Jumat, 02 Juni 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 73)

 The Chamber: Kamar Gas

Sam berjalan ke pintunya dan bersandar pada jeruji. Ia bisa melihat tangan dan lengan Gullit. "Yeah, aku bangun. Rasanya tak bisa tidur." Ia menyalakan rokok pertama hari itu.

"Aku pun tidak. Katakan padaku itu takkan terjadi, Sam."

"Itu takkan terjadi."

"Kau serius?"

"Yeah, aku serius. Pengacaraku akan melontarkan sesuatu yang berat. Dia mungkin akan menuntunku keluar dari sini satu-dua minggu lagi."

"Kalau begitu, kenapa kau tak bisa tidur?"

"Aku merasa begitu resah dengan pikiran akan keluar dari sini."

"Apa kau sudah bicara dengannya tentang kasusku?"

"Belum, banyak yang dia pikirkan. Begitu keluar, kami akan menggarap kasusmu. Tenang sajalah. Cobalah tidur."

Tangan dan lengan Gullit perlahan-lahan lenyap dari pandangan, lalu ranjangnya berkeriut. Sam menggelengkan kepala atas kebodohan bocah itu. Ia menghabiskan rokok dan melemparnya ke gang, suatu pelanggaran yang bisa membuatnya menerima laporan pelanggaran. Tapi ia tak peduli.

Dengan hati-hati ia mengambil mesin tik dari rak. Ada beberapa hal yang hendak ia katakan dan ada beberapa surat yang harus ia tulis. Ada beberapa orang di luar sana yang ingin dihubunginya.

***

George Nugent memasuki Maximum Security Unit bagaikan seorang jenderal berbintang lima. Ia menatap tajam rambut dan sepatu lars tak tersemir seorang penjaga kulit putih dengan pandangan mencela. "Cukur rambutmu," geramnya, "atau kau akan kucatat dalam laporan. Dan semir sepatu lars itu."

"Ya, Sir," kata orang itu, nyaris memberi hormat.

Nugent menggerakkan kepala dan mengangguk pada Packer yang memimpin di depan, melewati bagian tengah The Row, menuju Tier A. "Nomor enam," kata Packer sewaktu pintu terbuka.

"Tetap di sini," Nugent menginstruksikan. Sol sepatunya berdetak ketika ia melangkah tegap, menatap dengan pandangan menghina ke dalam masing-masing sel.

Ia berhenti di sel Sam dan mengintip ke dalam. Sam bertelanjang dada hanya memakai celana pendek, kulitnya yang tipis dan kisut berkilauan keringat sementara ia mengetik. Ia memandang orang asing yang menatapnya melalui jeruji, lalu kembali ke pekerjaannya. "Sam, namaku George Nugent."

Sam mengetuk beberapa tombol. Nama itu tak dikenalnya, namun Sam memperkirakan ia bekerja entah di mana di atas hierarki, sebab ia punya wewenang masuk ke tier. "Apa yang kauinginkan?" Sam bertanya tanpa melihat.

"Ah, aku ingin menemuimu."

“Terima kasih, sekarang enyahlah."

Gullit di sebelah kanan dan Henshaw di kiri mendadak bersandar pada jeruji, cuma beberapa meter dari Nugent. Mereka terkekeh mendengar jawaban Sam.

Nugent menatap mereka tajam dan berdeham. "Aku asisten Kepala Penjara. Phillip Naifeh telah menyerahkan tanggung jawab eksekusimu padaku. Ada beberapa hal yang perlu kita bicarakan."

Sam memusatkan pikiran pada suratnya, dan mengumpat ketika ia mengetuk tombol yang keliru, Nugent menunggu. "Bisakah aku mendapatkan beberapa menit dari waktumu yang berharga, Sam?"

"Lebih baik panggil dia Mr. Cayhall," tambah Henshaw membantu. "Dia beberapa tahun lebih tua darimu, dan itu sangat berarti baginya."

"Dari mana kau mendapat sepatu lars itu?" tanya Gullit, menatap ke kaki Nugent.

"Kalian mundur," kata Nugent tegas. "Aku perlu bicara dengan Sam."

"Mr. Cayhall sedang sibuk sekarang," kata Henshaw. "Mungkin kau harus kembali nanti. Dengan senang hati aku akan menjadwalkan janji pertemuan untukmu."

"Apakah kau semacam bangsat militer?" tanya Gullit.

Nugent berdiri kaku dan melirik ke kanan dan ke kiri. "Aku perintahkan kalian berdua mundur, oke? Aku perlu bicara dengan Sam."

"Kami tidak menerima perintah," kata Henshaw.

