Jumat, 02 Juni 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 78)

 The Chamber: Kamar Gas

Dua penjaga itu meninggalkan Kamar Gas. Pintu ditutup dan disegel. Nugent memberi isyarat kepada algojo, yang meletakkan kaleng berisi asam sulfat ke dalam slang yang menjulur sampai bagian bawah Kamar Gas. Ia menarik tuas, terdengar suara berdetak, dan asam sulfat itu sampai ke mangkuk di bawah kursi.

Nugent melangkah ke salah satu jendela dan mengawasi dengan penuh perhatian. Anggota lain dalam regu itu berbuat sama. Sudut-sudut jendela itu sudah diolesi vaselin untuk mencegah kebocoran.

Gas beracun itu dilepas perlahan-lahan. Kabut asap tipis terlihat membubung dari bawah kursi, naik ke atas. Pada mulanya sang kelinci tidak bereaksi terhadap uap yang merembes ke dalam sel kecilnya, tapi gas itu menyerangnya cukup cepat. Ia menegang kaku, lalu melompat beberapa kali, menumbuk dinding sangkarnya beberapa kali, lalu kejang-kejang hebat, melompat dan meregang dan menggeliat liar. Kurang dari satu menit ia diam tak bergerak.

Nugent tersenyum sambil melirik ke jam tangannya. "Bereskan," perintahnya, dan lubang ventilasi di atas Kamar Gas dibuka untuk melepaskan gas.

Pintu dari Kamar Gas ke luar dibuka, dan hampir semua anggota regu eksekusi itu berjalan ke luar, mencari udara segar atau merokok. Sedikitnya butuh lima belas menit lagi sebelum Kamar Gas bisa dibuka dan kelinci itu disingkirkan. Kemudian mereka hams menyemprot dan membersihkannya. Nugent masih berada di dalam, mengawasi segalanya. Jadi, mereka merokok dan tertawa-tawa sedikit.

Tak lebih delapan belas meter dari sana, jendela di atas gang Tier A terbuka. Sam bisa mendengar suara mereka. Saat itu sudah pukul 22.00 dan lampu-lampu sudah padam, tapi dalam setiap sel di sepanjang tier itu dua tangga terjulur di antara jeruji, ketika empat belas orang mendengarkan dalam kesunyian gelap.

Narapidana penghuni death row hidup dalam sel berukuran dua kali tiga meter selama 23 jam sehari. Ia mendengar segalanya—suara berdetak aneh dari sepasang sepatu lars baru di gang; nada suara atau aksen yang belum biasa terdengar; dengung mesin pemangkas rumput di kejauhan. Dan sudah tentu ia bisa mendengar suara pinta ke Kamar Gas dibuka dan ditutup. Ia bisa mendengar suara tawa puas dan pongah dari regu eksekusi.

Sam bertelekan pada lengan, memandangi jendela di atas gang. Di luar sana, mereka sedang berlatih membunuhnya.

~ 40 ~

Di antara tepi barat Highway 49 dan halaman depan gedung administrasi Parchman, terbentang sepetak tanah berumput halus selebar 45 meter. Tanah itu menarik perhatian, sebab dulu di situ ada jalur rel kereta api. Di situlah tempat pemrotes hukuman mati berkumpul dan memantau setiap eksekusi. Mereka selalu datang, biasanya kelompok-kelompok kecil orang-orang penuh komitmen yang duduk di kursi lipat dan mengacungkan plakat-plakat buatan sendiri. Mereka menyalakan lilin di waktu malam dan menyanyikan lagu-lagu pujian pada jam-jam terakhir. Mereka menyanyi, memanjatkan doa, dan menangis ketika kematian diumumkan.

Suatu kejutan baru terjadi pada jam-jam sebelum eksekusi Teddy Doyle Meeks, seorang pemerkosa dan pembunuh anak-anak. Protes yang tenang dan nyaris khusyuk itu dikacaukan gerombolan mahasiswa yang susah diatur dan mendadak muncul tanpa peringatan serta bersuka ria menuntut darah.

***

Anggota Klan yang masih muda dengan keringat di kening menjadi pimpinan. “Dialah alasan mengapa kami sini. Aku belum lahir ketika Sam membunuh Yahudi-yahudi itu. Jadi kau tak bisa mempersalahkannya. Kami ada di sini untuk memprotes eksekusinya. Dia diadili karena alasan politis."

"Dia takkan berada di sini kalau bukan karena Klan. Mana topeng kalian? Kupikir kalian selalu menyembunyikan wajah."

Kelompok itu terenyak dan bergerak-gerak resah, tak tahu pasti apa yang mesti dilakukan selanjutnya. Bagaimanapun juga, pemuda ini cucu Sam Cayhall. Ia pengacau yang sedang berusaha menyelamatkan simbol paling berharga.

"Mengapa kalian tidak pergi saja?" tanya Adam. "Sam tidak menghendaki kalian di sana."

