Jumat, 02 Juni 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 74)

 The Chamber: Kamar Gas

Empat tahun sebelumnya, pada hari-hari dan jam-jam menjelang eksekusi Maynard Tole, Goodman pernah dua kali menempuh perjalanan yang sama. Saat itu gubernurnya berbeda, kliennya berbeda, dan kejahatannya berbeda. Tole membunuh beberapa orang dalam suatu pesta kejahatan selama dua hari, dan cukup sulit membangkitkan simpati untuknya. Ia berharap Sam Cayhall berbeda. Ia laki-laki tua yang mungkin akan mati juga dalam lima tahun mendatang. Bagi banyak warga Mississippi, kejahatannya merupakan sejarah kuno. Dan seterusnya, dan seterusnya.

Sepagian Goodman melatih apa yang akan dibicarakannya. Ia memasuki gedung kapitol dan sekali lagi mengagumi keindahannya. Gedung ini merupakan versi lebih kecil dari U.S. Capitol di Washington, dan tak ada yang dihemat untuk membangunnya. Gedung itu dibangun pada tahun 1910 dengan tenaga kerja dari penjara. Negara bagian memakai uang hasil gugatan terhadap jawatan kereta api untuk membangun monumen ini.

Ia memasuki kantor Gubernur di lantai dua dan menyerahkan kartu nama kepada seorang resepsionis cantik. Gubernur tak ada di tempat pagi ini, katanya, dan apakah ia punya janji? Tidak, Goodman menerangkan dengan sopan, tapi urusan ini sangat penting, dan apakah mungkin dia menemui Mr. Andy Larramore, kepala penasihat hukum gubernur.

Ia menunggu sementara resepsionis menelepon beberapa kali, dan setengah jam kemudian Mr. Larramore muncul. Mereka saling memperkenalkan diri dan menghilang ke dalam gang sempit yang membentang di tengah berbagai kantor kecil.

Petak kerja Larramore penuh sesak dan acak-acakan sangat menyerupai orangnya sendiri. Ia bertubuh kecil dengan bungkuk yang kentara, dan sama sekali tanpa leher. Dagu yang panjang menempel ke dada, dan bila ia bicara, mata, hidung, dan mulutnya merapat jadi satu. Pemandangan yang mengerikan. Goodman tak bisa mengatakan apakah ia berumur tiga puluh, atau lima puluh tahun. Ia pasti orang jenius.

"Gubernur sedang bicara pada pertemuan agen asuransi pagi ini," kata Larramore sambil memegang jadwal, seolah-olah benda itu permata berharga. "Kemudian dia akan mengunjungi sekolah negeri di pusat kota."

"Saya akan menunggu," kata Goodman. "Urusan ini sangat penting, dan saya tidak keberatan menunggu."

Larramore menyisihkan sehelai kertas ke samping dan melipat tangan di atas meja. "Bagaimana dengan anak muda itu, cucu Sam?"

"Oh, dia masih penasihat hukum utama. Saya direktur bagian pro bono di Kravitz & Bane, jadi saya di sini untuk membantunya."

"Kami memantau masalah ini dengan sangat cermat," kata Larramore, wajahnya berkerut hebat di tengah, lalu mengendur di ujung setiap kalimat. "Tampaknya urusan ini akan gawat."

"Selalu demikian," kata Goodman. "Sejauh mana Gubernur serius mempertimbangkan sidang pemberian pengampunan?"

"Saya yakin dia serius mempertimbangkan sidang ini. Namun pemberian pengampunan urusannya sama sekali berbeda. Hukumnya sangat luas, dan saya yakin Anda sudah tahu. Dia bisa mengubah hukuman mati dan langsung melepaskan si terpidana. Dia bisa mengubahnya jadi kurungan seumur hidup, atau lebih ringan dari itu."

Goodman mengangguk. "Bisakah saya menemuinya?"

"Dia dijadwalkan kembali ke sini pukul sebelas. Nanti saya akan bicara dengannya. Dia mungkin akan makan siang di meja kerja, jadi mungkin ada waktu senggang sekitar pukul satu. Bisakah Anda ke sini?"

