Sabtu, 03 Juni 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 89)

The Chamber: Kamar Gas

Kalau kantor Slattery sibuk, kantor Jaksa Agung sepenuhnya kacau. Roxburgh terjingkrak-jingkrak mendengar kabar bahwa salah saru tembakan asal-asalan Cayhall telah mengenai sasaran. Sepuluh tahun bergulat melawan beruang-beruang ini, naik-turun mendaki jenjang pengadilan, keluar-masuk ruang sidang, bertempur melawan hasil pemikiran hukum kreatif dari ACLU dan lembaga serupa, memproduksi cukup banyak dokumen untuk menghancurkan hutan tropis, dan tepat ketika kau melihatnya dalam sasaran, ia mengajukan satu ton dalih terakhir dan salah satunya mendapatkan perhatian seorang hakim yang hatinya kebetulan sedang lembut entah di mana.

Ia menghambur menyusuri gang ke kantor Morris Henry, Dr. Death sendiri, dan mereka berdua dengan tergesa-gesa mengumpulkan tim terbaik mereka dalam hukum pidana. Mereka berkumpul dalam perpustakaan besar dengan berderet-deret dan bertumpuk-tumpuk buku terbaru. Mereka meninjau petisi Cayhall dan undang-undang yang bisa diterapkan, serta menyusun strategi.

Dibutuhkan beberapa saksi. Siapa yang pernah menemui Cayhall pada bulan terakhir? Siapa yang bisa memberi kesaksian tentang hal-hal yang ia ucapkan dan perbuat? Sudah tak ada waktu lagi bagi dokter-dokter mereka untuk memeriksanya. Ia punya dokter, sedangkan mereka tidak. Ini masalah yang signifikan. Untuk membuktikan kewarasannya dengan dokter yang bereputasi, negara akan terpaksa minta waktu. Dan waktu berarti penundaan eksekusi. Penundaan tak mungkin diberikan.

Para penjaga melihatnya setiap hari. Siapa lagi? Roxburgh menelepon Lucas Mann, yang menyarankan agar ia bicara dengan Kolonel Nugent. Nugent mengatakan baru menemui Sam beberapa jam sebelumnya, dan... ya, tentu ia akan senang memberikan kesaksian. Bangsat itu tidak gila. Dia cuma jahat. Sersan Packer melihatnya setiap hari. Psikiater penjara, Dr. N. Stegall, sudah menemui Sam, dan ia bisa bersaksi. Nugent sangat bersemangat untuk membantu. Ia juga mengusulkan pendeta penjara. Dan ia akan memikirkan lainnya.

Morris Henry menugaskan satu regu pasukan tempur beranggotakan empat pengacara untuk tidak melakukan apa pun kecuali mencari-cari kelemahan Dr. Anson Swinn. Temukan kasus-kasus lain di mana ia pernah terlibat. Bicaralah dengan pengacara-pengacara lain di seluruh penjuru negeri. Cari transkrip kesaksiannya. Orang itu bukan apa-apa kecuali orang sewaan, saksi profesional. Cari bahan-bahan untuk mendiskreditkannya.

Begitu selesai mengatur rencana penyerangan dan orang lain melaksanakan pekerjaannya, Roxburgh naik lift ke lobi gedung itu untuk bicara dengan pers.

***

Adam parkir di tempat kosong di halaman gedung kapitol negara bagian. Goodman sedang menunggu di bawah pohon peneduh dengan jas terlepas dan lengan kemeja tergulung, dasi kupunya sempurna. Adam cepat-cepat memperkenalkan Carmen kepada Mr. Goodman.

"Gubernur ingin menemuimu pukul dua. Aku baru saja meninggalkan kantornya, untuk ketiga kalinya pagi ini. Mari jalan ke tempat kita," katanya, melambaikan tangan ke arah pusat kota. "Jaraknya cuma beberapa blok."

"Apakah kau menemui Sam?" Goodman menanyai Carmen.

"Ya. Pagi ini."

“Aku senang kau melakukannya."

"Apa yang sedang dipikirkan Gubernur?" tanya Adam. Semua ini terlalu lamban baginya. Tenang, katanya pada diri sendiri. Tenang saja.

"Siapa tahu? Dia ingin bertemu denganmu secara pribadi. Barangkali analisis pasar itu mempengaruhinya. Mungkin dia merencanakan akrobat untuk media. Mungkin dia sungguh-sungguh. Aku tak dapat menebak apa-apa. Tapi dia kelihatan letih."

