Sabtu, 03 Juni 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 80)

 The Chamber: Kamar Gas

"Dan bagaimana perasaan Anda tentang Sam Cayhall?"

"Saya pikir tidak seharusnya dia dieksekusi. Dia orang tua yang sudah banyak menderita, dan saya ingin Gubernur memberikan pengampunan, biarkan dia mati dengan tenang di Parchman sana."

"Oke. Akan saya pastikan Gubernur tahu telepon Anda."

"Terima kasih."

Goodman menekan satu tombol pada telepon dan membungkuk di hadapan penontonnya. "Gampang sekali. Mari kita mulai."

Mahasiswa kulit putih itu memilih satu nomor telepon. Percakapan itu berlangsung seperti ini, "Halo, ini Lester Crosby dari Mississippi. Saya menelepon mengenai eksekusi Sam Cayhall. Ya, Ma'am. Nomor saya? 553-9084. Ya, Mississippi, di Franklin County. Benar. Nah, menurut saya tidak seharusnya Sam Cayhall dikirim ke kamar gas. Saya tidak setuju. Saya pikir Gubernur harus turun tangan dan menghentikannya. Ya. Ma'am, benar Terima kasih."

Wanita kulit putih itu mahasiswi berasal dari kota kecil di daerah pedesaan negara bagian, dan aksennya memang sengau. "Halo, ini kantor Gubernur? Bagus. Saya menelepon berkenaan dengan berita Cayhall di kota hari ini. Susan Barnes. Decatur. Mississippi. Benar Nak, dia sudah tua dan mungkin akan mati juga beberapa tahun lagi. Apa manfaatnya bagi negara membunuhnya sekarang? Ampuni dia. Apa? Uh, saya ingin Gubernur menghentikannya. Saya berikan suara untuk Gubernur, dan menurut saya dia orang baik. Ya. Terima kasih juga."

Mahasiswa kulit hitam itu berusia akhir dua puluhan. Ia memberitahu operator hotline bahwa ia warga kulit hitam Mississippi, sangat menentang gagasan yang diperjuangkan Sam Cayhall dan Ku Klux Klan, tapi bagaimanapun juga menentang eksekusi ini. "Pemerintah tak berhak menentukan hidup-mati orang," katanya. Dalam keadaan apa pun ia tidak mendukung hukuman mati.

Demikianlah hal itu berlangsung. Telepon membanjir dari segala penjuru negara bagian itu, susul-menyusul, masing-masing dari orang yang berlainan dengan alasan berlainan untuk menghentikan eksekusi tersebut. Mahasiswa-mahasiswi itu jadi kreatif, mencoba segala macam aksen dan alasan-alasan baru. Sekali-sekali telepon mereka terantuk sinyal sibuk, dan rasanya menggelikan mengetahui mereka telah memadati hotline tersebut. Karena aksennya yang tegas, Goodman mengambil peran sebagai orang luar, semacam abolisionis hukuman mati yang berdatangan dari segala penjuru negeri dengan berbagai nama alias dan tempat asal yang sangat bervariasi.

Goodman pernah mengkhawatirkan McAllister cukup paranoid untuk melacak telepon-telepon ke hotline-nya, tapi ia memutuskan operator-operator itu akan terlalu sibuk.

Dan mereka memang sibuk. Di sisi lain kota itu John Bryan Glass membatalkan kuliah dan mengunci pintu ke kantornya. Ia bergembira menelepon berulang-ulang dengan berbagai nama. Tak jauh darinya, Hez Kerry dan salah satu pengacara stafnya juga membombardir hotline dengan pesan yang sama.

***

Adam bergegas ke Memphis. Darlene ada di kantornya, sia-sia berusaha mengatur gunungan dokumen, ia menunjuk ke satu tumpukan yang dekat ke komputer. "Keputusan menolak peninjauan ulang ada di atas, lalu keputusan dari Mahkamah Agung Mississippi. Di sampingnya adalah petisi habeas corpus yang akan diajukan ke pengadilan distrik federal. Aku sudah mengirimkan semuanya dengan fax."

Adam melepas jas dan melemparkannya ke kursi. Ia melihat sederet pesan telepon pada kertas merah jambu yang ditempel pada rak buku. "Siapa orang-orang ini?"

"Reporter, penulis, pembual, beberapa adalah pengacara lain yang menawarkan bantuan. Satu dari Garner Goodman di Jackson. Katanya analisis pasar itu berjalan baik, jangan menelepon. Apakah analisis pasar itu?"

"Jangan tanya." Adam menghela napas dalam dan duduk di kursi.

"Makan siang?" tanya Darlene.

"Sandwich saja, kalau kau tidak keberatan. Bisakah kau bekerja besok dan hari Minggu?"

"Tentu."

"Aku butuh kau tinggal di sini selama akhir pekan, di samping telepon dan fax. Maaf."

