Kamis, 01 Juni 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 69)

The Chamber: Kamar Gas

Ia tidak berharap akan melihat Jaguar merah tua milik Lee di jalanan Memphis yang sepi. Tapi toh ia mengemudikan mobilnya berputar-putar, ia mulai dari Front Street dekat sungai, dan dengan Springsteen meraung keras dari speaker ia secara acak menuju ke timur, melewati rumah sakit-rumah sakit di Union, melewati rumah-rumah indah di kota tengah, dan kembali ke proyek dekat Auburn House. Tentu saja ia tak menemukan Lee, tapi perjalanan itu menyegarkan. Siang hari lalu lintas memadat kembali, dan Adam pergi ke kantor.

***

Satu-satunya pengunjung Sam pada hari Minggu lagi-lagi tamu yang tak terduga. Ia menggosok pergelangan tangan ketika borgol dilepas, dan duduk di depan kisi-kisi, di seberang seorang laki-laki beruban dengan wajah gembira dan senyum hangat.

"Mr. Cayhall, nama saya Ralph Griffin. Saya pendeta di Parchman sini. Saya masih baru, jadi kita belum pemah bertemu."

Sam mengangguk dan berkata, "Senang bertemu Anda."

"Terima kasih. Saya yakin Anda kenal pendahulu saya."

"Ah ya, Pendeta Rucker. Di mana dia sekarang?"

"Pensiun,"

"Bagus. Saya tak pernah peduli dengannya. Saya sangsi dia bisa sampai ke surga."

"Ya, saya sudah dengar dia tidak terlalu populer."

"Populer? Dia dibenci setiap orang di sini. Entah karena alasan apa, kami tak mempercayainya. Entah mengapa. Bisa jadi karena dia mendukung hukuman mati. Bisakah Anda bayangkan? Dia dipanggil Tuhan untuk menjadi pendeta kami, tapi dia percaya kami harus mati. Katanya itu ada dalam Injil. Anda tahu, satu mata ganti satu mata."

"Saya sudah pernah dengar itu."

"Saya yakin begitu. Pendeta macam apa Anda? Sekte apa?"

"Saya ditahbiskan di gereja Baptis, tapi saya tidak tergabung dalam sekte apa pun sekarang. Saya pikir Tuhan mungkin kesal dengan segala sektarianisme ini."

"Dia pun kesal dengan saya, Anda tahu."

"Bagaimana bisa begitu?"

"Anda tentu kenal Randy Dupree, narapidana di sini. Dalam tier yang sama dengan saya. Pemerkosaan dan pembunuhan."

"Ya. Saya sudah membaca berkasnya. Dulu dia pernah jadi pengkhotbah."

"Kami memanggilnya Preacher Boy, dan baru-baru ini dia mendapat anugerah spiritual untuk menafsirkan mimpi. Dia juga menyanyi dan memberikan penyembuhan. Dia mungkin akan bermain dengan ular seandainya mereka mengizinkan. Anda tahu, memegang ular, seperti dalam Injil Markus, pasal enam belas, ayat delapan belas. Omong-omong, dia baru saja menyelesaikan mimpi panjangnya ini, berlangsung sebulan lebih, semacam miniseri, dan akhirnya diilhamkan kepadanya bahwa saya benar akan dieksekusi, dan Tuhan sedang menunggu membersihkan perbuatan saya."

"Bukan gagasan buruk, Anda tahu. Untuk bersiap membereskan segalanya."

"Mengapa tergesa-gesa? Saya punya sepuluh hari."

"Jadi, Anda percaya Tuhan?"

"Ya. Apakah Anda percaya pada hukuman mati?"

“Tidak."

Sam mengamatinya sejenak, kemudian berkata, "Anda serius?"

"Pembunuhan adalah keliru, Mr. Cayhall. Seandainya Anda benar bersalah atas kejahatan Anda, Anda salah telah membunuh. Tapi pemerintah juga salah membunuh Anda."

"Haleluya, Saudara."

"Saya tak pernah yakin Yesus menghendaki kita melakukan pembunuhan sebagai hukuman. Dia tidak mengajarkan itu. Dia mengajarkan kasih dan pengampunan."

"Begitulah yang saya baca di Injil. Bagaimana Anda bisa mendapat pekerjaan di sini?"

"Saya punya saudara sepupu di senat negara bagian."

