Jumat, 02 Juni 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 77)

 The Chamber: Kamar Gas

Goodman sudah pernah menemuinya dalam dua konferensi. Meskipun kelompok yang disebut Kerry's Group ini tidak langsung mewakili setiap narapidana di death row, kelompok ini punya tanggung jawab memantau setiap kasus. Hez berusia 31 tahun dan menua dengan cepat. Ubannya adalah bukti tekanan dari 47 orang yang menghadapi hukuman mati.

Pada dinding di meja kerja sekretaris di serambi ada kalender kecil, dan melintang di atasnya seorang telah menuliskan kata-kata BIRTHDAY ON DEATH ROW. Setiap orang mendapat sebuah kartu, tidak lebih. Anggaran belanjanya ketat, dan kartu-kartu itu biasanya dibeli dengan uang kembalian yang dikumpulkan di kantor.

Kelompok itu punya dua pengacara yang bekerja di bawah supervisi Kerry, dan cuma punya satu sekretaris tetap. Beberapa mahasiswa dari sekolah hukum bekerja cuma-cuma beberapa jam seminggu.

Satu jam lebih Goodman bicara dengan Hez Kerry. Mereka merencanakan gerakan untuk Selasa mendatang. Kerry sendiri akan bersiaga di kantor panitera Mahkamah Agung Mississippi. Goodman akan tinggal di kantor Gubernur. John Bryan Glass akan diminta tinggal di kantor satelit Pengadilan Fifth Circuit di gedung pengadilan federal Jackson. Salah satu mantan associate Goodman yang sekarang bekerja di Washington sudah setuju menunggu di kantor panitera Mahkamah Agung AS. Adam akan ditinggalkan sendiri di The Row dengan klien dan mengoordinasikan telepon-telepon pada saat terakhir.

Kerry setuju berperan serta dalam proyek analisis pasar yang dilakukan Goodman selama akhir pekan.

Pukul 11.00, Goodman kembali ke kantor Gubernur di gedung kapitol dan menyerahkan permohonan tertulis kepada Larramore untuk sidang pertimbangan pemberian pengampunan. Gubernur tak ada di kantor, sangat sibuk hari-hari ini, dan ia, Larramore, akan menemuinya tepat setelah makan siang. Goodman meninggalkan nomor teleponnya di Millsaps-Buie House dan mengatakan akan menelepon secara berkala.

Ia kemudian menuju kantornya yang baru, sekarang dilengkapi dengan mebel terbaik yang disewa selama dua bulan, tunai tentunya. Menurut tanda yang tertulis di bawah tempat duduk, kursi-kursi lipat itu sisa dari sebuah balai pertemuan gereja. Meja-mejanya yang reyot juga sudah pernah dipakai untuk makan seadanya dan resepsi pernikahan.

Goodman mengamati sarangnya yang disusun dengan tergesa-gesa. Ia duduk, dan dengan telepon genggam baru ia menelepon sekretarisnya di Chicago, kantor Adam di Memphis, istrinya di rumah, dan saluran hotline Gubernur.

Pukul 16.00 hari Kamis, Mahkamah Agung Mississippi masih belum menolak klaim berdasarkan dalih inkompetensi mental Sam. Sudah tiga puluh jam berlalu sejak Adam mengajukannya. Ia membuat kesal diri sendiri dengan menelepon panitera. Ia bosan menjelaskan sesuatu yang sudah jelas ia butuh jawaban. Tak ada secercah pun tanda optimisme bahwa pengadilan itu benar-benar mempertimbangkan kebenaran klaim tersebut. Menurut Adam, pengadilan sedang berlambat-lambat dan menunda langkahnya ke pengadilan federal.

Pada saat ini, ia merasa keringanan di mahkamah agng negara bagian adalah sesuatu yang mustahil. Ia pun tidak optimis di pengadilan federal. Mahkamah Agung AS belum lagi memutuskan permohonannya untuk mempertimbangkan dalih bahwa pemakaian kamar gas tidak konstitusional. Pengadilan Fifth Circuit berlama-lama dengan dalih nasihat hukum yang tidak efektif.

Tak ada perkembangan pada hari Kamis. Pengadilan-pengadilan itu cuma duduk-duduk, seolah-olah ini dalih perkara biasa yang diajukan dan dipertimbangkan dan dicatat, lalu diteruskan dan ditunda selama bertahun-tahun. Ia menginginkan tindakan, lebih disukai pemberian penundaan pada tingkat tertentu, atau bila bukan penundaan, suatu argumentasi lisan atau pemeriksaan tentang kesahihan dalih itu, atau bahkan penolakan, sehingga ia bisa bergerak ke pengadilan berikutnya.

