Sabtu, 03 Juni 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 86)

  The Chamber: Kamar Gas

"Baiklah, Sam, aku menghormati itu. Dan aku janji akan berada di sini sampai akhir. Aku akan berdukacita dan berkabung, aku akan memastikan kau dikuburkan dengan pantas. Tak seorang pun mempermainkanmu, Sam, selama aku ada di sini. Tapi kuharap kau melihatnya dari sudut pandangku. Aku harus mengusahakan yang terbaik, sebab aku muda dan masih punya sisa hidup. Jangan membuatku menyesal karena tidak berusaha lebih baik. Itu tidak adil bagiku."

Sam melipat tangan di depan dada dan memandang Adam. Wajahnya yang pucat tampak tenang, matanya masih basah. "Begini saja," katanya, suaranya masih rendah dan pedih. "Aku siap pergi. Akan kuhabiskan besok dan hari Selasa untuk mengurus persiapan terakhir. Kuasumsikan ini akan terjadi Selasa tengah malam, dan aku akan siap. Kau, sebaliknya, mainkanlah peranmu. Kalau kau bisa memenangkannya, bagus untukmu. Kalau kau kalah, aku siap menghadapi nasib."

"Jadi, kau akan bekerja sama?"

"Tidak. Tak ada sidang pemberian pengampunan. Tak ada lagi petisi atau dalih lain. Sudah cukup banyak sampah yang kaubuat berkeliaran di luar sana untuk menyibukkan dirimu. Dua dalil masih belum diputuskan. Aku takkan menandatangani petisi lain lagi."

Sam berdiri, lututnya berkeretak dan goyah. Ia berjalan ke pintu dan bersandar di sana. "Bagaimana dengan Lee?" ia bertanya lembut sambil mengambil rokok. "Dia masih berada di lembaga rehabilitasi?”

Adam berbohong. Ia tergoda untuk mengungkapkan urusan sebenarnya. Rasanya kekanak-kanakan berbohong kepada Sam pada saat-saat terakhir hidupnya, namun Adam masih menaruh harapan besar bahwa Lee akan ditemukan sebelum hari Selasa. "Kau ingin menemuinya?"

"Kurasa begitu. Bisakah dia keluar?"

"Mungkin sulit, tapi akan kucoba. Keadaannya lebih parah dari yang semula kuduga."

"Dia pecandu alkohol?"

"Ya."

"Cuma itu? Tidak kecanduan obat bius?"

"Cuma alkohol. Dia bercerita padaku bahwa dia sudah bertahun-tahun mengalami masalah ini. Lembaga rehabilitasi bukan sesuatu yang baru."

"Diberkatilah hatinya. Anak-anakku tak punya kesempatan."

"Dia orang baik. Dia mengalami banyak kesulitan dalam perkawinannya. Putranya meninggalkan rumah dalam usia muda dan tak pernah kembali."

"Walt, benar?"

"Benar," jawab Adam. Sungguh gerombolan orang patah hati yang malang. Sam bahkan tidak yakin nama cucunya. "Berapa umurnya?"

"Aku tak tahu pasti. Mungkin hampir seumurku."

"Apakah dia tahu tentang diriku?"

"Entahlah. Dia sudah bertahun-tahun memnghilang. Tinggal di Amsterdam."

Sam mengambil sebuah cangkir dari meja dan mengisinya dengan kopi dingin. "Bagaimana dengan Carmen?" tanyanya.

Secara naluriah Adam melirik jam tangan. “Tiga jam lagi aku akan menjemputnya di bandara Memphis. Dia akan ke sini besok pagi."

"Aku jadi ketakutan setengah mati."

“Tenang, Sam. Dia orang yang hebat. Dia cerdas, ambisius, cantik, dan aku sudah menceritakan segalanya tentang dirimu."

"Mengapa kau melakukan itu?"

"Sebab dia ingin tahu."

"Bocah malang. Apakah kauceritakan padanya bagaimana tampangku?"

"Jangan khawatir tentang itu, Sam. Dia tak peduli bagaimana tampangmu."

"Apakah kaukatakan padanya aku bukan monster buas?"

"Kuceritakan padanya kau orang yang mania, baik hati, dengan anting-anting, ekor kuda, pergelangan tangan lemah, dan dengan sepatu mandi karet lucu ini kau tampak meluncur."

"Gombal!''

"Dan kau tampaknya tokoh favorit di kalangan orang-orang penjara ini.”

"Kau bohong! Kau tidak menceritakan semua itu kepadanya!" Sam tersenyum lebar, tapi separo serius; keprihatinannya menggelikan.

