Jumat, 02 Juni 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 76)

 The Chamber: Kamar Gas

"Yeah, tapi surat kabar memuat artikel tentang upaya hukum terakhir Sam. Di situ disebutkan kemungkinan diadakannya sidang pertimbangan pemberian pengampunan."

"Bagaimana dengan pol dengar pendapat?”

"Tak ada perubahan. Sembilan puluh persen warga kulit putih di negara bagian ini mendukung hukuman mati, dan sekitar separo warga kulit hitam mendukung. Secara keseluruhan, jumlahnya sekitar 84 persen."

"Berapa dukungan untukku?"

"Enam puluh dua. Tapi bila Anda mengampuni Sam, saya yakin angka itu akan merosot jadi satu digit."

"Jadi, kau menentang gagasan itu."

"Sama sekali tak ada yang bisa didapat, dan banyak yang harus dikorbankan. Lupakanlah pol dan angka. Bila Anda memberikan pengampunan pada salah satu penjahat di sana, lima puluh lainnya akan mengirimkan pengacara, nenek, dan pendetanya ke sini, memohon pengampunan yang sama. Banyak yang harus Anda pikirkan. Gagasan ini tolol."

"Kau benar. Mana rencana medianya?"

"Akan siap satu jam lagi."

"Aku perlu melihatnya."

"Nagel sedang memolesnya. Saya pikir Anda tetap harus mengabulkan permohonan untuk sidang pertimbangan pengampunan itu. Tapi adakanlah hari Senin. Umumkan besok. Biarkan memanas dulu selama akhir pekan."

"Sidang itu seharusnya tidak tertutup."

"Benar. Kita ingin Ruth Kramer menangis di depan kamera."

"Sidang ini keputusanku. Sam dengan pengacaranya tak bisa mendiktekan persyaratannya. Kalau mereka menghendakinya mereka harus melakukannya dengan caraku."

"Benar. Tapi harap diingat, Anda menginginkannya juga. Liputannya luar biasa besar."

***

Goodman menandatangani sewa tiga telepon genggam untuk pemakaian tiga bulan. Ia memakai kartu kredit Kravitz & Bane dan dengan cekatan menepiskan rentetan pertanyaan salesman muda yang cerewet itu. Ia pergi ke perpustakaan umum di State Street dan menemukan meja referensi yang penuh dengan buku telepon.

Dengan menilai tebalnya ia memilih buku telepon dari kota-kota yang agak besar di Mississippi, tempat-tempat seperti Laurel, Hattiesburg, Tupelo, Vicksburg, Biloxi, dan Meridian. Kemudian ia memilih yang lebih tipis—Tunica, Calhoun City, Bude, Long Beach, West Point. Di meja informasi ia menukarkan uang kertas dengan pecahan 25 sen, dan menghabiskan dua jam untuk meng-copy halaman-halaman buku telepon.

Dengan gembira ia mengerjakan tugas. Tak seorang pun akan percaya bahwa laki-laki kecil berpakaian rapi dengan rambut acak-acakan dan dasi kupu-kupu itu sebenarnya partner pada biro hukum besar di Chicago dengan sekretaris dan paralegal yang akan datang begitu mendengar panggilan dan isyarat darinya. Tak seorang pun akan percaya ia punya penghasilan 400.000 dolar lebih setahun. Dan ia sama sekali tak peduli. E. Garner Goodman menyukai pekerjaannya. Ia sedang berusaha sebaik mungkin menyelamatkan satu nyawa lagi agar tidak dibunuh secara legal.

Ia meninggalkan perpustakaan dan mengemudikan mobil beberapa blok ke Mississippi College School of Law. Seorang profesor di sana, John Bryan Glass, adalah dosen yang mengajar hukum dan hukum acara pidana, dan juga mulai menerbitkan artikel ilmiah menentang hukuman mati. Goodman ingin menemuinya untuk melihat barangkali sang Profesor punya beberapa mahasiswa pandai yang tertarik pada suatu proyek riset.

Sang Profesor sudah pulang, tapi dijadwalkan akan mengajar pukul 09.00 hari Kamis nanti. Goodman memeriksa perpustakaan sekolah hukum itu, lalu meninggalkannya. Ia mengemudi beberapa blok ke Old State Capitol Building, sekadar melewatkan waktu, dan berlama-lama melihat-lihat tempat itu.

Acara itu berlangsung tiga puluh menit, separonya dilewatkan di Civil Rights Exhibit di lantai dasar. Ia menanyakan hotel pada penjaga toko cendera mata yang menyarankan Millsaps-Buie House, sekitar satu mil di jalan itu. Ia menemukan rumah besar gaya Victoria yang dikatakan penjaga toko itu, dan mengambil ruangan kosong terakhir. Rumah itu direstorasi dengan indah, perabotan dan ornamennya kuno. Petugas menyiapkan wiski dan air, dan ia membawanya ke kamar.

