Sabtu, 03 Juni 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 85)

 The Chamber: Kamar Gas

Sam bergeser menjauh dari meja dan memakai sandal mandi. Ia perlahan-lahan menyalakan rokok dan mulai mondar-mandir di belakang kursi Griffin. Sang Pendeta berganti posisi agar bisa melihat dan mendengar Sam.

"Ada Joe Lincoln, tapi saya sudah menulis surat pada keluarganya dan mengatakan menyesal."

"Anda membunuhnya?"

"Ya. Dia orang Afrika. Tinggal di tempat kami. Saya sangat menyesalinya. Kejadiannya sekitar 1950."

Sam berhenti dan bersandar pada lemari arsip. Ia bicara ke lantai, seolah-olah melamun. "Dan ada dua laki-laki kulit putih yang membunuh ayah saya dalam suatu pemakaman, bertahun-tahun yang lalu. Mereka dipenjarakan beberapa lama, dan ketika keluar, saya dan saudara-saudara saya menunggu dengan sabar. Kami bunuh mereka berdua, tapi, terus terang, saya tak pernah menyesal. Mereka penjahat, dan mereka membunuh ayah kami."

"Membunuh selalu keliru, Sam. Anda sedang bergulat melawan pembunuhan legal terhadap diri Anda sekarang."

"Saya tahu."

"Apakah Anda dan saudara-saudara Anda ditangkap?"

“Tidak. Sheriff tua itu mencurigai kami, tapi tak bisa membuktikan apa-apa. Kami terlalu hati-hati, Di samping itu, mereka benar-benar sampah masyarakat, dan tak seorang pun peduli."

"Itu tidak membuat tindakan Anda benar."

"Saya tahu. Tapi saya menganggap mereka mendapatkan apa yang layak mereka dapatkan, lalu saya dibuang ke tempat ini. Hidup jadi punya arti baru bila tinggal di death row. Kita menyadari betapa berharganya hidup. Sekarang saya menyesal telah membunuh bocah-bocah itu. Sungguh menyesal."

"Ada lainnya?"

Sam berjalan melintasi ruangan, menghitung setiap langkah, dan kembali ke lemari arsip. Sang Pendeta menunggu. Waktu tak berarti apa-apa sekarang.

"Ada dua pembunuhan tanpa pengadilan, bertahun-tahun yang lalu," kata Sam, tak mampu memandang mata Griffin.

"Dua?"

"Saya rasa dua. Mungkin tiga. Tidak... ya... ada tiga, tapi pada yang pertama saya masih kanak-kanak, masih kecil, dan yang saya lakukan hanyalah menyaksikan, Anda tahu, dari semak-semak. Itu pembunuhan oleh Klan, ayah saya terlibat. Saya dan kakak saya Albert menyelinap ke dalam hutan dan menyaksikannya. Jadi, itu tidak masuk hitungan, bukan?"

"Tidak."

Pundak Sam merosot pada dinding. Ia memejamkan mata dan menundukkan kepala. "Yang kedua dilakukan oleh satu gerombolan. Saya rasa saya sekitar lima belas tahun, dan saya tepat berada di tengah-tengah kejadian itu. Seorang gadis diperkosa laki-laki Afrika, setidaknya itulah yang dia katakan. Reputasi perempuan itu menimbulkan banyak keraguan, dan dua tahun kemudian dia punya bayi separo Afrika. Jadi, siapa tahu? Nah, dia menudingkan jari, kami menangkap bocah itu, menyeretnya keluar, dan membunuhnya. Saya sama bersalahnya seperti anggota lain dalam kelompok itu."

"Tuhan akan mengampuni Anda, Sam."

"Anda pasti?"

"Positif."

"Berapa pembunuhan yang akan Dia ampuni?"

"Semuanya. Bila Anda mohon pengampunan dengan sepenuh hati. Bbagaimana dengan pembunuhan lainnya?”

Sam mulai menggelengkan kepala ke ke belakang, matanya terpejam. "Saya tidak bisa bicara tentang yang itu, Pak Pendeta,” mengembuskan napas dengan berat.

"Anda tidak perlu bicara pada saya tentang hal itu, Sam. Tapi bicaralah pada Tuhan."

"Saya tak tahu apakah bisa bicara kepada seseorang tentang hal itu."

"Tentu Anda bisa. Pejamkanlah mata Anda, antara sekarang sampai hari Selasa, dan akuilah segala perbuatan ini kepada Tuhan. Dia akan langsung memaafkan Anda."

"Rasanya tidak benar, Anda tahu. Saya membunuh orang, lalu dalam hitungan beberapa menit Tuhan mengampuni saya. Begitu saja. Terlalu gampang.”

