, mengapa mereka tidak memasang lebih banyak jendela di sini. Maksudku, aduh, maaf, Pak Pendeta, bila mereka bertekad mengurungku dalam sel sepanjang hari, mengapa aku tak boleh melihat ke luar? Aku tak pernah mengerti. Kurasa aku tak pernah mengerti banyak hal." Suaranya mengecil, lalu lenyap, dan beberapa lama ia tidak bicara lagi.

Dari kegelapan bergaung suara tenor sendu si Preacher Boy menyanyikan Just a Closer Walk with Thee. Nyanyian itu cukup merdu.

"Just a closer walk with Thee, Grant it, Jesus, is my plea, Daily walking close to Thee..."

"Diam!" seorang penjaga berseru.

"Biarkan dia!" Sam balas berseru, membuat Adam dan Ralph terkejut. "Nyanyikanlah, Randy," kata Sam, cukup keras untuk didengar di sebelah. Preacher Boy berhenti beberapa saat, perasaannya jelas terluka, lalu mulai lagi.

Sebuah pintu terempas entah di mana, dan Sam melonjak. Adam menekan pundaknya dan ia tenang kembali. Matanya menerawang dalam kegelapan lantai.

"Kurasa Lee takkan datang," katanya, ucapannya datar.

Adam berpikir sejenak, dan memutuskan untuk menceritakan yang sebenarnya. "Aku tak tahu di mana dia. Sudah sepuluh hari aku tidak bicara dengannya."

"Kupikir dia ada di klinik rehabilitasi."

"Kupikir begitu, tapi aku tidak tahu di mana. Maaf. Sudah kucoba segala cara untuk menemukannya."

"Aku banyak memikirkannya hari-hari terakhir ini. Tolong katakan padanya."

"Baiklah." Bila Adam bertemu lagi dengan Lee, ingin rasanya ia mencekik bibinya itu.

"Dan aku banyak memikirkan Eddie."

"Dengar, Sam, kita tak punya banyak waktu. Mari kita bicara tentang hal-hal yang menyenangkan, oke?"

"Aku ingin kau memaafkan apa yang kuperbuat terhadap Eddie."

"Aku sudah memaafkanmu, Sam. Itu sudah selesai. Aku dan Carmen memaafkanmu."

Ralph menundukkan kepala di samping kepala Sam dan berkata, "Mungkin ada beberapa orang lain yang harus kita pikirkan juga, Sam."

"Mungkin nanti," kata Sam.

Pintu tier terbuka di ujung gang, dan terdengar suara langkah bergegas ke arah mereka. Lucas Mann, dengan seorang penjaga di belakangnya, berhenti di sel terakhir dan melihat tiga sosok samar-samar berkerumun rapat di ranjang. "Adam, ada telepon untukmu," katanya cemas. "Di kantor depan."

Tiga sosok bayangan itu menegak bersamaan. Adam melompat berdiri dan tanpa sepatah kata pun melangkah keluar dari sel ketika pintu dibuka. Perutnya bergolak hebat ketika ia setengah berlari melintasi tier itu.

"Kalahkan mereka, Adam," kata J.B. Gullit ketika ia lewat dengan terburu-buru.

"Dari siapa?" tanya Adam pada Lucas Mann yang ada di sebelahnya, mengikuti setiap langkah.

"Garner Goodman."

Mereka berkelok-kelok di tengah MSU dan tergopoh-gopoh ke kantor depan. Telepon tergeletak di meja. Adam meraihnya dan duduk di bangku.

"Garner, ini Adam."

"Aku ada di gedung kapitol, Adam, di rotunda di luar kantor Gubernur. Mahkamah Agung baru saja menolak semua petisi permohonan peninjauan ulang kita. Tak ada lagi yang tersisa di sana."

Adam memejamkan mata dan terdiam. "Ah, kurasa inilah akhirnya," katanya, memandang Lucas Mann. Lucas mengernyit dan menjatuhkan kepala.

"Tetaplah di sana. Gubernur akan memberikan pengumuman. Aku akan meneleponmu lima menit lagi." Goodman menghilang.

