Minggu, 04 Juni 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 95)

 The Chamber: Kamar Gas

“Entahlah. Dia menyangka kau sudah mati."

"Itulah kakakku."

"Aku juga menemui Bibi Finnic."

"Kupikir dia sudah mati," kata Sam sambil tersenyum.

"Hampir. Dia 91 tahun. Benar-benar terguncang dengan apa yang terjadi padamu. Katanya sejak dulu kau kemenakan favoritnya."

"Dia tak pernah menyukaiku, dan aku tak menyukainya. Persetan, lima tahun sebelum aku sampai ke sini, aku tak pernah menemuinya."

"Ah, dia benar-benar terguncang dengan kejadian ini."

"Dia akan pulih."

Wajah Sam tiba-tiba menyunggingkan senyum lebar, dan ia mulai tertawa. "Ingat saat kita melihatnya pergi ke kakus di belakang rumah Nenek, lalu melemparinya dengan batu? Dia keluar sambil menjerit-jerit dan menangis."

Donnie tiba-tiba teringat, dan mulai tertawa terbahak-bahak. "Yeah, atap kakus itu dari seng," katanya di sela-sela napas, "dan setiap batu kedengaran seperti ledakan bom."

"Yeah, waktu itu kita bertiga—aku, kau, dan Albert. Kau pasti belum lagi empat tahun."

"Tapi aku ingat."

Cerita itu berkembang dan tawa mereka menular. Adam mendapati dirinya terkekeh menyaksikan dua orang tua ini tertawa seperti anak kecil. Cerita tentang Bibi Finnic dan kakus beralih ke tes kejiwaan, dan mereka berlanjut.

Santapan terakhir adalah penghinaan yang disengaja terhadap koki-koki tak berjati diri di dapur dan ransum membosankan yang telah menyiksanya selama sembilan setengah tahun. Ia minta makanan dari karton, dan bisa didapatkan dengan mudah. Ia kerap kali kagum pada para pendahulunya yang memesan santapan dengan tujuh macam makanan—steak, lobster, dan cheesecake. Suster Mo melahap dua lusin kerang mentah, lalu salad ala Yunani, lalu sepotong daging iga dan beberapa masakan lain, tak mengerti bagaimana mereka bisa mengerahkan selera seperti itu cuma beberapa jam menjelang ajal.

Sedikit pun ia tidak merasa lapar ketika Nugent mengetuk pintu pada pukul 19.30. Di belakangnya berdiri Packer, dan di belakang Packer ada narapidana pembawa nampan. Di lengah nampan itu ada mangkuk besar dengan tiga Eskimo Pie di dalamnya, dan di sebelahnya ada satu termos kecil berisi kopi French Market, favorit Sam. Nampan di meja malam yang sangat sederhana.

"Bisakah aku menikmatinya dengan tenang, atau kau akan berdiri di sana dan menggangguku dengan omongan idiotmu?"

Nugent terenyak kaku dan menatap Sam berapi-api. "Kami akan kembali satu jam lagi. Saat itu umurmu harus pergi, dan kami akan memindahkanmu ke Sel Observasi. Oke?”

"Enyahlah saja." kata Sam, duduk di bangku.

Begitu mereka menghilang, Donnie berkata, "Sialan, Sam, mengapa kau tidak memesan sesuatu yang bisa kita nikmati? Santapan terakhir macam apa ini?"

"Ini santapan terakhirku. Bila saatmu tiba, pesanlah apa saja yang kauinginkan." Ia mengambil garpu dan dengan hati-hati mengerik es krim vanili dan balutan cokelatnya. Ia melahap satu gigitan besar, lalu perlahan-lahan menuang kopi ke dalam cangkir. Kopi itu hitam dan kental, dengan aroma sedap.

Donnie dan Adam duduk di kursi sepanjang dinding, mengawasi punggung Sam sementara ia menikmati santapan terakhirnya.

***

Mereka berdatangan sejak pukul 17.00. Mereka dalang dan segala penjuru negara bagian itu, semuanya mengemudi sendirian, semuanya memakai mobil besar empat pintu bermacam warna dengan simbol, emblem, dan tanda-tanda rumit pada pintu dan spat bor. Beberapa di antaranya memakai rak untuk lampu darurat di atapnya.

Beberapa memajang senapan pada kisi-kisi di atas jok depan. Semuanya memakai antena tinggi yang berayun-ayun diterpa angin. Mereka adalah para sheriff, masing-masing county mereka untuk menjaga ketenangan masyarakat. Sebagian besar telah lama mengabdi dan sudah ambil bagian dalam ritual jamuan eksekusi yang tak tercatat.

Seorang koki bernama Miss Mazola menyiapkan jamuan itu, dan menunya ayam besar dengan minyak hewan. Ia memasak kacang black eyed dengan babi. Dan ia membuat biskuit buttermilk ukuran kecil. Dapurnya terletak di belakang kafetaria kecil, dekat gedung administrasi. Makanan selalu dihidangkan pukul 19.00, tak peduli berapa sheriff yang hadir.

