Minggu, 04 Juni 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 91)

 The Chamber: Kamar Gas

Swinn tahu apa yang akan terjadi, dan sedikit pun tidak khawatir. Roxburgh mulai dengan menanyakan siapa yang membayar jasanya, dan berapa yang dimintanya. Swinn mengatakan Kravitz & Bane membayarnya dua ratus dolar per jam. Hebat. Tak ada juri di boks. Slattery tahu bahwa semua ahli dibayar, atau mereka takkan bisa memberikan kesaksian.

Roxburgh mencoba mencari kelemahan kualifikasi profesional Swinn, tapi tidak mendapatkan apa-apa. Laki-laki ini psikiater yang berpendidikan baik, terlatih baik, dan berpengalaman. Jadi, apa salahnya kalau bertahun-tahun yang lalu ia memutuskan bisa mendapatkan uang lebih banyak sebagai saksi ahli. Kualifikasinya tidak memudar. Dan Roxburgh memutuskan takkan berdebat tentang masalah medis dengan seorang dokter.

Pertanyaan-pertanyaan jadi makin aneh ketika Roxburgh mulai menanyakan perkara-perkara lain di mana Swinn memberikan kesaksian. Ada anak yang terbakar dalam kecelakaan mobil di Ohio, dan Swinn memberikan pendapat bahwa anak itu sepenuhnya cacat mental. Tidak terlalu ekstrem.

"Apa tujuan Anda sebenarnya?" Slattery menyela dengan keras.

Roxburgh melihat catatan, lalu berkata, "Yang Mulia, kami mencoba mendiskreditkan saksi ini."

"Saya tahu. Tapi itu takkan ada hasilnya, Mr. Roxburgh. Sidang ini tahu bahwa saksi sudah memberikan kesaksian dalam banyak sidang di seluruh penjuru negeri. Apa maksudnya?"

"Kami mencoba menunjukkan bahwa dia bersedia memberikan opini yang aneh bila uangnya tepat."

"Pengacara melakukan hal itu setiap hari, Mr. Roxburgh."

Terdengar suara tawa sangat pelan di antara penonton, tapi sangat terkendali.

"Saya tak ingin mendengarnya," Slattery membentak. "Sekarang teruskan."

Roxburgh seharusnya duduk, tapi terlalu sayang melewatkan kesempatan itu. Ia pindah ke ladang ranjau berikutnya dan mulai menanyakan pemeriksaan Swinn terhadap Sam. Ia tak mencapai apa pun, Swinn menangkis setiap pertanyaan dengan jawaban lancar yang makin menguatkan kesaksiannya dalam pemeriksaan langsung. Ia banyak mengulangi uraian menyedihkan tentang keadaan Sam Cayhall. Roxburgh tidak mendapatkan angka sama sekali, dan setelah terpukul habis, akhirnya kembali ke tempat duduknya. Swinn dipersilakan meninggalkan tempat saksi.

Saksi selanjutnya, saksi terakhir bagi pihak yang pengajukan petisi, merupakan kejutan, meskipun Slattery sudah menyetujuinya. Adam memanggil E. Garner Goodman ke tempat saksi.

Goodman disumpah, lalu duduk. Adam bertanya mengenai representasi biro hukumnya bagi Sam Cayhall, dan secara ringkas Goodman menguraikan sejarahnya untuk dicatat. Slaterry sudah tahu sebagian besar dari hal itu. Goodman tersenyum ketika teringat usaha Sam untuk memecat Kravitz &Bane.

"Apakah Kravitz & Bane mewakili Mr. Cayhall saat ini?" tanya Adam.

"Benar."

"Dan saat ini Anda berada di Jackson untuk menangani kasus ini?"

"Benar."

"Menurut pendapat Anda, Mr. Goodman, apakah Anda percaya Sam Cayhall sudah menceritakan segalanya tentang pengeboman Kramer kepada pengacaranya?"

"Tidak."

Rollie Wedge menegak sedikit dan mendengarkan dengan penuh perhatian. "Bisakah Anda jelaskan?"

