Sabtu, 03 Juni 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 81)

 The Chamber: Kamar Gas

"Dan masih ada lagi. Ada banyak telepon masuk ke berbagai nomor di kantor ini. Sekretaris saya menerima sekitar selusin. Saya bicara dengan beberapa orang kita, dan mendapat telepon macam itu. Dan Roxburgh menelepon saya di rumah tadi malam, mengatakan kantornya diserbu dengan telepon yang menentang eksekusi tersebut.”

"Bagus. Aku ingin dia berkeringat juga."

"Apakah kita akan menutup hotline?”

"Berapa operator yang bekerja pada hari Sabtu dan Minggu?"

"Hanya satu."

"Tidak. Biarkan terbuka hari ini. Coba, apa yang terjadi hari ini dan besok."

"Sembilan puluh persen lebih,” ralat Mona.

***

Ruang pertempuran itu dipenuhi kotak dan nampan berisi donat hangat dan kertas tinggi berisi kopi. Sekarang menunggu para analis itu.

Saat bosan kemarin, ia pergi ke pusat pertokoan, mencari toko buku. Ia menemukan teropong, dan sepanjang siang ia bersenang-senang mengintip Gubernur sedang berpikir di jendelanya, tak disangsikan lagi tentu bertanya-tanya dari mana telepon-telepon terkutuk itu berasal.

Mahasiswa-mahasiswa itu melahap donat dan surat kabar. Terjadi suatu diskusi pendek tapi serius mengenai kekurangan prosedural dalam undang-undang pembelaan setelah vonis dijatuhkan. Anggota ketiga dalam shift mi, seorang mahasiswa tahun pertama dari New Orleans, tiba pukul 08.00, dan telepon itu dimulai.

Segera jelas bahwa itu tidak seefisien hari sebelumnya. Sulit menghubungi operator. Tak ada masalah. Mereka memakai nomor-nomor lain telepon di istana Gubernur, kantor-kantor kecil yang di tengah-tengah penggemar di seluruh penjuru negara bagian sehingga ia, sebagai orang biasa, bisa berada dekat dengan rakyat Rakyat yang menelepon.

Goodman meninggalkan kantor dan berjalan menyusuri Congress Street, menuju gedung kapital. Ia mendengar suara loudspeaker sedang dicoba, dan kemudian melihat orang-orang Ku Klux Klan. Mereka sedang mengatur diri, sedikitnya satu lusin berpakaian parade lengkap, di sekeliling monumen wanita. Konfederasi di dasar menuju gedung kapitol. Goodman berjalan di samping mereka, bahkan mengucapkan halo pada salah satunya, sehingga bila kembali ke Chicago, ia bisa mengatakan dirinya pernah bicara dengan orang Ku Klux Klan asli.

Dua reporter yang sudah menunggu Gubernur sekarang berada di tangga depan, menyaksikan pemandangan di bawah. Satu kru televisi lokal tiba ketika Goodman memasuki gedung.

Gubernur terlalu sibuk untuk menemuinya, Mona Stark menjelaskan dengan prihatin, tapi Mr. Larramore bisa memberi waktu beberapa menit. Ia tampak amat letih, dan ini membuat Goodman sangat senang. Ia mengikutinya ke kantor Larramore. Mereka menemukan sang pengacara sedang bicara di telepon. Goodman berharap ini salah satu teleponnya. Ia duduk dengan patuh. Mona menutup pintu dan meninggalkan mereka.

"Selamat pagi," kata Larramore setelah selesai bicara.

Goodman mengangguk sopan dan berkata, "Terima kasih atas sidang itu. Kami tidak berharap Gubernur akan mengabulkannya, mengingat apa yang dikatakannya hari Rabu kemarin."

"Dia mengalami banyak tekanan. Kami semua. Apakah klien Anda bersedia bicara tentang asistennya?"

“Tidak. Tak ada perubahan."

Larramore menyisir rambutnya yang lengket dengan jari dan menggelengkan kepala dengan kesal. "Kalau begitu, apa gunanya diadakan sidang pertimbangan pengampunan? Gubernur takkan mengubah keputusan ini, Mr, Goodman."

"Kami sedang membujuk Sam, oke? Kami sedang bicara dengannya. Mari kita teruskan dengan sidang itu hari Senin. Mungkin Sam akan berubah pikiran."

Telepon berdering dan Larramore mengangkatnya dengan marah. "Bukan, ini bukan kantor Gubernur. Siapa ini?" Ia menuliskan satu nama dan nomor telepon. "Ini bagian hukum gubernuran." Ia memejamkan mata dan menggelengkan kepala. "Ya, ya, saya yakin Anda memberikan suara untuk Gubernur." Ia mendengarkan lebih jauh. "Terima kasih, Mr. Hurt. Akan saya sampaikan pada Gubernur bahwa Anda menelepon. Ya, terima kasih."