Sam tersenyum dan terkekeh mendengar jawaban ini. "Anda takkan bertahan lama. Anda terlalu jujur."

“Tidak. Sepupu saya Ketua Komite Pemasyarakatan dan cukup berpengaruh."

"Kalau begitu, sebaiknya Anda berdoa agar dia dipilih kembali."

"Saya melakukannya tiap pagi. Saya cuma ingin mampir dan memperkenalkan diri. Saya ingin bicara dengan Anda selama beberapa hari mendatang. Saya ingin berdoa dengan Anda kalau Anda mau. Saya belum pernah menyaksikan eksekusi."

"Saya pun belum."

"Apa Anda takut?"

"Saya sudah tua, Pendeta. Beberapa bulan lagi umur saya tujuh puluh tahun, kalau saya selamat. Kadang-kadang pikiran tentang kematian cukup menyenangkan. Meninggalkan tempat terkutuk ini akan menjadi suatu pembebasan."

"Tapi Anda masih bergumul."

"Tentu, meskipun kadang kala saya tak tahu mengapa. Rasanya seperti pergumulan panjang melawan kanker. Kondisi kita berangsur-angsur merosot dan melemah. Kita mati sedikit setiap hari, dan mencapai suatu titik di mana kematian akan disambut gembira. Tapi tak seorang pun benar-benar ingin mati. Bahkan saya pun tidak."

"Saya sudah membaca tentang cucu Anda. Pasti sungguh menghangatkan hati. Saya tahu Anda bangga dengannya."

Sam tersenyum dan memandang ke lantai.

"Omong-omong," sang Pendeta meneruskan, "saya akan berada di sini. Apakah Anda ingin saya datang kembali besok?"

"Boleh juga. Sekarang saya ingin berpikir, oke?"

"Baiklah. Anda tahu prosedur di sini, bukan? Selama beberapa jam terakhir, Anda hanya diizinkan bersama dua orang. Pengacara dan penasihat spiritual. Saya merasa mendapat kehormatan mendampingi Anda."

“Terima kasih. Dan bisakah Anda mengatur waktu untuk bicara dengan Randy Dupree? Bocah gila, dan dia benar-benar butuh pertolongan."

"Saya akan mampir ke tempatnya besok."

“Terima kasih."

***

Adam menyaksikan film sewaan sendirian, dengan telepon di dekatnya. Tak ada kabar apa pun dari Lee. Pukul sepuluh ia menelepon dua kali ke Pantai Barat. Yang pertama kepada ibunya di Portland. Ia agak sedih, tapi senang mendengar kabar dari Adam, katanya. Ia tidak bertanya tentang Sam, dan Adam tidak mengatakan apa pun. Ia melaporkan bahwa ia bekerja keras, ia menyimpan harapan, dan kemungkinan besar ia akan kembali ke Chicago dalam dua minggu. Ibunya sudah membaca beberapa berita di surat kabar dan memikirkannya. Lee baik-baik saja, kata Adam.

Telepon kedua untuk adik perempuannya, Carmen, di Berkeley. Suara seorang laki-laki menjawab telepon di apartemennya, Kevin entah siapa, kalau Adam mengingatnya dengan benar, pacar tetap selama beberapa tahun sekarang. Carmen langsung ke telepon dan kedengaran bergairah mendengar perkembangan di Mississippi.

Ia pun mengikuti berita dengan cermat, dan Adam memberikan nada optimis mengenai urusan itu. Adiknya mengkhawatirkan dirinya di sana, di tengah orang-orang rasis dan anggota-anggota Klan yang mengerikan itu. Adam menegaskan bahwa ia aman, suasana sebenarnya cukup tenteram. Orang-orangnya baik dan ramah tak terduga. Ia tinggal di apartemen Lee dan mereka baik-baik saja.

Mengejutkan bagi Adam, Carmen ingin tahu tentang Sam—bagaimana tampangnya, penampilannya, sikapnya, kesediaannya bicara tentang Eddie. Ia bertanya apakah perlu terbang ke situ dan menemui Sam sebelum tanggal 8 Agustus. Ini tak pernah terpikirkan oleh Adam. Adam berkata akan memikirkannya dan akan bertanya pada Sam.

