Minggu, 04 Juni 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 93)

The Chamber: Kamar Gas

Untuk menyibukkan pikiran, Adam menelepon setiap orang yang bisa diingatnya. Ia menelepon Carmen di Berkeley. Ia sedang tidur dan baik-baik saja. Ia menelepon kondominium Lee, dan—tentu saja—tak ada jawaban. Ia menelepon kantor Phelps dan bicara dengan seorang sekretaris. Ia menelepon Darlene untuk memberitahu bahwa ia tidak tahu kapan akan kembali. Ia menelepon nomor pribadi McAllister, tapi terantuk pada sinyal sibuk. Barangkali Goodman juga menjejalinya dengan telepon.

Ia menelepon Sam dan bicara tentang sidang kemarin malam, dengan tekanan khusus pada Pendeta Ralph Griffin. Packer juga memberikan kesaksian, ia menjelaskan, dan hanya mengatakan hal yang sebenarnya. Nugent, seperti biasa, adalah seorang bangsat. Ia mengatakan pada Sam bahwa ia akan ke sana sore hari. Sam memintanya bergegas.

Pukul 11.00, nama Slattery dikutuk dan diumpat dengan kegusaran yang memang pada tempatnya. Adam sudah cukup tinggal di sana. Ia menelepon Goodman dan mengatakan akan pergi ke Parchman. Ia mengucapkan selamat tinggal kepada Kerry, dan sekali lagi mengucapkan terima kasih.

Kemudian ia memacu mobilnya, keluar dari Jackson, menuju ke utara di Highway 49. Parchman akan dicapai dalam dua jam bila ia mengemudi dalam batas kecepatan. Ia menemukan stasiun radio yang menjanjikan berita terbaru dua kali tiap jam, dan mendengarkan diskusi berkepanjangan tentang perjudian kasino di Mississippi. Tak ada apa pun yang baru tentang eksekusi Cayhall pada siaran berita pukul 11.30.

Ia mengemudi dengan kecepatan delapan puluh sampai sembilan puluh mil per jam, melewati garis kuning dan tikungan dan jembatan. Ia melaju melewati zona-zona berbatas kecepatan di kota-kota dan desa-desa kecil. Ia tak tahu pasti apa yang menariknya ke Parchman dengan kecepatan seperti itu. Tak banyak yang bisa ia kerjakan begitu sampai di sana. Manuver-manuver hukum sudah ditinggalkan di Jackson. Ia akan duduk bersama Sam dan menghitung jam. Atau mungkin mereka akan merayakan hadiah luar biasa dari pengadilan federal.

Ia mampir di sebuah toko di tepi jalan dekat kota kecil Flora untuk membeli bensin dan sari buah, dan ketika mengemudi meninggalkan pompa bensin ia mendengar berita itu. Talk show yang membosankan dan tak putus-putusnya sekarang dipenuhi ketegangan ketika ia mendengarkan uraian tentang kasus Cayhall.

Hakim Pengadilan Amerika Serikat, F. Flynn Slattery, baru saja menolak petisi terakhir Cayhall, klaimnya yang menyatakan inkompetensi mental. Urusan itu akan diajukan ke Pengadilan Fifth Circuit dalam satu jam. Sam Cayhall baru saja mengambil satu langkah raksasa menuju kamar gas Mississippi, demikian kata pembawa berita dengan dramatis.

Bukannya menginjak pedal gas, Adam malah mengurangi kecepatan dan meneguk minuman. Ia mematikan radio, membuka jendela membiarkan udara hangat bersirkulasi. Ia mengumpat Slattery sampai bermil-mil, berbicara sia-sia pada kaca depan dan mencaci dengan segala macam cacian kotor.

Sekarang sudah beberapa saat lewat tengah hari. Slattery, dengan segala pertimbangan, seharusnya bisa memutuskan lima jam yang lalu. Sialan, seandainya punya nyali dia bisa mengambil keputusan tadi malam. Mereka tentu sudah bisa berada di depan Pengadilan Fifth Circuit. Adam mengumpat Breck Jefferson juga dengan cukup hebat.

Sam sudah mengatakan padanya sejak awal bahwa Mississippi menginginkan eksekusi. Negara bagian ini sudah ketinggalan di belakang Louisiana, Texas, dan Florida, bahkan Alabama, Georgia, dan Virginia membunuh dalam jumlah lebih besar dan patut dicemburui. Suatu tindakan harus diambil. Pengajuan banding itu tak berujung-pangkal. Para penjahat itu dimanja. Kejahatan merajalela. Sudah saatnya mengeksekusi seseorang dan menunjukkan kepada seluruh negeri bahwa negara bagian ini serius dengan hukum dan ketertiban. Adam akhirnya mempercayainya.

Sesudah beberapa lama ia menghentikan sumpah serapah itu. Ia menghabiskan minuman dan melemparkan botol dari mobil ke dalam selokan, terang-terangan melanggar undang-undang Mississippi tentang pembuangan sampah secara sembarangan. Sulit mengungkapkan pendapatnya sekarang tentang Mississippi dan hukumnya.

