Jumat, 02 Juni 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 75)

 The Chamber: Kamar Gas

Pukul 14.15, seorang wanita muda yang tangkas dalam setelan gelap muncul entah dari mana dan berjalan menghampiri Goodman. "Mr. Goodman, saya Mona Stark, kepala staf Gubernur. Gubernur akan menemui Anda sekarang." Ia tersenyum sopan, Goodman mengikutinya melewati pintu berdaun ganda dan masuk ke ruangan panjang dan resmi dengan meja kerja di salah satu ujung dan meja rapat jauh di ujung lainnya.

McAllister sedang berdiri di depan jendela dengan jas dilepas, dasi dikendurkan, dan lengan kemeja tergulung. Penampilannya seperti layaknya abdi masyarakat yang penuh dedikasi dan kelebihan beban kerja. "Halo, Mr. Goodman," katanya dengan tangan terulur dan gigi berkilat cemerlang.

"Gubernur, terima kasih," kata Goodman. Ia tidak membawa tas kerja, tanpa aksesori yang biasa dibawa pengacara. Ia kelihatan seperti kebetulan lewat di jalan serta memutuskan mampir dan menemui Gubernur.

"Anda sudah bertemu dengan Mr. Larramore dan Miss Stark," kata Mc Allister, melambaikan tangan pada kedua orang itu.

"Ya. Kami sudah bertemu. Terima kasih atas kesediaan Anda menemui saya dengan pemberitahuan sesingkat ini." Goodman mencoba menandingi senyum Gubernur yang cemerlang, tapi sia-sia. Saat ini sikapnya sangat merendah dan kagum, berada dalam kantor besar ini.

"Mari duduk di sini," kata Gubernur, melambaikan tangan ke meja rapat dan memimpin di depan. Mereka berempat duduk di sisi terpisah pada meja itu. Larramore dan Mona mencabut pena dan siaga membuat catatan serius. Goodman tidak memegang apa-apa, kecuali meletakkan map di depannya.

"Setahu saya ada banyak pengajuan dalih hukum dalam beberapa hari terakhir ini," kata McAllister.

"Ya, Sir. Sekadar ingin tahu, apakah Anda pernah mengalami yang seperti ini sebelumnya?" tanya Goodman.

"Belum. Syukurlah."

"Nah, ini tidak luar biasa. Saya yakin kami akan terus mengajukan petisi sampai detik terakhir."

"Boleh saya tanya sesuatu, Mr. Goodman?" Gubernur berkata tulus.

"Tentu."

"Saya tahu Anda telah menangani kasus macam ini. Bagaimana perkiraan Anda pada titik ini? Sebesar apa peluangnya?"

"Anda tak pernah tahu. Sam sedikit berbeda dari kebanyakan narapidana di death row, sebab dia punya pengacara-pengacara yang bagus—penasihat hukum yang bagus dalam sidang, lalu upaya banding yang sempurna."

"Oleh Anda, saya kira."

Goodman tersenyum, McAllister tersenyum, lalu Mona juga melontarkan senyum lebar. Larramore tetap membungkuk di atas buku tulis, wajahnya bersungut dalam konsentrasi hebat.

"Benar. Jadi, klaim Sam yang utama sudah diputuskan. Yang Anda saksikan sekarang adalah langkah-langkah tanpa harapan, tapi kerap kali berhasil. Bisa saya katakan peluangnya fifty-fifty hari ini, tujuh hari menjelang eksekusi."

Mona cepat-cepat mencatat ini di kertas, seolah-olah komentar tersebut mengandung nilai hukum yang sangat penting. Sejauh ini Larramore mencatat setiap patah kata.

McAllister merenungkannya beberapa detik. "Saya agak bingung, Mr. Goodman. Klien Anda tidak tahu kita bertemu. Dia menentang gagasan diadakannya sidang untuk mempertimbangkan pengampunan. Anda menginginkan pertemuan ini tidak disiarkan. Jadi, mengapa kita ada di sini?"

"Masalah berubah, Gubernur. Sekali lagi, saya sudah pernah ke sini berkali-kali sebelum ini. Saya sudah pernah menyaksikan orang menghitung-hitung hari terakhirnya. Itu menimbulkan pengaruh aneh dalam pikiran. Orang berubah. Sebagai pengacara, saya harus meliput setiap pokok persoalan, setiap sudut."

