Kamis, 01 Juni 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 71)

The Chamber: Kamar Gas

Hakim-hakim tak suka membaca makalah hukum pada pukul 03.00. Mereka ingin copy segala permohonan detik terakhir ada di meja mereka, lama sebelum permohonan itu tiba secara resmi.

Phelps meneleponnya di kantor, tepat sebelum tengah hari, dengan kabar Lee belum ditemukan. Ia sudah memeriksa setiap fasilitas detox dan rehabilitasi dalam radius seratus mil, dan tak satu pun menerima pasien bernama Lee Booth. Ia masih mencari, tapi saat ini sangat sibuk dengan berbagai rapat dan segala macam urusan.

***

Sam tiba di perpustakaan penjara tiga puluh menit kemudian. Ia tampak muram. Ia sudah mendengar berita buruk itu pada tengah hari, dari televisi Jackson yang meneruskan hitungan mundurnya. Tinggal sembilan hari lagi. Ia duduk di depan meja dan menatap kosong pada Adam. "Mana Eskimo Pie-nya?" tanyanya sedih, seperti bocah kecil yang menginginkan permen.

Adam meraih ke bawah meja dan mengeluarkan kotak pendingin styrofoam kecil, la meletakkannya di meja dan membukanya. "Mereka hampir saja menyita ini di gerbang depan. Lalu penjaga memeriksa dalamnya dan mengancam akan membuangnya. Jadi, nikmatilah."

Sam mengambil satu, mengamatinya dalam satu detik yang panjang, lalu dengan hati-hati mengupas pembungkusnya. Ia menjilat lapisan cokelatnya, lalu menggigit dengan satu gigitan besar, mengunyahnya perlahan-lahan dengan mata terpejam.

Beberapa menit kemudian, Eskimo Pie pertama lenyap, dan Sam mulai dengan yang kedua. "Bukan hari yang baik," katanya, menjilati tepinya.

Adam menggeser sejumlah dokumen kepadanya. "Ini kedua keputusan itu. Pendek, to the point, dan tegas menentang kita. Kau tak punya banyak teman di pengadilan-pengadilan ini, Sam."

"Aku tahu. Tapi setidaknya sisanya di dunia ini mencintaiku. Aku tak ingin membaca sampah itu. Apa yang kita lakukan selanjutnya?”

"Kita akan membuktikan bahwa kau terlalu gila untuk dieksekusi, karena usiamu yang sudah lanjut, kau sama sekali tak memahami hakikat hukumanmu."

“Takkan berhasil."

"Kau suka gagasan itu Sabtu kemarin. Ada apa?"

"Itu takkan berhasil."

"Mengapa tidak?"

"Sebab aku tidak gila. Aku tahu benar mengapa aku dieksekusi. Kau sudah melakukan yang terbaik—memimpikan teori-teori aneh, lalu menemui pakar-pakar sinting untuk membuktikan teori itu.” Ia menggigit sepotong besar es krim dan menjilat bibir.

"Kau ingin aku menyerah?" kata Adam keras.

Sam mengamati kuku jarinya yang kuning. "Mungkin," katanya sambil menjilat cepat satu jari.

Adam bergeser, ke tempat duduk di sampingnya, berbeda dengan posisi biasanya sebagai pengacara di seberang meja, dan mengamatinya dengan cermat. "Ada apa, Sam?"

"Entahlah. Selama ini aku berpikir."

"Aku mendengarkan."

"Ketika aku masih sangat muda, sahabat baikku tewas dalam kecelakaan mobil. Umurnya 26 tahun, punya istri, bayi, rumah baru, hidup terbentang di hadapannya. Sekonyong-konyong dia tewas. Aku sudah 43 tahun hidup lebih lama darinya. Kakakku yang tertua meninggal ketika berumur 56 tahun. Aku sudah tiga belas tahun hidup lebih lama darinya. Aku sudah tua, Adam. Sangat tua. Aku letih. Aku rasanya ingin menyerah."

"Ayolah, Sam."

