Sabtu, 03 Juni 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 79)

The Chamber: Kamar Gas

Sam memainkan amplop-amplopnya, lalu meletakkannya dengan hati-hati pada sebuah kursi.

"Kusuruh mereka menyingkir," kata Adam.

"Kapan?"

"Baru beberapa menit yang lalu. Aku bertengkar dengan mereka. Mereka sama sekali tak peduli denganmu, Sam; mereka memanfaatkan eksekusi ini, sebab kau akan menjadi martir yang hebat, orang yang bisa dipakai untuk berpawai dan dibicarakan selama bertahun-tahun yang akan datang. Mereka akan meneriakkan namamu bila membakar salib, dan mereka akan berziarah ke makammu. Mereka ingin kau mati, Sam. Itu cara humas yang hebat."

"Kau langsung menghadapi mereka?" Sam bertanya dengan sedikit nada geli dan bangga.

"Yeah. Bukan urusan besar. Bagaimana dengan Carmen? Kalau boleh datang dia perlu mengatur perjalanannya."

Sam mengisap rokoknya sambil berpikir. "Aku mau menemuinya, tapi kau harus memperingatkannya tentang penampilanku. Aku tak ingin ia terkejut."

"Kau kelihatan hebat, Sam."

"Wah. terima kasih. Bagaimana dengan Lee?”

“Bagaimana dengan dia?"

"Bagaimana keadaannya? Kami punya koran di sini. Aku melihatnya di koran Memphis kemarin, lalu membaca tentang penangkapan karena mengemudi dalam keadaan mabuk hari Selasa. Dia tidak dipenjara, kan?"

"Tidak. Dia ada di klinik rehabilitasi," Adam seolah-olah tahu tepat di mana Lee.

"Apa dia bisa datang berkunjung?"

"Apa kau menginginkannya?"

"Kurasa begitu. Mungkin hari Senin. Kita tunggu saja."

"Tak ada masalah," kata Adam sambil berpikir bagaimana ia bisa menemukan Lee. "Aku akan bicara dengannya akhir pekan ini."

Sam mengangsurkan salah satu amplop tak tertutup kepada Adam. "Berikan ini pada orang-orang di luar. Ini daftar pengunjung yang kusetujui mulai sekarang sampai nanti. Bukalah."

Adam melihat daftar itu. Di situ ada empat nama. Adam, Lee, Carmen, dan Donnie Cayhall. "Tidak begitu panjang."

"Aku punya banyak sanak saudara, tapi aku tak ingin mereka ke sini. Sembilan setengah tahun mereka tak pernah mengunjungiku, maka terkutuklah aku kalau mereka datang ke sini pada menit terakhir untuk mengucapkan selamat tinggal. Mereka bisa menyimpannya untuk penguburan."

"Aku menerima segala macam permintaan dari reporter dan wartawan untuk mengadakan wawancara."

"Lupakan saja."

"Itulah yang kukatakan pada mereka. Tapi ada permintaan yang mungkin menarik minatmu. Ada orang bernama Wendall Sherman, pengarang yang cukup punya reputasi dan sudah menerbitkan empat atau lima buku serta memenangkan beberapa penghargaan. Aku belum pernah membaca karyanya, tapi dia menghubungiku. Aku bicara melalui telepon dengannya kemarin. Dia ingin duduk bersamamu dan merekam kisahmu. Rasanya dia sangat jujur, dan katanya rekaman itu bisa makan waktu berjam-jam. Dia akan terbang ke Memphis hari ini, kalau kau bilang ya."

"Mengapa dia ingin merekam aku?"

"Dia ingin menulis buku tentang dirimu."

"Novel roman?"

"Aku meragukannya. Dia bersedia membayar 50.000 dolar di muka, dengan persentase royaltinya kelak."

"Hebat. Aku mendapat 50.000 dolar beberapa hari sebelum mati. Apa yang akan kulakukan dengan uang itu?"

"Aku cuma menyampaikan tawaran."

"Katakan padanya untuk pergi ke neraka. Aku tidak tertarik."

"Baiklah."

"Aku ingin kau menyusun konsep bahwa aku menyerahkan semua hak atas hidupku padamu, dan sesudah aku pergi kau berbuat apa saja dengannya."

"Bukan gagasan buruk merekamnya."