"Ya. Urusan ini harus disimpan rapat. Klien kami sangat menentang pertemuan ini."

"Apakah dia menentang gagasan pemberian pengampunan?"

"Kami punya sisa waktu tujuh hari, Mr. Larramore. Kami tidak menentang apa pun."

Mr. Larramore mengerutkan hidung dan memperlihatkan gigi atas, lalu kembali mengambil jadwal. "Datanglah ke sini pukul satu. Akan saya lihat apa yang bisa saya kerjakan."

"Terima kasih." Mereka bercakap-cakap tanpa arah selama lima menit, lalu Larramore disergap serangkaian telepon mendesak. Goodman mohon diri dan meninggalkan gedung kapitol. Ia berhenti lagi di depan bunga-bunga magnolia Jepang dan melepaskan jas. Saat itu pukul 09.30, kemejanya sudah basah di ketiak dan lengket di punggung.

Ia berjalan ke selatan, ke arah Capitol Straw, empat blok dari sana dan dianggap sebagai jalan utama kota Jackson. Di tengah gedung-gedung dan lalu lintas pusat kota, istana Gubernur berdiri megah di lahan yang terpangkas rapi dan menghadap gedung kapitol. Rumah itu merupakan bangunan kuno yang luas, dikelilingi gerbang-gerbang dan pagar.

Sekelompok kecil penentang hukuman mati berkumpul di trotoar pada malam Tole dieksekusi dan berteriak-teriak pada Gubernur. Jelas ia tidak mendengar mereka. Goodman berdiri di trotoar dan teringat akan istana itu. Ia dan Peter Wiesenberg pernah berjalan tergesa-gesa melewati sebuah gerbang di sebelah kiri jalan masuk utama dengan permohonan terakhir mereka, cuma beberapa jam sebelum Tole digas. Saat itu Gubernur sedang makan malam dengan orang-orang penting, dan agak kesal dengan interupsi mereka. Ia menolak permohonan terakhir mereka yang meminta pengampunan, lalu dengan sikap sopan gaya Selatan, mengundang mereka untuk tinggal makan malam.

Dengan sopan mereka menolak. Goodman menjelaskan Kepada Yang Mulia bahwa mereka harus bergegas kembali ke Parchman untuk menemani klien mereka saat ia menjemput ajal. "Hati-hati," kata Gubernur pada mereka, lalu kembali ke jamuan makan malamnya.

Dalam hati Goodman bertanya-tanya, berapa banyak pemrotes yang akan berdiri di tempat ini beberapa hari lagi, menyanyi dan berdoa dan membakar lilin, melambai-lambaikan poster dan berteriak-teriak pada McAllister untuk mengampuni Sam. Mungkin tidak begitu banyak.

Di tengah distrik bisnis di kota Jackson jarang terjadi kekurangan ruang kantor, dan Goodman tidak banyak menemui kesulitan mendapatkan apa yang ia inginkan. Sebuah tanda mengarahkan perhatiannya pada tempat kosong di lantai tiga sebuah bangunan bobrok. Ia mencari informasi di bagian depan kantor keuangan di lantai dasar, dan satu jam kemudian pemilik gedung itu tiba dan menunjukkan tempat yang tersedia. Tempat itu merupakan suite dua ruangan yang kumal, dengan karpet usang dan lubang-lubang pada dindingnya. Goodman berjalan ke satu-satunya jendela dan memandang ke bagian depan gedung kapitol tiga blok dan sana. "Sempurna," katanya

"Harganya tiga ratus sebulan, plus listrik. Kamar kecil ada di ujung gang. Minimum enam bulan."

“Aku cuma membutuhkannya untuk dua bulan," kata Goodman, merogoh ke dalam saku dan mencabut segepok uang tunai yang terlipat rapi.

Si pemilik memandang uang itu dan bertanya, "Bisnis macam apa yang kaukerjakan?"

"Analisis pemasaran."

"Dari mana asalmu?"

"Detroit. Kami mempertimbangkan mendirikan cabang di negara bagian ini, dan kami butuh tempat untuk mulai. Tapi cuma untuk dua bulan. Semua kontan. Tak ada catatan apa pun. Kami akan keluar sebelum kau tahu. Takkan menimbulkan kegaduhan."

