Minggu, 04 Juni 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 92)

 The Chamber: Kamar Gas

"Berapa orang yang sudah pernah Anda ajak bicara? Beri kami beberapa nama."

Apakah itu ketakutan, kegusaran, atau ketidaktahuan, tak seorang pun bisa mengatakannya. Tapi Neldeen diam membeku, la meringis dan menggoyangkan kepala ke satu sisi, jelas berusaha mencabut satu nama dari udara, dan jelas tak mampu melakukannya. Adam membiarkannya tergantung sejenak. Lalu berkata, "Terima kasih, Dr. Stegall.” la berbalik dan berjalan pelan-pelan ke kursinya

"Panggil saksi Anda selanjutnya."

Slattery mengatakan, "Negara memanggil Sersan Clyde Packer."

Packer dijemput dari gang dan dikawal ke depan ruang sidang. Ia masih berseragam tapi pistolnya sudah ditanggalkan. Ia bersumpah untuk mengatakan yang sebenarnya, dan duduk di tempat saksi.

Adam tidak terkejut dengan kesaksian Packer. Ia laki-laki jujur yang sekadar menceritakan apa yang dilihatnya. Ia sudah sembilan setengah tahun mengenal Sam. dan keadaannya sekarang sama dengan saat ia pertama tiba. Ia mengetik surat dan dokumen hukum sepanjang hari, membaca banyak buku, terutama buku-buku hukum. Ia mengetik permohonan peninjauan ulang untuk rekan-rekannya di The Row, dan ia mengetik surat kepada istri dan pacar untuk beberapa orang yang tak bisa membaca, ia terus-menerus merokok, sebab ingin mati dengan sendirinya sebelum negara melakukannya. Ia meminjamkan uang kepada teman-teman. Menurut pendapat Packer yang sederhana, Sam secara mental waras seperti halnya sembilan setengah tahun yang lalu.

Slattery membungkuk lebih dekat ke ujung meja Hakim ketika Packer menceritakan permainan checker Sam melawan Fensbaw dan Gullit.

“Apakah dia menang?" Hakim menyela.

"Hampir selalu.”

Mungkin titik balik sidang itu terjadi ketika Packer bercerita tentang keinginan Sam melihat matahari terbit sebelum ajal. Itu terjadi minggu lalu, ketika suatu pagi Packer sedang bertugas jaga. Sam diam-diam mengajukan permohonan itu. Ia tahu akan mati. Katanya ia siap pergi, dan ingin keluar pagi-pagi ke halaman bermain di ujung timur dan menyaksikan matahari terbit. Jadi, Packer mengurusnya, dan Sabtu kemarin Sam menghabiskan satu jam menghirup kopi dan menunggu matahari terbit. Sesudahnya ia sangat berterima kasih.

Adam tak punya pertanyaan untuk Packer. Ia dipersilakan berlalu dan meninggalkan ruang sidang.

Roxburgh mengumumkan saksi berikutnya adalah Ralph Griffin, pendeta penjara. Griffin dikawal ke tempat saksi dan memandang sekeliling ruang sidang dengan perasaan tak enak. Ia menyebutkan nama dan pekerjaannya, lalu memandang cemas pada Roxburgh.

"Apakah Anda kenal Sam Cayhall?" tanya Roxburgh

"Ya."

"Apakah Anda memberikan konseling kepadanya akhir-akhir ini?"

"Ya."

"Kapan Anda terakhir melihatnya?"

"Kemarin. Minggu."

"Dan bagaimana Anda menjelaskan keadaan mentalnya?"

"Saya tak bisa menjelaskannya."

"Maaf?"

"Saya katakan saya tak bisa menjelaskan kondisi mentalnya."

"Mengapa tidak?"

"Sebab saat ini saya pendetanya, dan apa pun yang dia katakan atau kerjakan di depan saya sepenuhnya rahasia. Saya tak bisa memberikan kesaksian yang memberatkan Mr. Cayhall."

Roxburgh terenyak sejenak, mencoba memutuskan apa yang harus dilakukan selanjutnya. Jelaslah ia ataupun bawahannya yang pandai tak pernah memikirkan situasi ini. Barangkali mereka berasumsi bahwa karena bekerja untuk negara, pendeta ini akan bekerja sama dengan mereka. Griffin bersiaga menunggu serangan dari Roxburgh.

Slattery menyelesaikan persoalan dengan cepat. "Pendapat yang sangat bagus. Mr. Roxburgh. Saksi ini tidak seharusnya berada di sini. Siapa berikutnya?"