"Tentu. Selama ini ada bukti tak langsung yang menunjukkan ada orang lain bersama Sam Cayhall pada saat pengeboman Kramer, dan pengeboman-pengeboman lain yang mendahuluinya. Mr. Cayhall selalu menolak bicara tentang hal ini dengan saya, pengacaranya, dan bahkan sampai sekarang tidak bersedia bekerja sama dengan pengacaranya. Sudah jelas bahwa pada titik ini, sangatlah penting dia mengungkapkan segalanya kepada pengacaranya. Dia tak mampu melakukannya. Ada beberapa fakta yang harus kami ketahui, namun dia tak mau menceritakannya."

Wedge gelisah dan sekaligus lega. Sam bersikeras, tapi pengacaranya mencoba segala cara.

Adam mengajukan beberapa pertanyaan lain, lalu duduk. Roxburgh cuma mengajukan satu pertanyaan. "Kapan Anda terakhir bicara dengan Mr. Cayhall?"

Goodman sangsi dan memikirkan jawabannya. Terus terang ia tak bisa mengingat secara tepat, kapan hal itu terjadi. "Saya tidak pasti. Sudah dua atau tiga tahun."

"Dua atau tiga tahun? Dan Anda pengacaranya?"

"Saya salah satu pengacaranya. Mr. Hall sekarang pengacara utama dalam kasus ini, dan dia sudah menghabiskan waktu yang tak terhitung banyaknya bersama klien dalam bulan terakhir ini."

Roxburgh duduk, dan Goodman kembali ke tempat duduknya di belakang meja.

"Kami tak punya saksi lain, Yang Mulia," kata Adam.

"Panggil saksi pertama Anda, Mr. Roxburgh," kata Slattery.

"Negara memanggil Kolonel George Nugent," Roxburgh mengumumkan. Nugent ditemukan berada di gang, dan dikawal ke tempat saksi. Kemeja dan celana hijau zaitunnya bebas keratan, sepatunya mengilat. Ia menyatakan siapa dirinya dan apa yang ia kerjakan untuk dicatat. "Saya ada di Parchman satu jam yang lalu," katanya sambil melihat jam tangan. "Baru saja terbang ke sini dengan helikopter milik negara."

"Kapan Anda terakhir melihat Sam Cayhall?" tanya Roxburgh.

"Dia dipindahkan ke Sel Observasi pukul sembilan pagi ini. Saat itu saya bicara dengannya."

"Apakah secara mental dia sadar, atau hanya meneteskan liur di sudut seperti idiot?" Adam akan melompat dan mengajukan keberatan, tapi Goodman memegang lengannya.

"Dia sangat sadar," kata Nugent bersemangat. "Sangat cerdas. Dia bertanya pada saya, mengapa dia dipindahkan dari selnya ke sel lain. Dia menyadari apa yang terjadi. Dia tak menyukainya, tapi Sam memang tak menyukai apa pun akhir-akhir ini."

"Apakah Anda melihatnya kemarin?"

"Ya."

"Dan apakah dia bisa bicara, atau cuma berbaring tak berdaya?"

"Oh, dia cukup banyak bicara."

"Apa yang kalian bicarakan?"

"Saya punya checklist tentang beberapa hal yang perlu saya bahas bersama Sam. Dia sangat memusuhi bahkan mengancam saya dengan kekerasan fisik. Dia orang yang sangat kasar dengan lidah tajam. Setelah dia tenang sedikit, kami bicara tentang santapan terakhirnya, saksi-saksinya, apa yang harus dilakukan dengan barang-barang pribadinya. Beberapa hal seperti itu. Kami bicara tentang eksekusi tersebut."

"Apakah dia sadar dirinya akan dieksekusi?"

Nugent meledak tertawa. "Pertanyaan macam apa itu?"

"Jawab saja," kata Slattery tanpa senyum.

"Tentu saja dia tahu. Dia tahu benar apa yang sedang terjadi. Dia tidak gila. Dia berkata pada saya bahwa eksekusi itu takkan terjadi, sebab pengacara-pengacaranya akan membongkar artileri berat, begitulah istilahnya. Mereka sudah merencanakan semua ini." Nugent mengibaskan kedua tangannya pada seluruh ruang sidang.

Roxburgh bertanya tentang pertemuan-pertemuan sebelumnya dengan Sam, dan Nugent tak menyisakan perincian kecil sekalipun. Rasanya ia ingat setiap patah kata yang diucapkan Sam dalam dua minggu terakhir ini, terutama sarkasme menyengat dan sindiran tajam.

