Sabtu, 03 Juni 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 88)

The Chamber: Kamar Gas

"Itu dia." Adam mendadak menunjuk ke depan. Di kedua sisi jalan raya, mobil-mobil diparkir dengan bumper berhadapan. Lalu lintas berjalan lambat, sementara orang-orang berjalan ke arah penjara.

"Apakah semua ini?" tanya Carmen.

"Ini sirkus."

Mereka melewati tiga anggota Klan yang sedang berjalan di tepi trotoar. Carmen menatap mereka, lalu menggelengkan kepala tercengang. Mereka beringsut ke depan, melaju sedikit lebih cepat daripada orang-orang yang bergegas menghadiri demonstrasi. Di tengah jalan raya di depan pintu masuk, dua polisi negara bagian mengarahkan lalu lintas. Mereka memberi tanda kepada Adam agar berbelok ke kanan, dan Adam menurut.

Mereka bergandengan tangan dan berjalan ke gerbang depan, berhenti sejenak untuk melihat orang Klan berjubah yang ramai di depan penjara. Pidato berapi-api disiarkan dengan megafon yang setiap beberapa detik tidak berfungsi dengan benar. Satu kelompok bersetelan cokelat berdiri dengan pundak saling merapat, memegang poster, dan menghadap ke jalan raya. Tak kurang dari lima van televisi diparkir di seberang jalan raya. Kamera ada di mana-mana. Sebuah helikopter peliput berita berputar-putar di atas.

Di gerbang depan, Adam memperkenalkan Carmen kepada teman barunya, Louise, penjaga yang mengurus izin masuk. Ia cemas dan resah. Ada satu-dua perselisihan seru antara orang-orang Klan, pers, dan penjaga. Segalanya gaduh saat itu, dan menurutnya hal itu takkan membaik.

Seorang penjaga berseragam mengawal mereka ke mobil van penjara, dan mereka bergegas meninggalkan gerbang depan. "Sungguh sulit dipercaya," kata Carmen.

"Makin buruk saja setiap hari. Tunggulah sampai besok."

Mobil van itu mengurangi kecepatan saat menyusuri jalan utama, di bawah naungan pepohonan, di depan rumah-rumah putih yang rapi itu. Carmen mengawasi segalanya.

"Ini tidak kelihatan penjara," katanya.

“Ini tanah pertanian. Tujuh belas ribu ekar. Pegawai penjara tinggal di rumah-rumah itu."

"Bersama anak-anak," katanya sambil melihat sepeda dan skuter yang bergeletakan di halaman depan. "Sungguh damai. Di mana tahanannya?"

"Tunggu saja."

Van itu berbelok ke kiri. Lapisan batu habis dan jalan tanah mulai. Tepat di depannya adalah The Row.

"Kaulihat menara-menara di sana?" Adam menunjuk. "Pagar dan kawat duri?"

Carmen mengangguk.

"Itulah Maximum Security Unit. Rumah Sam selama sembilan setengah tahun terakhir."

"Di mana kamar gasnya?"

"Di dalam sana."

Dua penjaga melihat ke dalam van, lalu memberi tanda agar melewati gerbang ganda. Van itu berhenti dekat pintu depan, tempat Packer sedang menunggu. Adam memperkenalkannya kepada Carmen, saat ini nyaris tak bisa bicara. Mereka berhenti di dalam; Packer menggeledah mereka dengan lembut. Tiga penjaga lain mengawasi.

"Sam sudah di dalam sana," kata Packer sambil mengangguk ke kantor depan. "Masuklah."

Adam menggandeng tangan adiknya dan menggenggamnya dengan erat. Carmen mengangguk dan mereka berjalan ke pintu. Adam membukanya.

***

Sam sedang duduk di tepi meja, seperti biasa. Kakinya berayun-ayun di bawah, ia tidak merokok.

Udara dalam ruangan itu bersih dan sejuk. Ia melirik Adam, lalu memandang Carmen.

Carmen melepaskan tangan Adam dan berjalan ke meja, memandang langsung ke mata Sam, "Aku Carmen," katanya lembut.

Sam turun dari meja. "Aku Sam, Carmen. Kakekmu yang sesat." Ia menarik Carmen ke dekatnya dan mereka berpelukan.

