Sabtu, 03 Juni 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 90)

 The Chamber: Kamar Gas

Kalau bukannya benar-benar jujur, ia tentu aktor yang sangat cakap. Adam tak dapat membedakan. "Apa yang akan dibuktikan negara bila Sam mati?" tanya Adam. "Apakah negara bagian ini akan menjadi tempat yang lebih baik untuk hidup bila matahari terbit pagi hari Rabu dan dia mati? Tidak. Tapi Anda tidak percaya pada hukuman mati.”

“Saya percaya."

"Mengapa?"

"Sebab harus ada hukuman akhir untuk pembunuhan. Tempatkanlah diri Anda pada posisi Ruth Kramer, dan Anda akan merasa berbeda. Masalah Anda, Adam, juga orang-orang seperti diri Anda, adalah karena Anda melupakan korbannya."

"Kita bisa berdebat berjam-jam tentang hukuman mati."

"Anda benar. Mari kita sisihkan hal itu. Apakah Sam sudah menceritakan sesuatu yang baru tentang pengeboman itu?"

"Saya tak bisa mengemukakan apa yang diceritakan Sam. Tapi jawabnya tidak."

"Mungkin dia bertindak sendirian, entahlah."

"Apa bedanya saat ini, sehari sebelum eksekusi?"

"Saya tidak tahu pasti, terus terang. Tapi bila saya tahu Sam cuma pembantu, dan ada orang lain yang bertanggung jawab atas pembunuhan itu, mustahil saya membiarkan dia dieksekusi. Saya bisa menghentikannya, Anda tahu. Saya bisa melakukannya. Saya akan menempuh kesulitan apa pun untuk itu. Secara politis, itu mungkin akan merugikan saya. Kerusakannya bisa tak terpulihkan, tapi saya tidak keberatan. Saya bosan dengan politik. Dan saya tidak menikmati ditempatkan sebagai posisi pemberi dan pencabut nyawa. Tapi saya bisa mengampuni Sam, kalau saya tahu yang sebenarnya."

"Anda yakin dia mendapat pertolongan. Anda sudah mengatakannya pada saya. Agen FBI yang bertanggung jawab dalam penyelidikan juga yakin demikian. Mengapa Anda tidak bertindak atas keyakinan Anda dan memberikan pengampunan?"

"Sebab kami tidak pasti."

"Jadi, sepatah kata dari Sam, cuma satu nama diungkapkan pada jam-jam terakhir, dan—bingo, Anda mengambil pena dan menyelamatkan nyawanya?"

"Tidak, tapi mungkin saya bisa memberikan penangguhan hukuman, sehingga nama itu bisa diselidiki.”

“Itu takkan terjadi, Pak Gubernur. Saya sudah mencoba. Saya sudah begitu sering menanyakan dan dia menyangkal, sampai hal itu tak panah lagi dibicarakan."

"Siapa yang dia lindungi?"

"Kalau saja saya tahu."

"Barangkali kita keliru. Pernahkah dia memberi Anda perincian pengeboman itu?"

"Sekali lagi, saya tak bisa membicarakan percakapan kami. Tapi dia memikul tanggung jawab sepenuhnya."

"Kalau begitu, mengapa saya harus mempertimbangkan pemberian pengampunan? Kalau si pelaku kejahatan sendiri menyatakan melakukannya dan bertindak sendirian, bagaimana saya bisa menolongnya?"

“Tolonglah dia, sebab dia orang tua yang tak lama lagi tentu akan mati juga. Tolonglah dia, sebab itulah tindakan yang benar, dan jauh di dalam hati Anda ingin melakukannya. Itu butuh keberanian."

"Dia membenci saya, bukan?"

"Ya. Tapi dia bisa berubah pendapat. Beri dia pengampunan dan dia akan jadi pengagum Anda yang paling hebat."

McAllister tersenyum dan membuka bungkus permen. "Apakah dia benar-benar tidak waras?"