Adam tahu semua itu benar. Ia cepat-cepat mendekat pada Garner Goodman, dan mereka memutuskan membatalkan pemeriksaan silang. Tak banyak yang bisa didapatkan.

Nugent berjalan tegap di gang dan keluar dari ruang sidang. Laki-laki itu punya misi. Ia dibutuhkan di Parchman.

Saksi kedua dari pihak negara adalah Dr. N. Stegall, psikiater pada Department of Corrections. Ia berjalan ke tempat saksi, sementara Roxburgh berunding dengan Morris Henry.

"Harap beritahukan nama Anda untuk dicatat," kata Slattery.

"Dr. N. Stegall."

"Ann?" tanya Hakim.

"Bukan. N. Itu singkatan."

Slattery menatapnya, lalu memandang Roxburgh yang mengangkat pundak, seolah-olah tak tahu apa yang harus diucapkan.

Hakim bergeser lebih dekat ke tepi mejanya dan memandang ke tempat saksi di bawah. "Dengar, Dokter, saya tidak meminta singkatan nama Anda, saya minta nama Anda. Sekarang, tolong Anda sebutkan untuk dicatat, dan kerjakanlah dengan cepat.”

Ia mengalihkan tatapan dari Hakim, berdeham melonggarkan tenggorokan, dan dengan enggan berkata, "Neldeen."

Tak heran, pikir Adam. Mengapa dia tidak mengubahnya dengan nama lain saja?

Roxburgh memanfaatkan saat tersebut dan dengan cepat mengajukan sejumlah pertanyaan tentang kualifikasi dan pendidikannya. Slattery sudah memutuskan bisa memberikan kesaksian.

"Sekarang, Dr. Stegall," Roxburgh mulai, hati-hati menghindari panggilan Neldeen, "kapan Anda bertemu dengan Sam Cayhall?”

Stegall menatap kertas di tangannya. "Kamis tanggal 26 Juli."

"Dan maksud kunjungan ini?"

"Sebagai bagian dari tugas saya, secara rutin saya mengunjungi narapidana penghuni death row, terutama yang akan segera menghadapi eksekusi, Saya memberikan konseling dan pengobatan, bila mereka memintanya."

"Harap jelaskan kondisi mental Mr. Cayhall."

"Sangat waspada, sangat cerdas, sangat tajam lidahnya, nyaris kasar. Bahkan dia sebenarnya cukup kasar pada saya, dan dia minta saya agar tidak kembali."

"Apakah dia bicara tentang eksekusinya?"

"Ya. Dia bahkan tahu cuma punya waktu tiga belas hari lagi, dan menuduh saya mencoba memberinya obat, sehingga dia tidak menimbulkan kesulitan bila saatnya tiba. Dia juga mengungkapkan keprihatinan atas narapidana lain, Randy Dupree, yang menurutnya kondisi mentalnya memburuk. Dia sangat prihatin dengan Mr. Dupree, dan mempersalahkan saya karena tidak memeriksanya."

"Menurut pendapat Anda, apakah dia menderita suatu bentuk penurunan kapasitas mental?"

"Sama sekali tidak. Pikirannya sangat tajam."

“Tidak ada pertanyaan lain," kata Roxburgh, lalu duduk.

Adam berjalan ke podium dengan mantap. "Ceritakanlah pada kami, Dr. Stegall, bagaimana kedaan Randy Dupree?" ia bertanya dengan volume penuh.

"Saya... uh... saya belum punya kesempatan untuk menemuinya."

"Sam menceritakan tentang dia sebelas hari yang lalu, dan Anda sama sekali tak peduli untuk menengoknya?"

"Selama ini saya sibuk."

"Berapa lama Anda sudah memegang jabatan sekarang?"

"Empat tahun."

"Dan selama empat tahun ini, berapa kali Anda bicara dengan Sam Cayhall?"

"Satu kali."

"Anda tidak begitu peduli dengan para narapidana di death row, bukan, Dr. Stegall?"

"Tentu saja saya peduli."

"Ada berapa orangkah di death row sekarang ini?"

"Well... uh... saya tidak pasti. Sekitar empat puluh, saya rasa."

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 92)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.