Kerumunan orang malam itu adalah yang terbesar sejak Teddy Doyle Meeks diantar ke tempat istirahat terakhir pada tahun 1982. Miss Mazola sudah bersiap akan hal ini, sebab ia membaca koran dan setiap orang tahu tentang Sam Cayhall. Ia memperkirakan sedikitnya akan ada lima puluh.

~ 49 ~

Kegelapan membawa keheningan mencekam di jalan raya di depan Parchman. Orang-orang Klan—tak satu pun mempertimbangkan meninggalkan tempat itu setelah Sam memintanya—duduk di kursi lipat dan rumput yang telah terinjak-injak, dan menunggu. Para skinhead dan kelompok-kelompok semacamnya yang telah terpanggang di bawah matahari bulan Agustus duduk dalam kelompok-kelompok kecil dan minum air es.

Para biarawati dan aktivis lain disusul rombongan Amnesty International. Mereka menyalakan lilin, memanjatkan doa, menyenandungkan lagu-lagu. Mereka mencoba menjaga jarak dari kelompok-kelompok pembenci. Pilih hari lain, eksekusi lain, narapidana lain, dan para pembenci yang sama akan berteriak-teriak menuntut darah.

Ketenangan itu terputus sejenak ketika satu pickup penuh remaja mengurangi kecepatan di gerbang depan. Mereka mendadak mulai berteriak keras bersama-sama, "Gas dia! Gas dia! Gas dia!"

Beberapa anggota Klan melompat berdiri, siap bertempur, tapi bocah-bocah itu sudah menghilang, tak pernah kembali lagi.

Kehadiran mencolok polisi patroli jalan raya membuat situasi terkendali. Pasukan itu berdiri berkelompok-kelompok, mengawasi lalu lintas, mengawasi dengan ketat para anggota Klan dan kaum skinhead. Sebuah helikopter berputar-putar di atas.

***

Goodman akhirnya memerintahkan kegiatan analisis pasar dihentikan. Selama lima hari yang panjang, mereka membukukan dua ribu telepon. Ia membayar para mahasiswa itu, menyingkirkan telepon genggam, dan berkali-kali mengucapkan terima kasih kepada mereka. Tak seorang pun di antara mereka rasanya bersedia menyerah, maka mereka berjalan bersamanya ke gedung kapitol, tempat demonstrasi menyalakan lilin sedang berlangsung di tangga depan. Gubernur masih berada di kantornya di lantai dua.

Salah satu mahasiswa itu menawarkan diri untuk membawakan telepon pada John Bryan Glass yang sedang berada di Mahkamah Agung Mississippi di seberang jalan. Goodman meneleponnya, lalu menelepon Kerry, lalu menelepon Joshua Caldwell, seorang sahabat lama yang setuju menunggu di meja kerja Death Clerk di Washington. Goodman sudah menempatkan setiap orang pada posisi. Semua telepon bekerja. Ia menelepon Adam. Sam sedang menghabiskan santapan terakhirnya, kata Adam, dan ia tak ingin bicara dengan Goodman. Namun ia ingin mengucapkan terima kasih atas segalanya.

***

Ketika kopi dan es krim itu habis, Sam berdiri dan meregangkan kaki. Donnie lama terdiam. Ia menderita dan siap pergi. Nugent akan segera datang, Donnie ingin mengucapkan selamat tinggal sekarang.

Ada noda es krim pada kemeja Sam, Donnie mencoba menghapusnya dengan serbet. "Itu tidak penting." kata Sam. menyaksikan adiknya.

Donnie terus menangis. "Yeah, kau benar. Lebih baik aku pergi sekarang, Sam. Mereka akan ke sini sebentar lagi."

Dua laki-laki itu berpelukan lama, saling menepuk lembut punggung masing-masing. "Aku menyesal, Sam," kata Donnie, suaranya bergetar. "Aku sungguh menyesal"

Mereka memisahkan diri, masih saling memegang pundak, mata kedua laki-laki itu berkaca-kaca, tapi tidak meneteskan air mata. Mereka tak sampai hati menangis di hadapan satu sama lain. "Jaga dirimu." kata Sam.

"Kau juga. Panjatkan doa, Sam. Oke?"

"Ya. Terima kasih atas segalanya. Kau satu-satunya yang peduli."

Donnie menggigit bibir dan menyembunyikan mata dari tatapan Sam. Ia berjabatan tanpa sanggup mengucapkan sepatah kata. Ia berjalan di belakang Sam sampai ke pintu, dan meninggalkan mereka.

“Tak ada kabar dari Mahkamah Agung?" tanya Sam tak terduga, seolah-olah mendadak percaya masih ada peluang.

"Tidak." kata Adam sedih.

"Di Cina, mereka menyelinap di belakangmu dan menembakkan sebutir peluru ke kepalamu. Tak ada mangkuk nasi terakhir. Tak ada selamat tinggal. Tak ada saat menunggu. Bukan gagasan buruk.”