Adam tertawa, agak terlalu panjang dan keras, tapi humor itu bisa diterima. Mereka berdua terkekeh dan mencoba sebaik mungkin kelihatan benar-benar geli oleh lelucon itu. Mereka mencoba merentangnya lebih panjang, tapi dengan cepat suasana ringan itu lewat dan suasana berat mengendap. Dengan segera mereka duduk di tepi meja, berdampingan, kaki pada kursi yang terpisah, menatap lantai, sementara awan tebal asap tembakau mendidih di atas mereka dalam udara yang tak bergerak.

Begitu banyak yang ingin dibicarakan, tapi begitu sedikit yang terucap. Teori-teori dan manuver hukum sudah mati. Mereka sudah membahas tentang keluarga sejauh keberanian mereka. Cuaca hanya bisa diterka tak lebih dari lima menit mendatang. Dan kedua laki-laki itu tahu mereka akan melewatkan sebagian besar dari dua setengah hari mendatang bersama-sama.

Masalah-masalah serius bisa menunggu. Pokok pembicaraan yang tak menyenangkan bisa disisihkan sedikit lebih lama. Dua kali Adam melirik jam tangan dan mengatakan sebaiknya ia pergi, dan dua kali pula Sam mendesaknya agar tinggal. Sebab begitu Adam berlalu, mereka akan datang menjemputnya dan membawanya kembali ke sel, sangkar kecilnya tempat temperatur mencapai lebih dari 38 derajat. Tinggallah, ia memohon.

***

Larut malam itu, beberapa saat setelah tengah malam, setelah Adam menceritakan tentang Lee dan masalahnya, dan Walt, tentang McAllister dan Wyn serta teori tentang adanya asisten, berjam-jam telah mereka habiskan pizza dan bicara tentang ibu, ayah, kakek, dan seluruh keluarga mereka yang menyedihkan itu, Adam mengatakan bahwa yang takkan pernah ia lupakan adalah saat berdua duduk di meja, melewatkan waktu dalam keheningan, seolah-olah jam yang tak terlihat berdetak, dengan Sam membelai lututnya.

Sepertinya ia harus menyentuhku dengan cara yang penuh kasih sayang, katanya kepada Carmen, seperti kakek yang baik menyentuh cucu kecil yang ia cintai. Carmen sudah mendengar cukup banyak untuk semalam. Empat jam ia berada di teras, tersiksa hawa lengas dan menyerap kisah lisan sejarah ayahnya yang menyedihkan.

Namun Adam sangat hati-hati. Ia mendaki puncak-puncak dan melewatkan jurang-jurang yang menyedihkan—tak disebutnya tentang Joe Lincoln atau pembunuhan sewenang-wenang atau gambaran tentang kejahatan lain. Ia melukiskan Sam sebagai orang keras yang melakukan kesalahan mengerikan dan sekarang dibebani penyesalan. Ia bermain-main dengan gagasan memperlihatkan video pengadilan Sam kepada adiknya, tapi akhirnya memutuskan tidak melakukannya. Itu akan dilakukannya kelak. Carmen cuma bisa menerima sebanyak itu dalam semalam.

~ 45 ~

Senin, 6 Agustus, pukul 06.00. Empat puluh dua jam tersisa. Adam memasuki kantornya dan mengunci pintu.

Ia menunggu sampai pukul 07,00, lalu menelepon kantor Slattery di Jackson. Tak ada jawaban, tentu saja, namun ia berharap akan ada pesan rekaman yang mengarahkannya ke nomor lain yang mungkin mengarahkannya pada seseorang yang bisa mengatakan sesuatu kepadanya. Slattery masih membiarkan saja klaim inkompetensi mental itu; mengabaikannya seolah-olah itu cuma gugatan kecil lain.

Ia menelepon penerangan dan mendapatkan nomor rumah F. Flynn Slattery, tapi memutuskan tidak mengganggunya. Ia bisa menunggu sampai j pukul 09.00.

Adam tidur kurang dari tiga jam. Jantungnya berdenyut-denyut keras, adrenalinnya terpompa. Kliennya sekarang hanya punya waktu 42 jam, dan sialan, Slattery harus memutuskan, apa keputusan itu. Tidak adil berlama-lama dengan petisi itu, sementara ia bisa bergegas ke pengadilan lain dengannya.

Telepon berdering dan ia melonjak meraihnya. Death Clerk dari Pengadilan Fifth Circuit mengabarinya bahwa pengadilan itu menolak dalih Sam tentang bantuan hukum yang tidak efektif. Menurut pendapat pengadilan, klaim tersebut secara prosedural tidak sah. Seharusnya sudah diajukan bertahun-tahun yang lalu. Pengadilan tidak menerima kesahihan persoalan itu.

"Kalau begitu, mengapa pengadilan membiarkannya selama seminggu?" desak Adam. "Mereka bisa mengambil keputusan remeh ini sepuluh hari yang lalu."