"Anda harus benar-benar menyesal."

"Oh, saya benar-benar menyesal. Sumpah.”

"Tuhan melupakannya, Sam, tapi manusia tidak. Kita bertanggung jawab pada Tuhan, tapi kita tertanggung jawab terhadap hukum manusia. Tuhan akan mengampuni Anda. Namun Anda nanggung konsekuensi menurut apa yang ditentukan pemerintah."

Sam berjalan ke meja dan duduk di sudutnya, di samping Griffin. "Anda tetaplah di sini, oke, Pak Pendeta? Saya butuh pertolongan. Ada berbagai hal buruk terkubur dalam jiwa saya. Akan butuh waktu beberapa lama untuk mengeluarkannya."

"Itu takkan sulit, Sam, kalau Anda benar-benar siap."

Sam menepuk lututnya. “Teruslah datang, oke?"

~ 24 ~

Kantor depan itu penuh dengan asap biru ketika Adam masuk. Sam sedang mengepul-ngepulkan rokok di meja, membaca berita tentang dirinya sendiri di koran Minggu. Tiga cangkir kopi kosong dan pembungkus permen bertebaran di meja.

"Kau sudah betah di sini, kan?" kata Adam, memperhatikan sampah itu.
"Yeah. Sudah seharian aku di sini."

"Banyak tamu?"

"Aku takkan menyebut mereka tamu. Hari ini dimulai dengan kedatangan Nugent, jadi itu cukup merusak segalanya. Pendeta mampir untuk memeriksa apakah aku sudah berdoa. Kupikir perasaannya tertekan ketika berlalu. Kemudian adikku Donnie mampir menjenguk sebentar. Aku benar-benar ingin kau menemuinya. Katakan padaku kau membawa kabar baik."

Adam menggelengkan kepala dan duduk. "Tidak. Tak ada yang berubah sejak kemarin."

“Apa mereka sadar Sabtu dan Minggu juga masuk hitungan? Juga jam itu tidak berhenti berdetak antukku pada akhir pekan?"

"Itu bisa jadi kabar baik. Mereka bisa jadi sedang mempertimbangkan dalihku yang cemerlang.”

"Mungkin, tapi aku curiga para hakim itu ada di rumah mereka di tepi danau, minum bir dan memanggang daging. Tidak begitu menurutmu?"

"Yeah, kau mungkin benar. Ada berita apa di koran?"

"Ulasan lama yang sama tentang diriku dan kejahatanku yang brutal, foto orang-orang yang berdemonstrasi di luar sana, komentar dari McAllister. Tak ada yang baru. Aku belum pernah menyaksikan kegemparan macam ini."

"Kau adalah tokoh saat ini, Sam. Wendall Sherman dan penerbitnya sekarang menawarkan 150.000, tapi batas waktunya pukul enam sore ini. Dia ada di Memphis, duduk dengan tape recorder, gatal untuk datang ke sini. Katanya dia butuh sedikitnya dua hari penuh untuk merekam kisahmu."

"Hebat. Apa yang mesti kulakukan dengan uang itu?"

"Berikanlah kepada cucu-cucumu tercinta."

"Kau serius? Apa kau akan memakainya? Aku akan melakukannya kalau kau mau memakainya."

"Tidak. Aku hanya bercanda. Aku tak ingin uang itu, dan Carmen tidak membutuhkannya. Aku tak dapat memakainya dengan hati nurani bersih."

"Bagus. Sebab antara sekarang dan Selasa, aku tak ingin duduk dengan orang asing dan bicara tentang masa lalu. Aku tak peduli berapa uang yang dia miliki. Aku lebih suka tak ada tentang kehidupanku."

"Sudah kukatakan padanya untuk melupakan urusan ini."

"Bocah hebat." Sam berdiri dan mulai berjalan mondar-mandir melintasi ruangan. Adam mengambil posisi di tepi meja dan membaca berita olah raga di koran Memphis.

"Aku akan senang bila semua ini selesai, Adam," kata Sam, masih berjalan, bicara dengan tangannya. "Aku tak tahan menunggu seperti ini. Sumpah, aku berharap eksekusi itu dilaksanakan malam ini." Ia mendadak gelisah dan kesal, suaranya lebih keras.

Adam meletakkan korannya. "Kita akan menang, Sam. Percayalah padaku."

"Menang apa." bentaknya marah. "Memenangkan penangguhan hukuman mati? Hebat! Keuntungan apa yang kita dapatkan? Enam bulan? Setahun? Tahukah kau apa arti hal itu? Itu berarti suatu hari kelak kita harus melakukan hal ini lagi: Aku harus menjalani seluruh ritual terkutuk ini lagi—menghitung hari, kurang tidur, merencanakan strategi terakhir, mendengarkan Nugent dan orang-orang goblok lain, bicara dengan psikiater, berbisik pada pendeta, pantatku ditepuk-tepuk dan digiring ke kurungan ini, sebab aku istimewa."

