Kamis, 01 Juni 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 70)

The Chamber: Kamar Gas

"Aku suka pemain-pemain lama. Ernie Banks dan Ron Santo. Mereka adalah hari-hari kejayaan bisbol, ketika para pemain memiliki loyalitas dan kita tahu siapa yang akan ada dalam tim tahun demi tahun. Sekarang kita tak pernah tahu. Aku suka permainan itu, tapi keserakahan merusaknya."

Adam heran Phelps Booth mencerca keserakahan.

"Mungkin, tapi para pemiliknya menulis buku tentang keserakahan selama seratus tahun pertama sejarah bisbol. Apa salahnya bila pemain meminta semua uang yang dapat mereka peroleh?"

"Siapa yang bernilai lima ribu dolar setahun?"

"Tak seorang pun. Tapi bila bintang musik rock menghasilkan lima puluh juta, apa salahnya pemain bisbol mendapat bayaran beberapa juta? Ini hiburan. Para pemain adalah permainan itu, bukan pemilik. Aku pergi ke Wrigley untuk menyaksikan pemain, bukan karena Tribune kebetulan jadi pemilik yang sekarang,"

"Yeah, tapi lihatlah harga tiketnya. Lima belas dolar untuk menonton pertandingan."

"Jumlah penonton meningkat. Para penggemar tampaknya tidak keberatan."

Mereka melewati pusat kota, lengang pada pukul 04.00, dan dalam beberapa menit sudah sampai ke dekat tahanan. "Dengar, Adam, aku tidak tahu berapa banyak yang sudah Lee ceritakan tentang masalah minumnya."

"Dia menceritakan padaku bahwa dia pecandu alkohol."

"Pasti. Ini penangkapan kedua karena mengemudi dalam keadaan mabuk. Yang pertama dulu bisa kuatur agar tidak muncul di surat kabar, tapi aku tidak tahu dengan yang ini. Dia tiba-tiba jadi bahan pembicaraan di seluruh kota. Syukurlah dia tidak mencelakakan siapa pun." Phelps menghentikan mobil di tepi jalan dekat halaman parkir berpagar. "Dia keluar-masuk program pengobatan setengah lusin kali."

"Setengah lusin. Dia bilang pernah tiga kali menjalani pengobatan."

"Pecandu alkohol tak bisa dipercaya. Dalam lima belas tahun terakhir aku tahu sedikitnya lima kali. Tempat favoritnya adalah sebuah pusat rehabilitasi mewah bernama Spring Creek. Letaknya di tepi sungai, beberapa mil di sebelah utara kota, sangat nyaman dan tenteram. Itu hanya untuk golongan kaya. Mereka dibebaskan dari alkohol dan dimanja. Makanan enak, latihan, sauna, kau tahu, segala macam layanan. Begitu nyamannya tempat itu, sampai kupikir orang-orang ingin pergi sana. Omong-omong, aku punya firasat dia akan muncul di sana hari ini. Dia punya beberapa teman yang akan membantunya masuk ke sana. Dia terkenal di tempat itu. Semacam rumah kedua baginya."

"Berapa lama dia akan tinggal di sana?"

"Bervariasi. Minimum seminggu. Dia pemah tinggal sampai sebulan. Biayanya dua ribu dolar sehari, dan tentu saja mereka mengirimkan tagihannya padaku. Tapi aku tidak keberatan. Aku akan bayar berapa saja untuk menolongnya."

"Apa yang harus kulakukan?"

"Pertama, kita coba menemukannya. Akan kuminta sekretarisku menelepon beberapa jam lagi, dan kita akan melacaknya. Sampai titik ini tindakannya bisa diramalkan. Aku yakin dia akan muncul di bangsal detox, mungkin di Spring Creek. Aku akan bekerja keras beberapa jam lagi dan mengusahakan agar urusan ini tidak masuk ke surat kabar. Takkan mudah, melihat dari apa yang dicetak akhir-akhir ini."

"Maaf."

"Begitu kita menemukannya, kau perlu pergi menemuinya. Bawalah bunga dan permen. Aku tahu kau sibuk, dan aku tahu apa yang akan terjadi dalam... uh...”

"Sembilan hari,"

"Sembilan hari. Benar. Nah, cobalah menemuinya. Begitu urusan di Parchman selesai, kusarankan kau kembali ke Chicago dan membiarkannya sendiri."

"Membiarkannya sendiri?"

"Yeah. Kedengarannya kasar, tapi perlu. Ada berbagai alasan atas masalah-masalahnya. Kuakui aku salah satunya, tapi banyak hal yang tidak kauketahui. Keluarganya adalah alasan lain. Dia mencintaimu, tapi kau juga membawa kembali berbagai mimpi buruk dan penderitaan. Jangan berpikir buruk padaku karena mengatakan ini. Aku tahu ini menyakitkan, tapi itulah yang sebenarnya."

Adam menatap pagar kawat di seberang trotoar di samping pintunya.

