Sabtu, 03 Juni 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 84)

 The Chamber: Kamar Gas

Sewaktu memandangi wajah-wajah mereka, suatu perasaan lega yang aneh memeluknya. Meskipun Sam jelas peserta sukarela, ia cuma salah satu anggota gerombolan itu, cuma bersalah sebagian. Jelas beberapa lelaki yang lebih tua dengan wajah keras itulah yang melaksanakan pembunuhan, dan sisanya ikut datang untuk menyaksikan. Melihat foto tersebut, mustahil membayangkan Sam dan sobat-sobatnya yang lebih muda telah melaksanakan kebrutalan ini.

Pemandangan itu menimbulkan seratus penanyaan yang tak terjawab. Siapa fotografernya, bagaimana ia bisa berada di sana dengan kameranya? Siapakah pemuda kulit hitam itu? Dimanakah keluarganya, ibunya? Bagaimana mereka menangkapnya? Apakah sebelumnya ia dipenjara, dan kemudian diserahkan kepada gerombolan oleh yang berwajib? Apa yang mereka lakukan dengan mayatnya setelah ini selesai? Apakah orang yang mengaku sebagai korban pemerkosa itu salah satu wanita muda yang tersenyum pada kamera? Apakah ayahnya salah satu dari laki-laki itu? Saudara-saudaranya?

Seandainya Sam melakukan pembunuhan sewenang-wenang pada usia semuda itu, apa yang bisa diharapkan darinya sebagai orang dewasa? Seberapa seringkah orang-orang ini berkumpul dan berpesta seperti ini di pedesaan Mississippi?

Bagaimana dalam dunia ciptaan Tuhan ini Sam Cayhall bisa menjadi orang lain selain dirinya?

***

Sam menunggu dengan sabar di kantor depan, menghirup kopi dari poci yang lain. Kopi ini kental dan sedap, berbeda dengan godokan ampas yang mereka sajikan setiap pagi kepada para narapidana. Packer memberikannya dalam cangkir besar. Sam duduk di meja, dengan kaki di kursi.

Pintu terbuka dan Kolonel Nugent melangkah tegap ke dalam, dengan Packer di belakang. Pintu ditutup. Sam menegak dan memberi hormat cepat.

"Selamat pagi, Sam," kata Nugent muram. "Bagaimana keadaanmu?"

"Hebat. Kau?"

"Sibuk."

"Yeah, aku tahu ada banyak urusan dalam pikiranmu. Ini berat bagimu, berusaha mengatur eksekusiku dan memastikannya berjalan benar-benar lancar. Tugas berat. Aku angkat topi untukmu."

Nugent tak menghiraukan sindiran itu. "Perlu bicara denganmu tentang beberapa hal. Pengacaramu sekarang mengatakan kau gila, dan aku cuma ingin melihat sendiri keadaanmu."

"Aku merasa seperti jutawan."

"Nah, kau kelihatannya sehat-sehat saja."

"Wah, terima kasih. Kau pun kelihatan sehat-sehat. Sepatu lars yang bagus."

Lars tempur hitam itu berkilauan seperti biasa. Packer meliriknya dan tersenyum lebar.

"Ya," kata Nugent sambil duduk di kursi dan melihat sehelai kertas. "Psikiater mengatakan kau tidak kooperatif."

"Kuharap begitu. Sudah hampir sepuluh tahun aku di sini, dan dia akhirnya membawa pantat besarnya ke sini. Yang dia inginkan adalah memberiku bius, sehingga aku melayang-layang saat badut-badut membunuhku. Membuat tugas lebih mudah, kan?"

"Dia cuma berusaha membantu."

"Kalau begitu, semoga Tuhan memberkatinya. Katakan padanya aku menyesal. Itu takkan terjadi lagi. Catat pelanggaranku dalam RVR. Masukkan laporan itu dalam berkasku."

"Kita perlu bicara tentang makanan terakhirmu.”

"Mengapa Packer ada di sini?"

Nugent melirik Packer, lalu memandang Sam, "Sebab begitulah prosedurnya."

"Dia ada di sini untuk melindungimu, kan? Kau takut padaku. Kau takut ditinggalkan sendirian bersamaku dalam ruangan ini, kan, Nugent? Aku hampir tujuh puluh tahun, lemah sekali, separo mati karena rokok, dan kau takut padaku, seorang pembunuh."

"Sama sekali tidak."

"Aku akan menendangi pantatmu ke seluruh penjuru ruangan ini, Nugent, kalau aku mau."

"Aku betul-betul takut. Dengar, Sam, mari kita selesaikan urusan ini. Apa yang kauinginkan sebagai makanan terakhirmu?"

"Sekarang hari Minggu. Makanan terakhirku dijadwalkan untuk Selasa malam. Mengapa kau merepotiku dengan urusan itu sekarang?"

"Kami harus menyusun rencana. Kau boleh minta apa saja, dalam batas yang wajar."

"Siapa yang akan memasaknya?"

"Akan disiapkan di dapur sini."

"Oh, hebat! Oleh koki pintar yang selama sembilan setengah tahun memberiku sampah. Sungguh menyebalkan!"

"Apa yang kauinginkan, Sam? Aku mencoba bersikap wajar."

"Bagaimana kalau roti panggang dan wortel godok? Aku tak suka membebani mereka dengan sesuatu yang baru."

"Baiklah, Sam. Bila kau sudah memutuskan, katakanlah pada Packer di sini, dan dia akan memberitahu dapur."

