Sabtu, 03 Juni 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 82)

 The Chamber: Kamar Gas

"Siapa Bibi Barb?"

"Ibu Hubert Cain. Aku bahkan tidak yakin dia masih sanak kita. Aku hampir tak mengenalnya sampai tiba di sini, lalu dia mulai mengirim surat-surat yang menyebalkan itu. Perasaannya terkoyak-koyak oleh fakta bahwa salah satu anggota keluarganya dikirim ke Parchman."

"Semoga dia beristirahat dengan damai."

Sam terkekeh dan teringat pada cerita lama semasa kecil. Ia menceritakannya dengan antusias, dan beberapa menit kemudian dua bersaudara itu tertawa keras. Donnie teringat pada kisah lain, dan demikianlah pertemuan itu berlangsung selama satu jam.

***

Saat Adam tiba Sabtu sore, Donnie sudah berjam-jam berlalu. Ia dibawa ke kantor depan. Di situ ia menggelar beberapa surat kabar di meja. Sam dibawa masuk, borgolnya dilepaskan, dan pintu ditutup di belakang mereka. Ia membawa beberapa amplop lagi, yang langsung dilihat Adam. "Ada tugas lagi untukku?" tanyanya curiga.

"Yeah, tapi ini bisa menunggu sampai segalanya selesai."

"Untuk siapa?"

"Satu untuk keluarga Pinder yang kubom di Vicksburg. Satu untuk sinagoga Yahudi yang kubom di Jackson. Satu untuk agen real estate Yahudi itu, juga di Jackson. Mungkin ada lainnya. Tak perlu tergesa-gesa, aku tahu kau sedang sibuk sekarang. Tapi setelah aku pergi, aku akan berterima kasih kalau kau melaksanakannya."

"Apa isi surat-surat ini?"

"Menurutmu apa?"

"Entahlah. Kurasa kau mengatakan menyesal."

"Bocah pintar. Aku minta maaf atas perbuatanku, bertobat atas dosa-dosaku, dan meminta mereka memaafkanku."

"Mengapa kau melakukan ini?"

Sam berhenti dan bersandar pada lemari arsip, "Sebab aku duduk dalam sangkar sempit sepanjang hari. Sebab aku punya mesin tik dan banyak kertas. Aku bosan setengah mati, oke? Jadi, mungkin aku ingin menulis. Karena aku punya hati nurani, tidak begitu besar, tapi ada, dan makin dekat ajal, makin bersalah saja perasaanku tentang semua yang telah kulakukan."

"Maaf. Surat-surat itu akan kukirim." Adam melingkari sesuatu pada checklist. "Kita masih punya dua dalih. Pengadilan Fifth Circuit masih berlama-lama dengan klaim ketidakefektifan bantuan hukum. Aku mengharapkan akan muncul sesuatu sekarang, tapi sudah dua hari tak ada gerakan. Pengadilan distrik masih memproses klaim inkompetensi mental."

"Percuma, Adam."

"Mungkin, tapi aku takkan menyerah. Akan kuajukan selusin petisi lagi kalau perlu."

"Aku takkan menandatangani apa-apa lagi. Kau tak bisa mengajukannya kalau aku tidak menandatanganinya."

"Bisa. Ada banyak cara.”

"Kalau begitu, kau dipecat."

"Kau tak bisa memecatku, Sam. Aku cucumu."

"Kita punya perjanjian yang mengatakan aku bisa memecatmu kapan saja aku mau. Perjanjian itu tertulis hitam di atas putih."

"Itu dokumen yang tidak kompeten, dikonsep oleh ahli hukum penghuni penjara yang baik, tapi toh tidak kompeten secara fatal."

Sam menyedot dan mengepulkan asap rokok dan mulai berjalan lagi di deretan tegel. Setengah lusin kali ia lewat di depan Adam, pengacaranya kini, besok, dan sepanjang sisa hidupnya, ia tahu tak bisa memecatnya.

"Akan diadakan sidang pertimbangan pemberian pengampunan pada hari Senin," kata Adam, melihat buku tulis, dan menunggu ledakan. Namun Sam menerimanya dengan baik, kakinya tak pernah berhenti melewatkan satu langkah pun.

"Apa tujuan sidang itu?"

"Memohon pengampunan."

"Kepada siapa?"

"Gubernur."

"Dan kaupikir Gubernur akan mempertimbangkan memberiku pengampunan?"

"Apa ruginya?"

"Jawab pertanyaan itu, bocah sok pintar. Apakah kau, dengan segala pendidikan, pengalaman, dan kecemerlangan yudisialmu, serius mengharap gubernur ini memberikan pengampunan padaku?"

"Mungkin."

"Mungkin gombal. Kau tolol"

“Terima kasih, Sam."

"Kembali." Ia berhenti tepat di depan Adam dan menudingkan saru jarinya yang bengkok pada Adam. "Sejak permulaan sudah kukatakan padamu bahwa aku, sebagai klien, dan dengan demikian berhak dipertimbangkan pendapatnya, sama sekali tak mau berhubungan dengan David McAllister. Aku takkan memohon pengampunan pada si goblok itu. Aku takkan minta keringanan. Aku tak mau mengadakan kontak dengannya dalam keadaan apa pun. Itu kehendakku, dan aku sudah menjelaskan hal ini dengan tegas kepadamu, anak muda, sejak hari pertama. Kau sebaliknya, sebagai pengacara, telah mengabaikan keinginanku dan seenaknya bersenang-senang melakukan apa yang kauinginkan. Kau pengacara, tidak kurang tidak lebih. Aku, sebaliknya, adalah klien. Aku tak tahu apa yang mereka ajarkan di sekolah hukum canggih itu, tapi akulah yang mengambil keputusan."