Ia mengembalikan gagang telepon ke tempatnya. "Jadi, Mr. Gilbert Hurt dari Dumas, Mississippi, tidak setuju dengan eksekusi itu," katanya, menatap ke telepon. "Telepon di sini jadi gila."

"Banyak telepon masuk, ya?" tanya Goodman, bersimpati. "Anda takkan percaya."

"Setuju atau tidak?"

"Bisa saya katakan fifty-fifty," kata Larramore. Ia kembali mengangkat telepon dan menekan nomor Mr. Gilbert Hurt dari Dumas, Mississippi. Tak seorang pun menjawab. "Aneh," katanya sambil meletakkan kembali gagang telepon.

"Mungkin baru saja keluar. Coba lagi.” Goodman berharap ia tak punya waktu untuk coba lagi nanti. Selama satu jam pertama kemarin, Goodman melakukan sedikit perubahan teknik. Ia menginstruksikan para peneleponnya untuk lebih dulu memeriksa nomor telepon tersebut, memastikan tak ada jawaban, mencegah orang-orang yang suka ingin tahu macam Larramore atau mungkin operator hotline yang usil menelepon kembali dan menemukan orang sebenarnya. Besar kemungkinan orang tersebut sangat mendukung hukuman mati. Ini memang memperlambat pekerjaan, tapi Goodman merasa lebih aman.

"Saya sedang menyusun rancangan sidang itu, berjaga-jaga kalau benar akan dilaksanakan," kata Larramore. "Kita mungkin akan melaksanakannya di House Ways and Means Committee Room, di ujung gang ini."

"Apakah ini sidang tertutup?"

"Tidak. Apakah itu jadi masalah?"

"Kami punya sisa empat hari, Mr. Larramore. Segalanya jadi masalah. Tapi Gubernur berhak menentukan sidang ini. Kami hanya bersyukur dia mengadakannya."

"Saya punya nomor Anda. Tetaplah berhubungan."

Mereka berjabat tangan cepat dan Goodman meninggalkan kantor. Ia duduk di tangga depan setengah jam, menyaksikan orang-orang Klan menarik perhatian orang-orang.

~ 42 ~

Meskipun di waktu muda pernah memakai jubah putih dan kerudung runcing, Donnie Cayhall menjaga jarak dengan deretan orang Klan yang berpatroli di lapangan rumput dekat gerbang depan Parchman. Keamanan dijaga ketat, dengan penjaga-penjaga bersenjata mengawasi para pemrotes. Di samping payung besar tempat orang-orang Klan berkumpul ada sekelompok skinhead dengan kemeja cokelat. Mereka memegang spanduk menuntut pembebasan Sam Cayhall.

Donnie melihat pemandangan itu sebentar, lalu mengikuti petunjuk seorang penjaga dan parkir di tepi jalan raya. Namanya diperiksa di gardu jaga, dan beberapa menit kemudian sebuah van penjara datang menjemputnya. Kakaknya sudah sembilan setengah tahun di Parchman, dan Donnie mencoba mengunjungi sedikitnya sekait setahun. Namun kunjungan terakhir adalah dua tahun yang lalu, ia malu mengakui.

Donnie Cayhall berumur 61 tahun, termuda di antara saudaranya, dan bergabung dengan Klan pada usia belasan tahun. Keputusan itu sederhana, tanpa banyak pemikiran, keputusan yang diharapkan seluruh keluarga. Kelak ia bergabung dalam ketentaraan, berperang di Korea, dan keliling dunia. Dalam proses tersebut, ia kehilangan minat memakai jubah dan membakari salib. Ia meninggalkan Mississippi pada tahun 1961 dan bekerja pada perusahaan mebel di North Carolina. Ia sekarang tinggal dekat Durham.

Setiap bulan sepanjang sembilan setengah tahun, ia mengirimi Sam satu kardus rokok dan sedikit uang. Ia menulis beberapa surat, tapi baik ia maupun Sam tidak berminat dalam surat-menyurat. Tak banyak orang di Durham yang tahu bahwa ia punya kakak di death row.

Ia digeledah di pintu depan, dan ditunjuki jalan ke kantor depan. Sam dibawa beberapa menit kemudian, dan mereka dibiarkan sendiri. Donnie memeluknya lama-lama. Ketika saling melepaskan pelukan, mata mereka berdua berkaca-kaca. Tinggi dan perawakan mereka mirip, meskipun Sam kelihatan dua puluh tahun lebih tua. Ia duduk di pinggir meja dan Donnie mengambil kursi di dekatnya.