"Lihatlah keuntungannya. Kau tidak akan tertekan lagi. Kau takkan dipaksa menghabiskan minggu depan berlarian seperti orang gila dan mengajukan berbagai klaim tak berguna. Kau takkan merasa gagal bila urusan selesai. Aku takkan menghabiskan hari-hari terakhirku untuk berdoa memohon mukjizat, tapi sebaliknya aku akan bersiap. Kita bisa memakai lebih banyak waktu untuk berkumpul. Banyak orang akan senang—keluarga Kramer, McAllister, Roxburgh, delapan puluh persen rakyat Amerika yang mendukung hukuman mati. Itu akan menjadi momen kejayaan lagi bagi hukum dan ketertiban. Aku bisa pergi dengan lebih bermartabat, tidak seperti orang putus asa yang takut mati. Sungguh menarik."

"Ada apa denganmu, Sam? Sabtu kemarin kau masih siap bertempur."

"Aku lelah bertempur. Aku sudah tua. Hidupku sudah panjang. Dan apa yang terjadi bila kau berhasil menyelamatkanku? Apa yang kudapatkan? Aku takkan pergi ke mana pun, Adam. Kau akan kembali ke Chicago dan mengubur diri dalam kariermu. Aku yakin kau akan datang bila kau bisa. Kita akan bertulis surat dan mengirim kartu. Tapi aku harus hidup di The Row. Kau tidak. Kau tidak tahu apa-apa."

"Kita takkan menyerah, Sam. Kita masih punya peluang."

"Itu bukan keputusanmu." Ia menghabiskan Eskimo Pie kedua dan menyeka mulut dengan lengan kemeja.

"Aku tidak suka kau seperti ini, Sam. Aku suka ketika kau marah, geram, dan melawan."

"Aku capek, oke?"

"Kau tak bisa membiarkan mereka membunuhmu. Kau harus bertempur sampai titik darah terakhir, Sam."

"Kenapa?"

"Sebab ini keliru. Secara moral, negara salah kalau membunuhmu. Itulah sebabnya kita tak boleh menyerah.”

"Tapi bagaimanapun kita akan kalah."

"Mungkin. Mungkin tidak. Tapi kau sudah hampir sepuluh tahun bertarung. Mengapa menyerah setelah tinggal seminggu?"
"Sebab mi sudah berakhir, Adam. Urusan ini akhirnya berjalan menurut jalurnya."

"Mungkin, tapi kita tak bisa menyerah. Jangan putus asa. Aku ada kemajuan. Aku membuat badut-badut itu sibuk berlarian."

Sam melontarkan senyum lembut dan tatapan sebagai orang tua.

Adam beringsut lebih dekat dan meletakkan telapak tangan pada lengan Sam. "Aku sudah memikirkan beberapa strategi baru," katanya sungguh-sungguh. "Bahkan sebenarnya besok seorang ahli akan datang memeriksamu."

Sam memandangnya. "Ahli macam apa?"

"Psikiater."

"Psikiater?"

"Yeah. Dari Chicago."

"Aku sudah bicara dengan psikiater. Tidak bagus."

"Orang ini lain. Dia bekerja untuk kita dan dia akan mengatakan kau sudah kehilangan kemampuan mentalmu."

"Kau mengasumsikan aku punya kemampuan mental ketika aku sampai di sini dulu."

"Ya, kita berasumsi demikian. Psikiater ini akan memeriksamu besok, lalu dia cepat-cepat menyiapkan laporan bahwa kau sudah pikun, gila, dan idiot, dan entah apa lagi yang akan dia katakan."

"Bagaimana kau tahu dia akan mengatakan ini?"

"Sebab kita membayarnya untuk mengatakan ini."

"Siapa yang membayarnya?"

"Kravitz & Bane, orang-orang Yahudi-Amerika penuh dedikasi di Chicago yang kaubenci itu, tapi yang pernah jungkir balik mempertahankan nyawamu. Ini sebenarnya gagasan Goodman."

"Pasti pakar yang hebat."

"Pada titik ini, kita tak bisa terlalu pilih-pilih. Dia pernah dipakai dalam berbagai kasus oleh beberapa pengacara lain dalam firma, dan dia akan mengatakan apa pun yang kita kehendaki. Bertingkahlah ganjil ketika kau bicara dengannya."