"Aku tidak keberatan. Akan kuambilkan sandwich."

Ia berlalu, menutup pintu di belakangnya. Adam menelepon kondominium Lee. Tak ada jawaban. Ia menelepon Auburn House, tapi tak seorang pun mendengar kabar darinya. Ia menelepon Phelps Booth yang sedang rapat direksi. Ia menelepon Carmen di Berkeley dan menyuruhnya bersiap terbang ke Memphis hari Minggu.

Ia melihat pesan-pesan telepon itu dan memutuskan tak satu pun patut dibalas.

Pukul 13.00, Mona Stark bicara dengan orang-orang pers yang berkeliaran di sekitar kantor Gubernur di gedung kapitol. Ia mengatakan bahwa setelah mempertimbangkan banyak hal, Gubernur memutuskan mengadakan sidang mempertimbangkan pengampunan pada hari Senin pukul 10.00.

Dalam kesempatan itu, Gubernur akan mendengarkan berbagai persoalan dan dalih, serta mengambil keputusan yang adil. Ia menjelaskan bahwa menimbang hidup atau mati merupakan tanggung jawab yang luar biasa berat, namun David McAllister akan melakukan apa yang adil dan benar.

~ 41 ~

Packer pergi ke sel pada pukul 05.30 hari Sabtu dan tak peduli dengan borgol. Sam sedang menunggu dan mereka diam-diam meninggalkan Tier A. Mereka berjalan melewati dapur tempat para narapidana sedang menggoreng telur dan bacon. Sam belum pernah melihat dapur, dan ia berjalan perlahan-lahan, menghitung langkah, memeriksa ukurannya.

Packer membuka sebuah pintu dan memberi tanda pada Sam agar bergegas dan mengikuti. Mereka melangkah ke luar, dalam kegelapan. Sam berhenti dan memandang ruangan bata persegi di sebelah kanan, bangunan kecil tempat Kamar Gas. Packer menarik sikunya dan mereka berjalan bersama ke ujung timur The Row, tempat satu penjaga lain sedang mengawasi dan menunggu.

Penjaga itu mengangsurkan secangkir besar kopi kepada Sam, lalu membawanya melewati gerbang, ke dalam halaman rekreasi yang mirip tempat bermain di ujung barat The Row. Tempat itu dipagari dan dipasangi kawat duri, dengan ring bola basket dan dua bangku. Packer mengatakan akan kembali satu jam lagi, dan berlalu bersama si penjaga.

Sam berdiri lama di tempatnya, menghirup kopi panas dan menyerap pemandangan di sana. Sel pertamanya terletak di Tier D, di sayap timur, dan ia sudah berkali-kali ke sini. Ia tahu ukurannya dengan tepat—lima belas setengah kali sebelas meter. Ia melihat penjaga di menara yang sedang duduk di bawah lampu dan mengawasinya. Di balik pagar dan melalui bagian atas deretan tanaman kapas, ia bisa melihat lampu gedung-gedung lain. Ia berjalan perlahan-lahan ke sebuah bangku dan duduk.

Sungguh baik orang-orang ini, mengabulkan permintaannya untuk terakhir kalinya menyaksikan matahari terbit. Sudah sembilan setengah tahun ia tak pernah melihatnya. Pada mulanya Nugent bilang tidak, lalu Packer turun tangan dan menjelaskan pada sang Kolonel bahwa itu tidak apa-apa, tak ada risiko keamanan apa pun, dan peduli amat, orang ini akan mati empat hari lagi. Packer akan bertanggung jawab.

Sam melihat langit timur, tempat secercah cahaya Jingga mengintip melalui awan yang bertebaran. Pada hari-hari pertamanya di The Row, ketika pengajuan bandingnya masih segar dan belum diputuskan, ia menghabiskan waktu berjam-jam mengingat kesibukan membosankan dari kehidupan sehari-hari, hal-hal kecil seperti mandi air hangat tiap hari, kehadiran anjingnya, madu pada biskuitnya.

Saat itu ia benar-benar yakin bahwa suatu hari ia akan bisa kembali bebas, memancing ikan, duduk-duduk di teras dan menyaksikan matahari terbit, minum kopi di kota, dan mengendarai pickup tuanya ke mana saja ia mau. Namun impian akan kebebasan telah lama terhapus kehidupan monoton yang membosankan dalam sel, dan terbunuh pendapat kasar banyak hakim.

Matahari terbit ini akan jadi yang terakhir baginya. Ia benar-benar percaya itu. Terlalu banyak orang menginginkannya mati. Kamar gas tidak cukup sering dipakai. Sudah saatnya melaksanakan satu eksekusi, terkutuk, dan ia orang berikutnya dalam antrean.

