Minggu, 04 Juni 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 94)

The Chamber: Kamar Gas

Sam sekonyong-konyong gusar. "Kalian pengacara," katanya mencemooh. "Apakah kau tak pernah menyerah? Urusan ini sudah selesai, Adam, berhentilah bermain."

"Belum."

"Dari pihakku, urusan ini sudah selesai. Sekarang, bawalah surat itu dan kerjakan seperti yang kukatakan."

"Sekarang juga?" Adam bertanya, melihat jam tangan. Saat itu pukul 13.30.

"Ya! Sekarang juga. Aku akan menunggu di sini."

***

Adam parkir di samping gardu jaga di gerbang depan, dan menjelaskan kepada Louise apa yang akan ia lakukan. Ia cemas. Louise mengerling curiga pada amplop putih di tangannya, dan berseru kepada dua penjaga terseragam agar mengantarkan. Mereka mengawal Adam melewati gerbang depan dan menghampiri daerah demonstrasi. Beberapa reporter yang sedang meliput para pemrotes itu mengenali Adam, dan langsung mengerumuni.

Adam berjalan langsung ke payung biru dan putih yang menandai markas Klan, dan saat ia berhenti, kelompok jubah putih sudah menunggunya. Pers mengelilingi Adam, penjaganya, dan orang-orang tersebut.

"Siapakah pimpinan di sini?" Adam bertanya sambil menahan napas.

"Siapa yang ingin tahu?" tanya seorang laki-laki muda bertubuh besar dengan jenggot hitam dan pipi yang terbakar matahari. Keringat menetes-netes dari alis ketika ia melangkah ke depan.

"Aku membawa pernyataan ini dari Sam Cayhall," kata Adam keras, dan lingkaran itu merapat. Kamera berbunyi "klik-klik". Para reporter menyorongkan mikrofon dan recorder ke sekitar Adam.

"Diam," seseorang berseru.

"Mundur!" salah satu penjaga membentak.

Sekelompok anggota Klan yang tegang, semuanya dengan jubah yang seragam tapi kebanyakan tanpa kerudung, berdesakan lebih rapat di depan Adam. Ia tak mengenali orang-orang yang ia hadapi Jumat kemarin. Orang-orang ini tidak kelihatan terlalu ramah.

Kegaduhan berhenti di lapangan sementara kerumunan orang itu mendesak lebih dekat untuk mendengarkan pengacara Sam.

Adam mencabut catatan itu dari amplop dan memegangnya dengan dua belah tangan. "Nama saya Adam Hall, dan saya pengacara Sam Cayhall. Ini adalah pernyataan dari Sam," ia mengulangi. "Pernyataan ini tertanggal hari ini, dan ditujukan kepada semua anggota Ku Klux Klan, serta kelompok-kelompok lain yang berdemonstrasi untuknya di saat hari ini. Saya kutip, 'Harap pergi. Kehadiran kalian di sini tidak menyenangkanku. Kalian memakai eksekusiku sebagai alat untuk mengejar kepentingan sendiri. Aku tak kenal satu pun di antara kalian, dan aku sama sekali tak berminat menemui kalian. Harap kalian segera pergi. Aku lebih suka mati tanpa pertunjukan kalian."

Adam melirik wajah keras orang-orang klan itu. Semua kepanasan dan berkeringat. "Alinea terakhir berbunyi sebagai berikut, saya kutip. 'Aku bukan lagi anggota Ku Klux Klan. Aku melepaskan diri dan organisasi itu dan segala yang diperjuangkannya. Aku akan jadi orang bebas hari ini seandainya aku tak pernah mendengar rentang Ku KJui Klan.' Ditandatangani oleh Sam Cayhall." Adam membaliknya dan menyodorkannya ke arah orang-orang Klan itu, yang semuanya tak sanggup bicara dan tercengang.

Laki-laki dengan jenggot hitam dan pipi terbakar itu melompat pada Adam dan mencoba merebut surat itu. "Berikan padaku!" ia berseru, tapi Adam menariknya. Penjaga di sebelah Adam melangkah cepat ke depan. Laki-laki itu mendorong si penjaga yang balas mendorongnya, dan selama beberapa detik yang menegangkan pengawal Adam bergulat dengan beberapa orang Klan.

Penjaga lain selama ini mengawasi di dekat tempat itu dan dalam beberapa detik sudah berada di daerah pertarungan saling mendorong. Ketertiban dipulihkan dengan cepat. Kerumunan orang itu mundur.

Adam mengernyit pada orang-orang Klan tersebut. "Enyahlah!" teriak Adam. "Kalian sudah dengar apa yang dia katakan! Dia malu dengan kalian.”

