Kamis, 01 Juni 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 72)

The Chamber: Kamar Gas

"Kenapa?"

"Kenapa? Sudah jelas. Aku tak ingin menghabiskan seluruh karier hukumku dibebani pikiran bahwa aku kalah dalam kasus pertamaku."

"Bukan alasan buruk."

"Bagus. Jadi, kita tidak menyerah?"

"Kurasa tidak. Bawalah psikiater itu. Aku akan bertingkah segila mungkin."

"Begitu lebih baik."

***

Lucas Mann sedang menunggu Adam di gerbang depan penjara. Saat itu hampir pukul 17.00, hawa masih panas dan udara masih lengas. "Ada waktu sebentar?" ia bertanya melalui jendela mobil Adam.

"Ya. Ada apa?"

"Parkirlah di sana. Kita duduk di bawah pohon."

Mereka berjalan ke sebuah meja piknik di samping Bangsal Pengunjung, di bawah pohon ek raksasa dengan pandangan ke jalan raya yang tak jauh dari sana. "Ada beberapa hal," kata Mann. "Bagaimana keadaan Sam? Apakah dia baik-baik saja?''

"Sebaik yang bisa diharapkan. Kenapa?"

"Cuma prihatin, itu saja. Menurut hitungan terakhir, kita mendapat lima belas permintaan untuk wawancara. Keadaan memanas, pers sedang dalam perjalanan ke sini."

"Sam takkan bicara."

"Beberapa orang ingin bicara denganmu."

"Aku pun takkan bicara."

"Baiklah. Kami ada satu formulir yang harus ditandatangani Sam. Formulir itu memberikan wewenang untuk menyuruh wartawan-wartawan itu menyingkir. Apakah kau sudah dengar tentang Naifeh?”

"Aku membacanya di koran pagi ini."

"Dia akan sembuh, tapi tak bisa memimpin eksekusi. Ada orang gila bernama George Nugent, asisten kepala penjara, yang akan mengkoordinasikan segalanya. Dia seorang komandan. Purnawirawan militer dan lain-lain, benar-benar jenis jagoan."

"Itu sama sekali tak ada bedanya bagiku. Dia tak bisa melaksanakan keputusan hukuman mati itu, kecuali pengadilan mengizinkannya."

"Benar. Aku cuma ingin kau tahu siapa dia."

"Aku tak sabar lagi ingin bertemu dengannya."

"Satu hal lagi. Aku punya teman, sahabat lama dari sekolah hukum yang sekarang bekerja di administrasi Gubernur. Menurut temanku, yang tak diragukan lagi disuruh Gubernur, untuk membujukku bicara denganmu, mereka ingin mengadakan pemeriksaan untuk mempertimbangkan pengampunan, lebih disukai dalam beberapa hari ini."

"Apakah kau dekat dengan Gubernur?"

"Tidak. Aku muak dengan gubernur."

"Aku juga. Begitu pula klienku."

"Itulah sebabnya temanku dipakai untuk menelepon dan membujukku. Menurut pengakuan Gubernur sangat bimbang apakah Sam memang harus dieksekusi."

"Kau mempercayainya?"

"Meragukan. Reputasi Gubernur sebenarnya dibuat dengan mengorbankan Sam Cayhall dan aku yakin dia sedang menyusun rencana menghadapi media selama delapan hari mendatang. Tapi apa ruginya?"

"Ini bukan gagasan buruk."

"Aku sepenuhnya setuju. Tapi klienku sudah memberikan perintah tegas untuk tidak meminta sidang pemeriksaan macam itu."

Mann mengangkat pundak, seakan-akan benar-benar tak peduli apa yang dilakukan Sam. "Kalau begitu, terserah pada Sam. Apa dia punya surat wasiat?"

"Ya"

"Bagaimana cara penguburannya?"

“Aku sedang menggarapnya. Dia ingin dikuburkan di Clanten."

Mereka mulai berjalan ke arah gerbang. "Jenazah akan dikirim ke rumah jenazah di Indianola, tidak jauh dari sini. Di sana jenazah itu diserahkan pada keluarga.”

“Semua kunjungan habis empat jam sebelum eksekusi yang dijadwalkan. Mulai saat itu, Sam hanya boleh ditemani dua orang—pengacaranya dan penasihat spiritualnya. Dia juga perlu memilih dua saksinya, kalau mau"

"Aku akan bicara dengannya."

"Kami butuh daftar tamu yang dia setujui antara sekarang sampai saat itu. Biasanya itu sanak saudara dan sahabat-sahabat dekat."

"Daftar itu pasti sangat pendek.”

"Aku tahu."