~ 39 ~

Auburn House buka pukul 08.00. Seorang satpam berseragam jelek yang lesu dan tak bersemangat membuka gerbang di depan jalan masuk, dan Adam adalah orang pertama yang memasuki halaman parkir. Ia menunggu di dalam mobil selama sepuluh menit, sampai satu mobil lain parkir di dekatnya.

Ia mengenali wanita itu sebagai konselor yang dijumpainya di kantor Lee dua minggu sebelumnya. Ia menghentikannya di trotoar ketika wanita itu akan memasuki pintu samping. "Permisi," katanya, "Kita sudah pernah bertemu. Saya Adam Hall. Kemenakan Lee. Maaf, tapi saya tidak ingat nama Anda."

Wanita itu menjinjing tas kerja usang di satu tangan dan kantong cokelat berisi makan siang di tangan lain. Ia tersenyum dan berkata, "Joyce Cobb. Saya ingat. Di mana Lee?"

"Entahlah. Saya tadi berharap Anda tahu sesuatu. Anda belum mendengar kabar darinya?"

"Tidak. Sejak Selasa."

"Selasa? Sejak Sabtu saya belum bicara dengannya. Apakah Anda bicara dengannya hari Selasa kemarin?"

"Dia menelepon ke sini, tapi saya tidak bertemu dengannya. Hari itulah mereka memuat berita penangkapannya karena mengemudi dalam keadaan mabuk."

"Di mana dia waktu itu?"

"Dia tak mengatakannya. Dia minta bicara dengan administrator, katanya dia akan keluar sebentar, harus mencari pertolongan, hal-hal macam itu. Tak pernah mengatakan dia ada di mana atau kapan akan kembali."

"Bagaimana dengan pasien-pasiennya?"

"Kami menangani mereka. Ini selalu jadi pergulatan, Anda tahu. Tapi kami bisa mengatasinya."

"Lee takkan melupakan gadis-gadis ini. Menurut Anda, adakah kemungkinan dia bicara dengan mereka minggu ini?"

"Dengar, Adam, kebanyakan gadis-gadis ini tidak punya telepon, oke? Dan Lee pasti takkan melibatkan diri dalam proyek-proyek ini, dan saya tahu mereka tidak bicara dengannya."

Adam mundur setapak dan memandang ke gerbang. "Saya tahu. Saya harus menemukannya. Saya sungguh khawatir."

"Dia akan baik-baik saja. Dia sudah pernah melakukan hal yang sama, dan segalanya beres." Joyce mendadak terburu-buru hendak ke dalam. "Kalau saya dengar sesuatu, Anda akan saya beri kabar."

“Terima kasih. Saya tinggal di apartemennya."

"Saya tahu."

Adam mengucapkan terima kasih kepadanya, dan berlalu. Pukul 09.00 ia berada di kantor, terkubur dalam kertas.

***

Kolonel Nugent duduk di ujung sebuah meja panjang dalam ruangan yang penuh penjaga dan staf. Meja itu terletak di atas platform pendek, sekitar tiga puluh senti di atas yang lain, dan pada dinding di belakangnya ada sebuah papan tulis besar. Sebuah podium portabel berdiri di satu sudut. Kursi-kursi di sisi kanan meja itu kosong, sehingga para penjaga dan staf yang duduk di kursi lipat bisa melihat wajah orang-orang penting di sebelah kiri Nugent.

Morris Henry dari kantor Jaksa Agung ada di sana, makalah-makalah tebal berjajar di hadapannya. Lucas Mann duduk di ujung, menulis catatan. Dua asisten kepala duduk di samping Henry. Seorang pesuruh dari kantor gubernur duduk di samping Lucas.

Nugent melirik jam tangan, lalu memulai pidato pendeknya. Ia mengacu pada catatan dan mengarahkan komentarnya pada penjaga dan staf. "Sampai pagi ini, tanggal 2 Agustus, segala penangguhan eksekusi sudah dicabut oleh berbagai pengadilan, dan tak ada yang akan menghentikan eksekusi. Kita anggap eksekusi ini akan berlangsung seperti yang direncanakan, satu menit lewat tengah malam Rabu depan. Kita punya enam hari penuh untuk bersiap, dan saya bertekad hal ini terlaksana dengan lancar, tanpa gangguan.

"Narapidana ini sedikitnya punya tiga petisi dan dalih yang sedang digarap di berbagai pengadilan, dan, tentu saja, tak mungkin meramalkan apa yang mungkin terjadi. Kita terus berhubungan dengan kantor Jaksa Agung. Bahkan Mr. Morris Henry ada di sini bersama kita hari ini. Menurut pendapatnya, dan sesuai dengan pendapat Mr. Lucas Mann, eksekusi ini kemungkinan besar akan terlaksana.

“Penundaan bisa diberikan setiap saat, tapi tampaknya meragukan. Bagaimanapun juga kita harus siap. Narapidana ini diperkirakan akan memohon sidang mempertimbangkan pengampunan, tapi, terus terang, hal ini diperkirakan takkan berhasil. Mulai sekarang sampai Rabu depan, kita akan terus dalam keadaan siaga."