"Enyahlah ke neraka!” teriak, dua penjaga tadi memegang Adam dan membawanya pergi sebelum ia membakar mereka lagi. Mereka bergerak cepat ke arah gerbang depan, menumbuk para reporter dan kru kamera yang menghalangi jalan. Mereka praktis berlari melewati gerbang, melewati sederet penjaga lain, melewati kerumunan reporter lain, dan akhirnya ke mobil Adam.

***

Kantor McAllister dikenal bocor lebih hebat daripada toilet tua. Menjelang sore, hari Selasa, gosip paling panas yang beredar di Jackson mengatakan Gubernur secara serius mempertimbangkan pemberian pengampunan kepada Sam Cayhall. Gosip itu menyebar cepat dari gedung kapitol ke para wartawan di luar, tempat desas-desus dikutip wartawan-wartawan lain dan diulangi lagi, bukan hanya sebagai gosip. Dalam satu jam, desas-desus itu telah menanjak hampir mendekati fakta.

Mona Stark bicara dengan pers di rotunda, menjanjikan pernyataan Gubernur beberapa saat lagi. Beberapa pengadilan belum selesai, jelasnya.

~ 48 ~

Pengadilan fifth Circuit butuh kurang dari empat jam untuk melemparkan banding gangplank terakhir ke Mahkamah Agung AS. Rapat pendek melalui telepon diadakan pada pukul 15.00. Hez Kerry dan Garner Goodman bergegas ke kantor Roxburgh di seberang gedung kapital negara bagian.

Sang Jaksa Agung punya sistem telepon yang cukup canggih untuk secara bersamaan menghubungkan dirinya, Goodman, Kerry, Adam, dan Lucas Mann di Parchman, Hakim Agung Robichaux di Lake Charles, Hakim Agung Judy di New Orleans, dan Hakim Agung McNeely di Amarillo, Texas. Panel tiga hakim itu memperkenankan Adam dan Roxburgh mengemukakan argumentasi mereka, lalu rapat itu dibubarkan.

Pukul 16.00, pnitera pengadilan itu menelepon, mengabarkan penolakan, dan Kerry dan Goodman cepat-cepat banding ke Mahkamah Agung.

***

Sam menatap tajam dokter muda yang dengan takut-takut mengukur tekanan darahnya. Packer dan Tiny berdiri di dekatnya, atas permintaan dokter tersebut. Dengan kehadiran lima orang, kantor depan itu jadi sesak.

"Fifth Circuit baru saja menolak," kata Adam murung. "Kita dalam perjalanan ke Mahkamah Agung."

"Sama sekali bukan tanah perjanjian," kata Sam, masih menatap si dokter.

"Aku optimis," kata Adam setengah hati, karena kehadiran Packer.

Si dokter cepat-cepat memasukkan peralatannya ke dalam tas. "Selesai," katanya seraya beranjak ke pintu.

"Jadi, aku cukup sehat untuk mati?" tanya Sam. Dokter itu membuka pintu dan berlalu, diikuti Packer dan Tiny. Sam berdiri dan meregangkan punggung, lalu mulai mondar-mandir perlahan-lahan melintasi ruangan itu. Tumitnya terasa licin dalam sepatu itu, sehingga mempengaruhi langkahnya. "Apa kau cemas?" ia bertanya dengan senyum nakal.

“Tentu saja. Dan kurasa kau tidak."

"Kematian itu tak mungkin lebih buruk daripada saat menunggunya. Persetan, aku sudah siap. Aku ingin menyudahi semua ini," Adam nyaris mengucapkan hal usang tentang peluang mereka di Mahkamah Agung, tapi tak berselera menerima umpatan.

Sam mondar-mandir, merokok, tidak berminat bicara. Adam, seperti biasa, sibuk dengan telepon. Ia menelepon Goodman dan Kerry, tapi percakapan mereka pendek. Tak banyak yang dibicarakan, dan tak ada optimisme apa pun.

***

Kolonel Nugent berdiri di teras Balai Pengunjung, meminta mereka tenang. Di lapangan rumput depannya berkumpul pasukan kecil reporter dan wartawan, semuanya resah menunggu undian. Di sampingnya ada meja dengan ember kaleng. Setiap pers memakai lencana oranye bernomor yang dibagikan pengurus penjara sebagai tanda pengenal. Kerumunan orang banyak itu luar biasa tenang.

“Menurut peraturan penjara, ada delapan tempat duduk untuk jatah anggota pers," Nugent menerangkan perlahan-lahan, kata-katanya bergema sampai hampir ke gerbang depan. Ia menikmati sorotan perhatian. "Satu tempat duduk dijatahkan untuk AP, satu untuk UPI, dan saru untuk Missisippi Network. Berarti tersisa lima yang harus dipilih secara acak. Saya akan mencabut lima nomor dari ember ini, dan bila salah satu cocok dengan nomor pengenal Anda, hari ini adalah hari keberuntungan Anda. Ada pertanyaan?"

