Sabtu, 03 Juni 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 83)

 The Chamber: Kamar Gas

"Aku tak ingin menghabiskan tiga hari berikut ini bicara tentang hidupku. Aku tak ingin ada orang asing mengendus-endus di Ford County. Dan aku sama sekali tidak butuh seratus ribu dolar pada titik kehidupanku yang sekarang."

"Baik. Kau dulu pernah bicara tentang pakaian yang ingin kaupakai."

"Donnie sedang mengurusnya."

"Oke. Selanjutnya. Seandainya tak ada penundaan, kau boleh ditemani dua orang pada jam-jam terakhir. Seperti biasa, penjara punya formulir yang harus kautandatangani untuk menentukan orang-orang ini."

"Orangnya selalu si pengacara dan pendeta, kan?"

"Benar."

"Kalau begitu, orangnya adalah kau dan Ralph Griffin, kurasa."

Adam mengisikan nama-nama itu pada sehelai formulir. "Siapakah Ralph Griffin?"

"Pendeta baru di sini. Dia menentang hukuman mati, bisakah kau percaya? Pendahulunya berpendapat kami semua harus digas, dalam nama Yesus, tentunya."

Adam mengangsurkan formulir itu pada Sam. "Tanda tangani di sini."

Sam mencoretkan namanya dan mengangsurkannya kembali.

"Kau berhak melakukan hubungan suami-istri untuk terakhir kali."

Sam tertawa keras. "Sudahlah, Nak. Aku sudah tua."

"Itu tercantum dalam checklist, oke? Lucas Mann kemarin dulu membisiki aku bahwa aku harus menyebutkan hal ini."

"Oke. Kau sudah menyebutkannya."

"Aku punya formulir lain di sini untuk barang-barang pribadimu. Siapa yang akan menerimanya?"

"Maksudmu hartaku?"

"Kurang-Iebih."

"Ini luar biasa sinting, Adam. Mengapa kita melakukannya?"

"Aku pengacara, Sam. Kami menangani detail. Ini cuma masalah dokumen.”

"Kau ingin barang-barangku?"

Adam memikirkan hal ini sejenak, tapi juga tak bisa membayangkan apa yang akan dilakukannya dengan pakaian tua yang lusuh, buku-buku kusut, dan sepatu mandi dari karet. "Tentu," katanya.

"Kalau begitu, semuanya untukmu. Ambil dan bakarlah."

"Tanda tanganilah di sini," kata Adam, mendorong formulir itu ke bawah wajahnya.

Sam menandatangani, lalu melompat berdiri dan mulai mondar-mandir lagi. "Aku benar-benar ingin menemui Donnie."

"Baiklah. Apa pun yang kau mau," kata Adam, menjejalkan buku catatan dan formulir-formulir tadi ke dalam tas kerja. Perincian-perincian kecil itu sekarang sudah lengkap. Tas itu terasa jauh lebih berat.

"Aku akan kembali besok pagi," katanya kepada Sam.

"Bawa kabar baik untukku, oke?"

***

Kolonel Nugent berjalan pongah menyusuri tepi jalan raya, dengan selusin penjaga penjara bersenjata di belakangnya. Ia menatap tajam orang-orang Klan, yang pada hitungan terakhir semuanya ada sepuluh. Ia berhenti dan menatap kelompok skinhead bercampur di sebelah kelompok Nazi.

~ 43 ~

Mungkin karena hari Minggu, atau mungkin gara-gara hujan, Adam minum kopi paginya dalam ketenteraman yang tak terduga. Hari masih gelap di luar, dan tetesan lembut gerimis hangat musim panas di teras terasa menyihir. Ia berdiri di tengah pintu yang terbuka, mendengarkan tetesan hujan. Hari masih terlalu pagi untuk lalu lintas di Riverside di bawah. Tak ada suara dari perahu tambang di sungai. Semuanya hening dan damai.

Dan begitu banyak urusan yang harus dikerjakan hari ini. Hari ketiga sebelum eksekusi. Ia akan mulai di kantor, tempat petisi detik terakhir lainnya harus disiapkan. Intinya begitu konyol, sampai Adam nyaris malu mengajukannya. Kemudian ia akan pergi ke Parchman dan duduk bersama Sam untuk bercakap-cakap.

Rasanya takkan ada gerakan apa pun dari pengadilan pada hari Minggu. Itu mungkin karena para panitera pengurus hukuman mati dan staf mereka tetah siaga ketika eksekusi sudah mendekati Jumat, dan Sabtu berlalu tanpa keputusan apa pun, dan ia siap menghadapi ketidakaktifan yang sama hari ini. Menurut pendapatnya yang tak terlatih dan belum teruji, besok keadaan akan jauh berbeda.

Besok tak akan ada apa-apa kecuali hiruk-pikuk. Dan hari Selasa, yang tentunya dijadwalkan menjadi hari terakhir Sam sebagai makhluk bernapas, akan jadi mimpi buruk penuh ketegangan.