Adam butuh satu-dua detik untuk menyadari Sam telah mencukur jenggotnya, rambutnya lebih pendek dan tampak jauh lebih rapi. Pakaian terusannya dikancingkan sampai ke leher.

Sam memegang pundak Carmen dan mengamati wajahnya. "Kau secantik ibumu," katanya parau. Matanya berkaca-kaca dan Carmen bergulat menahan air mata.

"Kau kelihatan hebat," katanya.

"Jangan mulai berbohong, Carmen," kata Adam, memecahkan kekakuan. "Dan mari berhenti menangis sebelum keadaan jadi tak terkendali."

"Duduklah," kata Sam kepadanya sambil menunjuk ke sebuah kursi. Ia duduk di samping Carmen, memegang tangannya.

"Urusan bisnis dulu, Sam," kata Adam sambil bersandar pada meja. "Fifth Circuit baru saja menolak permohonan kita pagi ini. Jadi, kita lepas ke padang yang lebih hijau."

"Kakakmu ini sungguh pengacara yang hebat,"  kata Sam pada Carmen. "Dia membawakan kabar yang sama untukku setiap hari."

“Tentu saja, tak banyak yang bisa kukerjakan," kata Adam.

"Bagaimana keadaan ibumu?" tanya Sam.

"Dia baik-baik saja."

"Katakan padanya aku menanyakannya. Aku mengingatnya sebagai orang yang baik."

"Akan kusampaikan."

"Ada kabar dari Lee?" Sam bertanya pada Adam.

“Tidak. Apakah kau ingin menemuinya?"

"Kurasa begitu. Tapi kalau dia tak bisa datang, aku mengerti."

"Coba kulihat apa yang bisa kulakukan," kata Adam yakin. Dua teleponnya kepada Phelps tak dijawab. Terus terang, saat ini ia tak punya waktu untuk mencari Lee.

Sam memiringkan tubuh lebih dekat pada Garmen. "Kata Adam, kau belajar psikologi."

"Benar. Aku mahasiswi pascasarjana di Cal Berkeley. Aku akan..."

Ketukan tajam pada pintu menyela percakapan itu. Adam membukanya sedikit dan melihat wajah cemas Lucas Mann. "Permisi sebentar," katanya pada Sam dan Carmen, lalu melangkah ke gang.

"Ada apa?" tanya Adam.

"Garner Goodman sedang mencarimu," kata Mann, nyaris berbisik. "Dia ingin kau langsung ke Jackson."

"Mengapa? Apa yang terjadi?"

"Kelihatannya salah satu klaimmu mengenai sasaran."

Jantung Adam berhenti. "Yang mana?"

"Hakim Slaterry ingin bicara tentang kompetensi mental. Dia menjadwalkan sidang dengar pendapat pukul lima sore ini. Jangan katakan apa pun padaku, sebab aku mungkin akan jadi pihak negara.”

Adam memejamkan mata dan membenturkan kepala pada dinding. Seribu bayangan bergulung liar dalam otaknya. "Pukul lima sore ini. Slaterry?”

"Sulit dipercaya. Dengar, kau perlu bergerak cepat."

"Aku butuh telepon "

"Ada satu di dalam sana." kata Mann, mengangguk ke pintu di belakang Adam. "Dengar, Adam, ini sama sekali bukan urusanku, tapi seandainya jadi kau, aku takkan menceritakannya padu Sam. Ini masih berupa kemungkinan kecil, dan tak ada gunanya membangkitkan harapannya. Seandainya keputusan ada di tanganku, aku akan menunggu sampai sidang itu selesai."

"Kau benar. Terima kasih, Lucas."

"Kembali. Sampai jumpa di Jackson."

Adam kembali ke ruangan; percakapan sudah melantur sampai pada kehidupan di Bay Ana. "Tak ada apa-apa." kata Adam sambil mengernyit, dan berjalan tak acuh ke telepon. Ia tak menghiraukan percakapan tenang mereka saat menekan telepon.

“Garner, ini Adam. Aku ada di sini bersama Sam. Ada apa?"

"Datanglah ke sini, Big Guy," Goodman berkata tenang. "Segalanya bergerak."

"Aku mendengarkan." Sam sedang menceritakan perjalanannya yang pertama dan satu-satunya ke San Francisco berpuluh-puluh tahun yang lampau.

