Sabtu, 03 Juni 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 87)

 The Chamber: Kamar Gas

Para narapidana menyaksikan kesibukan mendadak itu dengan perasaan ingin tahu bercampur sedih. Sel-sel sempit mereka seperti lapisan kulit tambahan, dan melihat salah satu sel itu diperlakukan semena-mena tanpa belas kasihan, terasa menyakitkan. Itu bisa terjadi pada mereka. Realita eksekusi menerpa; mereka bisa mendengarnya pada suara sepatu lars berat yang hilir-mudik di tier, dan suara-suara regu eksekusi yang tegas tapi teredam. Suara pintu dibanting di kejauhan tentu takkan diperhatikan seminggu yang lalu. Sekarang suara itu jadi kejutan yang mengenyakkan dan menggetarkan saraf.

Petugas-petugas itu mondar-mandir dengan barang-barang Sam sampai sel enam kosong. Pekerjaan berlangsung cepat. Mereka mengatur barang-barang di rumah barunya tanpa banyak peduli.

Tak seorang pun di antara delapan orang itu bekerja di The Row. Nugent membaca pada suatu bagian catatan Naifeh yang berantakan bahwa anggota regu eksekusi haruslah orang-orang yang sama sekali tak dikenal sang narapidana. Mereka barus diambil dari kamp lain. Tiga puluh satu petugas dan penjaga secara sukarela mengajukan diri untuk tugas ini. Nugent hanya memilih yang terbaik.

"Semua sudah masuk?" ia bertanya keras pada salah satu orangnya.

"Ya, Sir."

"Baik. Semua ini untukmu, Sam."

"Oh, terima kasih, Sir," kata Sam mencemooh ketika memasuki sel itu. Nugent mengangguk ke ujung gang, dan pintu tertutup. Ia melangkah ke depan dan mencengkeram jeruji dengan dua belah tangan.

"Sekarang, dengarkan, Sam," katanya muram. Sam menyandarkan punggung pada dinding, memalingkan wajah dari Nugent. "Kami akan berada di sini kalau kau butuh sesuatu, oke? Kami memindahkanmu ke ujung sini agar kami bisa mengawasimu lebih baik. Oke? Adakah yang bisa kulakukan untukmu?"

Sam terus berpaling, sama sekali tak menghiraukannya.

"Baik." Ia mundur dan memandang anak buahnya. "Mari kita pergi." katanya kepada mereka. Pintu tier terbuka tak sampai tiga meter dari Sam, dan regu eksekusi itu berbaris keluar. Sam menunggu. Nugent memandang gang itu dari ujung ke ujung, lalu melangkah keluar dari tier.

"Hei, Nugent!" Sam mendadak berseru. "Bagaimana kalau kau melepaskan borgol ini!"

Nugent diam membeku dan regu eksekusi itu berhenti.

"Kau keledai tolol!" Sam berteriak lagi, sementara Nugent terburu-buru mundur, mencari-cari kunci, meneriakkan perintah. Suara tawa meledak di sepanjang tier, suara terbahak-bahak dan siulan riuh. "Kau tak bisa meninggalkanku dengan tangan terborgol!" Sam berteriak ke gang.

Nugent ada di pintu Sam, mengertakkan gigi, mengumpat, akhirnya mendapatkan kunci yang tepat. "Berbalik," perintahnya.

"Kau haram jadah goblok!" Sam berteriak di antara jeruji, langsung ke wajah merah sang Kolonel yang hanya terpisah kurang dari satu meter. Suara tertawa menderu lebih keras lagi.

"Dan kau yang bertanggung jawab atas eksekusiku!" kata Sam marah, cukup keras untuk didengar yang lain. "Kau mungkin akan mengegas diri sendiri!"

“Tak usah macam-macam," kata Nugent pendek. “Sekarang berbaliklah."

Seseorang, entah Hank Henshaw atau Harry Scott, berteriak keras, "Barney Fife!" dan seketika suara itu bergema di sepanjang tier. "Barney Fife! Barney Fife! Barney Fife!"

"Diam!" Nugent balas berteriak.

"Barney Fife! Barney Fife!"

"Diam!"

Sam akhirnya berbalik dan mengulurkan tangannya agar Nugent bisa mencapainya. Borgol dilepaskan dan sang Kolonel bergegas menerobos melewati pintu tier.