"Ahli kami mengatakan demikian. Kami akan berusaha sebaik mungkin untuk meyakinkan Hakim Slattery."

"Saya tahu, tapi benarkah? Anda sudah menghabiskan waktu berjam-jam bersamanya. Apakah dia tahu apa yang sedang terjadi?"

Pada titik ini, Adam memutuskan menyisihkan kejujuran. McAllister bukan sahabat, dan tak bisa sepenuhnya dipercaya. "Dia sangat sedih," Adam mengaku. "Terus terang, saya heran kalau orang bisa mempertahankan kewarasan sesudah beberapa bulan di death row. Sam sudah lama masuk ke sana, dan kondisinya perlahan-lahan memburuk. Itulah salah satu alasan dia menolak semua wawancara. Dia sungguh mengundang kasihan."

Adam tidak tahu apakah Gubernur mempercayai ucapan ini, tapi yang pasti menyerapnya.

"Bagaimana jadwal Anda besok?" tanya McAllister.

"Entahlah. Tergantung apa yang terjadi di pengadilan Slattery. Saya merencanakan melewatkan sebagian besar hari itu bersama Sam, tapi mungkin juga berlarian mengajukan dalih detik terakhir."

"Saya sudah memberikan nomor pribadi saya. Mari saling menghubungi besok."

***

Sam makan tiga suap kacang pinto dan sebagian roti jagung, lalu meletakkan nampan di ujung ranjang. Penjaga idiot yang sama dengan wajah kosong mengawasinya melalui jeruji pintu tier itu. Hidup sudah cukup buruk dalam sangkar-sangkar sempit berjejalan ini, tapi hidup seperti binatang dan diawasi terus sungguh tak tertahankan rasanya.

Saat itu pukul 18.00, saat siaran berita malam. Ia sangat ingin mendengar apa yang dikatakan dunia tentang dirinya. Stasiun Jackson mulai dengan mengungkapkan berita sidang pemeriksaan menit terakhir oleh Hakim Federal F. Flynn Slattery. Laporan itu dipotong sampai ke depan gedung pengadilan federal Jackson, tempat seorang laki-laki muda penuh semangat dengan sebuah mikrofon menerangkan sidang itu tertunda sedikit sementara para pengacara berdebat dalam kantor Slattery.

Ia mencoba sebaik mungkin untuk menjelaskan secara ringkas pokok persoalannya. Pembela sekarang menyatakan Mr. Cayhall tidak memiliki kapasitas mental yang memadai untuk memahami mengapa dirinya dieksekusi. Dalih pembelaan itu menyatakan ia sudah pikun dan gila, sehingga dibutuhkan seorang psikiater terkemuka dalam usaha terakhir untuk menghentikan eksekusi. Sidang itu diharapkan akan dimulai setiap saat, dan tak seorang pun tahu kapan keputusan bisa diambil oleh Hakim Slattery.

Kembali ke wanita pembawa berita, yang mengatakan bahwa, sementara itu, di penjara negara di Parchman, seluruh sistem sudah siaga untuk melaksanakan eksekusi. Seorang lelaki muda lain dengan mikrofon sekonyong-konyong muncul di layar, berdiri di suatu tempat dekat gerbang depan penjara, menjelaskan peningkatan penjagaan keamanan. Ia menunjuk ke kanan, dan kamera menyorot ke daerah di dekat jalan raya tempat karnaval seperti biasanya.

Polisi patroli jalan raya dengan kekuatan penuh, mengarahkan lalu lintas dan mengawasi dengan mata waspada satu gerombolan yang terdiri atas beberapa lusin anggota Klu Klux Klan. Pemrotes-pemrotes lain, termasuk berbagai kelompok pengagung keunggulan ras putih dan abolisionis hukuman mati, demikian katanya.