“Aku akan mengirimkan copy-nya dengan fax sekarang," kata si panitera.

"Terima kasih. Maaf, oke?"

“Tetaplah berhubungan, Mr. Hall. Kami akan ada di sini menunggu Anda."

Adam menutup telepon dan beranjak mengambil kopi. Darlene tiba pagi-pagi pukul 07.30 dalam keadaan letih dan kumal. Ia membawa fax dari Pengadilan Fifth Circuit, bersama bagel raisin. Adam memintanya mengirimkan permohonan peninjauan atas klaim ketidakefisienan ke Mahkamah Agung AS dengan fax. Itu sudah dipersiapkan selama tiga hari, dan Mr. Olander di Washington mengatakan pada Darlene bahwa Mahkamah sudah memeriksanya.

Darlene kemudian membawakan dua aspirin dan segelas air. Kepala Adam serasa pecah ketika ia mengemasi hampir semua berkas Cayhall ke dalam koper besar dan kardus. Ia memberi Darlene sebuah daftar instruksi.

Kemudian ia meninggalkan kantor cabang Kravitz & Bane di Memphis, dan takkan pernah kembali.

***

Kolonel Nugent menunggu tak sabar agar pintu tier terbuka, lalu menyerbu ke dalam gang dengan delapan belas anggota regu eksekusi pilihan di belakangnya. Mereka menyerbu ke dalam ketenangan Tier A dengan segala kecanggihan regu tentara Gestapo—delapan laki-laki bertubuh besar, separo berseragam, separo berpakaian preman, mengikuti jago kecil yang melangkah tegap di depan. Ia berhenti di sel enam, tempat Sam sedang berbaring di ranjang, sibuk dengan urusannya sendiri. Narapidana-narapidana lainnya langsung menyaksikan dan mendengarkan, tangan mereka tergantung di antara jeruji.

"Sam, sudah saatnya pindah ke Sel Observasi," kata Nugent, seolah-olah benar-benar khawatir dengan urusan ini. Anak buahnya memagari dinding di belakangnya, di bawah deretan jendela.

Sam perlahan-lahan menyeret tubuh dari ranjang dan berjalan ke jeruji. Ia menatap tajam pada Nugent dan bertanya, "Mengapa?"

"Sebab aku mengatakannya demikian."

“Tapi mengapa memindahkan aku delapan pintu dalam tier ini? Apa tujuannya?"

“Ini prosedur, Sam. Ada di buku."

"Jadi, kau tak punya alasan yang bagus, kan?"

"Aku tak membutuhkannya. Berbaliklah."

Sam berjalan ke wastafel dan menyikat gigi lama-lama. Lalu ia berdiri di atas toilet dan kencing dengan tangan pada pinggul. Lalu ia cuci tangan, sementara Nugent dan anak buahnya mengawasi dan menggerutu. Kemudian ia menyalakan sebatang rokok, menyelipkannya di antara gigi, menggeser tangan ke punggung, dan mengulurkannya ke lubang pada pintu. Nugent mengikatkan borgol pada pergelangan tangan dan mengangguk ke ujung tier agar pinta dibuka. Sam melangkah ke tier. Ia mengangguk kepada J.B. Gullit yang mengawasi dengan ngeri, siap menangis. Ia mengedipkan mata pada Hank Henshaw.

Nugent memegang lengannya dan menuntunnya ke ujung gang, melewati Gullit, Loyd Eaton, Stock Turner, Harry Ross Scott, Buddy Lee Harris, dan—akhirnya—melewati Preacher Boy yang saat itu sedang berbaring di ranjang, telungkup sambil menangis. Tier itu sampai pada dinding jeruji besi sama dengan jeruji di depan sel, dan di tengah dinding itu ada pintu yang berat. Di sisi seberangnya ada kelompok lain anak buah Nugent, semuanya mengawasi tanpa suara dan menikmati setiap saat. Di belakang mereka ada lorong pendek dan sempit menuju Ruang Isolasi. Dan kemudian ke Kamar Gas.

Sam dipindahkan sejauh empat belas setengah meter lebih dekat ke maut. Ia bersandar pada dinding, mengepulkan rokok, mengawasi dengan tenang membisu. Tak ada apa pun yang pribadi di sini, cuma bagian dari kegiatan rutin.

Nugent berjalan kembali ke sel enam dan menyalakkan perintah. Empat penjaga memasuki sel Sam dan mulai mengemasi barang-barangnya. Buku-buku, mesin tik, kipas angin, televisi, keperluan mandi, pakaian. Mereka memegangnya seolah-olah barang-barang itu beracun dan membawanya ke Sel Observasi. Kasur dan ranjangnya digulung dan dipindahkan oleh seorang penjaga kekar berpakaian preman yang tak sengaja menginjak ujung seprai dan merobekkannya.

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 87)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.