Namun hari Minggu ini tenang luar biasa. Ia tertidur hampir tujuh jam, rekor baru belakangan ini. Kepalanya jernih, denyut nadinya normal, dan napasnya teratur. Pikirannya tenang dan tidak kusut.

Ia membalik-balik koran Minggu, memeriksa judul-judul berita, tapi tidak membaca apa pun. Sedikitnya ada dua berita tentang eksekusi Cayhall, satu dengan foto-foto lebih banyak tentang sirkus yang makin menghebat di luar gerbang penjara. Hujan berhenti ketika matahari muncul, dan ia duduk di kursi goyang basah selama satu jam, melihat-lihat majalah arsitektur milik Lee. Sesudah beberapa jam menikmati ketenangan dan keheningan, Adam bosan dan siap beraksi.

Ada urusan yang belum tuntas dalam kamar tidur Lee, urusan yang ingin dilupakan Adam tapi tak bisa. Sudah sepuluh hari sekarang, pertempuran tanpa suara berkecamuk dalam jiwanya tentang buku dalam laci Lee. Lee dalam keadaan mabuk ketika bercerita tentang foto pembunuh sewenang-wenang itu. Tapi itu bukan igauan seorang pecandu alkohol.

Adam tahu buku itu ada, Ada buku sungguhan dengan foto asli seorang laki-laki muda berkulit hitam tergantung pada tali dan di bawah kakinya ada segerombolan orang kulit purih yang bangga, bergaya di depan kamera, kebal terhadap tuntutan hukum. Secara mental ia sudah menyusun foto itu, menambahkan wajah-wajah, menggambarkan pohon itu, melukiskan talinya, menambahkan judul di bawahnya. Namun ada beberapa hal yang tidak diketahuinya dan tak dapat ia bayangkan.

Apakah wajah orang ini bisa terlihat? Apakah ia memakai sepatu atau bertelanjang kaki? Apakah Sam yang masih sangat muda bisa dikenali dengan mudah? Berapa banyak wajah putih dalam foto itu? Dan berapa usia mereka? Apakah ada wanita? Senapan? Darah? Lee mengatakan laki-laki itu dicambuk. Apakah cambukit ada dalam foto?

Sudah berhari-hari ia membayangkan foto itu, dan sudah tiba saatnya melihat buku tersebut. Ia tak bisa menunggu sampai nanti. Lee mungkin akan kembali segar bugar. Ia mungkin akan memindahkan buku itu, menyembunyikannya lagi. la merencanakan akan menghabiskan dua atau tiga malam mendatang di sini, tapi itu bisa berubah dengan satu hubungan telepon. Ia bisa saja terpaksa pergi ke Jackson atau tidur dalam mobilnya di Parchman. Urusan-urusan rutin macam makan siang, makan malam, dan tidur sekonyong-konyong jadi tak dapat diramalkan bila klienmu cuma punya waktu kurang dari seminggu untuk hidup.

Ini saat yang tepat, dan ia memutuskan dirinya sudah siap menghadapi gerombolan pembunuh itu. Ia berjalan ke pintu depan dan memeriksa halaman parkir, untuk memastikan Lee tidak memutuskan kembali. Ia mengunci pintu ke kamar tidur Lee dan menarik laci paling atas. Laci itu penuh dengan pakaian dalam, dan ia malu melakukan penggeledahan ini.

Buku itu ada di laci ketiga, tergeletak di atas sweatshirt yang sudah pudar warnanya. Buku itu tebal dan dijilid dengan kain hijau—Southern Negroes and the Great Depression. Diterbitkan pada tahun 1947 oleh Toffler Press, Pittsburgh.

Adam mengambilnya dan duduk di tepi ranjang. Halaman-halamannya amat bersih dan rapi, seolah-olah buku itu tak pernah disentuh atau dibaca. Lagi pula siapa di daerah Deep South yang akan membaca buku macam itu? Bila buku itu telah beberapa dasawarsa menjadi milik keluarga Cayhall, Adam yakin buku itu tak pernah dibaca. Ia mengamati sampul dan merenungkan keadaan macam apa yang menjadikan buku ini milik keluarga Sam Cayhall.

Buku itu berisi foto-foto yang terdiri atas tiga bagian. Yang pertama adalah sejumlah foto rumah dan gubuk reyot tempat orang-orang kulit hitam dipaksa tinggal di perkebunan. Ada foto-foto keluarga di teras depan dengan puluhan anak, ada foto-foto wajib pekerja perkebunan yang membungkuk rendah di ladang sedang memetik kapas.

Bagian kedua ada di tengah buku, jumlahnya dua puluh halaman. Ada dua foto, yang pertama berupa pemandangan darah yang mengerikan dengan dua orang Ku Klux Klan berjubah dan berkerudung memegang senapan dan bergaya di depan kamera. Seorang laki-laki kulit hitam yang dianiaya berat tergantung dari tambang di belakang mereka, matanya separo terbuka, wajahnya hancur lebur dan berdarah.

Tulisan di bawahnya menerangkan: Pembunuhan semena-mena KKK, Central Mississippi, 1939. Seolah-olah ritual ini bisa diterangkan sekadar dengan memberikan tempat dan waktu.