"Takkan ada makanan terakhir, Nugent. Pengacaraku akan melontarkan artileri berat besok. Kalian badut-badut takkan tahu apa yang menimpa diri kalian."

"Kuharap kau benar."

"Kau bangsat penipu. Kau tak sabar lagi ingin menggiringku ke sana dan mengikatku. Kau tak tahan dengan angan-angan menanyaiku apakah ada pesan terakhir, lalu mengangguk pada salah satu kacungmu untuk menutup pintu. Dan ketika segalanya selesai, kau akan menghadapi pers dengan wajah sedih dan mengumumkan bahwa 'Pada pukul 24.15, pagi ini, Agustus, Sam Cayhall dieksekusi dalam kamar gas di Parchman sini, sesuai dengan keputusan Circuit Court Lakehead County, Mississippi.' Itu akan jadi saat terhebat, Nugent. Jangan bohong padaku.”

Sang Kolonel tak pernah mengalihkan pandang dari kertas. "Kami perlu daftar saksimu."

“Temui pengacaraku."

"Dan kami perlu tahu. apa yang harus dilakukan dengan barang-barangmu."

“Temui pengacaraku."

"Oke. Kami menerima banyak permintaan wawancara dari pers."

"Temui pengacaraku."

Nugent melompat berdiri dan menghambur keluar dari kantor itu. Packer memegang pintu, menunggu beberapa detik, lalu dengan tenang berkata, "Duduklah di tempat, Sam, ada orang lain lagi yang ingin menemuimu."

Sam tersenyum dan mengedipkan mata pada Packer. "Kalau begitu, tolong ambilkan kopi lagi, Packer."

Packer mengambil cangkir, dan beberapa menit kemudian kembali membawa kopi. la juga memberikan koran Minggu dari Jackson kepada Sam, dan Sam sedang membaca segala macam berita tentang eksekusinya ketika sang Pendeta, Ralph Griffin, mengetuk dan masuk.

Sam meletakkan koran di meja dan mengamati sang Pendeta. Griffin memakai sepatu sport putih, jeans pudar, dan kemeja hitam dengan kerah pendeta berwarna putih.

"Pagi, Pak Pendeta," kala Sam sambil meneguk kopi.

“Apa kabar, Sam?" Griffin bertanya seraya menarik kursi sangat dekat ke meja, lalu duduk.

"Saat ini hati saya penuh dengan kebencian," kata Sam muram.

"Saya sedih mendengarnya. Kepada siapa kebencian itu ditujukan?"

"Kolonel Nugent. Tapi saya akan mengatasinya."

"Apakah Anda sudah berdoa, Sam?"

"Tidak."

"Kenapa tidak?"

"Mengapa tergesa-gesa? Saya masih punya hari ini, besok, dan hari Selasa. Saya rasa Anda dan saya akan berdoa banyak-banyak Selasa malam nanti."

“Kalau Anda menginginkannya. Itu terserah Anda. Saya akan berada di sini."

“Saya ingin Anda bersama saya sampai saat terakhir, Pak Pendeta, kalau Anda tidak keberatan. Anda dan pengacara saya. Kalian diizinkan duduk bersama saya selama jam-jam terakhir."

"Saya merasa mendapat kehormatan besar."

"Terima kasih."

"Tepatnya apa yang Anda ingin saya doakan, Sam?"

Sam meneguk kopinya lama-lama. "Ah, yang pertama, saya ingin tahu saat saya meninggalkan dunia, segala perbuatan buruk yang saya lakukan sudah diampuni."

"Dosa-dosa Anda?"

"Benar."

“Tuhan mengharapkan kita mengaku dosa pada-Nya dan meminta pengampunan."

"Semuanya? Sekaligus?"

"Ya, yang bisa kita ingat."

"Kalau begitu, lebih baik kita mulai dari sekarang. Akan butuh waktu beberapa lama."

"Terserah Anda. Apa lagi yang ingin Anda doakan?"

"Keluarga saya, seperti apa adanya. Ini akan berat bagi cucu saya, dan adik saya, dan mungkin anak perempuan saya. Takkan banyak air mata yang bakal dicucurkan untuk saya, Anda mengerti, namun saya ingin mereka mendapat penghiburan. Dan saya ingin memanjatkan doa bagi teman-teman saya di The Row sini. Ini akan berat bagi mereka."

"Ada lainnya?"

"Yeah. Saya ingin memanjatkan doa yang tulus bagi keluarga Kramer, terutama untuk Ruth."

"Keluarga korban?"

"Benar. Juga untuk keluarga Lincoln."

"Siapakah keluarga Lincoln?"

"Kisahnya panjang. Korban lain."

"Ini bagus, Sam. Anda perlu mengeluarkan ini dari dada Anda, untuk membersihkan jiwa."

"Perlu waktu bertahun-tahun untuk membersihkan jiwa saya, Pak Pendeta."

"Ada korban lain?"

Sam meletakkan cangkir di meja dan perlahan, menggosok-gosokkan kedua belah tangannya. Ia mengamati mata Ralph Griffin yang hangat dan penuh kepercayaan. "Bagaimana kalau ada korban lain?" tanyanya.

"Orang mati?"

Sam mengangguk, sangat perlahan.

"Orang-orang yang telah Anda bunuh?"

Sam terus mengangguk.

Griffin menghela napas dalam dan merenungkan masalah itu sejenak. "Ah, Sam, terus terang, saya tak ingin Anda mati tanpa mengakui dosa-dosa ini dan meminta pengampunan dari Tuhan."

Sam teras mengangguk.

"Berapa banyak?" tanya Griffin.

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 85)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.