Ia berhenti di depan Adam dan memandang tajam padanya. Wajahnya gusar, matanya basah dan pahit. "Aku muak dengan semua ini, Adam! Dengarkan aku! Ini lebih buruk daripada mati."

"Kita tak bisa menyerah, Sam."

"Kita? Siapakah kita? Leherkulah yang jadi taruhan, bukan lehermu. Kalau aku mendapat penangguhan, kau akan kembali ke kantormu yang indah di Chicago dan meneruskan hidupmu. Kau akan jadi pahlawan, sebab kau menyelamatkan klienmu. Fotomu akan terpampang dalam Lawyer's Quarterly, atau entah majalah apa yang kalian punya. Bintang muda cemerlang yang telah menaklukkan banyak orang di Mississippi. Menyelamatkan kakeknya anggota Klan celaka. Klienmu, sebaliknya, akan digiring kembali ke sangkarnya yang sempit, tempat dia kembali menghitung hari."

Sam melemparkan puntung rokok ke lantai dan meraih pundak Adam. "Lihatlah aku, Nak. Aku tak bisa mengalami ini lagi. Aku ingin kau menghentikan segalanya. Batalkan. Teleponlah pengadilan dan katakan pada mereka bahwa kita mencabut semua petisi dan dalih. Aku sudah tua. Biarkan aku mati dengan bermartabat."

Tangannya gemetar. Napasnya memburu. Adam mengamati matanya yang biru cemerlang, dikelilingi kerut-merut gelap, dan melihat secercah air mata meluncur di satu sudut jatuh perlahan-lahan ke pipi, lalu menghilang dalam jenggotnya yang kelabu.

"Aku tak ingin kau mati, Sam."

Sam meremas pundaknya lebih keras. "Mengapa tidak?" ia mendesak.

"Sebab aku baru saja menemukanmu. Kau kakekku."

Sam menatap sedetik lebih lama, lalu mundur selangkah. "Aku menyesal kau menemukanku dalam keadaan seperti ini," katanya sambil menyeka mata.

"Tak perlu minta maaf."

“Tapi aku harus melakukannya. Aku menyesal tidak menjadi kakek yang lebih baik. Lihatlah aku," katanya, memandang ke kaki. "Laki-laki celaka dalam baja monyet merah. Pembunuh yang akan digas bagaikan binatang. Dan lihatlah dirimu. Laki-laki muda tampan dengan pendidikan baik dan masa depan cemerlang. Di manakah aku keliru? Apa yang terjadi padaku? Kuhabiskan hidupku untuk membenci orang lain, dan lihat apa yang harus kuterima. Kau, kau tidak membenci siapapun. Dan lihatlah ke mana kau menuju. Kita Punya darah yang sama. Mengapa aku ada di sini?”

Sam perlahan-lahan duduk di kursi, tapi sikunya bertumpu pada lutut, matanya terpejam. Lama tak bergerak atau bicara. Sekali-sekali terdengar suara penjaga di gang, tapi ruangan itu sunyi.

"Kau tahu, Adam, aku lebih suka tidak mati dengan cara mengerikan seperti ini," kata Sam parau dengan tinju menempel di pelipis, masih memandang kosong ke lantai. "Tapi kematian ini sendiri tidak mengkhawatirkanku lagi sekarang. Sudah lama aku tahu akan mati di sini, dan ketakutanku yang terbesar adalah mati tanpa ada orang yang peduli. Bayangan itu mengerikan, kau tahu. Mati dan tak seorang pun peduli. Tak seorang pun menangis atau bersedih, berdukacita sepantasnya di pemakaman.

"Aku pernah bermimpi melihat mayatku dalam peti mati kayu murahan, tergeletak di rumah jenazah di Clanton, dan tak seorang pun berada dalam ruangan itu bersamaku. Bahkan Donnie pun tidak. Dalam mimpi yang sama, sang pendeta terkekeh selama upacara pemakaman, karena yang hadir cuma kami berdua, sendirian dalam kapel, berderet-deret bangku dalam keadaan kosong. Tapi sekarang berbeda. Aku tahu ada orang yang peduli padaku. Aku tahu kau akan sedih saat aku mati, sebab kau peduli. Dan aku tahu kau akan berada di sana saat aku dikuburkan, untuk memastikan pemakaman itu dilaksanakan dengan benar. Aku benar-benar siap pergi sekarang, Adam. Aku siap."

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 86)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.