Ia mondar-mandir mengelilingi meja di kantornya dan menunggu telepon. Ia sudah lelah mondar-mandir dan muak dengan telepon. Kertas-kertas sisa puluhan makalah berserakan dalam kantor itu. Mejanya diselimuti tumpukan kertas yang porak-poranda. Pesan-pesan telepon berwarna merah jambu dan kuning tertempel di sepanjang salah satu rak buku.

***

Adam mendadak benci tempat itu. la butuh udara segar. Ia mengatakan pada Darlene akan pergi jalan-jalan, lalu meninggalkan gedung. Saat itu hampir pukul 17.00, masih terang dan sangat hangat. Ia berjalan ke Hotel Peabody di Jalan Union dan minum di sudut lobi, dekat piano. Itu minuman keras pertama sejak hari Rabu di New Orleans, dan meskipun menikmatinya, ia khawatir dengan Lee.

Ia mencarinya di tengah kerumunan peserta suatu pertemuan yang bergerombol di sekitar meja registrasi. Ia melihat meja-meja di lobi itu terisi dengan orang-orang berpakaian bagus, berharap entah dengan alasan apa Lee akan muncul. Di manakah kau akan bersembunyi bila kau berumur lima puluh dan melarikan diri dari kehidupan?

Seorang laki-laki dengan buntut kuda dan sepatu lars hiking berhenti dan menatap, lalu berjalan menghampiri. "Permisi. Apakah Anda Adam Hall, pengacara Sam Cayhall?"

Adam mengangguk.

Laki-laki itu tersenyum, jelas senang mengenali Adam, dan berjalan ke mejanya. "Saya Kirk Kleckner dari New York Times.” Ia meletakkan sehelai kartu nama di depan Adam. "Saya berada di sini untuk meliput eksekusi Cayhall. Sebenarnya saya baru saja tiba. Boleh saya duduk?"

Adam melambaikan tangan ke kursi kosong di seberang meja bundar kecil itu. Kleckner duduk. "Beruntung menemukan Anda di sini," katanya penuh senyum. Ia berusia sekitar awal empat puluhan, dengan raut bagaikan wartawan kawakan yang sudah melompat-lompat ke segala penjuru dunia—jenggot lebat, vest katun tanpa lengan di atas kemeja denim, dan celana jeans. "Saya mengenal Anda dari foto-foto yang saya pelajari dalam penerbangan ke sini."

"Senang berjumpa dengan Anda," kata Adam datar.

"Bisakah kita bicara?"

"Tentang apa?"

"Oh, tentang banyak hal. Saya mengerti klien Anda tidak akan memberikan wawancara."

"Itu benar."

"Bagaimana dengan Anda?"

"Sama. Kita bisa bercakap-cakap, tapi tak ada yang boleh dimuat."

"Itu membuat urusan jadi sulit."

"Terus terang saya tak peduli. Saya tak peduli betapa sulitnya pekerjaan Anda."

"Cukup fair." Seorang pelayan muda yang luwes dengan rok pendek mampir cukup lama untuk menerima pesanan. Kopi hitam. "Kapan terakhir kali Anda menemui kakek Anda?"

"Selasa."

"Kapan Anda akan menemuinya lagi?"

"Besok."

"Bagaimana keadaannya?"

"Dia masih hidup. Tekanan makin berat, tapi sampai sejauh ini dia menerimanya dengan baik."

"Bagaimana dengan Anda?"

"Senang sekali."

"Serius. Apakah Anda sampai kurang tidur? Anda tahu, hal-hal macam itulah."

“Saya lelah. Yeah, saya kurang tidur, saya lembur berjam-jam, berlarian bolak-balik ke penjara. Masalah ini sudah mendekati batas akhir, jadi beberapa hari berikut ini akan sangat sibuk."

"Saya meliput eksekusi Bundy di Florida. Macam sirkus saja. Beberapa hari pengacaranya tidak tidur."

"Memang sulit bersantai."

"Apakah Anda akan melakukannya lagi? Saya tahu ini bukan bidang khusus Anda, tapi apakah Anda mempertimbangkan menangani kasus hukuman mati lain?"

"Hanya bila saya menemukan sanak lain di death row. Mengapa Anda meliput hal seperti ini?"

"Sudah bertahun-tahun saya menulis tentang hukuman mati. Memesona. Saya ingin mewawancarai Mr. Cayhall."

Adam menggelengkan kepala dan menghabiskan minuman. "Tidak. Tidak mungkin. Dia takkan bicara pada siapa pun."

“Maukah Anda membantu saya menanyainya?"

"Tidak."

Kopi tiba. Kleckner mengaduknya dengan sendok. Adam melihat ke orang banyak. "Kemarin saya mewawancarai Benjamin Keyes di Washington," kata Kleckner. "Dia mengatakan tidak terkejut kalau Anda sekarang mengatakan dia melakukan kekeliruan dalam sidang. Katanya dia sudah memperkirakan hal itu akan muncul."