"Dan apa yang akan kaulakukan?" tanya Henshaw. "Melempar kami ke dalam pengasingan? Memberi kami makan umbi dan buah liar? Merantai kami ke dinding? Mengapa tidak kauteruskan saja dan membunuh kami?"

Sam meletakkan mesin tiknya di ranjang dan melangkah ke jeruji. Ia menyedot rokoknya dalam-dalam dan mengembuskan asap melalui jeruji ke arah Nugent. "Apa yang kauinginkan?" tanyanya.

"Aku butuh beberapa hal darimu."

"Misalnya?"

"Apa kau punya surat wasiat?"

"Itu sama sekali bukan urusanmu. Surat wasiat adalah dokumen pribadi yang hanya boleh dilihat apabila sudah disahkan hakim, dan surat itu hanya disahkan setelah orangnya mati. Begitulah hukum.”

"Sungguh goblok!" Henshaw tertawa terbahak-bahak.

"Aku tak percaya ini," Gullit menambahkan. "Dari mana Naifeh menemukan idiot ini?" ia bertanya.

"Ada lainnya?" tanya Sam.

Wajah Nugent berubah warna. "Kami perlu tahu apa yang harus dilakukan pada barang-barangmu.''

"Itu tertulis dalam surat wasiatku, oke?"

"Kuharap kau takkan menyulitkan, Sam."

"Panggil dia Mr. Cayhall," kata Henshaw lagi.

"Sulit?" tanya Sam. "Mengapa aku akan menyulitkan? Aku berniat membantu negara sepenuhnya dalam melaksanakan pekerjaannya membunuhku. Aku patriot yang baik. Aku akan memberikan suara dan membayar pajak seandainya bisa. Aku bangga jadi orang Amerika, orang Amerika-Irlandia, dan saat ini aku masih sangat mencintai negaraku yang berharga, meskipun dia berencana mengegasku. Aku tahanan teladan, George. Tak ada masalah dariku."

Packer sepenuhnya menikmati ini, sementara menunggu di ujung tier. Nugent berdiri tegak.

"Aku perlu daftar orang yang kauinginkan untuk menyaksikan eksekusi," katanya. "Kau diperbolehkan memilih dua."

"Aku belum lagi menyerah, George. Mari kita tunggu beberapa hari lagi."

"Baiklah. Aku juga perlu daftar tamumu selama beberapa hari mendatang."

“Nah, sore ini aku akan dikunjungi dokter dari Chicago, kau tahu. Dia psikiater. Dia akan bicara denganku dan melihat betapa gila diriku, lalu pengacaraku akan berlari ke pengadilan dan mengatakan bahwa kau, George, tak bisa mengeksekusi aku, sebab aku gila. Dia akan menyediakan waktu untuk memeriksamu, kalau kau mau. Takkan makan banyak waktu."

Henshaw dan Gullit tertawa terpingkal-pingkal, dan dalam beberapa detik sebagian besar narapidana lainnya ikut berteriak-teriak dan tertawa keras.

Nugent mundur selangkah dan memandang tier itu dari ujung ke ujung dengan marah. "Diam!" perintahnya, tapi suara tawa itu makin meningkat. Sam terus menyedot dan mengepulkan asap melalui jeruji. Suara siulan dan ejekan bisa didengar di tengah keributan itu. "Aku akan kembali," Nugent berseru marah pada Sam.

"Dia akan kembali." Henshaw berteriak, dan keributan itu jadi makin keras. Sang komandan menghambur pergi, berjalan cepat ke ujung gang, dan teriakan-teriakan "Heil Hitler" berkumandang dalam tier itu.

Sejenak Sam tersenyum ke jeruji sementara kebisingan mereda, lalu kembali ke posisinya di tepi ranjang. Ia menggigit sepotong roti kering, menghirup seteguk kopi dingin, lalu kembali mengetik.

***

Bermobil di siang hari menuju Parchman bukan sesuatu yang menyenangkan. Garner Goodman duduk di jok depan, sementara Adam mengemudi. Mereka membahas strategi dan mencari gagasan tentang dalih pembelaan dan prosedur terakhir. Goodman merencanakan kembali ke Memphis selama akhir pekan, dan berada di sini selama tiga hari terakhir.

Sang psikiater adalah Dr. Swinn, laki-laki yang dingin, tanpa senyum, dalam setelan hitam. Rambutnya berantakan, acak-acakan, matanya tersembunyi di balik kacamata tebal, dan ia sama sekali tak bisa melakukan pembicaraan kecil. Kehadirannya di jok belakang menimbulkan perasaan tak enak. Ia tak mengucapkan sepatah kata pun sejak dari Memphis sampai ke Parchman.