Kamera berayun kembali ke reporter itu, yang sekarang berdiri bersama Kolonel George Nugent, orang yang bertindak sebagai kepala penjara Parchman dan bertanggung jawab atas eksekusi itu. Nugent dengan muram menjawab beberapa pertanyaan, mengatakan segalanya terkendali, dan bila pengadilan memberi lampu hijau, eksekusi itu akan dilaksanakan menurut undang-undang.

Sam mematikan televisi. Dua jam sebelumnya Adam sudah menelepon dan menjelaskan sidang tersebut, jadi ia siap mendengar bahwa dirinya sudah pikun dan gila serta hanya Tuhan yang tahu entah apa lagi. Namun ia tak menyukainya. Menunggu dieksekusi sudah cukup mengerikan, tapi mendengar kewarasannya dibicarakan dengan begitu enteng serasa bagaikan pelanggaran keji atas privasi.

Tier itu panas dan sepi. Televisi dan radio dikecilkan. Di sampingnya, Preacher Boy dengan pelan menyanyikan The Old Rugged Cross dan kedengaran cukup menyenangkan.

Di lantai dekat dinding tertumpuk pakaian barunya—kemeja katun putih polos, celana Dickies, kaus kaki putih, dan sepasang pantofel cokelat. Siang itu Donnie melewatkan satu jam bersamanya.

Ia mematikan lampu dan bersantai di ranjang.

Tiga puluh jam lagi untuk hidup.

***

Ruang sidang utama di gedung federal itu penuh sesak ketika Slattery akhirnya membebaskan para pengacara dari ruangannya untuk ketiga kalinya. Perdebatan terakhir dari serangkaian perdebatan panas yang berlarut-larut hampir sepanjang siang. Sekarang sudah hampir pukul tujuh.

Mereka berduyun-duyun ke ruang sidang dan mengambil tempat di belakang meja yang sudah ditetapkan. Adam duduk bersama Garner Goodman. Pada sederet kursi di belakang mereka duduk Hez Kerry, John Bryan Glass, dan tiga mahasiswa hukumnya. Roxburgh, Morris Henry, dan setengah lusin asisten berkerumun di sekitar meja untuk pihak negara bagian. Dua deret di belakang mereka, di belakang jerjak, duduklah sang Gubernur bersama Mona Stark di satu sisi dan Larramore di sisi lain.

Sisa kerumunan orang banyak itu terutama wartawan—kamera tidak diizinkan di sana. Ada beberapa penonton yang ingin tahu, mahasiswa hukum, dan pengacara-pengacara lain. Sidang itu terbuka untuk umum. Di deretan belakang, memakai jas Sport dan dasi yang gaya, duduklah Rollie Wedge.

Slattery keluar dan semua orang berdiri.

"Silakan duduk," katanya ke mikrofon. "Uhm, catat," katanya kepada notulis pengadilan. Ia memberikan ulasan ringkas mengenai petisi itu, undang-undang yang dipakai, lalu menguraikan parameter sidang tersebut. Ia tidak berminat mendengarkan argumentasi berkepanjangan dan pertanyaan-pertanyaan tanpa tujuan, jadi bekerjalah dengan cepat, katanya kepada para pengacara.

"Apakah pihak yang mengajukan petisi sudah siap?" ia bertanya ke arah Adam.

Adam berdiri gelisah dan berkata, "Ya, Sir. Pihak pengaju petisi memanggil Dr. Anson Swinn."

Swinn berdiri dari deretan pertama dan berjalan ke podium saksi; di situ ia disumpah. Adam berjalan ke podium di tengah ruang sidang, memegang catatan dan menabahkan diri. Catatannya terketik rapi, hasil riset dan persiapan sempurna oleh Hez Kerry dan John Bryan Glass. Mereka berdua, bersama staf Kerry, telah mencurahkan sehari itu untuk Sam Cayhall dan sidang ini. Dan mereka siap bekerja sepanjang malam dan sepanjang hari besok.