"Mengapa kau tidak enyah ke neraka?" laki-laki muda itu mencemooh.

“Pergilah, oke? Sam jauh lebih berharga bagi kalian dalam keadaan mati dari pada hidup, biarkan dia meninggal dengan tenang lalu kalian akan punya martir yang hebat. Dan bagaimana kalau Sam minta kalian pergi? Apa kalian mau pergi?"

“Tidak," kalanya mencemooh lagi, lalu melirik pada yang lainnya. Semua tampaknya setuju untuk tidak menyingkir. "Kami merencanakan akan membuat keributan besar."

"Bagus. Foto kalian terpampang di surat kabar. Itulah maksud semua ini, kan? Badut sirkus dongan pakaian lucu selalu menarik perhatian."

Terdengar pintu-pintu mobil dibanting di belakang Adam, dan ketika menoleh, ia melihat kru televisi bergegas keluar dari van yang diparkir dekat Saab-nya.

"Wah, wah," katanya pada kelompok itu, "Senyum, teman-teman. Inilah peristiwa besar yang kalian tunggu."

"Enyahlah ke neraka," laki-laki itu membentak marah. Adam berbalik memunggungi mereka dan berjalan ke mobilnya. Seorang reporter bergegas ke arahnya, dibuntuti seorang juru kamera.

"Apakah Anda Adam Hall?" ia bertanya terengah engah. "Pengacara Cayhall?"

"Ya," kata Adam tanpa berhenti.

"Bisakah kita bicara sebentar?"

“Tidak. Tapi bocah-bocah itu ingin sekali bicara,” katanya, menunjuk ke belakang. Wartawati itu mengikuti di sebelahnya, sementara juru kamera sibuk dengan peralatannya. Adam membuka pintu mobil, lalu membantingnya sambil mengunci kontak.

Louise, penjaga gerbang, mengangsurkan kartu bernomor untuk diletakkan pada dashbor, lalu melambaikan tangan, mempersilakannya.

Packer melakukan penggeledahan wajib di pintu depan The Row. "Apa di dalam itu? tanyanya, menunjuk kotak pendingin kecil yang dibawa Adam dengan tangan kiri.

"Eskimo Pie, Sersan. Mau satu?"

"Coba kulihat."

Adam mengangsurkan pendingin itu kepada Packer, yang membuka tutupnya cukup lama untuk menghitung setengah lusin Eskimo masih beku di bawah selapis es.

Ia mengangsurkan kembali pendingin itu kepada Adam dan menunjuk ke pintu kantor depan, beberapa meter dari sana. "Mulai sekarang kalian bertemu di sini," ia menjelaskan. Mereka melangkah ke dalam ruangan.

"Kenapa?" tanya Adam sambil memandang sekeliling ruangan. Di sana ada sebuah meja besi dengan telepon, tiga kursi, dan dua lemari arsip dalam keadaan terkunci.

"Memang begini cara kami melaksanakannya. Kami meringankan peraturan begitu hari besar itu makin dekat. Sam harus menerima tamunya di sini, tak ada pembatasan waktu."

"Sungguh manis." Adam meletakkan tas di meja dan mengangkat telepon. Packer berlalu untuk menjemput Sam. Wanita baik hati di kantor panitera Jackson memberitahu Adam bahwa baru beberapa menit yang lalu Mahkamah Agung menolak petisi kliennya yang memohon keringanan hukuman dengan alasan mentalnya tidak kompeten. Adam mengucapkan terima kasih kepadanya, mengatakan sudah menduga, dan seharusnya ini bisa dilakukan sehari sebelumnya. Lalu dimintanya si sekretaris mem-fax copy keputusan pengadilan ke kantornya di Memphis, juga ke kantor Lucas Mann di Parchman.

Ia menelepon Darlene di Memphis dan memerintahkannya mem-fax-kan petisi baru itu ke pengadilan distrik federal, serta copy-nya ke Pengadilan Fifth Circuit dan ke kantor Mr. Olander yang sibuk di Mahkamah Agung Washington, ia menelepon Mr. Olander untuk mengabarkan petisi itu akan datang, dan diberitahu bahwa Mahkamah Agung bara saja menolak meninjau klaim Adam bahwa kamar gas tidak konstitusional.

Sam memasuki kantor depan tanpa borgol ketika Adam masih bicara di telepon. Mereka berjabat tangan dengan cepat, lalu Sam duduk. Bukannya mengambil rokok, ia membuka kotak pendingin dan mengambil sebatang Eskimo Pie. Ia memakannya perlahan-lahan sambil mendengarkan Adam berbicara dengan Olander.

"Mahkamah Agung AS baru saja menolak permohonan peninjauan ulang," Adam berbisik pada Sam dengan tangan menutupi kop telepon.

Sam tersenyum aneh dan mengamati beberapa amplop yang dibawanya.