"Pertama, Gubernur ingin bicara pribadi denganmu. Tampaknya dia menderita. Kita membuatnya jungkir balik dengan telepon-telepon itu, dan dia merasa kepanasan. Yang lebih penting lagi, Slattery mempertimbangkan klaim inkompetensi mental itu. Aku bicara dengannya tiga puluh menit yang lalu, dan dia sepenuhnya kebingungan. Aku tidak membantu membereskan urusan. Dia ingin mengadakan sidang pukul lima sore ini. Aku sudah bicara dengan Dr. Swinn dan dia siap. Dia akan mendarat di Jackson pukul setengah empat dan siap memberikan kesaksian."

"Aku segera berangkat," kata Adam dengan membelakangi Sam dan Carmen. "Temui aku di kantor Gubernur." Adam meletakkan telepon. "Baru saja mengajukan dalih," ia menerangkan kepada Sam, yang saat itu sama sekali tak peduli. "Aku harus ke Jackson."

"Mengapa terburu-buru?” tanya Sam, bagaikan masih punya waktu bertahun-tahun untuk hidup dan tak perlu melakukan pekerjaan pun.

"Terburu-buru? Apakah kau bilang terburu-buru? Sekarang pukul sepuluh, Sam, hari Senin. Kita punya waktu 38 jam untuk menemukan mukjizat."

"Takkan ada mukjizat, Adam." Ia menoleh Carmen, masih memegang tangannya. "Jangan biarkan harapanmu bangkit, Sayang."

"Mungkin..."

“Tidak. Sekaranglah saatku, oke? Dan aku sangat siap. Aku tak ingin kau bersedih bila semua ini berakhir."

"Kami harus pergi, Sam," kata Adam, menyentuh pundaknya. "Aku akan kembali larut malam ini atau besok pagi-pagi."

Carmen membungkuk dan mencium pipi Sam, "Hatiku bersamamu, Sam," bisiknya.

Sam memeluknya sedetik, lalu berdiri di samping meja. "Hati-hatilah, Nak. Belajarlah dengan giat. Dan jangan berpikir buruk tentang diriku, oke? Aku ada di sini karena suatu alasan. Bukan salah siapa pun kecuali diriku. Ada kehidupan yang lebih baik sedang menungguku di luar tempat ini."

Carmen berdiri dan memeluknya lagi. Ia menangis ketika mereka meninggalkan ruangan itu.

~ 44 ~ 

Siang hari, Hakim Slattery telah tenggelam sepenuhnya dalam kegentingan saat itu, dan meskipun berusaha keras menyembunyikannya, ia sangat menikmati interval singkat di tengah badai tersebut. Pertama, ia membubarkan juri dan pengacara dalam sidang perdata yang dipimpinnya dan sekarang ditunda. Ia sudah dua kali bicara dengan panitera Pengadilan Fifth Circuit di New Orleans, lalu dengan Hakim McNeely sendiri.

Peristiwa besar itu muncul beberapa menit selewat pukul 11.00, ketika Hakim Mahkamah Agung F. Allbright menelepon dari Washington, meminta laporan terbaru. Allbright memantau kasus itu setiap jam. Mereka bicara tentang undang-undang dan teori. Tak seorang pun di antara mereka menentang hukuman mati, dan mereka berdua punya masalah dengan undang-undang Mississippi yang sedang dibahas. Mereka khawatir undang-undang itu bisa disalahgunakan oleh terpidana mati yang bisa berpura-pura gila dan menemukan dokter sinting untuk ikut berperan.

Para wartawan dengan cepat mengetahui sidang entah apa telah dijadwalkan, dan mereka bukan saja membanjiri kantor Slattery dengan telepon, rapi juga parkir di kantor resepsionisnya. Marshall dipanggil untuk membubarkan wartawan-wartawan itu.

Sekretaris membawa pesan setiap menit. Breck Jefferson menggali buku-buku hukum yang tak terhitung jumlahnya dan hasil-hasil riset yang bertebaran di meja rapat. Slattery bicara dengan Gubernur, Jaksa Agung, Garner Goodman, dan puluhan orang lain. Sepatunya ada di bawah mejanya yang besar. Ia berjalan mengelilinginya sambil memegang pesawat telepon dengan kabel panjang, sepenuhnya menikmati kegilaan ini.

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 89)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.