"Maksudmu..."

"Bicaralah dengan mesin kecil dan pita. Aku bisa membawakannya untukmu. Duduklah.”

"Betapa membosankan." Sam menghabiskan Eskimo Pie dan melemparkan gagangnya ke dalam tempat sampah.

"Tergantung bagaimana kau melihatnya, Sam, rasanya sangat menegangkan sekarang."

"Yeah, kau benar. Hidup yang cukup membosankan, tapi akhirnya sangat sensasional."

"Kurasa bisa jadi bestseller."

"Aku akan memikirkannya." Sam mendadak melompat berdiri, meninggalku sepatu mandi karet di bawah kursi. Ia berjalan dengan langkah lebar menyeberangi ruangan, mengukur dan merokok sambil berjalan. "Tiga kali enam belas setengah," gumamnya pada diri sendiri, lalu mengukur lagi.

Adam menulis catatan pada buku tulis dan mencoba mengabaikan sosok merah yang mondar-mandir di antara dinding. Sam akhirnya berhenti dan bersandar pada lemari arsip. "Aku ingin kau membantuku," katanya, menatap dinding di seberang ruangan itu. Suaranya jauh lebih rendah. Ia bernapas perlahan-lahan.

"Aku mendengarkan," kata Adam. Sam maju selangkah ke kursi dan memungut satu amplop. Ia menyerahkannya pada Adam dan kembali ke posisinya, bersandar pada lemari arsip. Amplop itu terbalik, sehingga Adam tak dapat melihat tulisan di atasnya. "Aku ingin kau mengirimkannya," kata Sam.

"Kepada siapa?"

"Quince Lincoln."

Adam meletakkannya di meja di sisinya dan mengamati Sam dengan cermat. Tapi Sam sedang berkelana di dunia lain. Matanya yang keriput menatap kosong pada sesuatu di dinding seberangnya. "Seminggu aku menulisnya," katanya, suaranya nyaris parau, "tapi sudah empat puluh tahun aku memikirkannya."

"Apa isi surat itu?" Adam bertanya perlahan-lahan.

"Permintaan maaf. Sudah bertahun-tahun aku memikul perasaan bersalah, Adam. Joe Lincoln orang yang baik, ayah yang baik. Aku kehilangan akal sehat dan membunuhnya tanpa alasan. Dan sebelum menembaknya, aku tahu aku bisa lolos dari hukuman. Aku tak bisa lepas dari perasaan bersalah. Sangat bersalah. Tak ada yang bisa kulakukan sekarang, kecuali mengatakan aku menyesal."

"Aku yakin itu sangat berarti bagi keluarga Lincoln."

"Mungkin. Dalam surat itu aku mohon pengampunan mereka, yang kupercaya merupakan cara orang Kristen bertindak. Aku ingin mati, dengan keyakinan aku telah mencoba menyatakan penyesalanku."

"Tahu di mana aku mungkin akan menemukannya?"

"Itulah bagian yang sulit. Dari sanak keluarga, aku mendengar keluarga Lincoln masih ada di Ford County. Ruby, jandanya, mungkin masih hidup. Aku khawatir kau harus pergi ke Clanton dan bertanya-tanya di sana. Di sana sheriff-nya orang Afrika, jadi kau akan mulai dengannya. Barangkali dia kenal semua orang Afrika di county itu."

"Dan kalau aku menemukan Quince?"

"Katakan padanya siapa dirimu. Berikan suratku padanya. Katakan padanya aku mati dengan setumpuk perasaan bersalah. Bisakah kau melakukannya?"

"Dengan senang hati. Tapi aku tak pasti kapan bisa melakukannya."

"Tunggulah sampai aku mati. Kau akan punya banyak waktu begitu urusan ini selesai."

Sam sekali lagi berjalan ke kursi, dan kali ini ia mengambil dua amplop. Ia menyerahkannya pada Adam, dan mulai mondar-mandir perlahan-lahan, maju-mundur melintasi ruangan. Nama Ruth Kramer terketik pada salah satu amplop, tanpa alamat, dan Elliot Kramer pada yang satunya. "Itu untuk keluarga Kramer. Serahkanlah pada mereka, tapi tunggu sampai selesai eksekusi."

"Mengapa menunggu?"