“Tidak ada saksi lain." kata sang Jaksa Agung, terburu-buru ingin meninggalkan podium dan kembali ke tempat duduknya.

Hakim menulis sejumlah catatan panjang, lalu memandang ruang sidang yang penuh sesak. "Saya akan membawa urusan ini untuk dipertimbangkan, dan saya akan memberikan keputusan, mungkin besok pagi-pagi. Begitu keputusan siap, kita akan memberitahu para pengacara. Anda tak perlu tinggal di sini. Kami akan menelepon Anda. Sidang dibubarkan."

Semua orang berdiri dan bergegas ke pintu belakang. Adam mengejar Pendeta Ralph Griffin dan mengucapkan terima kasih kepadanya, lalu kembali ke meja tempat Goodman, Hez Kerry, Profesor Glass, dan para mahasiswa sedang menunggu. Mereka berkerumun dan berbisik sampai orang banyak menghilang, lalu meninggalkan ruang sidang itu. Seseorang bicara tentang makanan dan minuman. Saat itu hampir pukul 21.00.

Para reporter sedang menunggu di luar pintu ruang sidang. Adam melontarkan no comment sopan dan terus berjalan. Rollie Wedge menyelinap di belakang Adam dan Goodman sewaktu mereka beringsut melintasi gang yang penuh sesak, lalu menghilang saat mereka meninggalkan gedung.

Dua kelompok kamera sudah siap di luar. Di tangga depan, Roxburgh sedang melayani sekelompok wartawan, dan tak jauh dari trotoar, Gubernur sedang memberikan komentar. Ketika Adam berjalan melewatinya, ia mendengar McAllister mengatakan pemberian pengampunan sedang dipertimbangkan, dan malam ini akan menjadi malam panjang. Esok akan lebih berat lagi. Apakah ia menghadiri eksekusi? tanya seseorang. Adam tak dapat mendengar jawabannya.

***

Mereka bertemu di Hal and Mai's, sebuah restoran dan tempat minum populer di pusat kota, mendapatkan meja besar di sudut depan dan memesan bir. Sekelompok band bermain di belakang. Ruang makan dan bar sesak.

Adam duduk di sudut, di samping Hez, untuk pertama kalinya bersantai setelah berjam- jam. Bir masuk dengan cepat ke perutnya, menenangkannya. Mereka memesan kacang dan nasi, dan berbincang-bincang tentang sidang tadi. Hez mengatakan ia tampil luar biasa, dan para mahasiswa itu penuh dengan pujian. Suasananya optimis. Adam mengucapkan terima kasih atas bantuan mereka. Goodman dan Glass berada di ujung meja itu, tenggelam dalam percakapan tentang kasus hukuman mati lain. Waktu berlalu perlahan-lahan, dan Adam menyerbu santap malamnya begitu disajikan.

"Sekarang mungkin bukan saat yang tepat untuk mengemukakan urusan ini," Hez berbisik, tak ingin siapa pun mendengarnya, kecuali Adam. Band itu makin keras lagi sekarang.

"Kurasa kau akan kembali ke Chicago begitu urusan ini selesai," katanya sambil melirik Goodman, untuk memastikan ia masih terlibat percakapan dengan Glass.

"Kurasa begitu," kata Adam, tidak begitu yakin. Ia tak punya banyak waktu untuk memikirkan apa pun setelah besok. "Nah, asal kau tahu saja, ada lowongan di kantor dan kami mencari pengacara baru. Tak ada tugas lain kecuali menangani kasus hukuman mati, kau tahu."

"Kau benar," kata Adam pelan. "Sekarang saat yang buruk untuk mengemukakannya."

"Pekerjaannya berat, namun memuaskan. Juga meremukkan hati. Dan perlu." Hez mengunyah sepotong sosis dan mengguyurnya dengan bir. "Uangnya sedikit, dibanding dengan apa yang kauterima dari biro hukum sekarang. Anggaran belanja ketat, jam kerja panjang, banyak klien."

"Berapa?"

"Aku bisa mulai memberimu 30.000."

"Saat ini aku mendapat. 62.000. Dan lebih banyak lagi akan menyusul."

“Aku pernah mengalaminya. Aku mendapat 70.000 di sebuah biro hukum besar di D.C., sampai aku berhenti dan datang ke sini. Aku dipersiapkan untuk jadi partner, tapi mudah saja untuk berhenti. Uang bukan segalanya."

"Kau menikmati ini?"

"Lama-kelamaan... ya. Perlu keyakinan moral yang kuat untuk melawan sistem seperti ini. Cobalah kaupertimbangkan."