Saat ini Adam tak peduli tentang Benjamin Keyes atau pendapatnya. "Itu langkah baku. Saya harus pergi. Senang berjumpa dengan Anda."

"Tapi saya ingin bicara tentang..."

"Dengar. Anda beruntung berpapasan dengan saya." kata Adam sambil cepat berdiri.

"Cuma beberapa hal lagi," kata Kleckner ketika Adam berjalan pergi.

Adam meninggalkan Peabody dan berjalan-jalan ke Front Street dekat sungai, sepanjang jalan melewati kelompok-kelompok orang muda berpakaian rapi yang sangat mirip dirinya, semuanya bergegas pulang. Ia iri pada mereka: apa pun bidang pekerjaan atau karier mereka, apa pun tekanan yang mereka alami saat ini, mereka tidak memikul beban seberat dirinya.

Ia makan sandwich di sebuah deli, dan pads pukul 19.00 sudah kembali ke kantor.

***

Kelinci itu dijebak di hutan Parchman oleh dua penjaga, yang menamakannya Sam. Kelinci cokelat berekor bulat, terbesar di antara yang berhasil ditangkap. Tiga lainnya sudah dimakan.

Kamis larut malam, Sam si kelinci dan para pengurusnya, bersama Kolonel Nugent dan regu eksekusi, memasuki Maximum Security Unit dengan van dan pickup penjara. Mereka melaju perlahan-lahan melewati bagian depan dan mengitari lapangan bermain di ujung barat. Mereka parkir di samping bangunan persegi dari bata merah yang menempel di sudut barat daya MSU.

Dua pintu baja putih tanpa jendela menuju bagian dalam bangunan persegi itu. Satu menghadap ke selatan, menuju sebuah ruangan sempit, dua kali empat setengah meter, tempat para saksi duduk selama eksekusi berlangsung. Mereka menghadap ke deretan tirai hitam, yang bila dibuka akan memperlihatkan bagian belakang kamar gas itu sendiri, cuma beberapa senti dari situ.

Pintu lainnya menuju Kamar Gas, sebuah ruangan berukuran empat setengah kali tiga setengah meter dengan lantai beton bercat. Kamar Gas berbentuk segi delapan berdiri di tengah, berkilat cerah karena lapisan enamel perak baru dan baunya pun seperti itu. Seminggu sebelumnya Nugent sudah menginspeksinya dan memerintahkan pengecatan. Tempat yang disebut ruang kematian itu tak bernoda setitik pun dan bersih. Tirai hitam di jendela di belakang kamar gas itu terbuka.

Sam si kelinci ditinggalkan dalam pickup sementara seorang penjaga bertubuh kecil, dengan tinggi dan bobot seukuran Sam Cayhall, digiring dua rekannya yang lebih besar menuju Kamar Gas. Nugent melangkah tegap dan menginspeksi bagaikan Jenderal Patton—menunjuk, mengangguk, dan mengernyit. Penjaga bertubuh kecil itu didorong lebih dulu ke dalam Kamar Gas, lalu diikuti dua penjaga yang memutarnya dan membawanya ke kursi kayu. Tanpa sepatah kata atau senyum, tanpa tawa atau gurauan, mereka mengikat pergelangannya lebih dulu dengan pengikat kulit ke lengan kursi. Laku lututnya, lalu kaki. Kemudian salah satu penjaga angkat kepalanya satu atau dua senti, sementara yang lain mengikatkan pengikat kepala dari kulit.

Dua penjaga itu melangkah dengan hati-hati keluar dari Kamar Gas. Nugent menunjuk ke satu anggota lain dari regu itu, yang melangkah maju seolah-olah ingin mengucapkan sesuatu kepada si terhukum.

"Sampai di sini, Lucas Mann akan membacakan 1 keputusan hukuman mati kepada Mr. Cayhall." Nugent menjelaskan bagaikan sutradara film amatir. "Kemudian saya akan menanyakan apakah dia punya pesan terakhir." Ia menunjuk lagi, penjaga yang ditunjuk menutup pintu tebal ke kamar gas itu dan menyegelnya.

"Buka," Nugent menyalak, dan pintu itu terbuka. Si penjaga bertubuh kecil dibebaskan.

"Ambil kelincinya," perintah Nugent. Salah satu pengurus mengambil Sam si kelinci dari pickup. Ia duduk dalam sangkar kawat, tak tahu-menahu akan bahaya. Sangkar itu diserahkan kepada dua penjaga yang baru saja meninggalkan Kamar Gas. Mereka dengan hati-hati meletakkannya di kursi kayu, lalu melaksanakan tugas mereka mengikat manusia imajiner, pergelangan tangan, lutut pergelangan kaki, kepala, dan kelinci itu pun siap digas.

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 78)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.