"Apakah Anda minta diadakan sidang pemeriksaan?"

"Ya, Sir. Sidang tertutup."

"Kapan?"

"Bagaimana kalau hari Jumat?"

"Dua hari lagi," kata McAllister sambil menerawang ke sebuah jendela. Larramore melonggarkan tenggorokan dan bertanya, "semacam apa yang kira-kira akan Anda ajukan?"

"Pertanyaan bagus. Seandainya saya punya nama, saya akan memberikannya pada Anda sekarang, tapi saya tidak punya. Presentasi akan ringkas."

"Siapa yang akan memberikan kesaksian di pihak negara bagian?" McAllister bertanya pada Larramore, giginya berkilat ketika ia berpikir. Goodman berpaling.

"Saya yakin keluarga korban tentu ingin mengatakan sesuatu. Tindak kejahatannya biasanya dibahas. Mungkin perlu seseorang dari penjara untuk menerangkan narapidana macam apa dia selama ini. Sidang ini cukup fleksibel."

"Saya lebih tahu tentang tindak pidana itu daripada siapa pun," kata McAllister, nyaris pada diri sendiri.

"Ini situasi yang aneh," Goodman mengakui. "Saya sudah pernah terlibat dalam sidang pemberian pengampunan, dan jaksa penuntut biasanya menjadi saksi pertama yang bersaksi memberatkan terdakwa. Dalam kasus ini, Andalah jaksa penuntutnya."

"Mengapa Anda menginginkan sidang ini tertutup?"

"Sejak dulu Gubernur adalah penganjur sidang terbuka," Mona menambahkan.

"Ini sungguh yang terbaik unjuk semua pihak," kata Goodman, mirip profesor yang pandai. "Tidak begitu menekan bagi Anda, Gubernur, sebab ini tidak dipaparkan dan Anda takkan menerima banyak nasihat yang datang tanpa diminta. Kami, tentu saja, ingin sidang ini tertutup."

"Mengapa?" tanya McAllister.

"Ah, terus terang, Sir, kami tak ingin masyarakat melihat Ruth Kramer bicara tentang anak-anaknya" Goodman mengawasi mereka saat ia melontarkan komentar ini. Alasan sebenarnya adalah masalah lain. Adam yakin satu-satunya cara membujuk Sam agar mau menerima sidang pertimbangan pemberian pengampunan adalah dengan menjanjikan hal itu takkan jadi tontonan umum. Apabila sidang itu tertutup, barangkali Adam bisa meyakinkan Sam bahwa McAllister bisa dicegah memanfaatkan hal ini untuk popularitas sendiri.

Goodman kenal berpuluh-puluh orang di seluruh penjuru negeri ini, yang dengan senang hati akan datang ke Jackson dengan pemberitahuan mendadak untuk bersaksi di pihak Sam. Ia sudah mendengar orang-orang ini mengajukan argumentasi detik terakhir yang persuasif menentang hukuman mati. Biarawati, pastor, pendeta, psikolog, pekerja sosial, penulis, dosen, dan beberapa mantan narapidana di death row. Dr. Swinn akan memberikan kesaksian tentang betapa menyedihkan keadaan Sam akhir-akhir ini, dan ia bekerja dengan baik untuk meyakinkan Gubernur bahwa negara hendak membunuh orang yang invalid.

Di kebanyakan negara bagian lain, narapidana berhak mendapatkan sidang terakhir mempertimbangkan pengampunan, biasanya di depan gubernur. Tapi di Mississippi sidang itu merupakan kebijaksanaan.

"Saya rasa itu masuk akal," kata Gubernur.

"Saat ini sudah cukup banyak perhatian," kata Goodman, tahu bahwa McAllister sudah gatal dengan angan-angan kehebohan media yang akan muncul.

"Tak ada manfaatnya bagi siapa pun bila sidang ini diadakan secara terbuka." Mona, si pendukung gigih sidang terbuka, mengemyit makin keras dan menulis sesuatu dengan huruf besar.

McAllister tenggelam dalam pikiran. "Tak peduli apakah sidang ini terbuka atau tertutup," katanya, "tak ada alasan kuat untuk sidang macam ini, kecuali Anda dan klien Anda punya sesuatu yang baru untuk ditambahkan. Saya tahu kasus ini, Mr. Goodman. Saya mencium bau asapnya. Saya melihat mayat-mayat itu. Saya tak bisa mengubah pikiran, kecuali ada sesuatu yang baru."