"Barney Fife! Barney Fife! Barney Fife!" mereka bernyanyi dengan paduan sempurna sampai pintu berdentang menutup dan lorong itu kosong kembali. Suara mereka seketika berhenti dan suara tertawa lenyap. Perlahan-lahan tangan mereka menghilang dari jeruji.

Sam berdiri menghadap gang, menatap tajam dua penjaga yang sedang mengawasinya dari seberang pintu tier. Ia menghabiskan beberapa menit untuk mengatur tempat itu—menancapkan kabel kipas angin dan televisi, menyusun buku-buku dengan rapi, seolah-olah akan dipakai, memeriksa apakah toiletnya bisa diguyur dan airnya mengalir. Ia duduk di ranjang dan memeriksa seprai.

Ia mengenang kembali sahabat dekatnya. Buster Moac, tinggal di sebelah. Suatu hari mereka mengambil Buster dan membawanya ke sini, ke Sel Observasi; mereka mengawasinya 24 jam sehari agar ia tidak bunuh diri. Sam menangis ketika mereka menjemput Buster.

Pada akhirnya setiap narapidana yang berhasil hidup sejauh ini juga akan sampai pada perhentian berikutnya. Lalu pada perhentian terakhir.

***

Garner Goodman adalah tamu pertama hari itu di dalam serambi mewah kantor Gubernur. Ia menandatangani buku tamu, berbincang-bincang ramah dengan si resepsionis cantik, dan cuma ingin tahu apakah Gubernur bisa ditemui. Resepsionis hendak mengatakan sesuatu ketika telepon berdering pada switchboard. Ia menekan tomboi, meringis, mendengarkan, mengernyit pada Goodman yang memalingkan wajah, lalu mengucapkan terima kasih kepada si penelepon. "Orang-orang ini," ia mengeluh.

"Maaf," kata Goodman seolah tidak tahu-menahu. "Ya, kasus ini sangat emosional. Rasanya seakan-akan sebagian besar masyarakat di situ mendukung hukuman mati."

"Tidak untuk yang ini," katanya, mencatat telepon itu pada sehelai formulir merah muda. "Hampir semua telepon ini menentang eksekusinya.”

“Benarkah? Sungguh suatu kejutan."

“Akan saya beritahu Miss Stark bahwa Anda ada di sini."

“Terima kasih." Goodman duduk di tempat biasa dalam serambi itu. Ia kembali melihat-lihat koran pagi. Pada hari Sabtu, harian di Tupelo melakukan kesalahan dengan mulai melakukan survei telepon untuk menyaring opini masyarakat terhadap eksekusi Cayhall.

Sebuah nomor telepon toll-free dicantumkan pada halaman depan bersama dengan instruksinya, dan—tentu saja—Goodman dan tim analis pasarnya membombardir nomor itu sepanjang akhir pekan. Edisi hari Senin memuat hasilnya untuk pertama kali, dan angka itu sungguh mencengangkan. Di antara 320 telepon masuk, 302 menentang eksekusi tersebut. Goodman tersenyum sendiri ketika membaca surat kabar itu.

Tidak terlalu jauh dari sana, sang Gubernur duduk di depan meja panjang di kantornya memeriksa surat kabar yang sama. Wajahnya prihatin. Matanya sedih dan khawatir.

"Selamat pagi. Mr. Goodman.”

Goodman mengirimkan surat permohonan untuk membatalkan sidang pemberian pengampunan, sesuai dengan keinginan keras klien mereka.

"Masih tidak menghendaki sidang, huh?" kata Gubemur dengan satu lagi senyum letih.

“Klien kami hilang tidak. Dia tak punya apa-apa lagi untuk ditambahkan. Kami sudah mencoba segalanya.”

"Dia keras kepala. Selalu demikian, saya rasa. Mana petisi-petisinya sekarang?"

"Diproses sesuai yang diharapkan."

"Anda sudah pernah mengalami hal seperti ini Mr. Goodman. Saya belum. Bagaimana prakiraan Anda, menilik keadaan sekarang?"

Goodman mengaduk kopi dan merenungi pertanyaan itu. Tak ada ruginya berterus terang kepada Gubernur. Pada titik ini tak ada kerugian apa pun. "Saya salah satu pengacaranya, jadi cenderung optimis. Bisa saya katakan peluangnya tujuh puluh persen ini akan terjadi.''