Adam meletakkan telepon dan menatapnya. "Mahkamah Agung menolak segalanya," ia melapor kepada Mann. "Gubernur akan memberikan pernyataan. Sebentar lagi dia akan menelepon kembali."

Mann duduk. "Aku ikut sedih, Adam. Sangat sedih. Bagaimana perasaan Sam?"

"Kurasa Sam jauh lebih tabah menghadapi hal ini daripadaku."

"Aneh, kan? Ini eksekusiku yang kelima, dan aku selalu tercengang melihat betapa tenangnya mereka pergi. Mereka menyerah ketika cuaca jadi gelap. Mereka menikmati santapan terakhir, mengucapkan selamat tinggal kepada keluarga, dan jadi tenang menghadapi segalanya. Kalau aku, mungkin aku akan menendang-nendang, menjerit, menangis. Akan butuh dua puluh orang untuk menyeretku keluar dari Sel Observasi."

Adam berhasil melontarkan senyum sepintas, lalu melihat kotak sepatu dalam keadaan terbuka di meja. Kotak itu dilapisi aluminium foil dan ada beberapa potong remah kue di dasarnya. Benda itu tak ada di sana ketika mereka berlalu satu jam yang lalu. "Apa itu?" ia bertanya, tidak benar-benar ingin tahu.

"Itu kue eksekusi."

"Kue eksekusi?"

"Yeah, wanita kecil yang tinggal di ujung jalan itu membuatnya tiap kali ada eksekusi."

"Kenapa?"

"Entahlah. Aku sama sekali tidak tahu."

"Siapa yang memakannya?" tanya Adam, melihat kue dan remah-remah yang tersisa seolah-olah melihat racun.

"Para penjaga dan narapidana pekerja."

Adam menggelengkan kepala. Terlalu banyak urusan dalam otaknya untuk menganalisis maksud di balik sajian kue eksekusi tersebut.

***

Untuk peristiwa itu, David McAllister berganti memakai setelan jas biru tua, kemeja putih yang baru disetrika, dan dasi merah anggur. Ia menyisir dan menyemprot rambut, menggosok gigi, lalu berjalan ke dalam kantornya dari pintu samping. Mona Stark sedang meneliti angka-angka.

"Telepon-telepon itu akhirnya berhenti," katanya lega.

"Aku tak ingin mendengarnya," kata McAllister, memeriksa dasi dan giginya di cermin. "Mari berangkat."

Ia membuka pintu dan melangkah ke serambi; dua pengawal pribadi menemuinya. Mereka mengapitnya sewaktu ia berjalan ke rotunda tempat lampu-lampu terang sedang menanti. Serombongan reporter dan kamera mendesak ke depan untuk mendengarkan pengumuman. Ia melangkah ke podium sementara, dengan selusin mikrofon tergabung jadi satu. Ia meringis terkena sinar lampu-lampu itu, menunggu mereka tenang, lalu bicara.

"Mahkamah Agung Amerika Serikat baru saja menolak pengajuan peninjauan kembali vonis terhadap Sam Cayhall," katanya dramatis, seolah-olah para reporter itu belum mendengar hal tersebut. Ia berhenti lagi, sementara kamera berdetakan dan mikrofon menunggu.

"Dengan demikian, setelah tiga sidang di hadapan juri, setelah sembilan tahun upaya banding melalui setiap pengadilan yang ada di bawah konstitusi kita, setelah kasus ini diperiksa kembali oleh tak kurang dari 47 hakim, akhirnya keadilan tiba bagi Sam Cayhall. Kejahatannya dilakukan 23 tahun yang lalu. Keadilan mungkin berjalan lamban, tapi tetap bekerja. Saya menerima banyak telepon yang meminta saya mengampuni Mr. Cayhali, tapi saya tak dapat melakukannya. Saya tak dapat mengabaikan kebijaksanaan juri yang memvonisnya, dan saya tak bisa pula memaksakan pertimbangan saya sendiri atas keputusan yang telah diambil oleh berbagai pengadilan kita. Saya pun tidak bersedia menentang keinginan keluarga Kramer, sahabat-sahabat saya." Berhenti lagi.