Pemeriksaan yang diatur Adam dan Lucas Mann berlangsung di rumah sakit penjara, sebuah fasilitas yang luar biasa modern. Swinn dengan sangat jelas memberitahu Adam bahwa baik Adam maupun Goodman tak bisa ikut hadir saat ia mengevaluasi Sam. Ini sama sekali bukan masalah bagi Adam dan Goodman. Sebuah van penjara menjemput mereka di gerbang depan, dan membawa Dr. Swinn ke rumah sakit jauh di dalam tanah pertanian.

Goodman sudah beberapa tahun tak pernah bertemu Lucas Mann. Mereka berjabat tangan bagaikan sahabat lama, dan langsung tenggelam dalam kisah-kisah perang berkaitan dengan eksekusi. Percakapan itu tidak menyinggung-nyinggung Sam, dan Adam sangat berterima kasih.

Mereka berjalan dari kantor Mann melintasi halaman parkir, menuju sebuah bangunan kecil di belakang kompleks administrasi. Bangunan itu adalah restoran, dirancang sesuai dengan bentuk tavern di daerah sekitar itu. Tempat yang disebut The Place itu menyajikan makanan biasa untuk pekerja kantor dan pegawai penjara. Tak ada alkohol. Tempat itu terletak di tanah negara.

Mereka minum es teh dan bicara tentang masa depan hukuman mati. Goodman dan Mann setuju bahwa eksekusi kelak akan dianggap lebih umum. Mahkamah Agung terus makin condong ke kanan, dan lelah oleh berbagai kasasi yang tak ada habisnya. Sama juga dengan pengadilan federal di tingkat yang lebih bawah. Plus, juri Amerika jadi makin reflektif dengan penolakan masyarakat atas tindak kejahatan dengan kekerasan.

Simpati terhadap terpidana mati jauh berkurang, dan keinginan menghukum bangsat-bangsat itu makin besar. Uang pemerintah federal makin sedikit dibelanjakan untuk mendanai kelompok-kelompok yang menentang hukuman mati, serta makin sedikit pengacara dan biro hukum yang bersedia mengambil komitmen menangani kasus pro bono besar. Populasi death row berkembang lebih cepat daripada jumlah pengacara yang bersedia menangani kasus hukuman mati.

Adam agak bosan dengan percakapan itu. Ia sudah membaca dan mendengarnya beratus kali. Ia mohon diri dan menemukan sebuah telepon umum di sudut. Phelps tak ada di tempat, kata sekretaris muda, tapi ia meninggalkan pesan untuk Adam: Tak ada kabar dari Lee. Jika hadir di pengadilan dua minggu lagi, mungkin ia akan muncul.

***

Darlene mengetik laporan Dr. Swinn, sementara Adam dan Garner Goodman menggarap petisi untuk diajukan bersama laporan tersebut. Laporan itu panjangnya dua puluh halaman dalam konsep kasar, dan kedengaran seperti musik ringan. Swinn merupakan senjata sewaan, pelacur yang akan menjual pendapatnya kepada penawar tertinggi, dan Adam tak menyukai orang macam itu. Ia berkeliaran menjelajahi negeri ini sebagai saksi profesional, mampu mengatakan ini hari ini dan itu esok harinya, tergantung siapa yang punya kantong paling tebal. Namun saat ini ia pelacur mereka, dan ia cukup bagus.

Sam menderita kepikunan taraf lanjut. Kemampuan mentalnya telah terkikis sampai ke suatu titik di mana ia tidak tahu dan tidak memahami hakikat hukumannya. Ia tidak memiliki kompetensi yang diperlukan untuk menjalani eksekusi; karena itu, eksekusi tak akan memberikan manfaat apa pun. Argumentasi ini tidak sepenuhnya unik, dan pengadilan pun tidak sepenuhnya menerima. Namun, seperti yang dikatakan Adam tiap hari, apa ruginya? Goodman tampaknya cukup optimis.

~ 38 ~

Rabu pagi Garner Goodman tidak kembali Chicago, namun sebaliknya terbang ke Jackson, Mississippi. Penerbangan itu berlangsung tiga puluh menit, hampir tak cukup untuk menikmati secangkir kopi dan croissant yang belum lagi melunak. Ia menyewa mobil di bandara dan mengemudikannya langsung ke gedung DPR negara bagian.

Dewan sedang tidak bersidang, dan banyak tempat luang untuk parkir. Seperti banyak gedung pengadilan county yang dibangun kembali setelah Perang Saudara, gedung itu dengan angkuh menghadap selatan. Ia berhenti untuk mengagumi monumen perang untuk para wanita Selatan, namun menghabiskan lebih banyak waktu untuk mengamati magnolia Jepang di dasar tangga depan.

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 74)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.