Kata-kata Nugent kuat dan jelas. Ia menguasai pentas tengah, dan jelas menikmati setiap saat. Ia melirik catatan dan meneruskan, "Kamar gas itu sendiri sedang dipersiapkan. Kamar gas itu sudah tua, dan dua tahun tak pernah dipakai, jadi kita sangat hati-hati dengannya. Seorang wakil dari pabrik pembuatnya tiba pagi ini; dia akan melakukan tes hari ini dan malam ini. Kita akan melakukan geladi resik lengkap selama akhir pekan, mungkin minggu malam, dengan asumsi tak ada penundaan lagi. Saya sudah mengumpulkan daftar sukarelawan anggota regu eksekusi, dan saya akan menetapkannya siang ini.

"Saat ini kita dibanjiri permintaan dari media untuk segala macam hal. Mereka ingin mewawancarai Mr. Cayhall, pengacaranya, pengacara kita. Kepala Penjara, penjaga, narapidana lain di The Row, algojo, setiap orang. Mereka ingin menyaksikan eksekusi. Mereka ingin foto selnya dan kamar gas itu. Khas kekonyolan media massa. Tapi kita harus menghadapinya.

“Tidak boleh ada kontak apa pun dengan anggota pers, kecuali saya lebih dulu menyetujuinya. Itu berlaku bagi setiap karyawan lembaga. Tak ada perkecualian. Kebanyakan reporter ini tidak berasal dari sini, dan mereka hiruk-pikuk membuat kita tampak seperti segerombolan redneck bodoh. Jadi, jangan bicara dengan mereka. Tak ada perkecualian. Saya akan memberikan pernyataan yang sesuai bila saya anggap perlu. Berhati-hatilah dengan orang-orang ini. Mereka pemakan bangkai.

"Kita juga memperkirakan akan ada masalah dari luar. Sekitar sepuluh menit yang lalu, kelompok pertama Ku Klux Klan tiba di gerbang depan. Mereka diarahkan ke tempat biasanya antara jalan raya dan gedung administrasi, tempat semua protes berlangsung. Kita juga mendengar ada kelompok-kelompok lain semacam itu akan ke sini sebentar lagi, dan tampaknya mereka merencanakan protes sampai urusan ini selesai. Kita akan mengawasi mereka dengan ketat. Mereka punya hak melakukan ini, asalkan tanpa kekerasan. Meskipun tidak di sini pada empat eksekusi terakhir, saya sudah diberitahu bahwa kelompok-kelompok pendukung hukuman mati biasanya juga muncul menimbulkan keributan. Kita merencanakan memisahkan dua kelompok tersebut, karena alasan yang sudah jelas."

Nugent tak bisa duduk lebih lama lagi dan berdiri kaku di ujung meja. Semua mata tertuju padanya, ia mengamati catatan sejenak.

"Eksekusi kali ini akan berbeda, karena ketenaran Mr. Cayhall. Ini akan menarik banyak perhatian, banyak media, banyak orang gila. Kita harus selalu bertindak profesional, dan saya takkan menolerir pelanggaran apa pun terhadap peraturan. Mr. Cayhall dan keluarganya berhak menerima perlakuan hormat selama hari-hari terakhir ini. Tak ada komentar melecehkan tentang kamar gas atau eksekusi tersebut. Saya tidak akan membiarkannya. Ada pertanyaan?"

Nugent mengamati ruangan itu dan cukup puas dengan diri sendiri. Ia sudah meliput semuanya. Tak ada pertanyaan. "Baiklah. Kita akan bertemu lagi besok pagi pukul sembilan." Ia membubarkan mereka dan ruangan itu kosong dengan cepat.

***

Garner Goodman menemui Professor John Bryan Glass ketika ia sedang meninggalkan kantor dan hendak pergi memberi kuliah. Kelas itu terlupakan saat keduanya berdiri di gang dan saling memuji.

Glass sudah membaca semua buku Goodman, dan Goodman sudah membaca sebagian besar artikel terbaru Glass yang mengutuk hukuman mati. Percakapan itu dengan cepat beralih ke kekacauan kasus Cayhall, dan secara spesifik pada kebutuhan mendesak Goodman akan beberapa mahasiswa hukum yang dapat dipercaya dan bisa membantu melaksanakan proyek riset selama akhir pekan. Glass menawarkan bantuannya, dan mereka berdua setuju makan siang bersama beberapa jam lagi, guna menuntaskan persoalan tersebut

Tiga blok dari Mississippi College School of Law, Goodman menemukan kantor Southern Capital Defense Group yang kecil dan berjejalan. Organisasi ini adalah lembaga swasta federal dengan kantor-kantor sempit, berjejalan di setiap negara bagian yang masih memberlakukan hukuman mati. Direkturnya seorang pengacara muda kulit hitam lulusan Yale bernama Hez Kerry, yang telah meninggalkan kekayaan biro-biro hukum besar dan mengabdikan hidupnya untuk menghapuskan hukuman mati.

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 77)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.