Ia tertidur di sofa, dengan televisi menyala. Pukul 03.30 Senin, ia terbangun oleh dering telepon. Sebuah suara yang belum pemah ia dengar dengan ringkas memperkenalkan diri sebagai Phelps Booth. "Kau pasti Adam," katanya.

Adam duduk dan menggosok mata. "Ya, benar."

"Apa kau sudah lihat Lee?" tanya Phelps, tidak tenang maupun mendesak.

Adam melirik jam pada dinding di atas televisi. "Tidak. Ada apa?"

"Ah dia dalam kesulitan. Polisi meneleponku sekitar satu jam yang lalu. Mereka menangkapnya karena mengemudi dalam keadaan mabuk pukul 20.20 tadi malam, dan membawanya ke tahanan."

"Oh, tidak," kata Adam.

"Ini bukan yang pertama. Dia ditangkap, sudah tentu menolak tes alkohol, dan dimasukkan ke tahanan untuk pemabuk selama lima jam. Dia menuliskan namaku pada registrasi, jadi polisi meneleponku. Aku pergi ke tahanan, tapi dia sudah membayar uang jaminan dan keluar. Kupikir dia mungkin meneleponmu."

“Tidak. Dia tak ada di sini waktu aku bangun kemarin pagi, dan inilah pertama kali kudengar tentang dia. Siapa yang mungkin dia hubungi?"

"Siapa tahu? Aku tak suka mulai menelepon teman-temannya dan membangunkan mereka. Mungkin sebaiknya kita menunggu saja."

Adam merasa tak enak dengan keterlibatannya secara mendadak dalam mengambil keputusan. Dua orang ini, bagaimanapun juga, sudah tiga puluh tahun menikah, dan jelas mereka telah mengalami hal ini sebelumnya. Bagaimana ia bisa tahu apa yang harus dilakukan? "Dia tidak pergi dengan mobil dari tahanan, kan?" ia bertanya takut-takut, yakin akan jawabannya.

"Tentu saja tidak. Seseorang menjemputnya. Ini menimbulkan masalah lain. Kita perlu mengambil mobilnya. Mobil itu ada di halaman parkir di samping tahanan. Aku sudah membayar biaya untuk menyeretnya."

"Kau punya kuncinya?"

"Ya. Bisakah kau membantuku mengambilnya?"

Sekonyong-konyong Adam teringat pada berita koran dengan foto Phelps dan Lee yang sedang tersenyum. Ia pun teringat spekulasinya tentang reaksi keluarga Booth terhadap berita itu. Ia yakin sebagian besar kesalahan tentu diarahkan padanya. Seandainya ia tetap tinggal di Chicago, semua ini takkan terjadi. "Tentu. Katakan saja apa yang..."

"Tunggulah di gardu jaga. Aku akan ke sana dalam sepuluh menit."

Adam menggosok gigi dan mengikat tali sepatu Nike-nya, lalu menghabiskan lima belas menit bercakap-cakap tentang ini-itu dengan Willis, penjaga di gerbang. Sebuah Mercedes hitam, model terpanjang dalam sejarah, mendekat dan berhenti. Adam mengucapkan selamat tinggal kepada Willis dan masuk ke mobil itu.

Mereka berjabat tangan, sopan santun yang perlu dilakukan. Phelps memakai jogging suit putih dan topi regu bisbol Cubs. Ia mengemudi perlahan-lahan di jalan kosong itu. "Kurasa Lee sudah menceritakan sesuatu tentang diriku," katanya tanpa nada prihatin atau penyesalan.

"Beberapa hal," kata Adam hati-hati.

"Ah banyak yang bisa diceritakan, jadi aku takkan bertanya masalah apa yang dia bahas."

Gagasan yang sangat bagus, pikir Adam.

"Mungkin sebaiknya kita bicara tentang bisbol atau apa saja. Kurasa kau penggemar kelompok Cubs.”

"Sudah sejak dulu. Kau?"

"Tentu. Ini musim pertamaku di Chicago, aku sudah ke Wrigley puluhan kali. Aku tinggal cukup dekat dengan lapangan itu."

"O ya? Aku pergi ke sana tiga atau empat kali setahun. Aku punya teman yang punya tempat di luar base pertama. Sudah bertahun-tahun aku melakukannya. Siapa pemain favoritmu?"

"Sandberg, kurasa. Bagaimana denganmu?"

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 70)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.