“Seperti?"

"Seperti ada sebuah nama. Anda beri saya nama asisten Sam, dan saya akan setuju mengadakan sidang. Tanpa janji untuk memberikan pengampunan, Anda mengerti, cuma sidang pertimbangan biasa. Kalau tidak, ini hanya buang waktu percuma."

"Apakah Anda yakin ada orang yang membantu?" tanya Goodman.

"Kami selalu curiga. Bagaimana menurut Anda?"

"Mengapa itu penting?"

"Itu penting, sebab sayalah yang menentukan keputusan terakhir, Mr. Goodman. Sesudah berbagai pengadilan selesai dengannya dan jam berdetak terus Selasa malam nanti, sayalah satu-satunya orang di dunia yang bisa menghentikannya. Bila Sam memang layak menerima hukuman mati, tak ada masalah bagi saya untuk duduk-duduk sementara eksekusi berlangsung. Tapi bila dia tidak layak, eksekusi itu harus dihentikan. Saya masih muda. Saya tak mau dihantui hal ini sepanjang sisa hidup saya. Saya ingin mengambil keputusan yang tepat."

T”api kalau Anda percaya akan adanya pelaku pembantu, dan jelas Anda memang percaya, mengapa tidak menghentikannya saja?"

"Sebab saya ingin pasti. Anda sudah bertahun-tahun jadi pengacaranya. Apakah menurut Anda dia punya asisten?"

"Ya. Saya menduga ada dua orang. Saya tak tahu siapa pemimpin dan siapa pengikutnya, tapi Sam mendapat bantuan."

McAllister membungkuk lebih dekat pada Goodman dan menatap matanya. "Mr. Goodman, bila Sam bersedia mengatakan yang sebenarnya pada saya, saya akan mengadakan sidang tertutup, dan saya akan mempertimbangkan pengampunan. Saya tidak menjanjikan apa pun, Anda mengerti, hanya sidang itu. Bila tidak demikian, tak ada yang baru untuk ditambahkan dalam cerita ini."

Mona dan Larramore menulis lebih cepat daripada notulis pengadilan.

"Sam mengatakan dia menceritakan yang sebenarnya."

"Kalau begitu, lupakan saja sidang ini. Saya sibuk."

Goodman mengembuskan napas dengan kesal, tapi tetap menyunggingkan senyum. "Baiklah, kita akan bicara lagi dengannya. Bisakah kita bertemu lagi di sini besok?"

Gubernur memandang Mona, yang memeriksa kalender saku dan mulai menggelengkan kepala, seolah-olah esok hari penuh sesak dengan pidato, penampilan, dan pertemuan. "Jadwal Anda penuh," katanya dengan nada memerintah.

"Bagaimana dengan makan siang?"

"Tidak. Tidak bisa. Anda akan bicara di pertemuan NRA."

"Mengapa anda tidak menelepon saya?" Larramore menawarkan.

"Gagasan bagus," kata Gubernur, kini berdiri dan mengancingkan lengan kemeja.

Goodman berdiri dan berjabat tangan dengan mereka bertiga. "Saya akan menelepon bila ada perkembangan baru. Tapi bagaimanapun, kami memohon sidang pertimbangan secepat mungkin."

"Permohonan ini ditolak, kecuali Sam bicara," Kata Gubernur.

“Tolong ajukan permohonan ini secara tertulis, Sir, kalau Anda tidak keberatan," kata Larramore.”

"Tentu."

Mereka mengantar Goodman ke pintu. Setelah ia meninggalkan kantor tersebut, McAllister duduk di kursi resminya di belakang meja kerja. Ia kembali membuka kancing lengan kemeja. Larramore mohon diri dan pergi ke ruang sempit di ujung gang.

Miss Stark mengamati sebuah print out sementara Gubernur mengawasi deretan tombol yang berkedip-kedip di teleponnya. "Berapa banyak di antara telepon masuk ini tentang Sam Cayhall?" ia bertanya.

Mona menyusuri sebuah kolom pada print out dengan jari. "Kemarin Anda menerima 21 telepon tentang eksekusi Cayhall. Empat belas mendukung agar dia digas. Lima mengatakan agar mengampuninya. Dua tidak memberikan pendapat tegas."

"Itu peningkatan."

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 76)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.