"Sebab motifku murni. Aku tak ingin mereka mengira aku melakukan hal ini untuk menimbulkan simpati di saat kematianku."

Adam meletakkan surat untuk keluarga Kramer di samping surat untuk Quince Lincoln—tiga surat, tiga mayat. Berapa surat lagi yang akan dibuat Sam selama akhir pekan? Berapa korban lagi yang ada di luar sana?

"Kau yakin akan mati, kan, Sam?" Ia berhenti di samping pintu dan merenungkan hal ini sejenak.

"Kita tak punya peluang. Aku sedang bersiap."

"Kita masih punya kesempatan."

"Benar. Tapi aku bersiap, kalau-kalau ini terjadi. Aku telah menyakiti banyak orang, Adam, dan aku tak pernah berusaha memikirkannya. Namun bila kau punya janji dengan maut, kau memikirkan kerusakan yang telah kauperbuat."

Adam memungut tiga amplop itu dan memandangnya. "Apakah ada yang lain?"

Sam menyeringai dan memandang ke lantai. "Cuma itu saja, untuk sekarang."

***

Surat kabar Jackson pada pagi hari Jumat memuat berita halaman depan tentang permohonan Sam Cayhall untuk suatu sidang pengampunan. Berita itu termasuk foto rapi Gubernur David McAllister, foto Sam yang buruk, dan komentar panjang untuk kepentingan sendiri oleh Mona Stark, kepala staf Gubernur—semuanya mengatakan Gubernur sedang bergumul mengambil keputusan.

Karena ia benar-benar pengabdi rakyat, hamba seluruh warga Mississippi, McAllister memasang sistem telepon hotline yang mahal tak lama setelah ia terpilih. Nomor toll free itu tertempel di seluruh penjuru negara bagian, dan para pemilihnya terus menerus dihujani iklan layanan masyarakat untuk memakai People's Hotline tersebut. Teleponlah Gubernur. Dia memperhatikan pendapat Anda. Demokrasi dalam bentuknya yang terbaik. Para operator selalu siaga.

Dan karena ambisinya lebih besar daripada keuletannya, McAllister dan stafnya memantau telepon-telepon itu setiap hari. Ia pengikut, bukan pemimpin. Ia menghabiskan banyak uang untuk mengadakan pol dengar pendapat, dan terbukti secara diam-diam mahir menemukan masalah-masalah yang mengusik masyarakat, lalu melompat ke depan memimpin parade.

Goodman dan Adam mencurigai hal ini. McAilister tampak terlalu terobsesi dengan panggilan untuk melontarkan inisiatif baru. Orang itu penghitung suara pemilik yang tak kenal malu, jadi mereka memutuskan akan memberikan sesuatu untuk dihitung.

Goodman membaca berita itu pagi-pagi sambil menikmati kopi dan buah-buahan, dan pukul 07,30 bicara melalui telepon dengan Profesor John Bryan Glass dan Hez Kerry. Pukul 08.00, tiga mahasiswa Glass sudah minum kopi dari cangkir kertas di kantor sementara yang kumuh. Analisis pasar itu akan dimulai.

Goodman menjelaskan cara kerja dan perlunya menjaga kerahasiaan. Mereka tidak melanggar hukum, ia meyakinkan mereka, cuma memanipulasi opini publik. Telepon-telepon genggam itu terletak di meja, bersama halaman-halaman buku telepon yang di-copy Goodman pada hari Rabu. Mahasiswa-mahasiswa itu sedikit khawatir, tapi toh, bergairah untuk mulai. Mereka akan dibayar dengan baik. Goodman mendemonstrasikan tekniknya dengan melakukan telepon pertama. Ia memutar nomornya.

"People's Hotline," jawab sebuah suara yang menyenangkan.

“Ya. Saya menelepon mengenai berita koran pagi ini, tentang Sam Cayhall," kata Goodman perlahan-lahan, menirukan aksen yang diseret-seret. Ia mengucapkannya dengan enggan. Mahasiswa-mahasiswa itu sangat geli.

"Dan nama Anda?"

"Ya. Saya Ned Lancaster, dari Biloxi, Mississippi," balas Goodman sambil membaca dari daftar telepon. "Dan saya memilih untuk Gubernur. Dia orang yang baik," ia membumbui dengan baik.

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 80)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.