Si pemilik mengambil uang kontan itu dan menyerahkan dua anak kunci kepada Goodman, satu untuk kantor, yang lainnya untuk pintu masuk dan Congress Street. Mereka berjabat tangan dan perjanjian itu ditutup.

Goodman meninggalkan tempat kumuh itu dan kembali ke mobilnya di gedung kapitol. Sepanjang jalan ia terkekeh memikirkan rencana yang akan ia lakukan. Gagasan itu ditelurkan Adam, satu lagi tembakan jarak jauh dalam serangkaian upaya tanpa harapan untuk menyelamatkan Sam. Tak ada yang ilegal dalam hal ini. Biayanya sedikit, dan siapa peduli dengan uang beberapa dolar? Lagi pula, bukankah ia Mr. Pro Bono di firma ini, sumber kebanggaan dan kebajikan di antara rekan-rekannya. Tak seorang pun akan mempertanyakan pengeluarannya untuk sewa kantor dan beberapa telepon, bahkan Daniel Rosen pun tidak.

***

Setelah tiga minggu menjadi pengacara death row, Adam malai merindukan suasana kantornya di Chicago, kalau memang ia masih punya kantor di sana. Sebelum pukul 10.00 hari Rabu, ia sudah menyelesaikan klaim untuk meminta keringanan vonis. Ia sudah empat kali bicara dengan berbagai panitera pengadilan, lalu dengan seorang administrator pengadilan. Ia dua kali bicara dengan Richard Olander mengenai hasil pertimbangan terhadap klaim menentang kamar gas, dan dengan seorang panitera pengurus kasus hukuman mati di Pengadilan Fifth Circuit, New Orleans, mengenai klaim ketidakefektifan bantuan hukum.

Klaim yang menyatakan Sam tidak memiliki kompetensi mental untuk dieksekusi sekarang sudah dikirim dengan fax ke Jackson, sedangkan aslinya menyusul dengan Federal Express, dan Adam terpaksa memohon dengan sopan kepada administrator pengadilan untuk mempercepat segalanya. Bergegaslah dan tolaklah, katanya, meskipun bukan dengan kata-kata seperti itu. Seandainya ada penundaan eksekusi, hal itu kemungkinan besar akan dikeluarkan hakim federal.

Setiap klaim baru membawa secercah harapan baru, dan seperti yang dipelajari Adam dengan cepat, hal itu juga membawa potensi kekalahan lain. Sebuah klaim harus melewati empat halangan sebelum disisihkan—Mahkamah Agung Mississippi, pengadilan distrik federal, Pengadilan Fifth Circuit, dan Mahkamah Agung AS. Jadi, peluang untuk berhasil cukup kecil, temtama pada tahap ini. Berbagai kemungkinan dalam perkara Sam sudah ditangani secara cermat oleh Wallace Tyner dan Garner Goodman bertahun-tahun yang lalu. Adam sekarang mengajukan remah-remah sisanya.

Panitera di Pengadilan Fifth Circuit menyangsikan pengadilan akan mau merepotkan diri mendengarkan argumentasi lisan lagi, terutama karena tampak jelas Adam akan mengajukan klaim baru setiap hari. Panel tiga hakim di sana mungkin hanya mempertimbangkan makalahnya. Telepon berantai akan dipakai bila hakim-hakim itu ingin mendengarkan suaranya.

Richard Olander menelepon lagi untuk menyatakan Mahkamah Agung sudah menerima petisi Adam yang meminta peninjauan keputusan pengadilan di bawahnya, atau permintaan untuk menyidangkan kasus itu, dan petisi itu sudah dibahas. Tidak, menurutnya Mahkamah takkan mau repot mendengarkan argumentasi lisan. Tahap ini sudah terlalu lanjut.

Ia juga memberitahu Adam bahwa ia sudah menerima melalui fax, copy klaim terbaru tentang keterbatasan mental, dan ia akan memantau perjalanannya di pengadilan lokal. Menarik, katanya. Ia bertanya lagi, klaim baru apa yang terpikir oleh Adam, tapi Adam tidak mengatakannya.