Ia bisa membayangkan Sam duduk dalam selnya, menyaksikan televisi, mendengarkan berita.

Hati Adam sakit mengingat orang tua itu. Sebagai pengacara ia telah gagal. Kliennya akan mati di tangan pemerintah, dan tak ada apa pun yang bisa ia kerjakan.

***

Kabar itu menggegerkan pasukan wartawan dan juru kamera yang sekarang merayap-rayap di sekitar Balai Pengunjung yang sempit tepat di dalam gerbang depan. Mereka berkumpul di seputar televisi portabel dan menyaksikan siaran stasiun mereka di Jackson dan Mississippi. Sedikitnya ada empat potong tayangan langsung dari Parchman sementara wartawan lain yang tak terhitung jumlahnya mondar-mandir di daerah itu.

Wilayah mereka yang sempit dibatasi dengan tali dan barikade, serta diawasi ketat oleh pasukan Nugent. Keributan meningkat hebat di sepanjang jalan ketika kabar tersebut menyebar. Orang-orang Klan, sekarang berkekuatan seratus orang, mulai berseru-seru keras ke arah gedung administrasi. Para skinhead, Nazi, dan Arya melontarkan cacian kepada siapa pun yang mendengarkan. Para biarawati dan pemrotes tenang lainnya duduk di bawah payung dan mencoba mengabaikan tetangga mereka yang gaduh.

Sam mendengarkan berita itu ketika ia sedang memegang semangkuk turnip green, makanan terakhir sebelum santapan penghabisan. Ia menatap televisi, menyaksikan adegan-adegan beralih dari Jackson ke Parchman dan kembali lagi. Seorang pengacara muda berkulit hitam yang belum pernah didengarnya bicara dengan seorang reporter dan menjelaskan apa yang akan dilakukannya bersama tim pembela Cayhall selanjutnya.

Temannya, Buster Moac, pernah mengeluh tentang banyaknya pengacara yang terlibat dalam kasusnya pada hari-hari terakhir sampai ia tak bisa lagi mengingat siapa yang ada di pihaknya dan siapa yang mencoba membunuhnya. Namun Sam yakin Adam dalam kendali.

Ia menghabiskan turnip green itu, dan meletakkan mangkuknya di atas nampan di kaki ranjang. Ia berjalan ke jeruji dan mengejek ke wajah kosong penjaga yang mengawasinya dari balik pintu tier. Gang itu sunyi. Televisi di tiap sel menyala, semuanya disetel kecil dan ditonton dengan minat yang tak lazim. Tak ada satu suara pun bisa terdengar, dan keadaan itu sendiri luar biasa langka.

Ia melepaskan pakaian terusan merahnya untuk yang terakhir kali, menggulungnya, dan melemparkannya ke pojok. Ia menendang sepatu mandi karet itu ke bawah ranjang dan takkan pernah melihatnya lagi. Dengan hati-hati ia meletakkan pakaian barunya di atas ranjang, mengaturnya sedemikian rupa, lalu perlahan-lahan membuka kancing kemeja lengan pendek itu dan mengenakannya.

Kemeja itu cocok, ia memasukkan kaki ke dalam celana khaki yang tersetrika kaku, menarik ritsleting, dan mengancingkan pinggangnya. Celana itu dua inci terlalu panjang, maka ia duduk di ranjang dan melipat ujungnya dengan rapi. Kaus kaki katun itu tebal dan nyaman. Sepatunya sedikit terlalu besar tapi cukup pas.

Perasaan memakai pakaian benar-benar membawa kembali memori menyakitkan akan dunia bebas. Ini adalah celana yang ia pakai selama empat puluh tahun, sampai dirinya dipenjarakan. Ia dulu membelinya di toko tua di alun-alun Clanton, selalu menyimpan empat atau lima celana di laci terbawah lemari pakaiannya yang besar. Istrinya menyetrika tanpa kanji, dan sesudah dicuci setengah lusin kali celana itu terasa seperti piama tua. la memakainya untuk bekerja dan ke kota. Ia memakainya dalam perjalanan memancing bersama Eddie, dan ia memakainya ke coffee-shop dan pertemuan lain.

Ia duduk di atas ranjang dan menjepit lipatan tajam di bawah lutut. Sudah sembilan tahun enam bulan sejak terakhir ia memakai celana ini. Rasanya cocok, cuma sekarang ia harus memakainya untuk ke kamar gas.

Celana itu akan dipotong dari tubuhnya, dimasukkan ke dalam tas, dan dibakar.

***

Adam lebih dulu mampir ke kantor Lucas Mann. Louise di gerbang depan memberinya sehelai catatan yang mengatakan itu urusan penting. Mann menutup pintu di belakangnya dan menawarkan tempat duduk. Adam menolak. Ia ingin buru-buru menemui Sam.

"Pengadilan Fifth Circuit menerima pengajuan banding itu tiga puluh menit yang lalu," kata Mann. "Kupikir kau mungkin ingin memakai teleponku untuk menghubungi Jackson."

“Terima kasih. Tapi aku akan pakai telepon di The Row."