Gubernur merenungkan kata-kata ini sejenak. Ia nyaris bisa mendengar telepon berdering dari balik dinding. Bahkan orang-orangnya sendiri jadi resah dan tak pasti. "Tahukah Anda apa yang saya inginkan, Mr. Goodman?” tanyanya sungguh-sungguh.

Yeah, kau ingin telepon-telepon terkutuk itu berhenti berdering, pikir Goodman pada diri sendiri. "Apa?"

"Saya benar-benar ingin bicara dengan Adam Hall. Di mana dia?"

"Mungkin di Parchman. Saya bicara dengannya satu jam yang lalu."

"Bisakah dia datang ke sini hari ini?"

"Ya, bahkan sebenarnya dia merencanakan ke Jackson sore ini."

"Bagus. Saya akan menunggunya,"

Goodman menahan senyum. Mungkin sudah ada lubang yang pecah pada bendungan.

Namun anehnya tanda-tanda pertama kemungkinan pemberian pengampunan itu muncul pada front yang berbeda dan tak terduga.

***

Enam blok dari gedung pengadilan federal, Breck Jefferson memasuki kantor bosnya, Hakim F. Flynn Slattery, yang sedang bicara di telepon dan agak jengkel terhadap seorang pengacara. Breck memegang petisi tebal berisi permohonan peninjauan kembali keputusan pengadilan yang lebih rendah, dan sebuah buku yang penuh dengan catatan.

"Ya?" Slattery menyalak sambil membanting telepon.

"Kita perlu bicara tentang Cayhall," kata Breck muram. "Anda tahu kita sedang menangani petisinya yang menyatakan inkompetensi mental."

"Mari kita tolak dan keluarkan dari sini. Aku terlalu sibuk mengurusinya. Biarkan Cayhall membawanya ke Pengadilan Fifth Circuit. Aku tak ingin benda terkutuk itu berada di sini."

Breck tampak tertekan, dan ucapannya keluar lebih lamban. “Tapi ada sesuatu yang perlu Anda lihat."

"Ah, sudahlah, Breck. Apakah itu?"

"Dia mungkin mengajukan klaim yang sahih."

Wajah Slattery turun dan pundaknya merosot. "Sudahlah. Apa kau bercanda? Apa itu? Kita akan menghadapi sidang tiga puluh menit lagi. Dewan juri yang sedang menunggu di luar sana...”

Breck Jefferson dulu mahasiswa nomor dua di kelasnya, di Sekolah Hukum Emory. Slattery diam-diam mempercayainya. "Mereka menyatakan Sam tidak memiliki kompetensi mental untuk menghadapi eksekusi, sesuai dengan satu undang-undang Mississippi yang bisa ditafsirkan luas."

"Setiap orang tahu dia gila."

"Mereka punya ahli yang bersedia memberikan kesaksian. Kita tak bisa mengabaikan itu."

"Aku tidak percaya ini."

“Sebaiknya Anda melihatnya.''

Pak Hakim memijat kening dengan ujung jari. "Duduklah. Coba kulihat."

***

"Cuma beberapa mil lagi," kata Adam ketika melaju kencang menuju penjara. "Bagaimana keadaan mu?"

Carmen tak banyak bicara sejak mereka meninggalkan Memphis. Perjalanan pertamanya ke Mississippi dihabiskan untuk menyaksikan luasnya daerah Delta, mengagumi bermil-mil tanaman kapas dan kacang yang tumbuh lebat, menyaksikan mesin pemetik menggelinding di ladang-ladang itu dengan penuh kekaguman, menggelengkan kepala menyaksikan gerombolan gubuk miskin.

"Aku gelisah," ia mengaku, bukan untuk pertama kalinya. Mereka bicara singkat tentang Berkeley dan Chicago serta apa yang akan mungkin terjadi tahun-tahun mendatang. Mereka tidak bicara apa pun tentang ibu atau ayah mereka. Demikian pula Sam dan keluarganya tidak disinggung.

"Dia pun cemas."

"Rasanya aneh, Adam. Melaju di jalan raya di daerah liar ini, bergegas untuk menjumpai kakek yang akan dieksekusi."

Adam membelai lutut adiknya dengan kuat. "Kau mengambil tindakan yang benar." Carmen memakai celana khaki oversize, sepatu hiking, dan kemeja denim merah yang sudah pudar. Benar-benar seperti mahasiswi pascasarjana di bidang psikologi.

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 88)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.