"Mahkamah Agung Mississippi juga menolak,” Adam menjelaskan kepada kliennya sementara memencet beberapa nomor lagi. "Tapi itu sudah diduga. Sekarang kita sedang mengajukannya ke pengadilan federal." Ia menelepon ke Pengadilan Fifth Circuit untuk memeriksa status klaimnya tentang bantuan hukum yang tidak efektif. Panitera di New Orleans memberitahu bahwa belum ada tindakan apa pun yang diambil pagi itu. Adam meletakkan gagang telepon dan duduk di tepi meja.

"Pengadilan Fifth Circuit masih memendam klaim bantuan hukum yang tidak efektif itu," ia melapor kepada kliennya yang tahu tentang hukum dan prosedur serta menyerapnya bagaikan ahli hukum terpelajar. "Dari segala segi, pagi ini tidak begitu baik."

"Stasiun televisi Jackson pagi ini mengatakan aku telah minta Gubernur mengadakan sidang pertimbangan pemberian pengampunan," kata Sam di sela-sela gigitan. "Tentu saja ini tidak benar. Aku tidak menyetujuinya."

“Tenang, Sam. Itu langkah rutin."

"Rutin apa! Tadinya kupikir kita punya kesepakatan. Mereka bahkan menayangkan McAllister di TV, bicara betapa pedih perasaannya dalam ambil keputusan tentang pemberian pengam itu. Aku sudah memperingatkanmu."

“McAllister tidak penting, Sam. Permohonan itu cuma formalitas. Kita tidak harus terlibat."

Sam menggelengkan kepala dengan kesal. Adam memperhatikannya dengan cermat. Ia tidak benar-benar marah, tidak pula benar-benar peduli dengan apa yang telah dilakukan Adam. la sudah menyerah, nyaris kalah. Sedikit omelan itu muncul secara wajar. Seminggu sebelumnya ia tentu sudah mencaci maki.

"Tadi malam mereka berlatih, kau tahu. Mereka menggarap kamar gas itu, membunuh tikus atau entah apa, segalanya bekerja sempurna, dan sekarang semua orang tegang menunggu eksekusiku. Bisakah kaupercaya? Mereka mengadakan geladi resik dengan pakaian lengkap untukku. Bangsat-bangsat itu."

"Aku ikut sedih, Sam."

"Tahukah kau seperti apakah bau gas sianida?"

"Tidak."

"Kayu manis. Baunya tercium di udara kemarin malam. Idiot-idiot itu tidak mau repot-repot menutup jendela di tier kami, dan aku mengendusnya."

Adam tidak tahu ini benar atau tidak. Ia tahu bahwa kamar gas itu dibiarkan terbuka ventilasinya selama beberapa menit sesudah eksekusi, dan gas itu lepas ke udara. Tentu saja gas itu tak bisa merembes ke tier. Mungkin Sam mendengar cerita tentang gas itu dari para penjaga. Mungkin itu cuma bagian dari dongeng di sana. Ia duduk di pinggir meja, mengayun-ayunkan kaki, menjadi orang tua dengan lengan kurus dan rambut berminyak yang tampak menyedihkan.

Sungguh suatu dosa mengerikan membunuh makhluk seperti Sam Cayhall. Kejahatannya terjadi satu generasi yang lalu. Ia sudah menderita dan mati berkali-kali dalam selnya yang berukuran dua kali tiga meter. Bagaimana negara bisa mendapatkan faedah dengan membunuhnya sekarang? Ada banyak hal dalam pikiran Adam, tak satu pun di antaranya bisa menjadi usaha terakhir.

"Aku menyesal, Sam," katanya lagi, penuh iba. "Tapi kita perlu bicara tentang beberapa hal."

"Apakah orang-orang Klan itu ada di luar pagi ini? Televisi menayangkan gambar mereka di sini kemarin."

"Ya. Kuhitung ada tujuh beberapa menit yang lalu. Berseragam lengkap, tapi tanpa topeng."

"Aku dulu pernah memakai pakaian seperti itu, kau tahu," katanya, sangat mirip veteran perang yang membual kepada anak-anak kecil.

"Aku tahu, Sam. Dan karena memakainya kau sekarang duduk di death row ini dengan pengacaramu, menghitung jam sebelum mereka mengikatmu dalam Kamar Gas. Kau seharusnya benci pada orang-orang tolol di luar sana."

"Aku tidak membenci mereka. Tapi mereka tak punya hak berada di sini. Mereka telah meninggalkanku. Dogan mengirimku ke sini, dan ketika saksi memberatkanku, dia adalah Imperial Wizard Mississippi. Mereka tidak memberiku sepeser pun untuk biaya pembelaan. Mereka melupakanku."

"Apa yang kauharapkan dari segerombolan penjahat? Kesetiaan?"

"Aku setia."

"Dan lihat akibatnya, Sam. Kau seharusnya mengadukan Klan dan minta mereka enyah, menyingkir dari eksekusimu."

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 79)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.