"Dia pemah bebas alkohol selama lima tahun," Phelps meneruskan. "Dan kami mengira dia akan tetap demikian selamanya. Kemudian Sam dipidana dan Eddie meninggal. Ketika kembali dari pemakaman, dia depresi berat. Berkali-kali aku mengira dia takkan pernah bisa mengatasinya. Yang paling baik adalah kalau kau menjauh."

"Tapi aku mencintai Lee."

"Dia pun mencintaimu. Tapi kau harus mencintainya dari jauh. Kirimi dia surat dan kartu dari Chicago. Bunga untuk ulang tahunnya. Telepon sekali sebulan dan bicara tentang film dan buku, tapi hindarilah urusan keluarga."

"Siapa yang akan merawatnya?"

"Dia hampir lima puluh tahun, Adam, dan pada umumnya dia sangat mandiri. Sudah bertahun-tahun dia jadi pecandu alkohol. Tak ada apa pun yang dapat kau atau aku lakukan untuk menolongnya. Dia tahu penyakitnya. Dia akan menghindari alkohol bila ingin. Kau bukan pengaruh yang baik. Aku pun bukan. Maaf."

Adam menghela napas dalam dan meraih pegangan pintu. "Maaf, Phelps, kalau aku telah mempermalukanmu dan keluargamu. Itu tidak kusengaja."

Phelps tersenyum dan meletakkan satu tangan di pundak Adam. "Percaya atau tidak, keluargaku dari berbagai segi lebih disfungsional dari keluargamu. Kami pernah mengalami yang lebih buruk."

"Sungguh sulit dipercaya."

"Itu benar." Phelps mengangsurkan sebuah gantungan kunci dan menuding ke sebuah bangunan kecil di dalam pagar. "Melaporlah ke sana, dan mereka akan menunjukkan mobilnya padamu."

Adam membuka pintu dan keluar. Ia menyaksikan Mercedes itu meluncur pergi dan menghilang. Sewaktu berjalan melintasi gerbang, Adam tak dapat menepis perasaan yang tak mungkin salah bahwa Phelps Booth sebenarnya masih mencintai istrinya.

~ 36 ~

Kolonel purnawirawan George Nugent nyaris tak terusik oleh kabar serangan jantung Naifeh. Senin pagi keadaan laki-laki tua itu cukup baik, beristirahat dengan nyaman dan lepas dari bahaya, dan peduli amat... ia toh beberapa bulan lagi pensiun. Naifeh orang baik, tapi sudah melewati masa aktifnya dan bertahan cuma untuk memastikan pensiunnya. Nugent mempertimbangkan akan mengajukan diri menduduki posisi kepala bila ia bisa menjaga politiknya dalam jalur yang benar.

Tapi sekarang ia didesak dengan urusan yang lebih kritis. Eksekusi Cayhall tinggal sembilan hari lagi; sebenarnya hanya delapan hari, sebab eksekusi itu dijadwalkan berlangsung satu menit selewat tengah malam hari Rabu minggu depan, yang berarti Rabu dihitung sebagai satu hari lagi, meskipun baru satu menit yang terpakai. Selasa minggu depan sebenarnya hari terakhir.

Di meja kerjanya ada buku catatan berlapis kulit mengilat dengan tulisan Mississippi Protocol tercetak secara profesional di bagian depan. Ini merupakan karya agungnya, hasil kerja keras tak kenal lelah selama dua minggu.

Mulanya ia tercengang melihat panduan, tuntunan, dan tulisan kacau-balau yang dilontarkan Naifeh untuk esekusi-eksekusi terdahulu. Suatu keajaiban bahwa mereka benar-benar mampu mengegas orang. Namun sekarang ada rencana, sebuah blueprint terperinci dan tersusun cermat yang menurutnya telah mencantumkan segalanya. Tebalnya lima senti lebih, panjangnnya 180 halaman, dan tentu saja namanya bertebaran di segala bagian.

***

Lucas Mann memasuki kantornya pukul 08.15, Senin pagi. "Kau terlambat," bentak Nugent, orang yang bertanggung jawab atas segalanya sekarang. Mann cuma pengacara biasa. Nugent kepala tim eksekusi. Mann puas dengan pekerjaannya. Nugent punya cita-cita, yang dalam 24 jam terakhir mendapat dorongan luar biasa.

"Jadi, kenapa?" kata Mann sambil berdiri di samping kursi yang menghadap ke meja kerja. Nugent memakai pakaian standarnya, celana hijau zaitun tanpa kerut sedikit pun dan kemeja hijau zaitun yang terkanji keras dengan kaus abu-abu di bawahnya. Sepatu larsnya mengilat dengan gosokan semir. Ia melangkah tegap ke belakang meja kerja. Mann membencinya.

"Kita punya delapan hari," kata Nugent, seolah-olah hanya dialah yang tahu tentang hal ini.

“Kupikir sembilan," kata Mann. Kedua laki-laki itu masih berdiri.