Panitera Hakim Slaterry, Breck Jefferson, si pemurung abadi, menelepon untuk memberitahu Adam bahwa Pak Hakim sudah menerima lewat fax, copy klaim terbaru yang diajukan ke Mahkamah Agung Mississippi, dan terus terang Pak Hakim tidak begitu memikirkannya, tapi akan mempertimbangkannya dengan sungguh-sungguh begitu klaim itu tiba di pengadilan mereka.

Adam merasa agak puas mengetahui ia berhasil membuat empat pengadilan yang berbeda melompat-lompat pada saat yang sama.

Pukul 11.00, Morris Henry, Dr. Death yang terkenal dari kantor Jaksa Agung, menelepon untuk memberitahu Adam bahwa mereka sudah menerima klaim terbaru dari banding gangplank, dan Mr. Roxburgh sendiri sudah menugaskan selusin pengacara menggarap jawabannya. Henry cukup menyenangkan di telepon, tapi telepon itu benar-benar menyampaikan maksudnya—kami punya banyak pengacara, Adam.

Dokumen-dokumen diproduksi dalam hitungan kilo sekarang, dan meja rapat kecil itu tertutup dengan tumpukan-tumpukan rapi dokumen tersebut. Darlene terus-menerus keluar-masuk kantor itu—membuat copy, menyampaikan pesan telepon, mengambil kopi, membaca dan mengoreksi makalah dan petisi.

Ia pernah dilatih dalam bidang obligasi pemerintah yang melelahkan, maka dokumen-dokumen terperinci dan panjang itu tidak menggentarkannya. Lebih dari sekali ia mengaku bahwa ini merupakan selingan menarik dari tugas normalnya yang membosankan. "Apa yang lebih menarik daripada eksekusi yang mengintai begini dekat?" tanya Adam.

Bahkan Baker Cooley juga menyisihkan waktu dari kesibukannya mempelajari peraturan perbankan federal terbaru dan muncul untuk menjenguk.

Phelps menelepon sekitar pukul 11.00 untuk menanyakan apakah Adam mau menemuinya untuk makan siang. Adam tak ingin bertemu, dan menolak dengan alasan ketatnya deadline dan hakim-hakim yang lekas marah. Tak seorang pun mendengar kabar dari Lee. Phelps mengatakan sebelum ini ia sudah pernah menghilang, tapi tak pernah lebih dari dua hari. Ia khawatir dan mempertimbangkan akan menyewa detektif swasta.

"Ada reporter ke sini untuk menemuimu," kata Darlene sambil mengangsurkan sehelai kartu nama yang menyatakan kehadiran Anne L. Piazza, koresponden Newsweek. Ia reporter ketiga yang menghubungi kantor ini hari Rabu.

"Katakan padanya aku tidak bisa," kata Adam tanpa penyesalan.

"Sudah kukatakan, tapi kupikir karena ini Newsweek, kau mungkin ingin tahu."

"Aku tak peduli siapa dia. Katakan padanya klien kita juga tak ingin bicara."

Ia berlalu dengan tergesa-gesa ketika telepon berdering. Dari Goodman, melapor dari Jackson, akan menemui Gubernur pukul 13.00 nanti. Adam menginformasikan kesibukan dan telepon terbaru.

Darlene membawakan sandwich pada pukul 12.30. Adam melahapnya dengan cepat, lalu tidur di kursi, sementara komputernya memuntahkan satu brief lagi.

***

Goodman membalik-balik majalah otomotif sementara menunggu sendirian di ruang tamu di samping kantor Gubernur. Sekretaris cantik yang sama merapikan kuku di sela-sela telepon di switchboard-nya. Pukul 13.00 tiba dan lewat tanpa komentar. Demikian juga pukul 13.30. Pukul 14.00, sang resepsionis yang sekarang berkuku kuning jingga cerah, minta maaf. Tidak apa-apa, kata Goodman dengan senyum hangat. Keindahan karier pro bono adalah pekerjaan yang tidak diukur dengan waktu. Sukses berarti membantu orang, tak peduli berapa jam yang ditagihkan.

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 75)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.