Adam ternganga ngeri melihat foto itu, kemudian membalik halaman, melihat pemandangan pembunuhan kedua. Yang ini nyaris bukan apa-apa dibandingkan dengan yang pertama. Tubuh tak bernyawa di ujung tali itu hanya bisa dilihat dari dada ke bawah. Pakaiannya robek-robek, mungkin karena cambuk, bila benar alat itu dipakai. Laki-laki hitam itu sangat kurus, celananya yang kedodoran dieratkan di pinggang, ia bertelanjang kaki. Tak ada darah yang terlihat.

Tali yang menopang tubuhnya bisa dilihat terikat pada dahan yang lebih rendah di latar belakang. Pohon itu besar, dengan dahan-dahan kekar dan batang besar. Satu kelompok yang gembira berkumpul cuma beberapa senti dari kaki yang bergelantungan.

Lelaki, wanita, dan anak-anak membadut di depan kamera, beberapa orang bergaya menunjukkan kemarahan dan kejantanan yang dilebih-lebihkan— alis berkerut dalam, mata ganas, bibir bertaut rapat, seolah-olah mereka memiliki kekuasaan tak terbatas untuk melindungi kaum wanita mereka dari agresi orang Negro; sebagian lainnya tersenyum dan tampak seperti tertawa kecil, terutama yang wanita, dua di antaranya cukup cantik; satu bocah laki-laki memegang pistol dan mengarahkannya ke kamera dengan lagak mengancam; seorang laki-laki muda memegang botol minuman keras yang diarahkan ke kamera untuk menunjukkan labelnya.

Kebanyakan mereka tampak gembira dengan peristiwa ini. Adam menghitung ada tujuh belas orang dalam kelompok tersebut, setiap orang menatap ke kamera tanpa malu atau khawatir, tanpa sedikit pun tanda telah terjadi suatu kesalahan. Mereka sepenuhnya kebal dari tuntutan hukum. Mereka baru saja membunuh manusia lain, dan jelas terlihat bahwa mereka melakukannya tanpa perasaan takut akan konsekuensi.

Ini sebuah pesta. Terjadi di waktu malam, udara hangat, ada minuman keras dan wanita cantik. Tentu mereka membawa makanan dalam keranjang dan akan menggelar tikar di tanah untuk menikmati piknik di sekeliling pohon itu.

Pembunuhan semena-mena di pedesaan 1936, demikian bunyi tulisan di bawahnya. Ada laki-laki muda yang mirip dengan Sam, tapi mustahil mengatakannya dengan pasti. Mereka bertiga bergaya hebat di depan kamera. Umurnya lima belas atau enam belas. Wajahnya yang kurus berusaha keras, mengancam—bibir bertaut, alis merapat, dagu terangkat. Kepongahan seorang bocah laki-laki yang berusaha menyamai bajingan-bajingan yang matang di sekelilingnya.

Ia bisa dikenali dengan mudah, sebab seseorang telah menorehkan garis dengan tinta biru yang sudah pudar ke tepi foto itu, di mana nama Sam Cayhall tertulis dengan huruf besar. Garis itu melintasi tabuh dan wajah orang lain dan berhenti pada telinga kiri Sam. Eddie. Ini pasti perbuatan Eddie. Lee mengatakan Eddie menemukan buku ini di gudang di atas pata-para, dan Adam bisa membayangkan ayahnya bersembunyi dalam kegelapan, menangisi foto itu, mengidentifikasikan Sam dengan menudingkan panah yang menuduh ke kepalanya.

Lee juga mengatakan ayah Sam adalah pemimpin gerombolan kecil ini, namun Adam tak dapat mengenalinya. Mungkin Eddie pun tak bisa mengenalinya, sebab tak ada tanda-tanda apa pun. Di situ sedikitnya ada tujuh laki-laki yang cukup tua untuk jadi ayah Sam. Berapa di antara orang-orang ini bermarga Cayhall. Lee mengatakan saudara-saudara Sam juga terlibat, dan barangkali mereka mengamati mata kakeknya yang jernih dan indah, lalu hatinya sakit.

Sam cuma seorang bocah, dilahirkan dan dibesarkan dalam sebuah ramah tangga di mana kebencian terhadap orang kulit hitam dan golongan lain merupakan jalan hidup. Berapa banyak kesalahan yang bisa ditimpakan padanya? Lihatlah orang-orang di sekelilingnya, ayahnya, sanak saudara, teman-teman, dan tetangga, semuanya mungkin orang-orang jujur, miskin, dan rajin yang terekam pada akhir suatu upacara kejam yang merupakan hal lumrah dalam masyarakat mereka. Sam tak punya pilihan. Inilah dunia satu-satunya yang ia ketahui.

Bagaimana Adam bisa mendamaikan masa lalu dengan masa kini? Bagaimana ia bisa menuai orang-orang dan perbuatan mengerikan ini dengan adil bila perbedaan nasib bisa membuatnya berada di tengah-tengah mereka, seandainya ia lahir empat puluh tahun lebih awal?

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 84)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.