Adam mulai mengajukan beberapa pertanyaan pokok pada Swinn tentang pendidikan dan trainingnya. Jawaban Swinn diwarnai aksen tegas dari daerah upper Midwest, dan itu bagus. Seorang ahli harus bicara dengan cara berbeda dan bepergian menempuh jarak jauh agar dipandang tinggi. Dengan rambut hitam, jenggot hitam, kacamata hitam, dan setelan jas hitam, ia benar-benar menunjukkan penampilan seorang master brilian di bidangnya.

Pertanyaan-pertanyaan pendahuluan itu pendek dan to the point, tapi cuma karena Slattery sudah memeriksa kualifikasi Swinn dan memutuskan ia bisa memberikan kesaksian sebagai ahli. Pihak negara bagian bisa menyerang surat mandatnya pada pemeriksaan silang, tapi kesaksian itu tetap akan dicatat.

Dengan Adam memimpin jalan, Swinn bicara tentang pertemuannya selama dua jam dengan Sam Cayhall hari Selasa lalu. Ia menguraikan kondisi fisiknya dan melakukannya sedemikian rupa, sehingga Sam kedengaran seperti mayat. Kemungkinan besar ia gila, meskipun kegilaan di sini merupakan istilah hukum, bukan istilah medis. Ia bahkan mengalami kesulitan dalam menjawab pertanyaan sederhana seperti: Apa yang kaumakan untuk sarapan pagi? Siapa yang ada di sel di sampingmu? Kapan istrimu meninggal? Siapa pengacaramu pada sidang pertama? Dan seterusnya, dan seterusnya.

Swinn dengan sangat hati-hati menutupi jejak dengan berkali-kali mengatakan kepada pengadilan bahwa dua jam sama sekali tidak cukup untuk memberikan diagnosis mendalam terhadap Mr. Sam Cayhall. Dibutuhkan lebih banyak waktu untuk itu.

Menurut pendapatnya, Sam Cayhall tidak memahami fakta bahwa ia akan mati, tidak mengerti mengapa ia dieksekusi, dan sama sekali tak menyadari dihukum karena suatu kejahatan. Swinn benar-benar meyakinkan. Mr. Cayhall sepenuhnya tenang dan santai, tak tahu apa pun tentang nasibnya, menghabiskan hari-harinya dengan percuma dalam sel dua kali tiga meter, cukup menyedihkan.

Dalam situasi berbeda, Adam tentu ngeri mengajukan saksi yang jelas penuh kebohongan seperti itu. Namun saat ini ia bangga luar biasa akan laki-laki kecil yang aneh ini. Nyawa seorang manusialah yang jadi taruhan.

Flattery takkan memotong kesaksian Dr. Swinn. Kasus ini akan langsung diperiksa Pengadilan Fifth Circuit dan mungkin Mahkamah Agung AS, dan ia tak ingin siapa pun di atas salah mengerti tentang dirinya. Jadi, dengan keleluasaan yang diberikan sidang, Swinn melontarkan hal-hal yang kemungkinan besar menjadi penyebab masalah Sam.

Ia menguraikan kengerian hidup dalam sel selama 23 jam sehari; tahu bahwa kamar gas cuma berjarak selemparan batu; tak punya hak untuk ditemani, mendapat makanan yang baik, seks, keleluasaan bergerak, latihan, udara segar. Ia sudah banyak menangani terpidana mati di seluruh penjuru negeri dan tahu betul masalah mereka. Sam, tentu saja, jauh berbeda karena usianya. Usia rata-rata terpidana mati adalah 31 tahun, dan biasanya mereka melewatkan empat tahun menunggu kematian. Sam umur enam puluh tahun ketika pertama kali tiba di Parchman. Secara fisik dan mental, ia tidak tahan dengan itu. Tak terhindarkan lagi kondisinya memburuk.

Selama 45 menit Swinn diperiksa langsung oleh Adam. Ketika kehabisan pertanyaan, Adam duduk. Steve Roxburgh melangkah ke podium dan menatap Swinn.

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 91)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.