Langit makin terang dan awan menipis. Meskipun ia terpaksa menyaksikan fenomena alam yang luar biasa ini melalui pagar kawat, hal itu tetap memuaskan. Tinggal beberapa hari lagi dan pagar-pagar itu akan lenyap. Jeruji besi, kawat duri, dan sel penjara akan ditinggalkan untuk orang lain.

***

Dua wartawan merokok dan minum kopi dari mesin sambil menunggu di samping pintu masuk gedung kapitol pada pagi hari Sabtu. Ada kabar yang bocor bahwa Gubernur akan melewatkan satu hari yang panjang di kantornya, berkutat dengan masalah Cayhall.

Pukul 07.30, mobil Lincoln hitamnya menggelinding sampai berhenti di dekat gedung, dan ia cepat-cepat keluar. Dua pengawal pribadi berpakaian rapi mengawalnya ke pintu masuk, bersama Mona Stark beberapa langkah di belakang.

"Gubernur, apakah Anda merencanakan menghadiri eksekusi?" reporter pertama bertanya terburu-buru. McAllister tersenyum dan mengangkat tangan, seolah-olah ingin berhenti dan bercakap-cakap tapi urusan terlalu kritis untuk itu. Kemudian ia melihat sebuah kamera tergantung pada leher reporter satunya.

"Saya belum lagi memutuskan," jawabnya, berhenti cuma sedetik.

"Apakah Ruth Kramer akan memberikan kesaksian dalam sidang pertimbangan pemberian pengampunan hari Senin nanti?"

Kamera diangkat dan siap. "Saya tak bisa mengatakannya sekarang," jawabnya, tersenyum ke lensa. "Maaf, sobat, saya tidak bisa bicara sekarang."

la memasuki gedung dan naik lift ke kantornya di lantai dua. Pengawal-pengawal itu mengambil posisi di serambi, di belakang surat kabar pagi.

Pengacara Larramore sedang menunggu dengan laporan terakhir. Ia menerangkan kepada Gubernur dan Miss Stark bahwa tak ada perubahan dalam berbagai petisi dan dalih Cayhall sejak pukul 17.00 kemarin. Tak ada apa pun yang terjadi malam itu. Menurutnya, petisi-petisi itu jadi lebih mendesak, dan pengadilan akan menolaknya cepat. Ia sudah bicara dengan Morris Henry di kantor Jaksa Agung, dan menurut penilaian ahli Dr. Death, sekarang peluang eksekusi itu bakal terlaksana adalah delapan puluh persen.

"Bagaimana dengan sidang pemberian pengampunan hari Senin? Apakah ada kabar dari pengacara Cayhall?” tanya McAllister.

"Tidak. Saya sudah minta Garner Goodman untuk mampir pukul sembilan pagi ini. Saya pikir kita akan membicarakan hal ini dengannya. Saya akan berada di kantor kalau Anda membutuhkan saya."

Larramore minta diri. Miss Stark melaksanakan ritual pagi, membaca cepat harian-harian dari seluruh negara bagian dan meletakkannya di meja rapat. Dari sembilan surat kabar yang ia pantau, delapan memuat berita kasus Cayhall di halaman depan. Pengumuman akan diadakannya sidang pertimbangan pengampunan menjadi sorotan khusus Sabtu pagi. Tiga dari koran-koran itu memuat foto AP tentang orang-orang yang terpanggang di bawah matahari bulan Agustus yang ganas di luar Parchman.

McAllister melepas jas, menggulung lengan kemeja, dan mulai melihat koran-koran itu. "Ambil angkanya," katanya singkat.

Mona meninggalkan kantor, dan kembali kurang dari satu menit. Ia membawa printout komputer yang jelas membawa kabar mengerikan.

"Aku mendengarkan," katanya.

"Telepon-telepon itu berhenti sekitar pukul sembilan semalam, yang terakhir pukul 21.07. Jumlah keseluruhan hari itu adalah 486, dan sedikitnya sembilan puluh persen menyatakan tantangan keras terhadap eksekusi tersebut."

"Sembilan puluh persen." McAllister tercengang, tak percaya. Namun ia tak lagi terguncang. Siang kemarin, para operator hotline melaporkan telepon masuk dalam jumlah yang luar biasa, dan pukul 13.00 Mona menganalisis printout. Mereka menghabiskan banyak waktu kemarin siang untuk memandangi angka-angka itu, merenungkan langkah selanjutnya. Ia hanya tidur sedikit.

"Siapakah orang-orang ini?" katanya sambil menatap ke luar jendela.

"Pemilih Anda. Telepon-telepon ini datang dari seluruh penjuru negara bagian. Nama-nama dan nomor-nomornya kelihatannya benar."

"Bagaimana catatan terdahulu?"

"Entahlah. Rasanya kita menerima sekitar seratus telepon sehari, ketika DPR memutuskan kenaikan gaji bagi anggotanya. Tapi tidak seperti ini."

"Sembilan puluh persen," gumamnya lagi.

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 81)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.