Mereka berdua menyalakan rokok dan menerawang ke awang-awang. "Ada kabar baik?" Donnie akhirnya bertanya, yakin akan jawabannya.

“Tidak. Sama sekali tidak ada. Berbagai pengadilan menolak segalanya. Mereka akan melalukannya, Donnie. Mereka akan membunuhku. Mereka akan menggiringku ke kamar gas dan mengegasku seperti binatang."

Wajah Donnie menunduk. "Aku ikut sedih, Sam."

"Aku juga, tapi persetan, aku akan senang bila semuanya selesai."

"Jangan berkata begitu."

"Aku sungguh-sungguh. Aku muak hidup dalam sangkar. Aku sudah tua dan saatku sudah tiba."

“Tapi kau tak layak dibunuh, Sam."

“Itulah bagian terberat, kau tahu. Bukan karena aku akan mati, persetan, kita semua akan mati. Aku cuma tak tahan memikirkan bangsat-bangsat ini bersenang-senang membunuhku. Mereka akan menang. Dan hadiah mereka adalah mengikatku dan menyaksikan aku tersedak. Gila."

“Tak bisakah pengacaramu melakukan sesuatu?"

"Dia mencoba segalanya, tapi tampaknya tak ada harapan. Aku ingin kau menemuinya."

"Aku melihat fotonya di surat kabar. Dia tidak mirip golongan kita."

"Dia beruntung. Tampangnya lebih mirip ibunya."

"Bocah yang cerdas?"

Sam tersenyum. "Yeah, dia hebat. Dia benar-benar bersedih atas hal ini."

"Apakah dia akan ke sini hari ini?"

"Mungkin. Aku belum dengar kabar darinya. Dia tinggal bersama Lee di Memphis," kata Sam dengan bangga. Karena dirinya, putri dan cucunya jadi dekat, bahkan tinggal bersama dengan rukun.

"Aku bicara dengan Albert pagi ini," kata Donnie. "Katanya dia terlalu sakit untuk datang menjenguk."

"Bagus. Aku tak menginginkannya di sini. Aku juga tidak menginginkan anak-anak dan cucu-cucunya."

"Dia ingin datang, tapi tak bisa."

"Suruh dia datang saat penguburan."

"Sudahlah, Sam."

"Dengar, tak seorang pun akan menangisiku saat aku mati. Aku tak ingin belas kasihan palsu sebelum itu. Aku perlu sesuatu darimu, Donnie, dan itu butuh sedikit uang."

"Tentu. Apa saja."

Sam menarik pinggang pakaian terusan merahnya. "Kaulihat benda sialan ini? Mereka menyebutnya si merah, dan aku sudah memakainya setiap hari selama hampir sepuluh tahun. Inilah yang diharapkan Negara Bagian Mississippi untuk kupakai saat mereka membunuhku. Tapi, kau tahu, aku punya hak memakai apa pun yang kuinginkan. Aku ingin mati dengan pakaian yang layak."

Donnie mendadak terbawa emosi. Ia mencoba bicara, tapi tak ada kata-kata yang keluar. Matanya basah dan bibirnya gemetar. Ia mengangguk dan berhasil mengatakan, "Tentu, Sam."

"Kau tahu celana kerja yang dinaroav Dickies? Bertahun-tahun aku memakainya, juga celana khaki."

Donnie masih mengangguk-angguk.

"Celana seperti itu akan menyenangkan, dengan kemeja putih, bukan pullover, tapi kemeja berkancing. Kemeja small, celana small, pinggang ukuran 32. Sepasang kaus kaki putih, dan sepatu murahan. Persetan, aku cuma akan memakainya sekali, kan? Pergilah ke Wal-Mart atau entah kemana. Kau mungkin bisa mendapatkan semuanya dengan harga kurang dari tiga puluh dolar. Kau tidak keberatan?"

Donnie menyeka mata dan mencoba tersenyum, “Tidak, Sam."

"Aku akan jadi pesolek, kan?"

"Di mana kau akan dikuburkan?"

"Clanton, di samping Anna. Aku yakin itu akan mengusik istirahatnya yang damai. Adam akan mengurusnya."

"Apa lagi yang bisa kulakukan?"

“Tidak ada. Cukup kalau kau membawakan pakaian untuk ganti."

"Aku akan mengerjakannya hari ini."

"Kaulah satu-satunya orang di dunia yang peduli padaku selama bertahun-tahun ini, tahukah kau? Bibi Barb menulisiku surat selama bertahun-tahun sebelum meninggal, tapi suratnya selalu kaku dan kering, dan kurasa dia melakukannya supaya bisa bercerita pada tetangga."

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 82)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.