Beberapa lusin reporter sekonyong-konyong kehabisan pertanyaan. Banyak di antara mereka mengambil lencana oranyenya untuk memeriksa nomor mereka. Gelombang ketegangan menyapu kelompok itu. Dengan dramatis Nugent merogoh ke dalam ember dan mencabut secarik kertas. "Nomor 4843."

"Di sini," seorang laki-laki muda dengan tegang berseru membalas, mencabut lencana keberuntungannya.

"Nama Anda?" Nugent berseru. "Edwin King, dari Arkansas Gazzette."

Seorang wakil kepala penjara di samping Nugent menuliskan nama orang itu serta surat kabarnya. Edwin King dikagumi rekan-rekan sekerjanya.

Nugent dengan cepat memanggil empat angka lain dan menyelesaikan undian itu. Gelombang kekecewaan dengan jelas bergulung menimpa kelompok itu ketika nomor terakhir diserukan. Mereka yang kalah sangat kecewa.

"Pukul 11.00 tepat, dua van akan berhenti di sana." Nugent menunjuk jalan masuk utama. "Kedelapan saksi harus hadir dan siap. Kalian akan dibawa ke Maximum Security Unit untuk menyaksikan eksekusi. Tanpa kamera atau alat perekam apa pun. Kalian akan digeledah begitu tiba di sana. Sekitar pukul 12.30, kalian akan naik kembali ke van dan kembali ke sini. Sesudah itu jumpa pers akan diadakan di aula utama gedung administrasi yang baru, yang akan dibuka pukul 21.00 untuk kenyamanan Anda. Ada pertanyaan?"

“Berapa orang yang akan menyaksikan eksepsi?" seseorang bertanya.

"Akan ada sekitar tiga belas atau empat belas dalam ruang saksi.”

"Apakah keluarga korban akan menyaksikan eksekusi ini?"

"Ya. Mr. Elliot Kramer, sang kakek, direncanakan akan menjadi saksi."

"Bagaimana dengan Gubernur?"

"Menurut peraturan, Gubernur punya hak atas dua tempat duduk dalam ruang saksi. Salah satu tempat duduk itu akan diberikan kepada Mr. Kramer. Saya belum diberitahu apakah Gubernur akan berada di sini."

"Bagaimana dengan keluarga Mr. Cayhall?"

“Tidak. Tak satu pun sanaknya akan menyaksikan eksekusi."

Nugent telah membuka sekaleng umpan. Pertanyaan-pertanyaan bermunculan di mana-mana, dan ia punya urusan yang harus dikerjakan. "Tidak ada pertanyaan lain. Terima kasih," katanya, lalu beranjak meninggalkan teras.

Donnie Cayhall tiba untuk kunjungan terakhir beberapa menit menjelang pukul 18.00. Ia langsung dibawa ke kantor depan, dan mendapati saudaranya yang berpakaian rapi tertawa-tawa bersama Adam Hall. Sam memperkenalkan mereka berdua.

Selama ini Adam dengan hati-hati menghindari adik Sam sampai sekarang. Donnie ternyata bersih dan rapi, terurus dan berpakaian pantas. Ia pun mirip Sam, setelah Sam bercukur, memangkas rambut, dan menanggalkan pakaian terusan merah itu. Tinggi mereka sama, dan meskipun Donnie tidak kegemukan, Sam jauh lebih kurus.

Donnie jelas bukan orang udik seperti yang ditakutkan Adam. Ia benar-benar senang bertemu Adam dan bangga dengan fakta bahwa ia pengacara. Ia laki-laki yang menyenangkan dengan senyum ramah dan gigi bagus, tapi matanya sangat sedih saat ini.

"Bagaimana keadaannya?" ia bertanya sesudah beberapa menit percakapan ringan. Yang ia maksudkan pengajuan banding itu.

"Semuanya ada di Mahkamah Agung."

"Jadi, masih ada harapan?"

Sam mendengus mendengar gagasan ini.

"Sedikit," kata Adam, berserah pada nasib. Mereka terdiam lama ketika Adam dan Donnie mencari bahan pembicaraan yang tidak begitu sensitif. Sam sama sekali tak peduli. Ia duduk tenang di kursi, kaki disilangkan, dan mengepul-ngepulkan rokok. Pikirannya dipenuhi berbagai hal yang tak dapat mereka bayangkan.

"Aku mampir ke Albert hari ini," kata Donnie.

Sam masih menatap lantai. "Bagaimana prostatnya?"

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 95)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.