"Baiklah. Aku bicara dengan kantor Jaksa Agung tiap setengah jam, jadi kalau dengar sesuatu aku akan meneleponmu."

"Terima kasih." Adam bergerak-gerak resah.

"Apakah Sam ingin santapan terakhir?”

"Akan kutanyakan sebentar lagi."

"Baiklah. Teleponlah aku, atau beritahu saja Packer. Bagaimana dengan saksi?"

“Sam tak menginginkan adanya saksi.”

“Bagairnana denganmu?"

“Tidak. Dia takkan mengizinkannya. Kita sudah menyepakatinya sejak lama."

“Baiklah. Aku tak bisa memikirkan hai lain lagi. Itu punya fax dan telepon, dan segalanya sedikit lebih tenang di sini. Silakan saja kalau kau mau memakai kantorku."

"Terima kasih," kata Adam, melangkah keluar dari kantor. Ia mengemudi perlahan-lahan ke The Row dan parkir untuk terakhir kalinya di halaman tanah di samping pagar. Ia berjalan perlahan-lahan ke menara jaga dan memasukkan kuncinya ke dalam ember.

Empat minggu yang lalu ia berdiri di sana dan menyaksikan ember merah itu turun untuk pertama kalinya, dan ia berpikir betapa sederhana tapi efektifnya sistem kecil ini. Cuma empat minggu! Rasanya seperti sudah bertahun-tahun.

Ia menunggu gerbang ganda itu, dan menemui Tiny di anak tangga.

Sam sudah berada di kantor depan, duduk di tepi meja, mengagumi sepatunya. "Aku baru saja memeriksa pakaian baru ini," katanya bangga ketika Adam masuk.

Adam melangkah mendekat dan memeriksa pakaian tersebut dari sepatu sampai kemeja. Sam bersinar-sinar. Wajahnya tercukur bersin.

“Rapi. Sungguh rapi."

"Aku pesolek biasa, kan?"

"Kau kelihatan bagus, Sam, sungguh bagus. Apakah Donnie membawakan ini semua?"

"Yeah. Dia membelinya di toko obral. Aku sebenarnya ingin memesan pakaian dari desainer di New York, tapi peduli amat. Ini cuma eksekusi. Kukatakan padamu aku takkan membiarkan mereka membunuhku dalam pakaian terusan merah itu. Sudah beberapa saat yang lalu aku melepaskannya, takkan pernah memakainya lagi. Harus kuakui, Adam, rasanya menyenangkan."

"Kau sudah dengar perkembangan terakhir?"

"Tentu. Semuanya ada dalam siaran berita. Maaf tentang sidang itu."

"Petisi itu sekarang ada di Fifth Circuit, dan aku lebih lega. Aku suka dengan peluang kita di sana."

Sam tersenyum dan berpaling, seolah-olah bocah kecil ini sedang menceritakan kebohongan yang tak berbahaya kepada kakeknya. "Siang tadi ada seorang pengacara kulit hitam di televisi yang mengatakan dia bekerja untukku. Apa yang terjadi?"

"Itu mungkin Hez Kerry." Adam meletakkan kopernya di atas meja dan duduk.

"Apakah aku membayarnya juga?"

"Yeah, Sam, kau membayarnya dengan tarif yang sama seperti kau membayarku."

"Sekadar ingin tahu. Dokter sinting itu, siapa namanya—Swinn? Dia pasti bicara banyak tentang diriku."

"Sangat menyedihkan, Sam."

Sam terdengar kuat dan keras, nyaris meriang. Tak ada sedikit pun tanda-tanda ketakutan. "Dengar, aku ingin minta bantuan kecil darimu,” katanya sambil merogoh untuk mengambil satu amplop lain.

“Siapakah orangnya kali ini?"

Sam menyerahkannya kepada Adam. "Aku ingin kau membawa ini ke jalan raya di pinggir gerbang depan, dan aku ingin kau menemui pimpinan gembolan orang Klan di luar sana, dan aku ingin kau membacakan ini kepadanya. Coba kumpulkan kamera untuk merekamnya, sebab aku ingin masyarakat tahu apa bunyi surat itu."

Sam memegangnya dengan curiga. "Apa bunyinya?"

"Ringkas dan to the point. Aku minta mereka semua pulang. Membiarkanku sendiri, sehingga aku mati dengan damai. Aku tak pernah dengar tentang kelompok-kelompok itu, dan mereka mendapatkan banyak perhatian dari kematianku."

“Kau tak bisa membuat mereka menyingkir, kau tahu."

"Aku tahu. Dan aku tak berharap mereka akan pergi. Tapi televisi membuatnya seolah-olah mereka ini teman-teman dan sahabat-sahabatku. Aku tak kenal seorang pun di luar sana."

“Aku tidak yakin kalau ini gagasan yang baik.”

"Mengapa tidak?”

"Sebab saat kita bicara sekarang, kita sedang mengatakan kepada Fifth Circuit bahwa pada dasarnya kau adalah tanaman, tak mampu menyusun pemikiran seperti ini."

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 94)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.