Goodman sekarang memandang ke arah mereka. "Apa kau akan kembali ke Parchman malam ini?" tanyanya keras. Adam sedang menghabiskan bir kedua. Ia meminum ketiga, tapi tidak lebih. Keletihan mengendap dengan cepat.

~ 47 ~

Nugent menunggu sampai pukul 07.30 tepat untuk menutup pintu dan memulai rapat. Ia berjalan ke depan ruangan, dan memeriksa pasukannya. "Aku baru saja meninggalkan MSU," katanya muram. "Narapidana itu jaga dan waspada, sama sekali bukan mayat hidup seperti yang kita baca di koran pagi ini." Ia berhenti dan tersenyum, mengharapkan setiap orang menikmati humornya. Lelucon itu lewat tak tertangkap.

"Dia bahkan sudah sarapan, dan mengomel meminta waktu rekreasi. Jadi setidaknya ada sesuatu yang normal di sini. Sekarang belum ada kabar dari pengadilan federal, jadi berjalan sesuai jadwal kecuali kita mendengar kabar sebaliknya.

"Pertama adalah pers. Kita akan pindahkan mereka ke Balai Pengunjung tepat di dalam gerbang depan, dan berusaha menahan mereka di sana. Kita akan kurung mereka dengan penjaga, dan tantang mereka untuk berkeliaran. Pukul empat sore ini, saya akan mengundi reporter mana yang bisa menyaksikan eksekusi. Menurut hitungan kemarin, ada seratus nama lebih dalam daftar permintaan. Mereka mendapat lima tempat duduk.

"Masalah kedua adalah apa yang terjadi di luar gerbang. Gubernur sudah setuju menugaskan tiga lusin tentara untuk hari ini dan besok, dan mereka akan sampai ke sini tak lama lagi. Kita harus menjaga jarak dari orang-orang gila itu, terutama para skinhead, bajingan-bajingan itu sinting, tapi kita juga harus menjaga ketertiban. Kemarin terjadi dua perkelahian, dan urusan bisa memburuk cepat seandainya kita tidak mengawasi. Bila eksekusi berlangsung, mungkin akan ada saat-saat tegang. Ada pertanyaan?"

Tak ada satu pertanyaan pun.

"Baiklah. Saya harap setiap orang bertindak profesional hari ini, dan laksanakanlah tugas ini dengan sikap bertanggung jawab. Bubar." Ia memberikan hormat cepat, dan dengan bangga mengawasi mereka meninggalkan ruangan.

***

Sam duduk di bangku dengan papan checker di depannya, dan dengan sabar menunggu J.B. Gullit masuk ke halaman rekreasi. Ia meneguk sisa kopi dingin dalam cangkir.

Gullit melangkah melewati pintu, dan berhenti sementara borgol dilepaskan. Ia menggosok pergelangan tangan, melindungi mata dari matahari, dan memandang temannya duduk seorang diri. Ia berjalan ke bangku dan mengambil posisi di seberang papan. Sam tak pernah mengangkat muka.

"Ada kabar baik, Sam?" Gullit bertanya cemas. "Katakan padaku itu takkan terjadi."

"Jalanlah saja," kata Sam, menatap biji checker.

"Itu tak bisa terjadi, Sam," ia merengek.

"Sekarang giliranmu jalan dulu. Jalanlah."

Gullit perlahan-lahan menurunkan pandangan mata ke papan checker.

***

Teori yang beredar pagi itu mengatakan makin lama Slattery duduk di atas petisi tersebut, makin besar kemungkinan pemberian penangguhan hukuman. Namun ini merupakan kebijaksanaan konvensional dari mereka yang berdoa memohon penangguhan. Tak ada kabar apa pun pada pukul 09.00, tak ada apa pun pada pukul 09.30.

Adam menunggu di kantor Hez Kerry, yang sudah dijadikan pusat operasi selama 24 jam terakhir. Goodman ada di bagian lain kota itu, memimpin serangan tak kenal ampun ke Gubernur, tugas yang kelihatannya sangat dinikmatinya. John Bryan Glass parkir di luar kantor Slattery.

Apabila Slattery menolak penangguhan, mereka akan langsung mengajukan banding ke Pengadilan Fifth Circuit. Naskah banding itu selesai pukul 09.00, berjaga-jaga kalau diperlukan. Kerry juga sudah menyiapkan sebuah petisi meminta peninjauan oleh Mahkamah Agung AS, bila Fifth Circuit menolak mereka. Berkas-berkas itu menunggu. Segalanya menunggu.

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 93)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.