“Rabu depan tidak masuk hitungan. Kita punya sisa delapan hari kerja"

"Terserahlah."

Nugent duduk dengan kaku di kursinya. "Ada dua hal. Pertama, ini buku pegangan yang sudah kususun untuk eksekusi. Suatu protokol. Dari A sampai Z. Tersusun lengkap, diurutkan menurut indeks. Aku ingin kau memeriksa peraturan yang tercantum di sini dan memastikan semuanya masih bedaku."

Mann menatap binder hitam, tapi tak menyentuhnya.

"Dan kedua, aku ingin laporan harian tentang status semua dalih pembelaan yang diajukan. Setahuku tak ada rintangan hukum apa pun sampai pagi ini."

"Itu benar, Sir," jawab Mann.

"Aku ingin laporan tertulis tiap pagi, tentang keadaan terakhir."

"Kalau begitu, sewa saja pengacara. Kau bukan bosku, dan terkutuklah aku kalau aku harus menulis makalah sebagai temanmu minum kopi pagi. Aku akan mengabarimu kalau ada sesuatu yang terjadi, tapi aku takkan menyodorkan laporan tertulis kepadamu."

Ah masalah menjengkelkan dalam kehidupan sipil. Nugent merindukan disiplin dalam dunia militer. Pengacara-pengacara terkutuk. "Baiklah, kau akan memeriksa protokol ini?"

Mann membukanya dan membalik beberapa halaman. "Kau tahu, kita berhasil melaksanakan empat eksekusi tanpa semua ini."

“Teras terang, kuanggap hal itu sangat mencengangkan."

“Terus terang, aku tidak. Aku sedih mengatakan bahwa kami jadi cukup efisien."

"Dengar, Lucas, aku tidak menikmati ini,” kata Nugent muram. "Phillip memintaku melakukannya. Kuharap akan ada penundaan. Aku sungguh berharap demikian. Tapi bila tidak, kita harus siap. Aku ingin ini berjalan lancar."

Mann menerima kebohongan terang-terangan ini dan memungut manual itu. Nugent harus menyaksikan suatu eksekusi, dan ia sedang menghitung jam, bukan hari. Ia tak sabar ingin melihat Sam diikat di kursi, menghirup gas.

Lucas mengangguk dan meninggalkan kantor. Di gang, ia melewati Bill Monday, algojo negara bagian itu. Tak diragukan lagi, Bill sedang menuju kantor Nugent untuk suatu percakapan pendek pembangkit semangat.

***

Adam tiba di The Twig tak lama sebelum pukul 15.00. Hari itu dimulai dengan kepanikan karena Lee mengemudi dalam keadaan mabuk dan tidak membaik.

Ia menghirup kopi di meja kerja, berkutat dengan sakit kepala, dan mencoba melakukan riset. Dalam sepuluh menit Darlcne membawa fax dari New Orleans dan dari pengadilan distrik. Ia kalah dua kali. Pengadilan Fifth Circuit meneguhkan keputusan pengadilan federal atas klaim yang diajukan Sam bahwa kamar gas tidak konstitusional karena sudah usang dan kejam, dan pengadilan distrik menolak klaim bahwa Benjamin Keyes bekerja tidak efektif dalam sidang.

Sakit kepala mendadak terlupakan. Dalam satu jam, Death Clerk—Mr. Richard Olander—menelepon dan Washington, menanyakan rencana Adam untuk pengajuan dalih selanjutnya. Ia pun ingin tahu, apakah ada hal lain yang dirancang pembela. Ia mengatakan pada Adam bahwa tinggal delapan hari kerja lagi yang tersisa, seolah-olah Adam harus diingatkan.

Tiga puluh menit setelah telepon dari Olander, seorang panitera dari Pengadilan Fifth Circuit yang menangani hukuman mati menelepon dan bertanya pada Adam, kapan ia merencanakan mengajukan banding atas keputusan pengadilan distrik.

Kepada dua panitera dari dua pengadilan itu, Adam menjelaskan ia akan menyempurnakan dalihnya secepat mungkin, dan ia berusaha mengajukannya pada penghujung hari ini. Ketika memikirkannya, rasanya mengerikan menjalankan praktek hukum dengan penonton macam ini. Pada proses sekarang ini, beberapa pengadilan dan hakim sedang mengawasi apa yang akan ia kerjakan selanjutnya. Ada panitera yang menelepon dan menamakan apa yang sedang ia rencanakan. Alasannya jelas dan mengguncangkan hati.

Mereka tidak peduli apakah Adam bisa mengajukan alasan lain yang bisa mencegah eksekusi atau tidak. Mereka cuma peduli dengan logistik. Para panitera yang menangani kasus hukuman mati telah diinstruksikan oleh atasan mereka untuk memantau hari-hari yang makin menyusut, sehingga pengadilan dapat mengambil keputusan dengan cepat—biasanya menolak permohonan si terpidana.

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 71)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.