"Telepon-telepon itu berhasil?"

"Luar biasa."

"Tak ada yang curiga?"

"Belum. Terus terang, kita menyerang mereka begitu cepat dan keras, sehingga aku sangsi mereka punya waktu untuk melacak telepon-telepon itu."

Carmen melantarkan pandangan kosong pada kakaknya yang terlalu sibuk dengan pikiran sendiri untuk melihatnya.

"Apa kabar terakhir dari Slattery?" tanya Adam ketika mereka menyeberangi jalan, berhenti sejenak tanpa bicara untuk melihat demonstrasi yang tengah berlangsung di tangga depan gedung kapitol.

"Tak ada apa-apa sejak pukul sepuluh pagi ini. Paniteranya meneleponmu di Memphis, dan sekretarismu memberikan nomorku di sini. Begitulah mereka menemukanku. Dia menceritakan sidang itu, dan mengatakan Slattery ingin para pengacara berkumpul di ruang hakim pada pukul tiga untuk menyusun rencana."

"Apa arti semua ini?" tanya Adam, sangat berharap gurunya mengatakan mereka berada di tepi kemenangan besar.

Goodman merasakan keresahan Adam. "Terus terang aku tidak tahu. Ini kabar baik, tapi tak seorang pun tahu sampai sejauh mana akan bertahan. Sidang pada tahap ini bukan sesuatu yang luar biasa."

Mereka menyeberangi jalan lain dan memasuki gedung itu. Di lantai atas, kantor sementara ini berdengung sibuk sementara empat mahasiswa hukum bicara pada telepon cordless. Dua duduk dengan kaki di meja. Satu berdiri di depan jendela dan bicara dengan serius. Satu sedang mondar-mandir di dinding seberang dengan telepon tertempel di telinga. Adam berdiri di samping pintu, mencoba menyerap pemandangan itu. Carmen sepenuhnya bingung.

Goodman menjelaskan segalanya dengan bisikan keras. "Kami rata-rata menelepon enam puluh kali sejam. Kami memutar lebih dari itu, tapi salurannya jelas penuh terus-menerus. Kami bertanggung jawab atas kemacetan itu, dan ini mencegah telepon orang lain masuk ke sana. Pada akhir pekan kegiatan lebih lambat. Hotline itu cuma memakai satu operator.” Ia menyampaikan laporan ringkas ini bagaikan manajer pabrik yang bangga memamerkan mesin otomatis model terakhir.

"Siapa yang mereka telepon?" tanya Carmen. Seorang mahasiswa melangkah ke depan dan memperkenalkan diri pada Adam kemudian pada Carmen. Ia sedang bersenang-senang, katanya.

"Kalian mau makan?" tanya Goodman. "Kami punya sandwich."

Adam menolak.

"Siapa yang mereka telepon?" Carmen bertanya lagi.

"Telepon hotline Gubernur," Adam menjawab tanpa memberikan penjelasan. Mereka mendengarkan penelepon terdekat ketika ia mengubah suara dan membaca sebuah nama dari daftar telepon. Ia sekarang menjadi Benny Chase dari Hickory Flat, Mississippi; ia memberikan suara untuk Gubernur dan berpendapat bahwa Sam Cayhall tidak seharusnya dieksekusi. Sudah tiba saatnya Gubernur melangkah ke depan dan menangani situasi ini.

Carmen melontarkan pandangan pada kakaknya, namun Adam tak menghiraukan.

"Mereka berempat mahasiswa hukum di Mississippi College," Goodman menerangkan lebih jauh. "Sejak Jumat kami sudah memakai kira-kira selusin mahasiswa berlainan usia, hitam dan putih, laki-laki dan perempuan. Profesor Glass yang paling membantu menemukan orang-orang ini. Dia juga menelepon. Begitu pula Hez Kerry dan anak buahnya di Defense Group. Sedikitnya kami punya dua puluh orang untuk menelepon."

Mereka menarik tiga kursi ke ujung sebuah meja dan duduk. Goodman mengambil minuman ringan dari kotak pendingin dan meletakkannya di meja. Ia meneruskan bicara dengan suara rendah.

"John Bryan sedang melakukan riset sewaktu kita bicara. Dia akan menyiapkan makalah pukul empat nanti. Hez Kerry juga sedang bekerja. Dia sedang menghubungi rekan-rekan lain di negara bagian yang masih memberlakukan hukuman mati, memeriksa apakah undang-undang yang sama pernah digunakan baru-baru ini."