~ 37 ~

Setiap penghuni The Row tahu prosedur tersebut, meskipun prosedur itu tak pernah dituliskan. Para veteran, termasuk Sam, telah menyaksikan empat eksekusi selama delapan tahun terakhir, dan pada masing-masing eksekusi, prosedur itu diikuti variasi kecil. Penghuni-penghuni lama berbicara dan berbisik-bisik di antara mereka, dan biasanya dengan cepat menyebarkan keadaan saat-saat terakhir kepada orang-orang baru, yang kebanyakan tiba di The Row dengan pertanyaan-pertanyaan bisu tentang bagaimana hal itu dilaksanakan. Para penjaga juga suka membicarakannya.

Santapan terakhir dimakan dalam sebuah ruangan sempit dekat bagian depan The Row, ruangan yang hanya disebut sebagai kantor depan, dilengkapi dengan sebuah meja, beberapa kursi, telepon, dan AC. Dalam ruangan inilah si terhukum menerima tamu terakhir. Ia duduk dan mendengarkan, sementara pengacaranya mencoba menjelaskan mengapa urusan tidak berkembang seperti yang direncanakan. Ruangan itu kosong dan jendela-jendelanya terkunci. Kunjungan untuk melakukan hubungan suami-istri juga dilakukan di sini, apabila si narapidana sanggup melakukannya. Para penjaga dan adnunistrator hilir-mudik di gang di luar.

Ruangan itu tidak dirancang untuk melewatkan jam-jam terakhir, tapi ketika pada tahun 1982 Teddy Doyle Meeks menjadi orang pertama yang akan dieksekusi setelah bertahun-tahun, ruangan macam itu mendadak dibutuhkan untuk segala macam keperluan.

Suatu ketika ruangan itu milik seorang letnan, kemudian seorang manajer kasus. Ruangan itu tak punya nama lain kecuali kantor depan. Telepon di meja itu yang terakhir kali dipakai pengacara si terpidana ketika menerima keputusan terakhir bahwa takkan ada lagi penundaan, takkan ada lagi pengajuan banding. Kemudian ia berjalan kembali ke Tier A, ke ujung terjauh, tempat kliennya menunggu dalam Sel Observasi.

Sel Observasi itu tak lebih dari sel biasa di Tier A, cuma delapan pintu dari sel Sam. Ukurannya dua kali tiga meter, dengan sebuah dipan, sebuah wastafel, dan toilet, tepat seperti milik Sam, tepat seperti sel-sel yang lain. Itu sel terakhir di tier tersebut, dan yang paling dekat ke Ruang Isolasi yang terletak di samping Kamar Gas. Sehari sebelum eksekusi, narapidana itu untuk terakhir kali dibawa dari selnya dan dimasukkan ke Sel Observasi. Barang-barang pribadinya juga dipindahkan, dan itu biasanya terlaksana dengan cepat.

Di sana ia menunggu. Biasanya ia menyaksikan drama pribadinya di televisi, ketika stasiun televisi lokal memantau usaha banding terakhirnya. Pengacaranya menunggu bersamanya, duduk di ranjang tipis, dalam sel gelap, menonton laporan berita. Si pengacara berlari bolak-balik ke kantor depan. Seorang pendeta atau penasihat spiritual juga diperkenankan berada dalam sel.

The Row akan gelap dan sunyi, berbau kematian. Beberapa narapidana akan berdiri di depan televisi mereka. Lainnya berpegangan tangan melalui jeruji dan berdoa. Lainnya lagi berbaring di ranjang dan berpikir kapan giliran mereka tiba. Jendela-jendela luar di atas gang semuanya ditutup dan digerendel. The Row dikunci. Tapi ada suara-suara di antara tier, dan ada cahaya dari luar. Bagi orang-orang yang berjam-jam duduk dalam sel sempit, melihat dan mendengar segalanya, kesibukan kegiatan aneh itu terasa meruntuhkan saraf.

Pukul 23.00, kepala penjara dan regunya memasuki Tier A dan berhenti di Sel Observasi. Saat ini habislah sudah harapan akan penundaan pada menit terakhir. Si terhukum akan duduk di ranjang, berpegangan tangan dengan pengacara dan pendetanya. Kepala penjara mengumumkan sudah saatnya pergi ke Ruang Isolasi. Pintu sel berdetak dan terbuka, lalu narapidana itu melangkah ke dalam gang. Akan ada teriakan mendukung dan menghibur dari narapidana lain, banyak di antara mereka bercucuran air mata. Ruang Isolasi tak lebih dari enam meter dari Sel Observasi. Si terhukum berjalan di tengah dua deret penjaga bersenjata dan bertubuh kekar, penjaga paling besar yang bisa ditemukan kepala penjara. Tak pernah ada perlawanan. Takkan ada gunanya.

Kepala penjara memimpin si terhukum ke dalam sebuah ruangan sempit, tiga kali tiga meter, tanpa apa pun di dalamnya kecuali ranjang lipat. Si terhukum duduk di ranjang dengan pengacara di sampingnya. Pada titik ini, kepala penjara, karena alasan yang tidak jelas, merasa perlu melewatkan beberapa saat bersama si terpidana, seolah-olah ia—sang kepala penjara—merupakan orang terakhir yang ingin diajak bercakap-cakap oleh si terhukum. Kepala penjara akhirnya berlalu. Ruangan itu akan sunyi, kecuali sekali-sekali ada ketukan atau pukulan dari ruangan sebelah. Doa biasanya selesai dipanjatkan pada titik ini. Cuma beberapa menit lagi yang tersisa.