"Itu tentu tidak sulit."

"Ceritakan padanya segala kisah horor tentang tempat ini. Buatlah kedengaran kurang ajar dan menyedihkan."

"Tak ada masalah."

"Katakan padanya keadaanmu makin mundur selama bertahun-tahun ini, dan betapa hal ini sangat berat bagi orang seusiamu. Kau narapidana tertua di sini, Sam, jadi katakan padanya bagaimana penjara ini mempengaruhimu. Buatlah meyakinkan. Dia akan menyusun laporan yang memesona, dan aku akan lari ke pengadilan dengannya."

"Itu takkan berhasil."

"Itu patut dicoba."

"Mahkamah Agung mengizinkan Texas mengeksekusi seorang bocah terbelakang."

"Ini bukan Texas, Sam. Setiap kasus selalu berbeda. Bekerjalah bersama kami dalam hal ini, oke?"

"Kami? Siapakah kami?"

"Aku dan Goodman. Katamu kau tidak lagi membencinya, jadi kupikir aku akan membiarkannya terlibat. Serius, aku butuh bantuan. Terlalu banyak pekerjaan untuk ditangani sendirian."

Sam mendorong kursi menjauh dari meja, dan berdiri. Ia meregangkan tangan dan kaki, dan mulai mondar-mandir di sepanjang meja, menghitung langkah sambil berjalan.

"Aku akan mengajukan petisi ke Mahkamah Agung untuk memeriksa keputusan pengadilan di bawahnya besok pagi," kata Adam seraya melihat checklist di buku tulisnya. "Mereka mungkin tidak setuju memeriksanya, tapi pokoknya aku akan melakukannya. Aku juga akan menyelesaikan dalih ketidakefektifan ke Pengadilan Fifth Circuit. Psikiater akan ke sini besok siang. Aku akan mengajukan klaim tentang inkompetensi mental Rabu pagi."

"Aku lebih suka pergi dengan tenang, Adam."

"Lupakanlah, Sam. Kita takkan menyerah. Aku bicara dengan Carmen tadi malam, dan dia ingin datang menengokmu."

Sam duduk di tepi meja, dan memandang lantai. Matanya menyipit dan sedih. Ia menyedot dan mengepulkan asap ke kaki. "Mengapa dia ingin datang?"

"Aku tidak tanya sebabnya, atau menyarankannya. Dia yang mengajukan gagasan. Kukatakan padanya aku akan bertanya padamu."

"Aku tak pernah berjumpa dengannya."

"Aku tahu. Dia cucu perempuanmu satu-satunya, Sam, dan dia ingin datang."

"Aku tak ingin dia melihatku seperti ini," kata Sam, mengibaskan tangan ke pakaian terusan merahnya.

"Dia takkan keberatan."

Sam merogoh ke dalam kotak pendingin dan mengambil satu Eskimo Pie lagi. "Kau mau?" tanyanya.

"Tidak. Bagaimana dengan Carmen?"

"Kupikirkan dulu. Apakah Lee masih ingin menengok?"

"Uh, tentu. Sudah dua hari aku tidak bicara dengannya, tapi aku yakin dia ingin."

"Kupikir kau tinggal bersamanya."

"Memang. Dia pergi ke luar kota."

"Coba kupikir-pikir. Saat ini aku tak menginginkannya. Sudah hampir sepuluh tahun aku tak penah bertemu Lee, dan aku tak ingin dia mengingatku seperti ini. Katakan padanya aku sedang mempertimbangkan hal itu, tapi saat ini kurasa aku tak menginginkannya."

"Akan kukatakan padanya," Adam berjanji, tak pasti apakah ia akan bertemu dengan Lee dalam waktu dekat. Kalau benar Lee pergi mencari pengobatan, tak disangsikan lagi ia pasti akan dikurung beberapa minggu.

"Aku akan senang bila ini berakhir, Adam. Aku sungguh muak dengan semua ini." Ia menggigit sepotong besar es krim.

"Aku mengerti, tapi mari kita sisihkan itu sebentar."

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 72)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.