Sam berjalan ke kursi kosong dan memungut satu amplop lain. Ia mengangsurkannya pada Adam dan berkata, "Ini surat untuk Gubernur, memintanya membatalkan sidang hari Senin. Kalau kau menolak sidang itu dibatalkan, aku akan membuat copy ini dan menyebarkannya kepada pers. Aku akan mempermalukanmu dan Garner Goodman, serta Gubernur. Kau mengerti?''

"Cukup jelas."

Sam mengembalikan amplop itu ke kursi, lalu menyalakan sebatang rokok lagi. Adam membuat satu lingkaran lagi pada daftarnya. "Carmen akan ke sini hari Senin. Aku tidak pasti dengan Lee."

Sam bergeser ke kursi dan duduk. Ia tidak memandang Adam. "Apakah dia masih di lembaga rehabilitasi?"

"Ya, dan aku tidak pasti kapan dia keluar. Kau ingin dia datang berkunjung?"

"Coba kupikir dulu."

"Pikirkanlah cepat-cepat, oke?"

"Lucu, sungguh lucu. Saudaraku Donnie tadi datang. Dia adikku, kau tahu. Dia ingin bertemu denganmu."

"Apakah dia pernah bergabung dengan Klan?"

"Pertanyaan macam apa itu?"

"Ini pertanyaan ya atau tidak yang sederhana"

"Ya. Dia pernah jadi anggota Klan."

"Kalau begitu, aku tak ingin bertemu dengannya."

"Dia bukan orang jahat."

"Aku percaya kata-katamu."

"Dia adikku, Adam. Aku ingin kau menemui adikku."

"Aku tidak mau bertemu dengan Cayhall-Cayhall baru, Sam, apalagi yang suka mengenakan jubah dan kerudung."

"O ya? Padahal tiga minggu yang lalu kau tahu segalanya tentang keluarga kita. Terus  tanya ini-itu."

"Aku menyerah, oke? Sudah cukup aku dengar."

"Oh, tapi masih banyak yang lain."

"Cukup, cukup, tak usah diceritakan padaku."

Sam menggerutu dan tersenyum puas sendiri.

Adam melihat catatannya dan berkata, "Kau aku senang mengetahui orang-orang Klan di luar sana sekarang disusul kelompok Nazi, Arya, skinhead, dan kelompok pembenci lainnya. Mereka berbaris di sepanjang jalan raya, melambai-lambaikan poster pada mobil-mobil yang lewat. Poster-poster itu, tentu saja, menuntut kebebasan Sam Cayhall, pahlawan mereka. Sirkus biasa."

"Aku melihatnya di televisi."

"Mereka juga berbaris di Jackson, di sekitar gedung kapitol."

"Apa ini salahku?"

"Bukan. Ini eksekusimu. Kau jadi simbol sekarang. Akan jadi martir."

"Apa yang harus kulakukan?"

“Tidak ada. Teruskan saja dan mati, dan mereka semua akan senang."

"Apakah kau bukan bangsat hari ini?"

"Maaf, Sam. Tekanan ini mempengaruhiku."

"Menyerah saja. Aku sudah melakukannya. Aku sangat merekomendasikannya."

"Lupakan saja. Aku telah membuat badut-badut itu lari jungkir balik, Sam. Aku belum lagi bertempur."

“Yeah, kau sudah mengajukan tiga petisi, dan tujuh pengadilan semua menolakmu. Nol banding tujuh. Aku benci melihat apa yang akan terjadi saat kau benar-benar ganas." Sam mengucapkan ini dengan senyum licik, dan humor itu mengenai sasaran. Adam tertawa, dan mereka berdua bernapas lebih lega.

"Aku punya gagasan hebat untuk mengajukan gugatan setelah kau pergi," katanya, pura-pura bergembira.

"Sesudah aku pergi?"

“Tentu. Kita gugat mereka mengakibatkan kematian yang tidak sah. Kita tuding McAllister, Nugent, Roxburgh, Negara Bagian Mississippi. Kita seret semua orang."

"Itu belum pernah dilakukan," kata Sam sambil membelai jenggot, seolah-olah berpikir keras.

"Yeah, aku tahu. Semua itu kupikirkan sendiri. Kita mungkin takkan memenangkan satu peser pun, tapi bayangkan keramaiannya. Aku akan menganiaya bangsat-bangsat itu selama lima tahun mendatang."

"Kau mendapat izinku untuk mengajukannya. Gugat mereka!"

Senyum mereka perlahan-lahan lenyap dan humor tersebut menghilang. Adam menemukan hal lain dalam cheeklist-nya. "Cuma beberapa hal lagi. Lucas Mann memintaku menanyakan saksi-saksimu. Kau berhak menunjuk dua orang untuk hadir dalam ruang saksi, kalau urusan berlanjut sampai sejauh itu."

"Donnie tak mau melakukannya. Aku takkan mengizinkanmu berada di sana. Aku tak bisa membayangkan orang lain lagi yang ingin menyaksikannya."

"Baiklah. Bicara tentang mereka, aku sedikitnya menerima tiga puluh permintaan untuk wawancara. Sebenarnya setiap surat kabar dan majalah terkemuka ingin mendapatkan hak itu."

“Tidak.”

"Baiklah. Ingat penulis yang kita bicarakan pada pertemuan terakhir—Wendall Sherman? Orang yang ingin merekam kisahmu dan..."

"Yeah. Untuk 50.000 dolar."

"Sekarang tawarannya seratus ribu. Penerbitnya akan menyediakan uang itu. Dia ingin merekam semuanya, menyaksikan eksekusi, melakukan riset ekstensif, lalu menulis buku tebal tentang ini."

“Tidak."

"Baiklah."

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 83)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.