Di samping Ruang Isolasi terletak Kamar Gas itu sendiri. Ukurannya kurang-lebih empat setengah kali tiga setengah meter, dengan kamar gas di tengahnya. Algojo akan sibuk bekerja, sementara si terhukum berdoa sendirian. Kepala penjara, pengacara penjara, dokter, dan sejumlah penjaga bersiap-siap. Ada dua telepon di dinding untuk izin menit terakhir. Di sebelah kiri ada ruangan sempit tempat algojo mencampur larutannya. Di belakang Kamar Gas ada tiga jendela, 45 kali 75 senti, dan sementara itu ditutup dengan tirai hitam. Di sisi lain jendela-jendela itu terletak ruang saksi.

Dua puluh menit menjelang tengah malam, dokter memasuki Ruang Isolasi dan menempelkan stetoskop ke dada terhukum. Ia kemudian berlalu, dan kepala penjara masuk untuk membawa si terhukum melihat Kamar Gas.

Kamar Gas itu selalu penuh orang, semuanya bersemangat membantu, semuanya akan menyaksikan seseorang menemui ajal. Mereka akan memasukkannya ke dalam Kamar Gas, mengikatnya, menutup pintu, dan membunuhnya.

Prosedur itu cukup sederhana, bervariasi sedikit, disesuaikan dengan kasus individual. Sebagai contoh, Buster Moac sudah duduk di kursi dengan separo pengikat terpasang ketika telepon berdering di Kamar Gas. Ia kembali ke Ruang Isolasi dan menunggu selama enam jam yang menyiksa, sampai mereka kembali menjemputnya.

Jumbo Parris adalah yang paling cerdik di antara empat orang itu. Sebagai pemakai obat bius kawakan sebelum tiba di The Row, ia mulai minta Valium kepada psikiater beberapa hari sebelum eksekusi. Ia memilih menghabiskan beberapa jam terakhirnya seorang diri, tanpa pengacara atau pendeta, dan ketika mereka datang menjemputnya dari Sel Observasi, ia dalam keadaan teler. Jelaslah ia memakai Valium yang dikumpulkannya, dan harus diseret ke Ruang Isolasi, tempat ia tidur dalam damai. Ia kemudian diseret ke Kamar Gas dan diberi dosis terakhir.

Prosedur itu berperikemanusiaan dan dipikirkan dengan cermat. Si terhukum tetap dalam selnya, di samping rekan-rekannya, sampai saat terakhir. Di Louisiana, mereka dikeluarkan dari The Row dan ditempatkan dalam bangunan kecil yang dikenal sebagai Death House. Mereka melewatkan tiga hari terakhir di sana, di bawah pengawasan terus-menerus. Di Virginia, mereka dipindahkan ke kota lain.

Sam Cuma berjarak delapan pintu dari Sel Observasi, sekitar empat belas meter. Kemudian enam meter lagi ke Ruang Isolasi, lalu empat meter lagi ke Kamar Gas. Dari suatu titik di tengah ranjangnya, ia sudah berkali-kali menghitung kira-kira berjarak 25,5 meter dari Kamar Gas.

Dan ia menghitung lagi Selasa pagi, ketika ia dengan hati-hati membuat tanda X pada kalender. Delapan hari. Pagi itu gelap dan panas. Ia tidur putus-sambung dan melewatkan sebagian besar malam itu duduk di depan kipas angin. Sarapan dan kopi masih sejam lagi dari sekarang. Ini akan jadi hari ke-3.449 di The Row, dan jumlah total itu tidak termasuk waktu yang dilewatkan dalam penjara county di Greenville selama dua sidang pertamanya. Cuma delapan hari lagi.

Seprainya basah oleh keringat. Sewaktu berbaring di ranjang dan menatap langit-langit untuk kesejuta kalinya, ia memikirkan kematian. Kematian ini sendiri takkan terlalu mengerikan. Karena, alasan yang jelas, tak seorang pun tahu denga tepat efek gas tersebut. Mungkin mereka akan memberinya dosis ekstra, sehingga ia mati lama sebelum tubuhnya mengejang. Mungkin tarikan napas pertama akan membuatnya tak sadarkan diri.

Bagaimanapun juga, ia berharap itu takkan berlangsung lama. Ia telah menyaksikan istrinya mengerut layu dan menderita luar biasa karena kanker. Ia telah menyaksikan sanak saudara menjadi tua dan hidup seperti invalid. Ini pasti cara yang lebih baik untuk menemui ajal.

"Sam," J.B. Gullit berbisik, "kau sudah bangun?"

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 73)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.