Ia bicara tanpa catatan, dan langsung terlihat bahwa ia sudah lama mempersiapkan komentar ini. "Besar harapan saya bahwa eksekusi terhadap Sam Cayhall akan membantu menghapuskan bab menyedihkan dalam sejarah negara bagian kita. Saya menghimbau semua warga Mississippi untuk bersatu sejak malam yang menyedihkan ini, dan mengupayakan persamaan. Semoga Tuhan mengampuni jiwanya."

Ia mundur sementara pertanyaan-pertanyaan beterbangan. Pengawal pribadi membuka pintu samping dan ia pun menghilang. Mereka menuruni tangga dan keluar dari pintu utara, tempat sebuah mobil sudah menunggu. Satu mil dari sana, sebuah helikopter juga sedang menunggu.

***

Goodman berjalan keluar dan berdiri di samping meriam tua, yang entah mengapa dibidikkan ke gedung-gedung tinggi di tengah kota. Di bawahnya, di kaki tangga depan, sekelompok besar pemrotes memegang lilin. Ia menelepon Adam dengan berita itu, lalu berjalan menerobos orang banyak yang memegangi lilin itu, dan meninggalkan gedung kapitol.

Sebuah lagu pujian mulai dinyanyikan ketika ia menyeberangi jalan, dan setelah dua blok nyanyian itu perlahan-lahan menghilang. Ia berkeliaran sebentar, lalu berjalan ke arah kantor Irlez Kerry.

~ 50 ~

Perjalanan kembali ke Sel Observasi jauh lebih panjang dari sebelumnya. Adam seorang diri menyusuri tempat itu, yang sekarang terasa begitu biasa. Lucas Mann menghilang entah di mana dalam labirin The Row.

Sewaktu menunggu di depan pintu berat berjeruji di tengah bangunan itu, Adam mendadak tersadar akan dua hal. Pertama, banyak orang berlalu lalang sekarang—lebih banyak penjaga, lebih banyak orang tak dikenal dengan lencana plastik dan pistol di pinggang, lebih banyak laki-laki berwajah keras dengan kemeja lengan pendek dan dasi poliester. Ini suatu fenomena besar, peristiwa itu terlalu menegangkan untuk dilewatkan. Adam memperkirakan setiap pegawai penjara yang punya cukup kekuasaan dan pengaruh tentu akan berada di The Row saat vonis mati Sam dilaksanakan.

Hal kedua yang ia sadari adalah kemejanya telah basah kuyup dan kerahnya menempel ke leher. Ia mengendurkan dasi ketika pintu berdetak keras, lalu bergeser terbuka diiringi dengung motor listrik tersembunyi. Seorang penjaga di suatu tempat di tengah simpang siurnya dinding beton, jendela, dan jeruji sedang mengawasi dan menekan tombol yang tepat. Ia melangkah lewat, masih sambil mengendurkan ikatan dasi dan kancing di bawahnya, dan berjalan ke penghalang berikutnya, sebuah dinding jeruji menuju Tier A. Ia menyeka kening, tapi tak ada keringat di sana. Ia mengisi paru-paru dengan udara panas dan lembap.

Karena semua jendela tertutup, tier itu sekarang terasa mencekik. Terdengar suara klik keras lagi, dengung motor listrik lain, dan ia melangkah ke gang sempit yang kata Sam lebarnya dua meter lebih. Tiga lampu neon kusam melontarkan sinar redup ke langit-langit dan lantai. Ia mendorong kakinya yang berat melewati sel-sel gelap, semua terisi dengan pembunuh brutal yang sekarang berdoa atau merenung, beberapa bahkan menangis.

"Kabar baik. Adam?" J.B. Gullit bertanya dari kegelapan.

Adam tak menjawab. Masih terus berjalan, ia menengadah memandangi jendela-jendela dengan berbagai warna cat tertempel pada daunnya yang kuno, dan ia tersentak oleh pertanyaan berapa banyak pengacara sebelum dirinya yang pernah melakukan perjalanan terakhir dari kantor depan ke Sel Observasi untuk memberitahu orang yang sedang sekarat bahwa helaian tipis harapan terakhir sekarang sudah lenyap.

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 97)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.