Adam melihat jam tangan untuk kesejuta kali dalam satu jam terakhir ini. Sejak sore terasa kesenjangan-kesenjangan saat jam seakan-akan lenyap, lalu mendadak waktu berhenti. Waktu terbang, lalu merangkak. Seseorang mengetuk pintu. "Masuk," kata Sam samar-samar.

Pendeta Ralph Griffin masuk dan menutup pintu. Ia sudah dua kali menemui Sam siang tadi, dan jelas terguncang berat. Ini eksekusinya yang pertama, dan ia sudah memutuskan ini akan jadi yang terakhir baginya. Sepupunya di senat negara bagian harus mencarikan pekerjaan lain untuknya. Ia mengangguk pada Adam dan duduk di samping Sam di bangku. Saat ttu hampir pukul 21.00.

"Kolonel Nugent ada di luar sana, Sam. Katanya dia sedang menunggu Anda."

"Nah, kalau begitu, kita jangan keluar. Kita duduk di sini saja."

***

Sang algojo sedang sibuk dan sangat terkendali. Ia seorang laki-laki pendek kurus bernama Bill Monday. Ia akan mendapatkan lima ratus dolar untuk jasanya bila eksekusi benar-benar berlangsung. Menurut undang-undang, ia dipilih Gubernur. Ia ada dalam bilik sempit yang dikenal sebagai Ruang Kimia, kurang dari satu setengah meter dari Kamar Gas.

Ia sedang mengamati checklist pada clipboard di hadapannya di atas counter, ada kaleng berisi satu pon pellet sodium sianida, botol sembilan pon asam sulfat, kaleng satu pon asam kaustik, botol besi berisi lima puluh pon amonia, dan satu botol berisi lima galon air suling. Di sampingnya, di atas counter lain yang lebih kecil, ada tiga masker gas, tiga pasang sarung tangan karet, sebuah corong, sabun, handuk tangan, dan lap pel. Di antara dua counter itu ada pot pencampur asam, ditempatkan di atas pipa bergaris tengah lima senti yang terjulur ke dalam lantai, ke bawah dinding, dan muncul lagi ke permukaan di samping Kamar Gas dekat tuas-tuas.

Monday punya tiga checklist. Satu berisi instruksi untuk mencampurkan bahan-bahan kimia itu: asam sulfat dan air suling dicampur sampai mencapai konsentrasi sekitar 41 persen, larutan soda kaustik dibuat dengan melarutkan satu pon asam kaustik dalam dua setengah galon air, dan ada beberapa bahan lain yang harus dicampurkan untuk membersihkan Kamar Gas setelah eksekusi selesai. Daftar ketiga adalah prosedur yang harus diikuti pada eksekusi sebenarnya.

Nugent bicara dengan Monday; segalanya berjalan seperti yang direncanakan. Salah satu asisten Monday mengoleskan gemuk di tepian jendela Kamar Gas. Seorang anggota tim eksekusi berpakaian preman memeriksa sabuk dan pengikat pada kursi kayu. Dokter sedang mengotak-atik monitor EKG. Pintu terbuka ke luar, tempat sebuah ambulans sudah terparkir.

Nugent melihat checklist itu sekali lagi, meskipun sudah lama menghafalnya. Bahkan ia sebenarnya sudah menulis satu checklist lagi, suatu bagan yang disarankannya untuk mencatat eksekusi tersebut. Bagan itu akan dipakai oleh Nugent, Monday, dan asisten Monday.

Bagan itu berisi daftar kronologis bernomor tentang peristiwa-peristiwa dalam eksekusi itu: air dan asam dicampur, tahanan memasuki kamar gas, pintu kamar gas dikunci, sodium sianida dimasukkan dalam asam, gas menimpa wajah tahanan, tahanan terlihat jelas tak sadarkan diri, tahanan pasti tak sadarkan diri, gerakan-gerakan tubuh tahanan, gerakan terakhir yang terlihat, jantung berhenti, pernapasan berhenti, katup ventilasi dibuka, katup pembersih dibuka, katup udara dibuka, pintu kamar gas dibuka, tahanan dikeluarkan dari Kamar Gas, tahanan dinyatakan mati. Di samping masing-masing catatan itu ada garis kosong untuk mencatat waktu antara peristiwa sebelumnya.

Dan ada satu daftar eksekusi, bagan berisi 29 langkah untuk memulai dan menyelesaikan tugas itu. Tentu saja daftar eksekusi itu punya lampiran, daftar tentang lima belas hal yang harus dilakukan setelah eksekusi terlaksana—yang terakhir adalah membawa narapidana itu ke dalam ambulans.

Nugent tahu setiap langkah dalam setiap daftar. Ia tahu bagaimana mencampur bahan-bahan kimia, bagaimana membuka katup, berapa lama harus membiarkannya terbuka, dan bagaimana menutupnya. Ia tahu semuanya.

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 96)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.