"Kerry orang kulit hitam itu?" tanya Adam.

"Yeah, dia direktur Southern Capital Defense Group. Sangat cerdas."

"Seorang pengacara kulit hitam bekerja jungkir balik untuk menyelamatkan Sam."

"Bagi Hez, itu tak ada bedanya. Ini cuma kasus hukuman mati lainnya."

"Aku ingin menemuinya."

"Kau akan bertemu dengannya. Semua orang ini akan hadir dalam sidang."

"Dan mereka bekerja cuma-cuma?" tanya Carmen.

"Kurang-lebih. Kerry digaji. Sebagian pekerjaannya adalah memantau setiap kasus hukuman mati di negara bagian ini, tapi karena Sam punya pengacara sendiri, Kerry tidak terlibat langsung. Dia menyumbangkan waktunya, sebab dia memang ingin melakukan ini. Profesor Class digaji oleh sekolah hukum, tapi ini pasti di luar lingkup tugasnya di sana. Kami membayar mahasiswa-mahasiswi ini lima dolar sejam."

"Siapa yang membayar mereka?" tanya Adam.

"Kravitz & Bane tercinta."

Adam meraih buku telepon terdekat. "Carmen harus memesan tiket pesawat untuk sore ini." katanya sambil membalik-balik halaman kuning.

"Akan kuurus," kata Goodman, mengambil buku telepon itu. "Mau ke mana?"

"San Francisco."

"Akan kulihat apa yang tersedia. Dengar, ada dek kecil di pojok sana. Mengapa kalian berdua tidak makan di sana? Kita akan jalan ke kantor Gubernur pukul dua."

"Aku perlu pergi ke perpustakaan," kata Adam, melihat jam tangan. Saat itu hampir pukul 13.00.

"Pergilah makan, Adam. Dan cobalah santai. Kita punya waktu nanti untuk duduk mengumpulkan gagasan dan membicarakan strategi. Saat ini kau perlu menenangkan diri dan makan."

"Aku lapar," kata Carmen, gelisah ingin sendirian bersama kakaknya selama beberapa menit. Mereka keluar dari ruangan dan menutup pintu.

Carmen menghentikan Adam di gang yang jorok sebelum mereka sampai ke tangga. “Tolong jelaskan padaku," ia mendesak, memegang lengan Adam.

"Apa?"

"Ruangan sempit di sana."

"Cukup jelas, kan?"

"Apakah itu legal?"

"Itu tidak ilegal." Adam menela napas dalam dan menatap dinding.

"Apa yang mereka rencanakan pada Sam?"

"Mengeksekusinya. Eksekusi, gas, exterminate, membunuh. Sebut apa saja semaumu. Tapi itu pembunuhan, Carmen. Pembunuhan legal. Itu keliru, dan aku berusaha menghentikannya. Itu pekerjaan busuk, dan kalau aku harus membengkokkan sedikit etika, aku tak peduli."

"Itu busuk."

"Begitu juga kamar gas itu."

Carmen menggelengkan kepala dan menahan ucapannya. Dua puluh empat jam yang lalu ia menikmati makan siang bersama pacarnya di sebuah kafe di San Francisco. Sekarang ia tak tahu pasti di mana dirinya.

"Jangan menyalahkan aku karena ini, Carmen. Sekarang saat-saat genting."

"Oke," katanya, dan beranjak ke tangga.

***

Gubernur dan pengacara muda itu sendirian dalam kantor yang luas, duduk di kursi nyaman berjok kulit, kaki disilangkan, dan ujungnya nyaris bersentuhan. Goodman mengantar Carmen ke bandara, mengejar penerbangan. Mona Stark tidak terlihat di sana

"Rasanya aneh, Anda tahu? Anda cucunya dan baru mengenalnya kurang dari sebulan." Kata-kata McAllister tenang, nyaris letih.

"Tapi saya sudah bertahun-tahun mengenalnya. Dia sudah menjadi bagian kehidupan saya dalam jangka panjang. Dan saya pikir sudah lama saya menunggu-nunggu datangnya hari ini.

“Selama ini saya menginginkannya, Anda tahu, agar dia dihukum karena membunuh anak-anak itu." Ia menyisihkan poninya dan pelan-pelan menggosok mata. Kata-katanya begitu tulus, bagaikan dua sahabat lama yang sedang bertemu untuk bertukar gosip. "Tapi sekarang saya tidak pasti. Harus saya katakan pada Anda, Adam, urusan ini menimbulkan tekanan berat pada saya."

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 90)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.